RANPERDA PERLINDUNGAN ANAK

Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Perlindungan Anak digagas sebagai inisiatif dari Pansus Perda Perlindungan Anak, Komisi IV DPRD Provinsi Bali. Sayangnya semangat perancangan Peraturan Daerah ini lebih kuat didorong unsur politis. Substansi yang semestinya ditujukan untuk menjadikannya sebagai instrumen yang mumpuni dalam upaya memberikan perlindungan bagi anak-anak Bali, menjadi pereduksian realitas sosial anak. Ranperda menjadi arena politik karena ada indikasi rancangan dipaksakan untuk diselesaikan dan bila perlu disahkan menjadi Perda sebelum pemilu 9 April 2014 ini sesuai dengan yang disampaikan sekretaris Pansus, Ibu Utami.

Beruntung, YLBHI-Bali berinisiatif mengajak stakeholder bertemu pada 13 Januari 2014 untuk berpartisipasi dan menganalisa konten Ranperda Perlindungan Anak. Pertemuan ini menjadi penting untuk mengantisipasi adanya upaya menggampangkan masalah dengan melakukan generalisasi isi Ranperda seperti mencontek dari berbagai sumber perundang-undangan, atau yang lebih fatal jika ditemukan adanya indikasi mencontek Ranperda serupa dari provinsi lain yang secara substansi tidak sama dengan Bali. Padahal substansi Ranperda harus bersumber dari realitas kebutuhan anak untuk mendapat pengakuan identitas, untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar.

Konsep anak
Pada ketentuan umum Ranperda, disebutkan konsep anak mencakup anak yang berusia hingga 18 tahun. Agar sesuai dengan substansi Ranperda, dalam ketentuan umum belum dijelaskan tentang anak disabilitas, anak penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak dengan layanan khusus yang berhubungan dengan sistem pendidikan untuk anak Indonesia. Perancang Ranperda tampaknya belum mengikuti perkembangan semiotik kebahasaan terutama perkembangan peristilahan baru, seperti masih menggunakan kata anak cacat, padahal sekarang sudah disosialisasikan istilah anak disabilitas. Perancang Ranperda juga perlu mengetahui perbedaan konsep anak disabilitas dan anak dari penyandang disabilitas dimana kedua konsep ini masih berhubungan dengan Ranperda, karena keduanya tidak jarang menjadi korban bullying pelecehan baik di sekolah maupun di lingkungannya.

Paradigma tentang Anak
Paradigma Ranperda ini masih bersifat otoriter, memosikan anak sebagai mahluk yang tak berdaya (disabilitas), rentan dan dianggap tidak mampu membuat pilihan-pilihan sendiri, serta mengabaikan nasib anak-anak yang berdaya dan anak yang bertalenta. Tentunya partisipasi anak untuk turut serta dalam penyusunan Ranperda yang akan memengaruhi hidup dan masa depan anak-anak Bali, perlu didengar sebagai aspirasi penting. Forum Anak Bali, perwakilan OSIS dari berbagai sekolah, Seka Teruna, kelompok komunitas anak dan remaja, lembaga pemerhati dan peduli anak perlu diberikan ruang untuk terlibat memberikan masukan untuk memahami berbagai kebutuhan dasar anak dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam mengawal proses perancangan Ranperda ini menjadi perda perlindungan anak.

Koreksi Kritis
Beberapa koreksi kritis tentang konten Ranperda : menyangkut dasar-dasar hukum yang dijadikan pertimbangan; perlunya kejelasan koordinasi terutama SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang mengimplementasikan Perda jika telah disahkan; koordinasi SKPD dengan stakeholder; transparansi dan teknis mendapatkan akses pendanaan dalam penanganan perlindungan anak. Beberapa dasar hukum seperti UU tentang Disabilitas dan UU tentang kependudukan belum dijadikan pertimbangan. Jalur komunikasi SKPD harus dibuat sebening air mineral agar tidak memunculkan polemik dan indikasi adanya saling lempar tanggung jawab dalam SKPD.

Kesehatan reproduksi anak juga belum diatur dalam Ranperda, termasuk hak anak untuk menentukan orientasi seksual dirinya. Argumentasi: ada anak yang terlahir dengan kelamin ganda atau ada anak yang merasa berada di tubuh yang salah karena jenis kelamin yang dimilikinya tidak membuatnya menjadi pribadi yang utuh.

Pendidikan khusus dan layanan khusus untuk anak perlu di atur dalam Ranperda yang mengacu pada kebutuhan anak disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak yang hidup dalam penjara. Poin penting lainnya dalam Ranperda ini adalah menyangkut akses untuk anak, seperti ruang bermain, tempat dan lingkungan bertumbuh kembang yang baik untuk anak.

Hak atas identitas pribadi juga belum dimasukkan dalam isi Ranperda. Dasar argumentasi: banyak anak-anak yang dibuang dan ditelantarkan, diadopsi sehingga mereka berhak untuk mengetahui asal usulnya.

Sebagai homo ludens, mahluk yang bermain, manusia khususnya anak membutuhkan ruang bebas untuk mengeskpresikan diri. Ruang atau taman bermain untuk anak dan remaja merupakan kebutuhan penting yang memiliki fungsi rohani mengekspresikan emosi dan menyalurkan agresi secara positif untuk mencegah kriminalitas anak. Sayangnya, ruang atau taman seperti ini begitu minim disediakan pemerintah. Akses yang tak kalah penting dan harus jelas dan tegas dalam Ranperda ini yaitu teknis mendapatkan akses dana untuk upaya perlindungan anak. Selama ini administrasi yang menjelimet dan sistem koordinasi yang tidak jelas dirasakan merugikan berbagai organisasi perlindungan anak.
Masyarakat juga membutuhkan shelter atau rumah perlindungan anak. Konsep yang dipahami pihak kepolisian dan aktivis perlindungan anak menganggap bahwa pembangunan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) merupakan shelter bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Sayangnya dalam pandangan dinas sosial, RPSA ini bukan panti untuk tempat tinggal anak dan tempat ini hanyalah untuk berkonsultasi. Perbedaan persepsi ini jika tidak dikomunikasikan tentu menimbulkan polemik.

Prematur
Staf ahli yang ditunjuk anggota dewan legislatif untuk membantu merancang Perda Perlindungan Anak ini perlu memahami, bahwa konten Ranperda tidaklah sama dengan konten dalam Undang-Undang yang cenderung merupakan generalisasi masalah dan bersifat normatif. Ranperda ini masih begitu prematur untuk dipaksakan menjadi Perda karena berbagai masukan stakeholder belum terakomodasikan di dalamnya.

Ranperda Perlindungan Anak ini harus benar-benar menyentuh kehidupan, mendekati realitas kehidupan sosial anak Bali. Sehingga, jika Ranperda ini dipaksakan untuk disahkan menjadi Perda sebelum pemilu dengan mengabaikan pandangan stakeholder, merupakan praktik kekerasan simbolik dari panitia khusus dewan legislatif yang terlibat dalam Ranperda ini, yang harusnya berpihak pada rakyat.

Tentu para stakeholder tidak berharap hasil pembahasan Ranperda hanya akan menghasilkan wacana hipersemiotik dimana Perda yang nantinya diproduksi dan didistribusikan tak lebih sekedar menjadi “piagam” yang tidak dapat digunakan sebagai instrumen penegakan hukum bagi perlindungan anak. Intinya, Ranperda sebaiknya jangan dijadikan instrumen politik dan dijadikan sebagai trajektori kesuksesan kinerja anggota dewan legilatif sebelum realitas kebutuhan anak benar-benar dijadikan dasar penyusunan Ranperda ini.

SIMPANAN

“Mereka keluarga yang harmonis” kata Mutiara padaku sambil menghisap rokok  kesukaannya. Asap kelabu bergelung di atas kepalanya, berputar lalu lenyap.

“Kok kamu tahu? Harmonis bagaimana?”

Mutiara sahabatku sejak kecil menyahut santai “Yaiyalah aku tahu! Anak-anaknya sudah beranjak remaja dan kuliah, tetapi mereka tetap bersama. Bahkan Sabtu-Minggu, Bapak tidak bisa diganggu karena itu adalah waktu untuk keluarganya” .

Mutiara bersandar disofanya yang hangat. Sesekali tampak ia menghembuskan asap rokok itu ke arah langit-langit  rumah kontrakan mungilnya yang cozy. Mutiara baru saja bercerai dan aku baru saja membina rumah tangga. Setelah satu dasa warsa, kami bertemu di facebook dan saling mengobrol. Sesekali aku menemui Mutiara mengisi waktu karena suamiku bekerja di kapal ikan. Tapi, Mutiara lebih sering menelpon. Ia lebih senang aku berkunjung ke rumah kontrakannya.

Minggu siang itu, kami berencana pergi mencari tempat nongkrong untuk sekadar minum coffe latte dan mencari suasana baru. Sambil menunggu mobilnya yang  tengah dititipkannya di salon, Mutiara dan aku saling bergosip tentang berbagai hal, termasuk tentang 9 tahun pernikahannya yang gagal.

“Aku tak mau bernasib sial seperti perempuan lainnya. Beruntung, selama perceraian ini aku mendapatkan hak-hakku. Waktu menikah, aku bekerja dan menabung. Jadi, ada-lah sedikit simpanan. Dulu, aku juga membuat perjanjian dengan suami, sehingga ketika aku mendapatkan musibah seperti bercerai, aku tidak begitu terguncang. Tidak banyak sih?! Mantan suamiku lelaki yang baik. Ia memberikanku mobil, beberapa perlengkapan rumah tangga dan juga sejumlah uang cukup untuk membangun sebidang rumah. Karena itulah, aku minta kamu untuk membantu aku, Mira”

Benar juga kata Mutiara. Perempuan menikah, lupa dan bahkan tidak tahu hak-haknya  dalam perkawinan. Simpanan pun tak ada, sama seperti aku saat inilah! Mutiara memberikanku inspirasi untuk membuat tabungan. Perjanjian dalam perkawinan antara aku dan suami, sepertinya harus mulai kupertimbangkan. Banyak kaum perempuan yang bercerai, nasibnya seperti pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mereka kehilangan hak asuh anak, tidak punya harta, dan hidup terlunta-lunta. Slip gaji kantor perlu juga ditunjukkan di hadapan hakim pengadilan? Yaiyalah, ini kan penanda kaum perempuan juga bisa memberikan jaminan sosial bagi anak-anaknya. Lagian hari gini, siapa juga yang mau menampung janda, tanpa harta?! Mutiara, wanita cerdik ini selamat dari neraka itu. Dan kini, akulah arsitek yang akan menggarap rumah idaman yang akan dibangun dari duit pembagian gono-gini.

“Aku salut sama kamu, Mutiara. Bagaimanapun, kamu cukup tegar menghadapi perceraian ini. Perjanjian nikah itu penting juga, ya? Masalahnya, banyak yang malas mengurus ini, mereka takut dikira menikah kok seperti dagang, jual-beli“.

Mutiara merapikan mayang terurainya yang basah habis keramas, berujar  datar “Aku tidak setegar yang kamu kira, Mira. Tapi perkawinan, terkadang membutuhkan perhitungan yang cermat tentang waktu dan uang. Jika kita tidak berhitung untuk musim bencana yang menyakitkan, itu namanya kebodohan. Bayangkan! Istri-istri setia ditinggal kabur suami dengan perempuan lain, mereka kehilangan segalanya: suami, anak-anak dan harta. Nasib mereka justru lebih menyedihkan dari pelacur! Pelacur saja, sekali mengangkang, pura-pura orgasme, langsung dapat bayaran. Istri yang diceraikan suami dapat apa, coba?! Mereka cuma kebagian lebel janda, status cerai hidup! Kenapa juga mesti disebutkan begitu di KTP, yah?”

Bibir kering Mutiara kebanyakan merokok ini menggetarkan kenyataan getir hidup seorang janda. Apalagi, ketika janda muda itu menjalin relasi baru dengan seseorang, kemudian merencanakan pernikahan, status “cerai hidup” sungguh memalukan!

“Sebenarnya, kamu bercerai karena apa, sih? Setahuku kalian hidup mapan dan selalu mesra“ tanyaku ingin tahu.

“Suamiku menghamili pembantuku. Sedangkan, aku tak mampu memberikannya keturunan. Sempat sih, aku hamil. Namun selalu, janin itu menjadi darah. Katanya, aku lemah kandungan tetapi tetangga malah bergosip jabang bayiku dijadikan tumbal oleh mertua. Mereka berkata begitu, karena mertuaku lumayan kaya. Aku mencoba bertahan menjadi menantu, tetapi keguguran itu sungguh menyakitkan! Aku gagal! Aku tak mau larut dalam kepedihan dan akhirnya kami berpisah baik-baik”. Mutiara melumat puntung rokok di asbak berabu dan menyulut rokok baru untuk membuang resahnya saat mengingat masa lalu.

“Dan, bagaimana hubunganmu dengan istri bapakmu?” Aku mencoba mengalihkan kembali pikiran karibku agar kembali pada hari ini.

Mutiara melipat kakinya yang jenjang dan menopang dagunya di tangan sofa “Oh, hubunganku dengan istrinya baik-baik saja. Ibu itu istri yang mapan, dan dia begitu percaya pada suaminya. Atau tepatnya, dia tak peduli dengan aktivitas suaminya. Yaiyalah?! Suaminya kan sudah memenuhi segalanya, memberinya kemewahan dan kemapanan. Berlian, emas, deposito, tanah, rumah atas nama istri, apalagi?”

Penasaran juga dengan cerita Mutiara, akupun bertanya “Tapi, kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana tentang kamu dan Bapak? Apakah ia memberikanmu cukup waktu dan perhatian?”.

“Mira, aku tidak begitu memusingkan itu. Kerjaanku di kantor banyak. Komunikasiku dengannya cukup lewat bébé dan yang penting aku memiliki waktu dan jaminan yang berkualitas. Itu jauh lebih memuaskan”.

“Bagaimana dengan masa depan?”.  Aku masih mengejar Mutiara dengan pertanyaan karena aku masih mengeja kisah Mutiara setelah berpisah dengan suaminya. Maklum begitu banyak masa yang tidak kami lalui bersama.

Mutiara mengangkat  kedua alis matanya yang tebal  tanda tak begitu memusingkan hal itu. “Siapa juga yang tahu masa depan? Siapa juga yang berharap menemukan nasib sepertiku? Menjadi janda kembang? Kalau bukan karena musibah ini, mungkin aku juga tidak tahu mengapa janda-janda begitu menggairahkan. Dan, mengapa istri-istri setia takut dengan kehadirannya? Kamu tahu, Mira? Ketika menjadi istri, kita lupa merawat dirinya, sibuk mengurus keluarga. Dan ketika menjanda, barulah perempuan mulai sadar diri dan usia, baru punya cukup waktu  merawat penampilan, minum vitamin dan jaga body agar tampak fit. Ya seperti aku-lah, sekarang ini!”

Mutiara merebahkan badan dan menyelonjorkan kakinya yang jenjang di sofa panjang, lalu menghisap rokok filternya dalam-dalam. Mutiara baru saja 31 tahun, ia menjadi ranum, memiliki karir yang berkilau dan pribadi yang menarik. Meskipun demikian, Mutiara juga tipe perempuan rumahan yang lebih senang menikmati kesendiriannya dengan fasilitas yang lumayan komplit. Mutiara mengaku padaku masih mengurung diri dan  menyesuaikan diri dengan stigma masyarakat tentang status ke-jandaan-nya.

“Bapak menjamin keluarganya dan aku. Tugasku hanya duduk manis di rumah ini. Aku mendapat jatah sangu sebulan sekali, sebesar gaji bulananku. Lumayan untuk belanja bulanan! Dan yang paling penting, setiap Bapak pulang, aku menyambutnya dan menerima jatah batin darinya. Hubungan seksual kami membara. Dia bilang, ranjang istrinya terasa dingin dan hambar, itu sudah sejak lama. Bersamaku, kami berdua di puncak ekstasi dengan variasi dan sensasi. Bapak menjawab setiap tantangan yang aku berikan di berbagai tempat, berulang kali hanya dalam dua malam saja. Dia lelaki yang hot, panas. Itu sebabnya, aku tidak begitu keberatan menjadi teman bermain Bapak dan tidak ingin berpisah dengannya. Aku sadar jika kami begitu berjarak usia dan waktu. Tapi, akupun tak bernafsu memilikinya”

“Kamu yakin ini akan berlangsung lama, Mutiara?”

Mutiara menarik nafas dalam-dalam. “Sejak aku berpisah empat tahun lalu dengan suamiku, lalu bertemu dengannya di suatu tempat, tidak ada yang berubah. Ah, hubungan kami telah berlangsung selama ini, dan semuanya baik-baik saja. Aku tidak berharap Ibu tahu hal ini. Jelas, Bapak akan berada dipihak istrinya. Dan, aku tak terlalu berharap banyak, sih? Jujur saja aku ingin Bapak ada denganku selamanya, meski tidak setiap waktu. Kurasa aku mencintainya karena kepuasan yang diberikannya”.

Terdengar bébé berkelenting berulang kali. Pertama itu dari salon mobil. Mutiara mengirim seseorang untuk membawa mobilnya pulang. Kelentingan kedua, tentunya dari Bapak yang menanyakan keadaan Mutiara. Lalu, Mutiara mengetik pesan pada kekasihnya tentang kedatanganku yang akan menggarap proyek rumahnya dan rencana kami berdua untuk pergi ke kafe. Pesan ditutup dengan kode ciuman mesra, tanda pesan berakhir. Luar biasa, Ilusi teks yang terasa begitu nyata.

Mutiara mengelung rambutnya yang panjang, menggulung gambar rumahnya dan kamipun bergegas pergi. Kurasa, Mutiara telah mengalami banyak hal dalam hidupnya dan aku tak berani mencampuri urusan ini. Lagipula, aku baru saja mengarungi bahtera, masih buta membaca pasang dan surut musim perkawinan. Terngiang saran Mutiara untuk selamat dari badai perceraian: perempuan perlu punya simpanan. Deposito, tabungan, emas atau apa sajalah, asal bukan “simpanan” lain! Oh, yang terakhir mungkin terlalu berbahaya, tapi who knows-kan? Mahligai Mutiara tak seindah yang dibayangkan,  bekasnya hanya menjadi kenangan  usang. Bagaimana dengan aku?!  Entahlah.

PEREMPUAN DAN KISAH BABI HITAM

Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah. Aku membajak hatiku dengan doa keselamatan. Aku menyuburkannya dengan hujan air mata dan bulir-bulir keringat [malam-malam usai suamiku membajak tubuh dan jiwaku]. Seperti sapi, Aku  sesekali melenguh menerima  benih yang ditebarkannya. Serupa orang-orangan sawah dengan rupa yang mengerikan, aku menjaga benih yang ditanam dirahimku. Tiba waktu untuk memanen kelamin, tunas itu kusemai sendirian di atas ranjang bersimbah darah. Laki-laki ataukah perempuan, begitu mereka menamai keunggulan. Sayangnya meskipun tumbuh di ladang rahimku, mahluk yang dipanen dari rahimku bukanlah milikku. Aku hanya bisa mengaku-ngaku ibunya, tanpa bisa memilikinya.

Sejak dulu, aku  dan perempuan sesuku tak punya tanah dan rumah di negeri ini. Perempuan dinegeriku bekerja menggarap ladang-ladang kehidupan yang bukan miliknya. Perempuan dinegeriku adalah semut pekerja, mencari penghidupan untuk memastikan kehidupan tetap terjaga, meski dalam musim yang paling buruk sekalipun. Dan jika letih mendera, mereka  memejamkan mata sekedar menumpang  tidur di rumah ayah dan ibu [kelak semua itu  menjadi milik saudara lelaki atau para paman], Sang Penjaga Ladang Silsilah.

Lalu pada waktu birahi dan bunting, para perempuan dinegeriku menumpang nasib di rumah para suami. Jika  beruntung, tubuh perempuan  seperti tunas pisang: dicerabut dari akarnya, dibenamkan,  kemudian dengan sendirinya berbuah dan tasak, mengenyangkan harapan setiap keluarga.  Jika nasib tiada berpihak, maka ia layu sebelum berkembang dan gugur mencium kerinduan pada bayangannya. Sendirian. Terkadang  tak sedikit yang mekar, kesegarannya dipetik lalu dijadikan persembahan dewata.

Sampai kinipun, aku perempuan tak punya tanah dan rumah. Meskipun jauh sebelum aku dilahirkan, kedua orang tuaku memiliki tanah dan rumah untuk ditempati. Dan, aku dibesarkan dalam rumah yang baru saja mereka bangun. Waktu itu tembok bata belum lagi diplester dan lantai masih berupa tanah. Beberapa babi hitam berbulu ijuk masih berkeliaran karena nenek yang memeliharanya untuk bekal hari raya. Aku menetas  dan tumbuh riang di tanah dan rumah milik kakek, lalu menjadi  milik  ayahku dan paman-pamanku. Aku dan anak-anak lain bermain diantara babi-babi hitam itu, tumbuh tanpa rasa jijik ataupun kebencian. Babi-babi hitam itu harta keluarga, tepatnya milik nenek karena ialah yang mengasihinya, memberikannya makan dan kebebasan.

Aku, perempuan  tak punya  tanah dan rumah. Meskipun beranjak dewasa, rumah ayah dan ibuku semakin menegaskan bentuk, warna dan menampilkan gaya. Sesekali aku mengundang kawan  untuk bertandang dan memperkenalkannya sebagai rumahku. “Hayo, main ke rumahku!”.  Namun, betapa malunya aku setelah beranjak dewasa, mengetahui semua itu hanyalah bualan masa kecilku. Ternyata, itu bukanlah rumahku. Aku hanyalah  bocah pengungsi yang riang dan tak tahu apa-apa.

Kini, kenangan itu sudah mati karena nenek juga sudah lama pergi ke Tanah Tua milik Sang Muasal. Begitu juga kisah Si Babi Hitam,  ia sudah punah dari ingatan. Tak ada lagi Bangkung, Si Babi hitam betina berperut buncit dengan puting susu menjuntai, serta ekornya melengkung yang bisa seenaknya menempati dan berak di halaman rumah bersama anak-anaknya. Mereka tampak begitu buruk rupa dengan mulut monyong dibandingkan dengan Si Babi Bule berwarna pink, babi ekspatriat yang lagi naik daun. Bahkan dalam dunia babi pun, diskriminasi warna dan kelas menjadi begitu ideologis. Hitam seperti  kutukan. Lokal menjadi  kelas rendahan dan dieliminasi. Dan, babi-babi tak bisa lagi menjadi binatang peliharaan rumah.

Kisah tentang hidup babi pun seperti sinetron, antara cinta dan benci. Ada tetangganya diam-diam memelihara babi, dibiakkan lalu dijagal ketika ada kelahiran bayi baru meminta pengganti jiwa anak babi, untuk keselamatan. Ada babi mati karena wabah, menjadi berita. Bentrok warga karena kandang babi, jadi berita. Ada juga babi terpaksa diungsikan karena diharamkan  pandangan mata, lidah dan titah. Menyebutkannya pun menjadi begitu memalukan dan memilukan.Tetanggaku bilang, babi-babi itu pergi dan mati karena bau, dan turis tidak menyukainya. Ah, babi hitam yang malang.

Aku, perempuan tak punya rumah, apalagi tanah. Tanah dan rumah adalah milik lelaki dan aku hanyalah perempuan. Kemungkinan besar hidupku bernasib sama dengan kisah babi hitam itu. Perempuan, kelak mengungsi ke suatu tempat : birahi, kawin ,beranak dan mati tanpa ada yang mengingat namanya apalagi jasanya.

Lama aku amati ibuku. Ia perempuan sesuku. Ternyata ia juga sama sepertiku. Ia seorang pengungsi. Ibuku seorang perempuan yang tiada letih bekerja secara mekanik melayani kepentingan keluarga, kerabat dan desa. Selebihnya, Ia hanya menumpang tidur di rumah suaminya, di rumah ayahku, di tanah kakekku.

Atas nama kehormatan keluarga suaminya, ibu bekerja giat dan liat hingga tulang punggungnya melengkung dan garis keriputnya seperti serat  kayu tua. Ia berjuang di desa agar namanya diakui pernah ada di ladang yang digarapnya, di ladang silsilah milik suami serta kerabatnya.

Sebagai seorang pengungsi, hak menjadi sebuah kemewahan. Ibuku telah berusaha begitu keras untuk mendapatkan haknya. Dulu, aku tak mengetahui untuk apa ibu bekerja begitu giat, menyiapkan jenukan berisi beras, gula dan kopi untuk dibawa ke tetangga yang memiliki hajatan. Ia begitu cemas jika tak bisa melakukannya. “Semua tetangga melakukannya, kita pun harus begitu” kata ibu.  Konon, jika ia tak melakukannya, maka ia akan diperlakukan seperti bangkai anjing, tikus, ular yang dilindas roda kendaraan, dilindas kekuasaan dan digeret kejalanan tanpa kehormatan, meskipun ia sudah menjadi mayat sekalipun.

Setelah menjadi perempuan dewasa barulah aku mengetahui, ibu melakukan semua itu untuk mendapatkan hak meminjam liang kubur desa untuk dirinya sendiri. Demi Tuhan, hanya itukah hak yang ia dapatkan? Hanya untuk sebuah liang kubur? Dulu aku bertanya pada ibu, “Untuk apa semua itu?”.

Ibu menabung karma baik. Ibu berharap, jika ia mati warga desa sudi menanam mayatnya seperti tunas-tunas pisang di kuburan desa. Tiba waktu tubuhnya tak lagi berdaging, warga sudi mengangkat belulangnya untuk dijadikan abu. Hanya itulah hak perempuan dan impian-impian perempuan tanpa rumah dan tanah dinegeriku.

Ibuku dan juga nenekku adalah pengungsi di rumah dan tanah yang sama. Nenekku pun menjadi pengungsi di tanah kakekku. Perempuan di negeriku mengungsi tanpa membawa bekal apapun.  Dan kakek mendirikan pasak rumah baginya untuk menjadi naungan dan membiakkan anak  keturunan. Begitu pula yang dilakukan oleh ayahku, anak laki-laki di rumah mereka. Bibi-bibiku sejak lama berlalu dari rumah  itu dan menjadi pengungsi di rumah lain. Mereka menyebut dirinya di ladang asing sebagai istri. Dan, paman-pamanku membawa istri ke tanah dan rumah milik mereka, setelah memetiknya dari halaman dan rumah keluarga lain yang masih sesuku.

Perempuan itu sesekali saling bergunjing, sesekali saling mencibir,  sambil menggantang asap dengan pikiran yang sia-sia dan bodoh. Perempuan di negeriku tak banyak yang pandai bicara. Mereka lebih banyak  bergumam dalam doa, menghibur diri karena sayapnya telah dipatahkan. Mereka pun tak punya rumah dan tanah. Pulang, menjadi kata penghiburan. Kemana? Rumah siapa?

Begitulah perempuan di negeriku. Seperti kisah babi hitam, perempuan dihajar waktu dan musim, menua, menjadi buruk rupa yang tak sedap lagi dipandangan mata.  Perempuan, tersingkir dari  ruang dan waktu, sebagai orang-orang ungsian tanpa ingatan tentang nama dan silsilah. Karena, ladang itu hanyalah milik lelaki yang mengukirnya sebagai sejarah. Aku menua dan menuai seperti ibu dan nenekku. Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah, pengungsi yang kelak mati seperti kisah Si Babi Hitam.

 

CELANA DALAM

Hari-hari yang melelahkan. Pindah kos lagi. Begitulah. Merantau ke kota, tak punya keluarga tempat tinggal yang paling diburu, ya rumah kos.  Harga kos sekarang ditentukan oleh keberadaan kamar mandinya. “Mau yang di dalam apa di luar?” begitulah pertanyaan pemilik rumah kos-kosan. Kamar yang lengkap dengan kamar mandinya, harganya lebih mahal. Secara, Asanti sudah bekerja jadi ia lebih memilih  kamar yang lengkap. Malas banget kan, pagi-pagi mau kerja mesti antre kamar mandi segala? Read the rest of this entry »

MÉMÉ


Luh Eka Sundari mepangenan. Méméné ngalahin mati, mulih ke alas wayahné, jam satu dibi sandé. Pantes dugasé punika, Luh Eka Sundari  merasa inguh nénten nyidayang pules. Mémé ipuné megatang angkihan krana amah penyakit kanker rahim. Makudang-kudang balian lan pengobatan alternatip sampun rerehe mangda gering punika ical uli basing méméné. A sasih sedéreng  I Mémé ngalahin mati, tyang nak  polih medelokan mulih ipuné. Dapetang tyang obat saking dokteré kari akéh, mabungkus rapi.

Takénang tyang I Mémé, kenapi ipun nenten ngajeng obat saking I Dokter.  I Mémé  nyaurin, krana ipun sampun ke balian numbas tamba sané maji wantah limang tali rupiah. I Mémé sambilanga ngurut basangné sané sakit  ngorahang, yéning obat  punika cocok ring awak ipuné. Ipun masih moréhin basangné nganggé cakcakan don lan nginem loloh don silik (srikaya). Nanging, kari sakitanga koné  bangkiangné.

Méméné  Luh Eka Sundari ngereng ring baléné naggehang sakit basang ipunné. Peluhné nyerékcék, bibihné  tuh. Sekadi entik-entikané, awak ipuné layu dudus. Ipun wantah nganggé cawet lan kutang metatakan kamen. Bon kamaré sampun masem uyak peluh, uyak boréh, uyak lengis. Dugasé punika, sebet sajan keneh tyangé nyingakin I Mémé buka kénten. Mémé  nénten nyidayang madaaran napi. I Bapa sampun numbasang bubuh ring jaba. Bubuhé kari kebus makudus, nanging I Mémé nénten purun nyicipin bubuh maulam ayam punika. I Mémé aduh-aduh di kamaré, glalang gliling  di baléné, padidiana. Tyang negak dibatarané di sisi, ngorta sareng I Bapa mangda gelis ngajak I Mémé ka rumah sakit.  Nanging I Bapa sekadi anak sané nénten madué harapan, nénten purun makta kurenané mapriksa. Santukan, sami obat farmasiné nénten daara sareng I Mémé. Sebet keneh tyangé nawang indiké punika.

Dugasé punika,  I Mémé sampun tingalin tyang pesu mulih meled nagih ngenceh kewéséné. Sungkan gering punika ngeranayang ipun merasa sekadi anyang-anyangan. Aget tumbasang tyang I Méme susu bubuk. Tundén tyang I Kadék pianak muani I Mémé ngaénang susu panes. Aget I Mémé nyidayang nginem susu angeté punika yadiastun wantah akedik. I Bagus cucuné, milu nyiup susu odahné, krana odahné ten nyak koné nelahang susuné punika. I Bagus wawu metuwuh telung tiban, ipun durung uning napi. Jeg siyupe susu punika sambilange nyeledét lan ngorahang jaen ring odah ipuné. I Mémé kedék sambilanga nanggehang sakit basangné. Pedalema cucuné sane nénten madué rerama. Sabilanga I Méme  inget tekéning kelacuran palekadan cucuné, ngetél sampun yeh matané.

Luh Eka Sundari ngeling sigsigan .  Méméné ngalahin mati. Tresna I Mémé ajaka Luh Eka Sundari yakti ageng pisan. Pianak atugelan Luh Eka Sundari, I Bagus punika wantah  I Mémé ane nyangkutin, ngempu lan merténin.  Luh Eka Sundari wantah pianak luh padidiana. Adine makakalih muani. Dugasé idup, I Mémé nénten taén ngorahang déwék ipuné gelem. I Mémé nika anak luh sané jemet megaé medagang nasi. I Bapa megaé di pasih ngalih tamu dados ‘guide liar’ ten mesértipikat. Dikénkéné polih jinah, dikénkéné mamuyung mulih. I Mémé sampun sané nulungin nambakin jinah akedik.

Kénten masi dugasé Luh Eka Sundari beling, nanging nénten akuina ajak I Muani. I Mémé sampun sané dados dadalan gumi, dadalan désa. I Mémé sampun dados taméng, keni kawon.  I Mémé kasambatang nénten bisa ngajahin pianak. I Bapa uyut, pisaga uyut. I Mémé siyep. Kemamai I Mémé ngatehang Luh Sundari sané beling gedé ngalih wantuan hukum, mangda yén lekad I Kumara nénten kasambat pianak bebinjat. Gelis satua, aget masi anaké muani sané melingang Luh Eka Sundari nyak  ngakuin  I Bagus dados pianak ipuné.

Nika sampun kasurat ring surat pernyataanné, nanging ipun nénten purun nganténang Luh Eka Sundari. Ipun anak kari makurenan lan madué pianak kalih, luh-muani. Béh, daya sajan anaké muani puniki, cocok sampun ipun dados politisi. Mangkin, Luh Eka Sundari  kabawos dados single parent, ngelah pianak nanging nénten madué kurenan, sampun biasa sekadi mangkinné. Napi malih, makéh mangkin anaké lanang kemamai mekarya belingan nanging nénten nyak ipun  ngakuin utawi nénten nyak nganténang kabakané. Muani sekadi puniki kari meled idup cara kedisé, mekeber  bébas.

Luh Eka Sundari ngeling, inget dugasé méméné masuk rumah sakit. “Kanker rahim stadium 3B” kenten dokterné maosang. Artine, sakitné I Mémé sampun parah, kawon pisan. I Mémé patut nyalanang kémoterapi. Sampun kaping kalih makémoterapi, rawuh kertas masurat angka  40  yuta, preabéa rumah sakit. Luh Eka Sundari  paling makyayangan pacang ngerereh jinah akeh punika, mangda  méméné dados kawaliang mulih. Peluhné ngetél, sirahné pengeng. Napi koné anggén jaminan yéning ipun pacang meled nyilang jinah ring finance utawi koperasi, napi malih di bank? Kadirasa ngajeng anggén sewai-wai kemanten ipun kari mautang kemamai. Ngalih gaé cara mangkiné  durung karuan ngemaang gaji sane cukup anggen idup, napi malih anggen mayah piutangan ageng. Dije koné nuduk jinah akéh sekadi punika?

Nanging, yéning ipun nénten nyidayang molihang jinah punika, sinah méméné nénten dados mulih lan prebéa rumah sakité punika sinah lakar ngakéhang. I Bapa lan adin ipuné sami  ngangsel,  nyagerang Luh Sundari,  kénkén je carané pang polih pipis sekadi  isin notané punika. Nyama sampingané makejang ngorahang nénten madue jinah. Pisagané masi patuh kénten. Cutetné, nénten wénten anaké sané madué jinah diguminé puniki. Kije ye sami jinahé melaib lan mengkeb dugasé punika, nggih?

Luh Eka Sundari ngeling, ngeliling  didipané.  Méméné mati amah kanker rahim dijumahné. I Bapa nénten bani malih makta kurenanané ke rumah sakit. Ipun sampun masukserahang  nasib kurenanané ring  Ida Betara. Ipun nénten madué  napi. Yéning ké uling dumunan petugas ring rumah sakit ngaturang informasi indik wantuan pemerintah sekadi JKBM lan Jamkesnas, sinah I Mémé polih pengobatan, nambanin gering kanker rahim ipunné  tanpa prebéa.  Nanging sampun telat. Kanker rahim seka bedik mentik ring tengahing  awak  lan ngamah urip I Mémé.  Di kamarné, I Mémé maguyang nanggehang sakitné kanti mati. “Jatu karma!” kénten krama banjarané ngibur, ngeliangang manah I Bapa. I Mémé mati, kramané matulung makta wadah ka setra lan ngabénin I Mémé mangda ipun gelis dados betara.

Luh Eka Sundari kari ngeling sigsigan. Bapane,uwané, misané, sami penyamané nénten ngemaang Luh Sundari nelokin méméne sane sampun padem. Lek koné reramané nampi Luh Eka Sundari di arep  témpékanné. Lek koné ngelah pianak luh sané ngai kawon adan kaluargané. Lek ulian Luh Eka Sundari beling, nentén wénten kurenané, ulian ipun dados single parent. Napi malih Luh Eka Sundari mangkin nongos ring penjara.

Luh Eka Sundari nénten nyidayang kije-kije, mapingit ring  tengahing natah sané masengker besi. Nangging, nénten wénten kaluargané kahyun nyambatang, ulian napi ké Luh Eka Sundari nongos ring penjara? Palingan sami kitak-kituk, mapi-mapi nénten uning napi. Luh Eka Sundari mategul tanpa tali santukan meled keneh ipun ngayahin méméné dugasé kari idup,  dugasé I Mémé kari ring  rumah sakit. Jengahé nénten madué pipis mekardi ipun mapikenoh bawak, molihang jinah uli ngerereh pemargi sané kawon. “Kénkén je carané maan 40 yuta!” kénten minab kenehné  mamunyi ring kupingné Luh Eka Sundari.

Luh Eka Sundari sampun mautsaha nyalanang  tresnané ring mémé ipuné. Sesampuné mayah rumah sakit, I Mémé dados mulih. Nanging, Luh Eka Sundari ejuka lan kurunga cara anak  matelung bulanan, ring kurungan besi sané ageng. Ipun mangkin kaparipaksa ngijeng ring penjara, kirang langkung sampun makiré atiban.

Méméné mati, Luh Eka Sundari ngeling sigsigan. Mekamen ring sunduk, Ipun maseselan  merasa nénten nyidayang  ngayahin  I Mémé nganti  kalahina mati. Ipun mepangenan, inget ring tresnan méméne dugasé kari idup. Sesampuné mati, nénten nyidayang Luh Eka Sundari nyujuh napi malih ngusud, mayasin paukudan lan nututin kajang méméné ka sétra. Luh Eka Sundari wantah bisa ngeling nyantos lemah sambilanga masoda nasi, yeh, kopi, dupa lan canang. Sesampuné ngabén, roras dina Luh Eka Sundari sampun ngacepang  I Mémé saking  kamar ipuné di penjara. Miribné, I Mémé sampun neked dikadituan. Sambilanga mebakti, Luh Eka Sundari ngeling sigsigan, inget yéning méméné sampun mati. Satua idupné sampun puput.

Katur ring:   N E W ring Sanur, 6 Februari 2011

DADOS RABI

Sampun  telung tiban tyang  metimpal sareng Gung Sri. Tyang sareng ragané megaé ring bagian akonting ring Hotél Manik Galih . Megaé di hotél patut madueg-duegan ngalih timpal. Apang wénten ané dados ajak mapaitungan indik metukar  shift utawi jam kerja nuju  wénten  pikobet  adat di désa. Gung Sri, anak istri jegég mekulit gading niki setata sadia yéning tyang nunas tulung ring ragané. Kénten masi yéning Gung Sri wénten pakayunan matukar cuti, tyang setata dados cagerina. Gung Sri lan tyang kocap  dados ‘Team Paling Kompak’ ring kantor. Read the rest of this entry »

AGUNG YENNI : “ THE SUPER MOM” YANG BERSINAR

BUKAN PERAWAN LAGI by gayatri mantra


D

ulu, bapak adalah segala-galanya bagiku. Ia tempat mencurahkan segala masalah. Tapi itu tidak lagi, sejak aku mengenal seorang lelaki lain. Kami berjumpa di sekolah. Kami saling jatuh cinta. Orang bilang itu cinta monyet. Lelaki itu sungguh tampan dan berperilaku santun. Semua kebaikan ada padanya. Tetapi bapak tidak menyukainya. Bapak seperti membenci lelaki yang kusayangi. Aku pun jadi membenci bapakku sendiri. Read the rest of this entry »

BAYIKU by gayatri mantra


“Perempuan! Beratnya 3,5 Kg, Panjangnya 50 Cm. Selamat ya, Bu! Putrinya cantik sekali”.

P

erempuan lagi! Ini anak perempuan ketiga yang kulahirkan. Perasaanku tidak begitu berbahagia. Kecewa, ya aku begitu kecewa dengan jenis kelamin anakku! Aku tak ingin lagi memikirkan bayi itu. Aku memikirkan perasaan suamiku yang sedang menggendong bayi yang baru saja kulahirkan. Mereka berdua tampak bahagia. Benarkah ia bahagia dengan kelahiran anakku itu? Perempuan! Aku sungguh terpukul! Aku tak dapat menerima kenyataan ini. Aku tak dapat menerima anakku. Aku tak sanggup menerimanya, karena ia perempuan lagi! Read the rest of this entry »

MENEMBUS BATAS TIRANI by gayatri mantra


mahasiswa menuntut pemerintah membebaskan petani dari pajak yang mencekik leher…menurunkan harga minyak goreng…mengganti kerugian korban lumpur panas….meminta negara menginvestigasi penyiksa  TKW dari negeri ini…” demikian laporan pembaca berita di sebuah TV. Read the rest of this entry »

« Older entries