KORI by Gayatri Mantra

Kori, gerbang mungil bertembok tanah liat itu tampak rapuh dikunyah waktu. Kulit tua jelanan, daun pintu kayu tanpa pulasan itu telah terkelupas. Permukaan pintu dipenuhi guratan tanda-tanda jaman, seperti keriput penanda ketuaan. Kori ini membisu menyimpan sejuta rahasia orang-orang yang hidup didalamnya. Dan kini, kori ini mencoba untuk angkuh menghadapi isak tangis Ni Kebek, wanita yang pernah lahir di pekarangan rumah ini.

Ni Kebek menangis di depan kori berpalang dari dalam. Tidak ada yang membukakannya pintu. Tidak ada! Itu bukan berarti tidak ada penghuni didalamnya. Di dalam tembok pekarangan, Ni Tampi membisu di dapur bertembok hitam bekas asap dari tungku perapian. Ni Tampi duduk dengan wajah mengeras karena ditindas ketegangan. Kebek adalah putrinya, adik dari I Naban, putra satu-satunya. Raungan Ni Kebek dari luar pagar tembok rumah menyayat relung hatinya. Dan ia mencoba menguat-nguatkan dirinya untuk tak bergeming  dari dapur itu. Meski kemudian, ketegangan ini telah memeras emosi dan menggantungkan sebulir air disudut matanya. Sejenak, airmata itu menitik lalu menjangkau tulang pipi.

Read the rest of this entry »

Advertisements