RANPERDA PERLINDUNGAN ANAK

Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Perlindungan Anak digagas sebagai inisiatif dari Pansus Perda Perlindungan Anak, Komisi IV DPRD Provinsi Bali. Sayangnya semangat perancangan Peraturan Daerah ini lebih kuat didorong unsur politis. Substansi yang semestinya ditujukan untuk menjadikannya sebagai instrumen yang mumpuni dalam upaya memberikan perlindungan bagi anak-anak Bali, menjadi pereduksian realitas sosial anak. Ranperda menjadi arena politik karena ada indikasi rancangan dipaksakan untuk diselesaikan dan bila perlu disahkan menjadi Perda sebelum pemilu 9 April 2014 ini sesuai dengan yang disampaikan sekretaris Pansus, Ibu Utami.

Beruntung, YLBHI-Bali berinisiatif mengajak stakeholder bertemu pada 13 Januari 2014 untuk berpartisipasi dan menganalisa konten Ranperda Perlindungan Anak. Pertemuan ini menjadi penting untuk mengantisipasi adanya upaya menggampangkan masalah dengan melakukan generalisasi isi Ranperda seperti mencontek dari berbagai sumber perundang-undangan, atau yang lebih fatal jika ditemukan adanya indikasi mencontek Ranperda serupa dari provinsi lain yang secara substansi tidak sama dengan Bali. Padahal substansi Ranperda harus bersumber dari realitas kebutuhan anak untuk mendapat pengakuan identitas, untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar.

Konsep anak
Pada ketentuan umum Ranperda, disebutkan konsep anak mencakup anak yang berusia hingga 18 tahun. Agar sesuai dengan substansi Ranperda, dalam ketentuan umum belum dijelaskan tentang anak disabilitas, anak penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak dengan layanan khusus yang berhubungan dengan sistem pendidikan untuk anak Indonesia. Perancang Ranperda tampaknya belum mengikuti perkembangan semiotik kebahasaan terutama perkembangan peristilahan baru, seperti masih menggunakan kata anak cacat, padahal sekarang sudah disosialisasikan istilah anak disabilitas. Perancang Ranperda juga perlu mengetahui perbedaan konsep anak disabilitas dan anak dari penyandang disabilitas dimana kedua konsep ini masih berhubungan dengan Ranperda, karena keduanya tidak jarang menjadi korban bullying pelecehan baik di sekolah maupun di lingkungannya.

Paradigma tentang Anak
Paradigma Ranperda ini masih bersifat otoriter, memosikan anak sebagai mahluk yang tak berdaya (disabilitas), rentan dan dianggap tidak mampu membuat pilihan-pilihan sendiri, serta mengabaikan nasib anak-anak yang berdaya dan anak yang bertalenta. Tentunya partisipasi anak untuk turut serta dalam penyusunan Ranperda yang akan memengaruhi hidup dan masa depan anak-anak Bali, perlu didengar sebagai aspirasi penting. Forum Anak Bali, perwakilan OSIS dari berbagai sekolah, Seka Teruna, kelompok komunitas anak dan remaja, lembaga pemerhati dan peduli anak perlu diberikan ruang untuk terlibat memberikan masukan untuk memahami berbagai kebutuhan dasar anak dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam mengawal proses perancangan Ranperda ini menjadi perda perlindungan anak.

Koreksi Kritis
Beberapa koreksi kritis tentang konten Ranperda : menyangkut dasar-dasar hukum yang dijadikan pertimbangan; perlunya kejelasan koordinasi terutama SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang mengimplementasikan Perda jika telah disahkan; koordinasi SKPD dengan stakeholder; transparansi dan teknis mendapatkan akses pendanaan dalam penanganan perlindungan anak. Beberapa dasar hukum seperti UU tentang Disabilitas dan UU tentang kependudukan belum dijadikan pertimbangan. Jalur komunikasi SKPD harus dibuat sebening air mineral agar tidak memunculkan polemik dan indikasi adanya saling lempar tanggung jawab dalam SKPD.

Kesehatan reproduksi anak juga belum diatur dalam Ranperda, termasuk hak anak untuk menentukan orientasi seksual dirinya. Argumentasi: ada anak yang terlahir dengan kelamin ganda atau ada anak yang merasa berada di tubuh yang salah karena jenis kelamin yang dimilikinya tidak membuatnya menjadi pribadi yang utuh.

Pendidikan khusus dan layanan khusus untuk anak perlu di atur dalam Ranperda yang mengacu pada kebutuhan anak disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak yang hidup dalam penjara. Poin penting lainnya dalam Ranperda ini adalah menyangkut akses untuk anak, seperti ruang bermain, tempat dan lingkungan bertumbuh kembang yang baik untuk anak.

Hak atas identitas pribadi juga belum dimasukkan dalam isi Ranperda. Dasar argumentasi: banyak anak-anak yang dibuang dan ditelantarkan, diadopsi sehingga mereka berhak untuk mengetahui asal usulnya.

Sebagai homo ludens, mahluk yang bermain, manusia khususnya anak membutuhkan ruang bebas untuk mengeskpresikan diri. Ruang atau taman bermain untuk anak dan remaja merupakan kebutuhan penting yang memiliki fungsi rohani mengekspresikan emosi dan menyalurkan agresi secara positif untuk mencegah kriminalitas anak. Sayangnya, ruang atau taman seperti ini begitu minim disediakan pemerintah. Akses yang tak kalah penting dan harus jelas dan tegas dalam Ranperda ini yaitu teknis mendapatkan akses dana untuk upaya perlindungan anak. Selama ini administrasi yang menjelimet dan sistem koordinasi yang tidak jelas dirasakan merugikan berbagai organisasi perlindungan anak.
Masyarakat juga membutuhkan shelter atau rumah perlindungan anak. Konsep yang dipahami pihak kepolisian dan aktivis perlindungan anak menganggap bahwa pembangunan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) merupakan shelter bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Sayangnya dalam pandangan dinas sosial, RPSA ini bukan panti untuk tempat tinggal anak dan tempat ini hanyalah untuk berkonsultasi. Perbedaan persepsi ini jika tidak dikomunikasikan tentu menimbulkan polemik.

Prematur
Staf ahli yang ditunjuk anggota dewan legislatif untuk membantu merancang Perda Perlindungan Anak ini perlu memahami, bahwa konten Ranperda tidaklah sama dengan konten dalam Undang-Undang yang cenderung merupakan generalisasi masalah dan bersifat normatif. Ranperda ini masih begitu prematur untuk dipaksakan menjadi Perda karena berbagai masukan stakeholder belum terakomodasikan di dalamnya.

Ranperda Perlindungan Anak ini harus benar-benar menyentuh kehidupan, mendekati realitas kehidupan sosial anak Bali. Sehingga, jika Ranperda ini dipaksakan untuk disahkan menjadi Perda sebelum pemilu dengan mengabaikan pandangan stakeholder, merupakan praktik kekerasan simbolik dari panitia khusus dewan legislatif yang terlibat dalam Ranperda ini, yang harusnya berpihak pada rakyat.

Tentu para stakeholder tidak berharap hasil pembahasan Ranperda hanya akan menghasilkan wacana hipersemiotik dimana Perda yang nantinya diproduksi dan didistribusikan tak lebih sekedar menjadi “piagam” yang tidak dapat digunakan sebagai instrumen penegakan hukum bagi perlindungan anak. Intinya, Ranperda sebaiknya jangan dijadikan instrumen politik dan dijadikan sebagai trajektori kesuksesan kinerja anggota dewan legilatif sebelum realitas kebutuhan anak benar-benar dijadikan dasar penyusunan Ranperda ini.

Advertisements

JAMBAN BALI

Jamban alias WC (water closet) tempat khusus untuk buang hajat: tinja, kencing dan sampah perut lainnya. Ih, jijik! Jangan jijik dulu! Kalau semua sampah perut itu tidak keluar dengan baik, pastinya hidup manusia akan sangat menderita, dari diare hingga sembelit alias ambeyen. Bahkan lebih fatal lagi,  konon jika tidak berhajat dengan baik akan mengancam jiwa alias bikin orang mati. Pasien yang paling gawat sekalipun dikontrol dokter dengan memeriksa feces (kotoran perut) dan memastikan  pasiennya kentut. “Udah kentut apa belum?”. Itu akan jadi pertanyaan  dokter kepada pasien yang sama pentingnya dengan pertanyaan malaekat kepada tubuh manusia: “masih hidup, apa sudah mati?”.  Jamban menerima segala penderitaan, kotoran sebagai ekses dari pola konsumsi manusia dan menjadi ruang yang paling pribadi dari manusia modern Bali.

Jamban orang Bali pada masa kini mengalami penyempitan ruang dan makna. Dulu jamban memiliki ruang yang luas: sepanjang  aliran sungai, seluas ladang yang membentang. Ruang luas itu memanjakan orang-orang Bali untuk berhajat secara merdeka. Jambanisasi pada  era 80an merubah konsepsi manusia Bali tentang ruang berhajat di tempat terbuka menjadi  kamar khusus untuk Buang Air Besar (BAB). Ruang berhajat yang sebelumnya di ruang terbuka itu, mungkin punya fungsi yang juga luas juga untuk memupuk kebun atau untuk konsumsi hewan ternak celeng yang pada masa itu masih berkeliaran di halaman rumah.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Bali, tahun 2013 ini masih ada sekitar 12 persen warga Bali yang tak terakses jamban sehat. Masyarakat yang tidak terakses ini masih buang air besar di saluran air seperti sungai dan tegalan. Menurut Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinkes Bali, I Wayan Yogianti, capaian akses jamban sehat di seluruh Bali sekitar 88 persen. Angka ini melampaui target 85 persen dan di atas rata-rata nasional yang menargetkan angka 62,37 persen.

Kini, jamban berada di ruang sempit dan gelap dan bau anyir tak bisa ditutupi dengan pintu yang kadang engselnya telah mencantel dengan kondisi sekarat. Kapur barus di lantai tak kuat menutupi semua bau-bauan yang tak sedap dari jamban yang berkerak, berlantai  keramik tapi berlumut dan tembok yang berkelabang. Jamban duduk model terbaru yang dipajang di toilet perkantoran, tutupannya sering basah berwarna kuning bekas tetesan pipis seseorang. Jamban model baru ini memang lagi trend, tapi tidak banyak yang tahu bagaimana memakainya. Mestinya bantalan itu dipakai untuk perempuan. Bantalan jamban duduk mestinya disandarkan pada tangki airnya, sebelum digunakan untuk pipis oleh laki-laki, sehingga setelah digunakan ditidurkan kembali pada dudukannya agar tidak tampak lagi tetesan kencing yang bau anyir itu.

Pada abad ke-21 ini, “Jamban duduk” di mall-mall masih tampak bekas telapak sepatu yang artinya ada yang jongkok di atasnya. Entah, karena kebiasaan, tidak mengerti memakainya atau jijik karena kotor? Sekolah, kampus, rumah sakit, gedung pemerintahan, perkantoran bahkan bandara interansional ngurah Rai di Bali anehnya memiliki jamban seperti itu. Bupati Jembarana pun sempat murka karena menemukan toilet di kantor Dikporaparbud Jembrana  digunakan sebagai gudang menyimpan komputer bekas, mimih ratu betara! Ini sudah alih fungsi yang luar biasa!

Pada KTT APEC tahun lalu yang dihadiri sejumlah tamu negara penting harus menghadapi kenyataan toilet di daerah kunjungan wisata Bali jauh dari kata layak pakai karena kotor dan rusak. Kebersihannya tidak beda jauh dengan kualitas hiegenisnya jamban pasar, terminal dan pompa bensin (terkadang airnya juga berminyak). Tak bisa dibayangkan wajah profesor, doktor, sarjana, pejabat, pegawai , tamu Negara duduk di atas jamban seperti itu. Entah kenapa jamban dibiarkan anyir, bau dan kotoran dibiarkan mengambang karena salah cara menginstalasinya.

Di desa, masih banyak yang menggunakan jamban jongkok. Itupun diletakkan di ruang tersembunyi yang kecil, gelap, pengap dan pastinya tetap anyir. Airnya di bak tampak keruh penuh kotoran cecak, jentik nyamuk, air keruh, dan bekas sabun batangan dan pasta gigi lengket di tepian bak air. Dekorasi toilet ramai dengan pakaian kotor yang digantung dan direndam di ember. Coba saja meminjam kamar mandi di perkampungan di Bali,  tidak sedikit pemilik rumah akan minta maap kepada peminjam, karena kamar mandinya kotor. Tapi anehnya, keadaan kotor itu tidak segera diperbaiki. Jelas terjadi pembiaran, padahal itu kan sumbernya berbagai penyakit? Tampak terjadi ketidaksesuaian apa yang dipikirkan pemilik tentang kamar mandi yang seharusnya digunakan “tamu” (mestinya bersih) dengan kamar mandi yang digunakan mereka untuk sehari-hari (sudah biasa kotor).

Jamban bagi orang Bali itu tempatnya di zone “nista” alias rendahan, jadi membersihkan jamban  di rumah sendiri dianggap sebagai pekerjaan hina. Tapi anehnya, orang Bali tidak keberatan bekerja membersihkan WC hotel agar turis bule bisa buang hajat dengan nyaman, tentram dan damai. Bahkan, untuk ini mereka harus bersekolah khusus menjadi cleaning service selama bertahun-tahun dengan biaya mahal. Kebayang kan jika kamar mandi di perumahan di kampung merupakan kamar mandi umum yang digunakan beberapa anggota keluarga? Mulailah konflik muncul: siapa yang paling pantas membersihkan jamban?” Karena semua merasa tidak pantas, maka tidak ada satupun yang berniat membersihkan kamar mandi apalagi jambannya yang salome, satu lobang dipake rame-rame.

Orientasi orang Bali memosisikan jamban sungguh berbeda dengan “Nak Jawa” alias orang-orang di Jawa. Kamar mandi di tempat-tempat pemberhentian truk sepanjang perjalanan dari Ketapang menuju Surabaya tampak kinclong , minimal airnya jernih, lantainya masih kesat dan jambannya bersih. Mengapa? Karena kamar mandi bagi mereka memegang peranan penting yang digunakan untuk mendukung ibadah, berwudu. Bahkan saking bersihnya, untuk mandipun bisa digunakan.

Kapankah orang Bali bisa memiliki WC yang hiegenis? Minimal WC yang di areal tempat suci (pura) yang juga digunakan untuk pariwisata juga bersih dan nyaman agar tidak diprotes delegasi tamu penting seperti kejadian sebelumnya. Bukankah kebersihan adalah ibadah? Bagaimanapun, jamban itu merupakan instrumen penting bagi kelangsungan hidup manusia. Jambanisasi sejak era 80-an  ini tentu bukan hal yang mudah.  Perlu transformasi yang nyata untuk  membuat program jambanisasi dan kebersihan kamar mandi. Lagipula, penduduk Bali sampai saat ini masih banyak yang belum menikmati jamban di rumah-rumah mereka. Dan transformasi jamban jongkok ke jamban duduk tidak disertai pemahaman tata cara menggunakannya. Selain itu masyarakat juga perlu diajarkan untuk membersihkan kamar mandi dan jambannya secara teratur. Sehingga, kenyamanan berhajat tidak melulu diperuntukkan untuk bule, orang Bali juga bisa kalau mau. Semoga pemerintah Bali dapat mendorong perubahan outlook atau tampilan Jamban di Bali  menjadi lebih hiegenis.

Denpasar , 6 Januari 2014

Sumber:

http://www.indonesiainfrastructurenews.com/2013/10/joroknya-toilet-bandara-ngurah-rai/

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/5/6/b1.htm

http://news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=37025&Itemid=5

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=82221

BIRAHI MERAH

Mang Denik tumben mampir ke tempat kosku. Ia masih sepupu jauh dari kampung. Kami berdua sama-sama merantau di kota ini untuk mengejar impian masing-masing. Aku menjadi guru dan Mang Denik menjadi pemandu wisata. Meskipun tinggal berjauhan, kami masih saling mengunjungi untuk berbagi berita dan rejeki.  Kami masih sama-sama lajang, dan sering meluangkan waktu sekadar cuci mata bersama. Pacar ada sih, tapi lebih enak kumpul-kumpul dengan keluarga dan kawan sekampung, sekadar membunuh keterasingan.

Senja ini, Mang Denik tampak tergopoh-gopoh datang ke kos. Ia meminta agar besok lusa aku mesti membuat jadwal cuti karena ada parum agung, rapat akbar di kampung. Tentu saja aku kaget, tidak biasanya desa menggelar rapat semendadak ini, lagi pula perayaan desa baru saja usai.

“Lusa, kita berdua mesti pulang kampung, penting! “ demikian perintah Mang Denik kepadaku sambil menyeruput kopi panas, mencicip sepiring penganan pisang goreng dan ote-ote kesukaannya.

“Yang benar saja? Perayaan desa kan udah selesai, lagi pula lusa nanti aku  mesti memberikan les tambahan untuk murid-muridku”. Tentu saja aku mesti memberitahu Mang Denik tentang hal ini.

“Harah, undur saja jadwalmu. Di kampung lagi genting, tauk! Sepupumu, Si Degeng  ditangkap pecalang kemarin sore. Akupun mesti pulang gara-gara Degeng, huh… ” Keluh Mang Denik dengan mulut berminyak penuh gorengan, membawa kabar yang tak mengenakkan hatiku.

Degeng seperti namanya kecilnya, sosok sepupu yang patuh, tak banyak cakap, pendiam dan tipe pria rumahan. Mendengar kabar sepupuku ini ditangkap pecalang keamanan desa kami, tentu itu seperti petir di siang bolong. Apalagi, Degeng baru saja menikah dan setahuku istrinya sedang mengandung 4 bulan.

”Ha…, apa masalahnya sampai sepupuku mesti mengalami nasib naas begitu? Apa salahnya?! ‘’

Mang Denik menarik nafas dan mencoba menerangkan dengan merendahkan nada suaranya ‘’Sore kemaren, sepupu kita itu tertangkap sedang bersetubuh dengan sapi betina peliharaannya!”  

Jeder! Suara halilintar seperti terdengar tepat diliang telingaku. Kaget, tentu saja! Aku yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak, hampir saja menyemprot muka Mang Denik. Cerita ini membawa pikiranku ke jejeran ruang sempit di warnet-warnet dekat kampus. Apa  yang diceritakan Mang Denik, begitu mudah diunduh di layar komputer. Tayangan manusia bercinta dengan berbagai binatang dengan beragam gayapun ada. Tontonan bokep, film porno seperti itu malah lebih heboh dan bervariasi. Cukup  di down-load saja.

Tetapi, berita ini menjadi berbeda! Tak bisa kubayangkan peristiwa itu terjadi pada sepupuku, Si Degeng! Tak bisa kubayangkan bagaimana petani ini digiring masyarakat ke balai desa untuk disidangkan karena peristiwa memalukan semacam itu. Dewa Ratu! Si Degeng bersetubuh dengan hewan ternak peliharaannya! Dan, bagaimana perasaan istri dan keluarga? Haruh, akupun jadi turut cemas memikirkan hal ini, tapi aku ingin Mang Denik melanjutkan kabar anyar dari kampung.

”Degeng mengaku dihadapan para tetua adat, bersetubuh empat kali dengan sapi itu. Dia mengaku waktu bersenggama ia tengah membayangkan sapi betina itu seorang wanita cantik. Degeng yakin, pastinya wanita cantik yang menggoda dirinya hingga birahi itu mahluk jadi-jadian. Lalu, warga desa pun setuju itu adalah mahluk halus. Terus, mereka juga menyimpulkan bahwa Si Degeng melakukan persetubuhan dengan sapi itu karena rayuan hantu binal yang merasuki tubuh sapi itu. Apalagi, kandang sapi itu sangat serbi, sunyi. Itu sebabnya, kita diminta hadir untuk memutuskan kapan pelaksanaan upacara adat pembersihan desa dapat kita laksanakan. Yang jelas, sepupu kita itu diputus bersalah melanggar hukum adat, gamia gamana  atau  salah krama” Mang Denik merangkum informasi yang ia dapatkan dari para kerabat kami di kampung.

”Ada-ada saja kamu ini, Mang! Jelas saja Degeng bercinta sambil membayangkan sapi itu manusia, perempuan cantik. Bercinta juga butuh fantasi, kan? Kasihan sekali mahluk halus yang dipersalahkan manusia karena dalih dan kelakuan Degeng ini. Mungkin saja mahluk halus itu tidak tahu apa-apa. Dasar Si Degeng saja yang tak mampu mengendalikan birahinya. Apa tidak sebaiknya Degeng ini diserahkan kepada dokter? Siapa tahu dia mengalami gangguan kejiwaan dan orientasi seksual yang menyimpang? Lagian kamu kan suka nonton bokep, masak kamu tidak pernah melihat adegan begitu?” gerutuku pada Mang Denik, sembari menyalakan televisi sebagai selingan.

Entah kenapa, cerita tentang Degeng membuatku tiba-tiba diserang gelisah dan cemas. Bagaimana tidak? Selama urusan seksualitas tetap tabu, bagaimana kelak anak-anak muridku bisa memahami seksualitas dirinya dengan baik? Atau, mengatasi masalah seperti Si Degeng, sepupuku?

”Iya, aku sih sudah tahu ada bokep begituan. Tapi, kamu ini kan guru?! Kamu saja yang menjelaskan pada tetua adat kita. Kita sendiri sudah tahu, mereka tidak senang keputusannya dipertanyakan lagi. Mereka lebih senang berkomunikasi dengan dukun. Lebih baik kita cari selamat saja. Turuti saja kata-kata tetua adat itu daripada kita lagi yang dipersalahkan! Sudahlah, kita terima saja ini sebagai aib keluarga kita! Katanya, sapi betina itu akan dibunuh, lalu kita akan melakukan guru piduka, permohonan ampun pada dewata dan mengadakan upacara besar bersih desa lainnya”.

Mang Denik sudah pasti pesimis menangapi  ideku tadi akan diterima tetua adat kami. Masalahnya, kami berdua sudah tidak menetap di kampung. Itu artinya, kami tidak berhak ikut campur keputusan desa. Mang Denik menyibukkan diri mengunyah gorengan yang terakhir. Jelas, Mang Denik juga gelisah karena belum mendapatkan keputusanku untuk  berangkat dengannya lusa nanti.

”Tetapi apa yang akan dilakukan masyarakat desa kepada Si Dengeng?” tanyaku pada Mang Denik.

Diam-diam aku ingin tahu. Sebab, dari tadi hanya sapi sial ini saja yang menjadi fokus dalam cerita ini. Aku membayangkan, andaikan sapi itu bisa bicara mungkin dia akan protes karena telah diperkosa tuannya. Nasib buruk sapi ini tidak beda dengan TKW di Saudi, ada yang diperkosa dan tidak sedikit yang mati. Lalu, masyarakat desaku yang tak tahu menahu tentang kejadian ini dikerahkan untuk menggelar hajatan karena skandal seksual ini, dan  melupakan kemungkinan Degeng sepupuku butuh bantuan dokter jiwa. Sial!

 ”Akupun tak tahu, mungkin Degeng dikenakan sejumlah denda uang” Mang Denik mengangkat bahu dan kedua alisnya tanda ia tidak begitu memusingkan apa yang terjadi dengan sepupuku. Dia juga tak tahu apa yang akan terjadi jika Degeng tak sanggup membayar denda uang itu. Baginya, yang penting dia menghadiri rapat, setor muka dan masalah selesai. Lagi pula, wajahnya sudah tampak letih dan mengantuk. Itu berarti, sebentar lagi dia hendak bangkit dan pamit pulang ke kosnya.

”Baiklah kalau begitu, lusa kamu jemput aku dan kita berangkat bersama”.

Keputusan ini kubuat karena bagaimanapun aku adalah sepupu Si Degeng. Dan tentu saja, jika tidak mematuhi  perintah hadir rapat desa itu akibatnya lebih mengerikan daripada ancaman dipecat dari kantor. Sudahlah!

Mang Denik bergegas bangkit untuk segera pulang, namun tiba-tiba pandangan mata kami berdua tertuju pada layar televisi. Kami berdua sejenak terpaku menyantap suguhan berita tentang seorang lelaki pemilik kambing dengan bangga mempertontonkan kambingnya yang berkepala mirip manusia. Warga desa berduyun-duyung datang ke pondok lelaki itu untuk bisa melihat kegaiban itu dan memohon berkah pada anak kambing ajaib itu agar mendapat rejeki. Dan sebentarnya lagi, ditayangkan seekor babi betina melahirkan anak dengan memiliki tanda-tanda mirip bagian tubuh manusia. Televisi menyebutnya ajaib,  badah!

Tayangan itu membuatku tiba-tiba mual. Aku dan Mang Denik saling berpandangan dan bergidik. Jangan-jangan…..?!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEREMPUAN DAN KISAH BABI HITAM

Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah. Aku membajak hatiku dengan doa keselamatan. Aku menyuburkannya dengan hujan air mata dan bulir-bulir keringat [malam-malam usai suamiku membajak tubuh dan jiwaku]. Seperti sapi, Aku  sesekali melenguh menerima  benih yang ditebarkannya. Serupa orang-orangan sawah dengan rupa yang mengerikan, aku menjaga benih yang ditanam dirahimku. Tiba waktu untuk memanen kelamin, tunas itu kusemai sendirian di atas ranjang bersimbah darah. Laki-laki ataukah perempuan, begitu mereka menamai keunggulan. Sayangnya meskipun tumbuh di ladang rahimku, mahluk yang dipanen dari rahimku bukanlah milikku. Aku hanya bisa mengaku-ngaku ibunya, tanpa bisa memilikinya.

Sejak dulu, aku  dan perempuan sesuku tak punya tanah dan rumah di negeri ini. Perempuan dinegeriku bekerja menggarap ladang-ladang kehidupan yang bukan miliknya. Perempuan dinegeriku adalah semut pekerja, mencari penghidupan untuk memastikan kehidupan tetap terjaga, meski dalam musim yang paling buruk sekalipun. Dan jika letih mendera, mereka  memejamkan mata sekedar menumpang  tidur di rumah ayah dan ibu [kelak semua itu  menjadi milik saudara lelaki atau para paman], Sang Penjaga Ladang Silsilah.

Lalu pada waktu birahi dan bunting, para perempuan dinegeriku menumpang nasib di rumah para suami. Jika  beruntung, tubuh perempuan  seperti tunas pisang: dicerabut dari akarnya, dibenamkan,  kemudian dengan sendirinya berbuah dan tasak, mengenyangkan harapan setiap keluarga.  Jika nasib tiada berpihak, maka ia layu sebelum berkembang dan gugur mencium kerinduan pada bayangannya. Sendirian. Terkadang  tak sedikit yang mekar, kesegarannya dipetik lalu dijadikan persembahan dewata.

Sampai kinipun, aku perempuan tak punya tanah dan rumah. Meskipun jauh sebelum aku dilahirkan, kedua orang tuaku memiliki tanah dan rumah untuk ditempati. Dan, aku dibesarkan dalam rumah yang baru saja mereka bangun. Waktu itu tembok bata belum lagi diplester dan lantai masih berupa tanah. Beberapa babi hitam berbulu ijuk masih berkeliaran karena nenek yang memeliharanya untuk bekal hari raya. Aku menetas  dan tumbuh riang di tanah dan rumah milik kakek, lalu menjadi  milik  ayahku dan paman-pamanku. Aku dan anak-anak lain bermain diantara babi-babi hitam itu, tumbuh tanpa rasa jijik ataupun kebencian. Babi-babi hitam itu harta keluarga, tepatnya milik nenek karena ialah yang mengasihinya, memberikannya makan dan kebebasan.

Aku, perempuan  tak punya  tanah dan rumah. Meskipun beranjak dewasa, rumah ayah dan ibuku semakin menegaskan bentuk, warna dan menampilkan gaya. Sesekali aku mengundang kawan  untuk bertandang dan memperkenalkannya sebagai rumahku. “Hayo, main ke rumahku!”.  Namun, betapa malunya aku setelah beranjak dewasa, mengetahui semua itu hanyalah bualan masa kecilku. Ternyata, itu bukanlah rumahku. Aku hanyalah  bocah pengungsi yang riang dan tak tahu apa-apa.

Kini, kenangan itu sudah mati karena nenek juga sudah lama pergi ke Tanah Tua milik Sang Muasal. Begitu juga kisah Si Babi Hitam,  ia sudah punah dari ingatan. Tak ada lagi Bangkung, Si Babi hitam betina berperut buncit dengan puting susu menjuntai, serta ekornya melengkung yang bisa seenaknya menempati dan berak di halaman rumah bersama anak-anaknya. Mereka tampak begitu buruk rupa dengan mulut monyong dibandingkan dengan Si Babi Bule berwarna pink, babi ekspatriat yang lagi naik daun. Bahkan dalam dunia babi pun, diskriminasi warna dan kelas menjadi begitu ideologis. Hitam seperti  kutukan. Lokal menjadi  kelas rendahan dan dieliminasi. Dan, babi-babi tak bisa lagi menjadi binatang peliharaan rumah.

Kisah tentang hidup babi pun seperti sinetron, antara cinta dan benci. Ada tetangganya diam-diam memelihara babi, dibiakkan lalu dijagal ketika ada kelahiran bayi baru meminta pengganti jiwa anak babi, untuk keselamatan. Ada babi mati karena wabah, menjadi berita. Bentrok warga karena kandang babi, jadi berita. Ada juga babi terpaksa diungsikan karena diharamkan  pandangan mata, lidah dan titah. Menyebutkannya pun menjadi begitu memalukan dan memilukan.Tetanggaku bilang, babi-babi itu pergi dan mati karena bau, dan turis tidak menyukainya. Ah, babi hitam yang malang.

Aku, perempuan tak punya rumah, apalagi tanah. Tanah dan rumah adalah milik lelaki dan aku hanyalah perempuan. Kemungkinan besar hidupku bernasib sama dengan kisah babi hitam itu. Perempuan, kelak mengungsi ke suatu tempat : birahi, kawin ,beranak dan mati tanpa ada yang mengingat namanya apalagi jasanya.

Lama aku amati ibuku. Ia perempuan sesuku. Ternyata ia juga sama sepertiku. Ia seorang pengungsi. Ibuku seorang perempuan yang tiada letih bekerja secara mekanik melayani kepentingan keluarga, kerabat dan desa. Selebihnya, Ia hanya menumpang tidur di rumah suaminya, di rumah ayahku, di tanah kakekku.

Atas nama kehormatan keluarga suaminya, ibu bekerja giat dan liat hingga tulang punggungnya melengkung dan garis keriputnya seperti serat  kayu tua. Ia berjuang di desa agar namanya diakui pernah ada di ladang yang digarapnya, di ladang silsilah milik suami serta kerabatnya.

Sebagai seorang pengungsi, hak menjadi sebuah kemewahan. Ibuku telah berusaha begitu keras untuk mendapatkan haknya. Dulu, aku tak mengetahui untuk apa ibu bekerja begitu giat, menyiapkan jenukan berisi beras, gula dan kopi untuk dibawa ke tetangga yang memiliki hajatan. Ia begitu cemas jika tak bisa melakukannya. “Semua tetangga melakukannya, kita pun harus begitu” kata ibu.  Konon, jika ia tak melakukannya, maka ia akan diperlakukan seperti bangkai anjing, tikus, ular yang dilindas roda kendaraan, dilindas kekuasaan dan digeret kejalanan tanpa kehormatan, meskipun ia sudah menjadi mayat sekalipun.

Setelah menjadi perempuan dewasa barulah aku mengetahui, ibu melakukan semua itu untuk mendapatkan hak meminjam liang kubur desa untuk dirinya sendiri. Demi Tuhan, hanya itukah hak yang ia dapatkan? Hanya untuk sebuah liang kubur? Dulu aku bertanya pada ibu, “Untuk apa semua itu?”.

Ibu menabung karma baik. Ibu berharap, jika ia mati warga desa sudi menanam mayatnya seperti tunas-tunas pisang di kuburan desa. Tiba waktu tubuhnya tak lagi berdaging, warga sudi mengangkat belulangnya untuk dijadikan abu. Hanya itulah hak perempuan dan impian-impian perempuan tanpa rumah dan tanah dinegeriku.

Ibuku dan juga nenekku adalah pengungsi di rumah dan tanah yang sama. Nenekku pun menjadi pengungsi di tanah kakekku. Perempuan di negeriku mengungsi tanpa membawa bekal apapun.  Dan kakek mendirikan pasak rumah baginya untuk menjadi naungan dan membiakkan anak  keturunan. Begitu pula yang dilakukan oleh ayahku, anak laki-laki di rumah mereka. Bibi-bibiku sejak lama berlalu dari rumah  itu dan menjadi pengungsi di rumah lain. Mereka menyebut dirinya di ladang asing sebagai istri. Dan, paman-pamanku membawa istri ke tanah dan rumah milik mereka, setelah memetiknya dari halaman dan rumah keluarga lain yang masih sesuku.

Perempuan itu sesekali saling bergunjing, sesekali saling mencibir,  sambil menggantang asap dengan pikiran yang sia-sia dan bodoh. Perempuan di negeriku tak banyak yang pandai bicara. Mereka lebih banyak  bergumam dalam doa, menghibur diri karena sayapnya telah dipatahkan. Mereka pun tak punya rumah dan tanah. Pulang, menjadi kata penghiburan. Kemana? Rumah siapa?

Begitulah perempuan di negeriku. Seperti kisah babi hitam, perempuan dihajar waktu dan musim, menua, menjadi buruk rupa yang tak sedap lagi dipandangan mata.  Perempuan, tersingkir dari  ruang dan waktu, sebagai orang-orang ungsian tanpa ingatan tentang nama dan silsilah. Karena, ladang itu hanyalah milik lelaki yang mengukirnya sebagai sejarah. Aku menua dan menuai seperti ibu dan nenekku. Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah, pengungsi yang kelak mati seperti kisah Si Babi Hitam.

 

KEKERASAN DAN BUDAYA KEKERASAN

APA ITU KEKERASAN?

Kekerasan (violence, bahasa Inggris) berasal dari kata latin violentus , berasal dari kata vi atau vis yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Kekerasan merupakan cerminan dari tindakan agresi atau penyerangan kepada kebebasan atau martabat seseorang oleh perorangan atau sekelompok orang. Kekerasan dapat juga diartikan sebagai tindakan yang sewenang-wenang dan menyalahgunakan kewenangan secara tidak absah.

Kekerasan adalah tingkah laku agresif yang dipelajari secara langsung,  yang sadar atau tidak sadar telah hadir dalam pola relasi sosial seperti keluarga sebagai unit paling kecil hingga kelompok-kelompok sosial yang lebih kompleks. Kekerasan terjadi dalam berbagai bidang  kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya.

Bentuk kekerasan banyak ragamnya, meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan psikologis, kekerasan ekonomi, kekerasan simbolik dan penelantaran. Kekerasan dapat dilakukan oleh  perseorangan maupun secara berkelompok, secara serampangan [dalam kondisi terdesak] atau teroganisir.

KEKERASAN DAN PERILAKU MENYIMPANG

Kekerasan juga diidentikkan dengan perilaku menyimpang. Tuti Budirahayu (2004) dalam buku “Sosiologi”  menjelaskan, perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku (nonconform), tindakan anti sosial (melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum dan tindakan kriminal (pelanggaran aturan hukum, mengancam jiwa dan keselamatan orang lain).

Penentuan siapa yang bisa disebut memiliki  perilaku menyimpang sangat relatif karena norma-norma yang mengatur perilaku juga bervariasi. Perilaku ini dapat dikenali dari reaksi orang lain (masyarakat) jika norma telah ditetapkan dan penyimpangan telah diidentifikasi.

Seseorang menjadi penyimpang karena proses interaksi dan intepretasi tentang kesempatan bertindak menyimpang, pengendalian diri yang lemah dan kontrol masyarakat yang longgar (permisif). Perilaku menyimpangan yang dilakukan kelompok disebut dengan subkultur menyimpang. Subkultur menyimpang memiliki norma, nilai, kepercayaan,kebiasaan atau gaya hidup yang berbeda dari kultur dominan. Subkultur misalnya, komunitas biker, rider, kelompok drugusers, kelompok homoseksual, kelompok punk, dan sebagainya.

Teori Yang Berkaitan Dengan Perilaku Menyimpang :

  1. 1. Teori Anomie

Pandangan ini dikemukakan oleh Robert Merton yang menyatakan,  perilaku menyimpang terjadi akibat adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi penyimpang.

  1. 2. Teori Belajar ( Teori Sosialisasi)

Edwin H.Sutherland menyatakan teorinya asosiasi diferensial yaitu penyimpangan itu adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari subkultur atau teman-teman sebaya yang menyimpang.

3. Teori Labeling  (teori  pemberian cap atau teori reaksi masyarakat)

Becker menyatakan teori bahwa penyimpangan merupakan suatu konsekuensi dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar. Misalnya Seseorang  yang terlanjur dilabelkan atau dicap negatif sebagai pemabuk  maka  orang itu justru minum sebanyak-banyaknya untuk mengatasi penolakan masyarakat terhadap dirinya.

4. Teori Kontrol

Teori ini muncul karena adanya pandangan yang  mengasumsikan bahwa setiap orang  cenderung tidak patuh pada hukum atau untuk memiliki dorongan pelanggaran pada hukum. Hirshi menyatakan empat unsur  pengikat  sosial (sosial bond) yang berfungsi sebagai pengendali perilaku individu yaitu : attachment (kasih sayang), commitmen (tanggung jawab), involvement (keterlibatan), believe (kepercayaan, kepatuhan, kesetiaan)

5. Teori Konflik

Teori ini menyatakan bahwa kelompok elite dengan kekuasaannya menciptakan peraturan, khususnya hukum, untuk melindungi  dan memenangkan kepentingan mereka. Persaingan kepentingan mengakibatkan terjadinya konflik antara kelompoks atu dan kelompok lainnya. (menurut : Quinney, Clinnard dan Meier).

APAKAH KEKERASAN ITU BUDAYA?

Ya. Kekerasan itu budaya, jika dilihat dari pengertian budaya sebagai sebuah cara hidup menurut Raymond Williams (pemikir kajian budaya/cultural studies dari Inggris). Budaya menurut Kephart meliputi adat istiadat / kebiasaan, nilai-nilai, pemahaman yang sama yang menyatukan sebagai masyarakat (Chaney, 2006).

Jelas, pada banyak sisi kehidupan kekerasan itu menjadi  budaya. Tafsir terhadap kekerasan itu sangat subyektif, bersifat kultural dan tergantung pada keyakinan, pandangan, nilai atau norma yang diyakini kelompok-kelompok masyarakat.

Motivasi kekerasan ditujukan untuk :  bertahan hidup (survival), memenuhi kebutuhan atas hasrat [libido] kekerasan, melanggengkan kekuasaan, mempertahankan diskriminasi dan  stratifikasi sosial.

Sebagai cara hidup, budaya kekerasan itu: dipelajari, diadopsi, dibiakkan, dikonsumsi dipertunjukkan, didistribusikan atau bahkan dijadikan komoditas fetishme [pemuas birahi kekerasan, seperti penjualan alat-alat kekerasan seksual bagi para sadomasokis].

APAKAH BUDAYA KEKERASAN ITU?

Budaya Kekerasan terjadi, ketika kekerasan (violence), ketakutan (horror) dan teror berkonspirasi membentuk perilaku yang menyimpang dan menjadi praksis kehidupan masyarakat.  Kekerasan  dianggap hal yang biasa karena menjadi komsumsi pikiran dan termanifestasi dalam tindakan sehari-hari.

Media massa memberikan kontribusinya yang sangat besar dalam mendistribusi kekerasan. Rumah-rumah produksi berlomba-lomba menyajikan tayangan  sinetron, reality show yang sarat dengan caci maki, intrik jahat, kisah yang menampilkan darah dan airmata, penindasan dan berbagai kekerasan lainnya.

Yasraf Amir Piliang (Alfatri Adlin, 2006:201) menuding modernisasi dunia ketiga menimbulkan banyak  kesenjangan dan penderitaan sosial seperti: penggusuran, pengusiran, perampasan hak milik dan pemerkosaan hak hidup. Fenomena ini disebut sebagai horror-culture yaitu kecenderungan dimana ketakutan dan horor dijadikan elemen utama pembentuk budaya. Horror culture meliputi :

  1. Horrosophy yaitu wacana pemikiran  dan pemikiran dalam menciptakan konsep-konsep yang tujuannya menimbulkan rasa takut. [Misalnya wacana tentang G30S PKI, wacana tentang  pendatang, pemulung, kesepekan, dsbnya]
  2. Horrography yaitu strategi untuk memproduksi rasa takut. Strategi ini sejalan dengan pemikiran filsuf Perancis, Pierre Bordieu  yaitu kekerasan simbolik, sebuah kekerasan yang dilakukan dengan cara halus melalui suatu mekanisme tertentu (misalnya mekanisme kekuasaan) sehingga tidak tampak sebagai kekerasan. [Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni]
  3. Horrocracy sebuah sistem pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi terletak pada sebuah kekuatan yang memproduksi dirinya melalui cara-cara kekerasan, terror, dan prinsip ketakutan [contoh: mobilisasi massa mengatasnamakan adat untuk mengucilkan, melakukan pelarangan jenasah di Bali, pecalang yang menyidak penduduk]
  4. 4. Horronomics sebuah sistem dengan tindakan ekonomi yang dalam proses produksi dan distribusinya menggunakan cara-cara kekerasan dan terror untuk menimbulkan rasa takut terhadap pihak lain [bakso krama bali dalam konteks persaingan usaha antaretnis]

FENOMENA KEKERASAN DI BALI

  1. 1. Kekerasan sebagai Komoditas

Beberapa bentuk kekerasan dijadikan komoditas yang digunakan untuk mendongkrak perekonomian dan pariwisata. Misalnya, atraksi saling pukul dengan pandan berduri dalam tari Perang  Pandan (tari memanggil hujan orang Trunyan), sejumlah bentuk olah raga seperti bela diri (silat),  mepantigan (gulat Bali).

Atraksi hiburan “Jogeg Porno” (Joged Ngebor, menurut istilah Prof. Bawa Atmaja) juga menjadi semacam birahi kekerasan seksual yang dilakukan penari dengan pengibing, ditonton dari berbagai kalangan usia. Atau, atraksi menusuk badan sendiri (ngurek/ngunying). selain menjadi bagian dari ritual dan pertunjukan untuk pariwisata.

  1. 2. Kekerasan dan Mobilisasi Massa

Fenomena belakangan yang marak di Bali adalah mobilisasi massa untuk melakukan kekerasan, yang disakralkan dengan mengatasnamakan adat. Kekerasan ini tidak saja melibatkan mediasi aparat kepolisian tetapi juga oleh penguasa [bupati, gubernur].

Sejumlah tafsir hukum adat dan agama dijadikan bahan argumentasi terkait dengan berbagai ketegangan konflik sosial. Beberapa identifikasi kekerasan yang melibatkan massa di Bali, seperti: pelarangan penguburan jenasah, proses pemisahan wilayah akibat  pemekaran, perselisihan antarkelompok pemuda, pengucilan terhadap seseorang atau kelompok masyarakat, akibat perubahan nama dengan melekatkan atau mengganti gelar kebangsawanan.

Potensi konflik ini sarat dengan kepentingan politik dan penguasa lokal, melibatkan kekerasan dan dampaknya sangat  merugikan banyak keluarga dan melumpuhkan  perekonomian. Korban kekerasan simbolik  menjadi orang-orang ungsian (tak jarang di tempat baru muncul konlik baru), kehilangan harta benda, kerusakan di berbagai ranah kehidupan dan keluarga pontensial tercerai-berai.

  1. 3. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Belakangan marak terjadinya fenomena perceraian di kalangan keluarga di Bali akibat terjadinya KDRT. Para perempuan sering tidak mendapatkan keadilan dalam distribusi ekonomi (pemisahan harta gono-gini) atau dalam mendapatkan hak untuk mengasuh  anak dengan alasan stratifikasi sosial (persoalan beda kasta).

Perkawinan dan perceraian bagi perempuan Bali telah menjadikan banyak perempuan berstatus refuji, pengungsi tanpa ‘identitas’ dan rumah. Hal yang menakutkan bagi perempuan Bali pascaperceraian adalah tidak memiliki ‘identitas’ yang diakui oleh sebuah komunitas. Status mereka pada akhirnya hanyalah diakui sebagai pendatang, pengungsi tanpa [kepala] keluarga.

Kekerasan yang dilakukan pemerintah terhadap perempuan, tampak dari sistem pencatatan sipil hanya mengakui status dari keluarga yang ideal (lengkap dengan nama suami sebagai kepala keluarga). Hal ini tidak mempertimbangkan hak perempuan-perempuan yang mampu hidup mandiri  (apalagi bagi yang telah bercerai). Jika perempuan itu beruntung, ia masih bisa kembali kepada keluarganya, namun dengan status menumpang, pengungsi tanpa hak.

  1. 4. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)

Lembaga Pemasyarakatan merupakan fenomena sosial-budaya  yang menarik untuk dicermati. Lapas seperti planet lain di muka bumi ini, keberadaaannya seperti ada dan tiada, dan penuh  misteri. Lapas adalah sebuah benteng  yang memisahkan  para pelaku perilaku menyimpang dengan masyarakat yang berperilaku dominan.

Pemerintah telah berupaya merubah paradigma ‘penjara’ menjadi ‘pemasyarakatan’ ditujukan untuk menjadikan lembaga pemerintahan ini sebagai institusi rehabilitasi atau ‘terapi perilaku’. Harapannya, agar para narapidana (warga binaan pemasyarakatan) dapat berperilaku dan menyesuaikan diri (adaptif) sesuai dengan perilaku dominan masyarakat di luar tembok penjara.

Isu Lapas menjadi begitu kompleks karena melibatkan persoalan  jenis kelamin, kelompok usia (lansia, anak-anak dan bayi yang kebetulan lahir di dalam penjara), kelompok gender (waria, homoseksual), kelompok etnis, ras dan agama, kelompok intelektual, politisi, kelompok terlatih (mantan tentara, polisi), masalah kesehatan (pecandu dan HIV/AIDS), penyebaran penyakit, akses pendidikan, dan beragama persoalan yang berkaitan dengan hak asasi penghuni lapas. Sementara,  Lapas memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan tenaga terlatih yang memiliki kapasitas  merehabilitasi berbagai ragam perilaku menyimpang.

Menariknya,  jumlah orang yang dinyatakan memiliki perilaku menyimpang sesuai dengan bunyi teks hukum yang diberlakukan negara semakin meningkat. Bahkan, jumlah mereka melebihi kapasitas lapas yang layak huni. Berdasarkan data tahun 2010, jumlah penghuni lapas kelas II A Denpasar (Kerobokan), sebesar  799 orang, terdiri atas 356 tahanan dan 443 orang napi. Untuk tahanan sebanyak itu terdiri atas 317 orang pria dan 39 wanita, sedangkan untuk napi masing-masing 394 pria dan 49 wanita.Dikatakan, jumlah penghuni Lapas Kerobokan yang mencapai 799 orang itu, telah melebihi kapasitas yang sesungguhnya hanya 323 orang. Perkembangan tahun 2011 diperkirakan jumlah penghuni mencapai 900an orang.

Menurut  Donald Black, hal ini bisa dijelaskan dalam teori hukum tentang penahanan. Penahanan (an arrest) berkaitan dengan keputusan polisi. Ini juga merupakan peristiwa psikologis dan merupakan fenomena sosial. Penahanan berkaitan dengan variabel sikap dan persepsi, terkait dengan latar belakang pendidikan, ekspektasi  atasan dan rekan sekerja, aksi dan reaksi masyarakat.

Prestasi aparat kepolisian yang disandarkan pada ekpektasi atasan untuk meningkatkan data kuantitatif laporannya,  menjadikan kapasitas Lapas menjadi kelebihan penghuni. Perburuan manusia yang potensial untuk dijadikan tahanan atau  narapidana semakin agresif dilakukan oleh aparat yang memiliki kuasa dengan mengatasnamakan kontrol sosial.Hal ini berbanding terbalik dengan ekspektasi dari Mentri Hukum dan Ham RI, Patrialis Akbar  kalah cepat menurunkan jumlah penghuni Lapas.

Dalam sudut pandang yang  berbeda, pencapaian prestasi yang dianggap sebagai  ‘keberhasilan’ aparat kepolisian dalam meningkatkan jumlah penghuni lapas dapat dikritisi   tidak saja sebagai bentuk longgarnya kontrol sosial. Tetapi, fenomena ini juga dapat digunakan untuk mengkritisi kinerja atau ‘kegagalan’ aparat kepolisian dalam melakukan tindak preventif terhadap potensi terjadinya tindak pelanggaran dan kejahatan.

Wajah Lapas adalah sisi gelap dan paling suram dalam peradaban manusia, dan bangsa Bali pada khususnya. Meningkatnya jumlah penghuni lapas seharusnya disikapi dengan secara kritis terhadap beberapa aspek kehidupan, beberapa hal :

  1. Relasi, jarak dan komunikasi sosial
  2. Melihat visi pemerintah terhadap pembangunan masyarakat
  3. Mengkaji  koordinasi antarainstitusi pemerintahan yang tampaknya masih bekerja secara parsial.
  4. Mengkritisi beban APBD atau APBN yang dikeluarkan pemerintah dalam membiayai operasional dan kelangsungan hidup warga binaan dan petugas lapas.
  5. Mempertimbangkan dampak dari penahan seseorang menjadi penting, mengingat dengan adanya peningkatan jumlah orang yang ditahan maka meningkat pula jumlah angkatan kerja yang tidak produktif, pengangguran terselubung bahkan potensial melahirkan kemiskinan baru dan beruntun.
  6. Teks hukum serta kewenangan lapas dalam penanganan warga binaan dibatasi. Misalnya, WBP pecandu narkoba dan HIV/AIDS sebaiknya diserahkan pada institusi rehabilitasi medis. Atau penanganan tahanan anak diserahkan pada dinas sosial dan tenaga medis (psikiater, psikolog).

AKAR MASALAH KEKERASAN

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.”— Mahatma Gandhi (18691948)

Gandhi  mengasumsikan akar dari kekerasan terjadi ketika sebuah kehidupan tidak dilandasi  hukum dan etika sosial. Burhanuddin Salam (1997: 129-136; Black, 1976:2) menyatakan, hukum adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah atau oleh suatu badan yang digunakan sebagai alat untuk mengatur kehidupan warganya.

Hukum dan etika pada dasarnya memiliki kesamaan yaitu bersumber dari pengalaman dan ditujukan untuk mengatur tertib hidup bermasyarakat. Keduanya, baik hukum dan etika membatasi gerak, hak dan wewenang seseorang dalam pergaulan hidup. Bedanya, hukum biasanya tertulis, objektif, tegas, menuntut, memerlukan alat negara dan bukti untuk menjatuhkan sanksi. Sedangkan etika timbul dari tata kesopanan yang tidak tertulis dan menjadi kebiasaan, bersifat fleksibel dan sifatnya sebagai tuntunan, dan  landasan tingkah laku adalah kesadaran.

Akar kekerasan lain juga disebabkan karena kemiskinan. Donald Black (1976:30) dalam teori tentang perilaku menyimpang (theory of deviant behavior) menyatakan, seseorang yang  kesejahteraan terampas cenderung akan berperilaku yang menyimpang, agresif dan memiliki kecenderungan terlibat dalam bisnis yang terlarang, melakukan kekerasan dan perusakan (vandalism).

FENOMENA [PRODUK] HUKUM DAN KEADILAN SEMU (PSEUDO OF JUSTICE)

Tuti Budirahayu (2004:98) mengutip pandangan Karl Marx yang melihat korelasi produk [teks] hukum dengan kepentingan para kapitalis yang didukung oleh agen pelaku kontrol sosial seperti polisi, pengadilan dan sistem penjara/ lembaga pemasyarakatan.

Menurut Marx, kapitalisme mengembangbiakkan hukum-hukum kriminal karena hukum tersebut dibutuhkan untuk memelihara tatanan yang mapan,  yang datang dari kelas atas melawan kelas bawah. Dan peran negara  tidak netral karena, sesungguhnya peran negara ditujukan untuk melayani dan melindungi orang-orang yang membuat peraturan serta menghindarkan mereka dari ancaman-ancaman orang atau kelompok lain.

Gejala perilaku [agen penegak] hukum hari ini sangat terkait dengan pasar. Tafsir teks hukum diperdagangkan para makelar kasus. Kekuatan uang dijadikan kunci sukses dalam memenangkan perselisihan hukum. Donal Black (1976) mengingatkan, perlakuan hukum memang kerap bersifat diskriminatif. Mereka yang berasal dari kalangan yang kurang mampu (miskin) yang mengalami kasus hukum umumnya sulit mendapatkan pelayanan hukum apalagi keadilan. Jasa pengacara lebih banyak diperlukan oleh mereka yang berduit alias memiliki kapital. Putusan yang dijatuhkan kepada  mereka yang miskin cenderung lebih berat jika dibandingkan dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang memiliki akses politik yang luas dan uang. Pada banyak hal, mereka yang memiliki modal kapital cenderung menang di pengadilan dan ini merupakan wajah keadilan yang semu (pseudo of justice).

SARAN: REFORMASI PENEGAKAN [SISTEM] HUKUM

Sebagai sistem, penegakan hukum melibatkan berbagai komponen, seperti:  ideologi (norma, nilai), institusi penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan), masyarakat.

Penegakan [sistem] hukum dapat dilakukan dengan memperbaiki pola relasi keluarga, mempersempit jarak sosial dan meningkatkan komunikasi positif dan mengembangkan etika sosial. Paradigma hukum seharusnya mengikuti dinamika masyarakat yang berubah dan dinamis. Misalnya, reformasi teks hukum yang tidak sesuai dengan semangat jaman sebaiknya dihapus [seperti penghapusan hukuman mati].

Reformasi institusi penegak hukum diperlukan khususnya dalam efisiensi birokrasi, evaluasi efektifitas dan efisiensi kinerja berbasis good government dan clean governance,  serta pembatasan wewenang aparat agar tidak bertindak secara absolut dan sewenang-wenang.   Sosialisasi Hukum dan HAM bagi masyarakat harus dilakukan secara aktif oleh pemerintah dan lembaga sosial yang terkait.

Daftar Bacaan

Adlin, Alfatri. 2006.Spiritualitas dan Realita Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra

Black, Donald.1976. The Behavior of Law. London : Academic Press

Budirahayu, Tuti.2004. Perilaku Menyimpang. Jakarta: Prenada Media

Chaney, David.1996. Lifestyles. Yogyakarta: Jalasutra

Salam, Burhanuddin.1997. Etika Sosial—Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia.Jakarta: Rineka Cipta

*Makalah diskusi panel reformasi penegakan hukum bali

diselenggarakan oleh Manikaya Kauci- LBH BAli-Indonesian Police  Watch

Pembicara : ida ayu made gayatri adalah mahasiswa program doktoral kajian budaya universitas udayana dan ketua NAPI (National Alliance for Prisoner in Indonesia ) Bali Region

SÉLEBRITIS

Sira koné sané kasengguh sélebritis?  Sélebritis punika nénten wantah artis kémanten.  Yéning sampun terkenal ulian wartawan, kayang kurenan, pianak, cucuné, mitran jeg anaké punika sampun dados kasambat sélebritis. Dados terkenal cara mangkiné anak nénten perlu ngetélang peluh, ngayahin gumi, dados pahlawan utawi tokoh kemanusiaan. Ten perlu mapréstasi napi. Ah, nika nénten penting.

Cukup madué prarai bagus lan jegég, mabusana tréndi, sering kapanggihin ring pésta-pésta, undangan paméran utawi exhibition nika sampun kabawosang  sosialista, sekadi gaya hidup sélebritis.  Digenahé  sekadi punika, sekancan ebo miyik kadirasa neked kanti kabatarané, ngalub saking anaké sané rawuh.  Dirika sampun iraga akéh kacunduk sareng anaké  sané kocap penting, orang terkenal utawi anaké sané mapi-mapi orang penting, utawi mapi-mapi madué rélasi sareng anaké sané terkenal punika.

Cendekné, yéning lunga katongos sekadi punika, anaké mamargi di tengah kalangané masliweran negehang tangkah taler kenyemé matata. Yéning kacunduk sareng anak lianan,  saling masalaman, saling madiman pipi kiwa lan tengen, saling gelud, utawi saling nyambat kadirasa anaké punika saling uningang, saling kingetan. Cendekné, megaya saling kenal nika penting. Yéning nénten kénten, béh bisa-bisa kalah gaya lan mekiyud rasa percaya diriné. Enduk nika adané.

Semaliha sekadi mangkinné, mangdané terkenal, cukup madué jinah ageng anggén ‘invéstasi’ kecantikan lan kebugaran, mangda setata madué citra diri sané prima. Gaya hidup anak sané kesengguh selebritis punika satata mapayas, ngranayang anaké  engon indik penampilanné sané ngaé ulap.  Pepayasan lan citra diri kocap modal uttama hidup cara mangkiné. Yéning ngerereh pakaryan masih kénten. Kantor-kantoré pasti ngerereh pegawai sané berpenampilan menarik, jegég-bagus.

Anggota déwan sekadi mangkiné  masih kasengguh selébritis, krana makéh artisé dados sélebritis, taler wénten makéh ‘skandal anggota déwan’ sané kocap madué ‘nilai jual’ dados adép anggén berita infotainment, satua hiburan. Béh, cendekné sélebritis nika makardi masyarakaté ulap, engon santukan anaké punika madué satwa sane ngranayang engon.

Para wartawané mangkin sibuk mekardi gatra indik sélebritis sané matunangan lan wawu putus, sané ngantén, ngelekadang pianak, sané cerai, sakit lan sané padem .  Wénten artis sané ngambul ring reramané, artis nganggén narkoba sekadi sabu-sabu masih dados berita penting sekadi mangkiné. Kocap pamiarsané seneng  berita sekadi puniki lan prasida malinggih makudang-kudang jam  pacang miragi satuané punika. Ibu-ibu  jeg pascat pisan ngelanturang  orta indik satua sélebritis punika duk ngempu pianak, megaé utawi duk arisan.

Yéning wénten artis mamitra, jeg ramé sampun satuané ring korané, ring tv-né.  Wartawan media hiburan kanti melaib labuh ngubér sang sané kocap kasenggguh artis. Dikénkéné  mangda polih berita sané sensasional, Sang Wartawan kanti misi majaljal lan misi mejaguran sareng sang sané kasengguh artis. Kadirasa, berita sané pacang ka-liput puniki lebih penting yéning bandingang sareng gempa bumi tsunami, utawi korban bencana alam.

“Saya bergaya, maka saya ada” punika miribné wacana sané penting kaanggén oleh sang sané merasa déwékné sélebritis. Masyarakaté  sané dados korban iklan nututin pamargin informasi indik modél busana terbaru, kénken je artisé mepayas milunin mangda ten kalah hawa ring pasuitran, ring pergaulan. Yéning nénten mrasidayang numbas busana sané madué mérek asliné, kanggéanga numbas sané palsu utawi bajakan, makacakan ring pasaré. Napi malih sasukaté wénten facebook, anaké makéh polih genah mangda prasida ngédéngang  citra diri ipunné, dados modél dadakan. Hapé taler masih laptop sami sampun  nyediang  fasilitas kaméra. Dije je polih galah lan tongos becik anggén mapotrek, sampun malih jebosné poto punika  ngenah ring facebook punika.

Ibu-ibu rumah tangga tradisional bisa kalah sampun sareng céwék kafé sané nuwutin penampilan artis trio macan, sane bahenol lan heboh punika. Rambut anak istri sane megaé ring petengé punika lantang nganggé ékstensiyen, marébonding utawi mawarna, maroko, mabaju ketat apang kanti ngenah sibakan nyonyoné, marok mini,  masepatu tinjik taler nganggé lengis miyik ‘minyak nyongnyong’.

Béh, ‘penampilan berani lan menantang’, wanén sekadi sélebritis puniki sampun sané rereha sareng anaké lanang cara mangkiné. Makéh kurenan ibu-ibu rumah tanggané punika engsap mulih ulian engon sareng penampilan nak luh  masebeng artis punika. Pemuputné akéh sané suwud makurenan utawi macerai, nénten bina sekadi satua selebritisé.

Mapayas lan mabusana nika anak penting cara mangkin, nénten cukup wantah dados anak polos, baik hati lan madué tresna ring kaluarga.  Hidupé mangkin anak sekadi  ring “panggung sandiwara” pilem India.  Dados kémanten hidupé madaging satua sebet, misi magerengan, misi meliang-liangan nanging sané penting, tetep ngenah jegég lan bagus. Kénten masi satmaka hidup artis Indonesiané ring sinétron dados anak ngidih-ngidih, nak buduh masi tetep apang ngenah jegég lan bagus.

 

 

AGUNG YENNI : “ THE SUPER MOM” YANG BERSINAR

KORI by Gayatri Mantra

Kori, gerbang mungil bertembok tanah liat itu tampak rapuh dikunyah waktu. Kulit tua jelanan, daun pintu kayu tanpa pulasan itu telah terkelupas. Permukaan pintu dipenuhi guratan tanda-tanda jaman, seperti keriput penanda ketuaan. Kori ini membisu menyimpan sejuta rahasia orang-orang yang hidup didalamnya. Dan kini, kori ini mencoba untuk angkuh menghadapi isak tangis Ni Kebek, wanita yang pernah lahir di pekarangan rumah ini.

Ni Kebek menangis di depan kori berpalang dari dalam. Tidak ada yang membukakannya pintu. Tidak ada! Itu bukan berarti tidak ada penghuni didalamnya. Di dalam tembok pekarangan, Ni Tampi membisu di dapur bertembok hitam bekas asap dari tungku perapian. Ni Tampi duduk dengan wajah mengeras karena ditindas ketegangan. Kebek adalah putrinya, adik dari I Naban, putra satu-satunya. Raungan Ni Kebek dari luar pagar tembok rumah menyayat relung hatinya. Dan ia mencoba menguat-nguatkan dirinya untuk tak bergeming  dari dapur itu. Meski kemudian, ketegangan ini telah memeras emosi dan menggantungkan sebulir air disudut matanya. Sejenak, airmata itu menitik lalu menjangkau tulang pipi.

Read the rest of this entry »