LAYAR by Gayatri Mantra

 

Pesisir ketika fajar menjelang. Langit memburat keperakan, udara masih lembab memulas warna kelabu di permukaan. Titik air laut mengambang di udara menjadi  kabut menyelubungi semua yang ada, melukiskannya dalam bayangan ketenangan. Siluet bakau, perahu-perahu kayu yang bersandar tegak dan nelayan-nelayan seperti larut dalam hening terbius dan kekhusukan pagi. Ritmis deburan ombak mengawali hari, senantiasa menjadi musik ritual masyarakat pesisir. Pagi ini, Sang Baruna tampak tenang dalam meditasinya. Energinya bergerak konstan dalam keriangan ombak yang bermain, datang-pergi. Ketenangan yang  sungguh mendebarkan! Siapa yang tak bisa membaca langit? Ia akan mati dalam kibasan kilat. Rahasia itu disembunyikan bulan di antara awan-awan dan kelambu masa. Dan, para nelayan menyimpan semua kisah yang digariskan kaki langit dalam kesibukannya menganyam jaring-jaring ikan.

Sebuah ritual pagi dihadapan  deburan ombak: para nelayan hanya menyisakan sepotong kebisuan dalam kesibukan jemarinya. Rokok bertengger di sudut bibir dan secangkir kopi mengepulkan asapnya seperti menghela segala kepenatan. Sesekali, para nelayan bertukar sapa dengan mereka yang baru saja bersandar. Para nelayan membawa hasil tangkapan, pulang setelah berlayar dan berayun beberapa masa di atas samudera. Ikan-ikan ditakar dan ditukar uang. Aroma uang sudah pasti dapat menggariskan senyuman di sudut bibir para istri dan kekasih. Read the rest of this entry »

Advertisements