RANPERDA PERLINDUNGAN ANAK

Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Perlindungan Anak digagas sebagai inisiatif dari Pansus Perda Perlindungan Anak, Komisi IV DPRD Provinsi Bali. Sayangnya semangat perancangan Peraturan Daerah ini lebih kuat didorong unsur politis. Substansi yang semestinya ditujukan untuk menjadikannya sebagai instrumen yang mumpuni dalam upaya memberikan perlindungan bagi anak-anak Bali, menjadi pereduksian realitas sosial anak. Ranperda menjadi arena politik karena ada indikasi rancangan dipaksakan untuk diselesaikan dan bila perlu disahkan menjadi Perda sebelum pemilu 9 April 2014 ini sesuai dengan yang disampaikan sekretaris Pansus, Ibu Utami.

Beruntung, YLBHI-Bali berinisiatif mengajak stakeholder bertemu pada 13 Januari 2014 untuk berpartisipasi dan menganalisa konten Ranperda Perlindungan Anak. Pertemuan ini menjadi penting untuk mengantisipasi adanya upaya menggampangkan masalah dengan melakukan generalisasi isi Ranperda seperti mencontek dari berbagai sumber perundang-undangan, atau yang lebih fatal jika ditemukan adanya indikasi mencontek Ranperda serupa dari provinsi lain yang secara substansi tidak sama dengan Bali. Padahal substansi Ranperda harus bersumber dari realitas kebutuhan anak untuk mendapat pengakuan identitas, untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar.

Konsep anak
Pada ketentuan umum Ranperda, disebutkan konsep anak mencakup anak yang berusia hingga 18 tahun. Agar sesuai dengan substansi Ranperda, dalam ketentuan umum belum dijelaskan tentang anak disabilitas, anak penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak dengan layanan khusus yang berhubungan dengan sistem pendidikan untuk anak Indonesia. Perancang Ranperda tampaknya belum mengikuti perkembangan semiotik kebahasaan terutama perkembangan peristilahan baru, seperti masih menggunakan kata anak cacat, padahal sekarang sudah disosialisasikan istilah anak disabilitas. Perancang Ranperda juga perlu mengetahui perbedaan konsep anak disabilitas dan anak dari penyandang disabilitas dimana kedua konsep ini masih berhubungan dengan Ranperda, karena keduanya tidak jarang menjadi korban bullying pelecehan baik di sekolah maupun di lingkungannya.

Paradigma tentang Anak
Paradigma Ranperda ini masih bersifat otoriter, memosikan anak sebagai mahluk yang tak berdaya (disabilitas), rentan dan dianggap tidak mampu membuat pilihan-pilihan sendiri, serta mengabaikan nasib anak-anak yang berdaya dan anak yang bertalenta. Tentunya partisipasi anak untuk turut serta dalam penyusunan Ranperda yang akan memengaruhi hidup dan masa depan anak-anak Bali, perlu didengar sebagai aspirasi penting. Forum Anak Bali, perwakilan OSIS dari berbagai sekolah, Seka Teruna, kelompok komunitas anak dan remaja, lembaga pemerhati dan peduli anak perlu diberikan ruang untuk terlibat memberikan masukan untuk memahami berbagai kebutuhan dasar anak dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam mengawal proses perancangan Ranperda ini menjadi perda perlindungan anak.

Koreksi Kritis
Beberapa koreksi kritis tentang konten Ranperda : menyangkut dasar-dasar hukum yang dijadikan pertimbangan; perlunya kejelasan koordinasi terutama SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang mengimplementasikan Perda jika telah disahkan; koordinasi SKPD dengan stakeholder; transparansi dan teknis mendapatkan akses pendanaan dalam penanganan perlindungan anak. Beberapa dasar hukum seperti UU tentang Disabilitas dan UU tentang kependudukan belum dijadikan pertimbangan. Jalur komunikasi SKPD harus dibuat sebening air mineral agar tidak memunculkan polemik dan indikasi adanya saling lempar tanggung jawab dalam SKPD.

Kesehatan reproduksi anak juga belum diatur dalam Ranperda, termasuk hak anak untuk menentukan orientasi seksual dirinya. Argumentasi: ada anak yang terlahir dengan kelamin ganda atau ada anak yang merasa berada di tubuh yang salah karena jenis kelamin yang dimilikinya tidak membuatnya menjadi pribadi yang utuh.

Pendidikan khusus dan layanan khusus untuk anak perlu di atur dalam Ranperda yang mengacu pada kebutuhan anak disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak yang hidup dalam penjara. Poin penting lainnya dalam Ranperda ini adalah menyangkut akses untuk anak, seperti ruang bermain, tempat dan lingkungan bertumbuh kembang yang baik untuk anak.

Hak atas identitas pribadi juga belum dimasukkan dalam isi Ranperda. Dasar argumentasi: banyak anak-anak yang dibuang dan ditelantarkan, diadopsi sehingga mereka berhak untuk mengetahui asal usulnya.

Sebagai homo ludens, mahluk yang bermain, manusia khususnya anak membutuhkan ruang bebas untuk mengeskpresikan diri. Ruang atau taman bermain untuk anak dan remaja merupakan kebutuhan penting yang memiliki fungsi rohani mengekspresikan emosi dan menyalurkan agresi secara positif untuk mencegah kriminalitas anak. Sayangnya, ruang atau taman seperti ini begitu minim disediakan pemerintah. Akses yang tak kalah penting dan harus jelas dan tegas dalam Ranperda ini yaitu teknis mendapatkan akses dana untuk upaya perlindungan anak. Selama ini administrasi yang menjelimet dan sistem koordinasi yang tidak jelas dirasakan merugikan berbagai organisasi perlindungan anak.
Masyarakat juga membutuhkan shelter atau rumah perlindungan anak. Konsep yang dipahami pihak kepolisian dan aktivis perlindungan anak menganggap bahwa pembangunan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) merupakan shelter bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Sayangnya dalam pandangan dinas sosial, RPSA ini bukan panti untuk tempat tinggal anak dan tempat ini hanyalah untuk berkonsultasi. Perbedaan persepsi ini jika tidak dikomunikasikan tentu menimbulkan polemik.

Prematur
Staf ahli yang ditunjuk anggota dewan legislatif untuk membantu merancang Perda Perlindungan Anak ini perlu memahami, bahwa konten Ranperda tidaklah sama dengan konten dalam Undang-Undang yang cenderung merupakan generalisasi masalah dan bersifat normatif. Ranperda ini masih begitu prematur untuk dipaksakan menjadi Perda karena berbagai masukan stakeholder belum terakomodasikan di dalamnya.

Ranperda Perlindungan Anak ini harus benar-benar menyentuh kehidupan, mendekati realitas kehidupan sosial anak Bali. Sehingga, jika Ranperda ini dipaksakan untuk disahkan menjadi Perda sebelum pemilu dengan mengabaikan pandangan stakeholder, merupakan praktik kekerasan simbolik dari panitia khusus dewan legislatif yang terlibat dalam Ranperda ini, yang harusnya berpihak pada rakyat.

Tentu para stakeholder tidak berharap hasil pembahasan Ranperda hanya akan menghasilkan wacana hipersemiotik dimana Perda yang nantinya diproduksi dan didistribusikan tak lebih sekedar menjadi “piagam” yang tidak dapat digunakan sebagai instrumen penegakan hukum bagi perlindungan anak. Intinya, Ranperda sebaiknya jangan dijadikan instrumen politik dan dijadikan sebagai trajektori kesuksesan kinerja anggota dewan legilatif sebelum realitas kebutuhan anak benar-benar dijadikan dasar penyusunan Ranperda ini.

JAMBAN BALI

Jamban alias WC (water closet) tempat khusus untuk buang hajat: tinja, kencing dan sampah perut lainnya. Ih, jijik! Jangan jijik dulu! Kalau semua sampah perut itu tidak keluar dengan baik, pastinya hidup manusia akan sangat menderita, dari diare hingga sembelit alias ambeyen. Bahkan lebih fatal lagi,  konon jika tidak berhajat dengan baik akan mengancam jiwa alias bikin orang mati. Pasien yang paling gawat sekalipun dikontrol dokter dengan memeriksa feces (kotoran perut) dan memastikan  pasiennya kentut. “Udah kentut apa belum?”. Itu akan jadi pertanyaan  dokter kepada pasien yang sama pentingnya dengan pertanyaan malaekat kepada tubuh manusia: “masih hidup, apa sudah mati?”.  Jamban menerima segala penderitaan, kotoran sebagai ekses dari pola konsumsi manusia dan menjadi ruang yang paling pribadi dari manusia modern Bali.

Jamban orang Bali pada masa kini mengalami penyempitan ruang dan makna. Dulu jamban memiliki ruang yang luas: sepanjang  aliran sungai, seluas ladang yang membentang. Ruang luas itu memanjakan orang-orang Bali untuk berhajat secara merdeka. Jambanisasi pada  era 80an merubah konsepsi manusia Bali tentang ruang berhajat di tempat terbuka menjadi  kamar khusus untuk Buang Air Besar (BAB). Ruang berhajat yang sebelumnya di ruang terbuka itu, mungkin punya fungsi yang juga luas juga untuk memupuk kebun atau untuk konsumsi hewan ternak celeng yang pada masa itu masih berkeliaran di halaman rumah.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Bali, tahun 2013 ini masih ada sekitar 12 persen warga Bali yang tak terakses jamban sehat. Masyarakat yang tidak terakses ini masih buang air besar di saluran air seperti sungai dan tegalan. Menurut Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinkes Bali, I Wayan Yogianti, capaian akses jamban sehat di seluruh Bali sekitar 88 persen. Angka ini melampaui target 85 persen dan di atas rata-rata nasional yang menargetkan angka 62,37 persen.

Kini, jamban berada di ruang sempit dan gelap dan bau anyir tak bisa ditutupi dengan pintu yang kadang engselnya telah mencantel dengan kondisi sekarat. Kapur barus di lantai tak kuat menutupi semua bau-bauan yang tak sedap dari jamban yang berkerak, berlantai  keramik tapi berlumut dan tembok yang berkelabang. Jamban duduk model terbaru yang dipajang di toilet perkantoran, tutupannya sering basah berwarna kuning bekas tetesan pipis seseorang. Jamban model baru ini memang lagi trend, tapi tidak banyak yang tahu bagaimana memakainya. Mestinya bantalan itu dipakai untuk perempuan. Bantalan jamban duduk mestinya disandarkan pada tangki airnya, sebelum digunakan untuk pipis oleh laki-laki, sehingga setelah digunakan ditidurkan kembali pada dudukannya agar tidak tampak lagi tetesan kencing yang bau anyir itu.

Pada abad ke-21 ini, “Jamban duduk” di mall-mall masih tampak bekas telapak sepatu yang artinya ada yang jongkok di atasnya. Entah, karena kebiasaan, tidak mengerti memakainya atau jijik karena kotor? Sekolah, kampus, rumah sakit, gedung pemerintahan, perkantoran bahkan bandara interansional ngurah Rai di Bali anehnya memiliki jamban seperti itu. Bupati Jembarana pun sempat murka karena menemukan toilet di kantor Dikporaparbud Jembrana  digunakan sebagai gudang menyimpan komputer bekas, mimih ratu betara! Ini sudah alih fungsi yang luar biasa!

Pada KTT APEC tahun lalu yang dihadiri sejumlah tamu negara penting harus menghadapi kenyataan toilet di daerah kunjungan wisata Bali jauh dari kata layak pakai karena kotor dan rusak. Kebersihannya tidak beda jauh dengan kualitas hiegenisnya jamban pasar, terminal dan pompa bensin (terkadang airnya juga berminyak). Tak bisa dibayangkan wajah profesor, doktor, sarjana, pejabat, pegawai , tamu Negara duduk di atas jamban seperti itu. Entah kenapa jamban dibiarkan anyir, bau dan kotoran dibiarkan mengambang karena salah cara menginstalasinya.

Di desa, masih banyak yang menggunakan jamban jongkok. Itupun diletakkan di ruang tersembunyi yang kecil, gelap, pengap dan pastinya tetap anyir. Airnya di bak tampak keruh penuh kotoran cecak, jentik nyamuk, air keruh, dan bekas sabun batangan dan pasta gigi lengket di tepian bak air. Dekorasi toilet ramai dengan pakaian kotor yang digantung dan direndam di ember. Coba saja meminjam kamar mandi di perkampungan di Bali,  tidak sedikit pemilik rumah akan minta maap kepada peminjam, karena kamar mandinya kotor. Tapi anehnya, keadaan kotor itu tidak segera diperbaiki. Jelas terjadi pembiaran, padahal itu kan sumbernya berbagai penyakit? Tampak terjadi ketidaksesuaian apa yang dipikirkan pemilik tentang kamar mandi yang seharusnya digunakan “tamu” (mestinya bersih) dengan kamar mandi yang digunakan mereka untuk sehari-hari (sudah biasa kotor).

Jamban bagi orang Bali itu tempatnya di zone “nista” alias rendahan, jadi membersihkan jamban  di rumah sendiri dianggap sebagai pekerjaan hina. Tapi anehnya, orang Bali tidak keberatan bekerja membersihkan WC hotel agar turis bule bisa buang hajat dengan nyaman, tentram dan damai. Bahkan, untuk ini mereka harus bersekolah khusus menjadi cleaning service selama bertahun-tahun dengan biaya mahal. Kebayang kan jika kamar mandi di perumahan di kampung merupakan kamar mandi umum yang digunakan beberapa anggota keluarga? Mulailah konflik muncul: siapa yang paling pantas membersihkan jamban?” Karena semua merasa tidak pantas, maka tidak ada satupun yang berniat membersihkan kamar mandi apalagi jambannya yang salome, satu lobang dipake rame-rame.

Orientasi orang Bali memosisikan jamban sungguh berbeda dengan “Nak Jawa” alias orang-orang di Jawa. Kamar mandi di tempat-tempat pemberhentian truk sepanjang perjalanan dari Ketapang menuju Surabaya tampak kinclong , minimal airnya jernih, lantainya masih kesat dan jambannya bersih. Mengapa? Karena kamar mandi bagi mereka memegang peranan penting yang digunakan untuk mendukung ibadah, berwudu. Bahkan saking bersihnya, untuk mandipun bisa digunakan.

Kapankah orang Bali bisa memiliki WC yang hiegenis? Minimal WC yang di areal tempat suci (pura) yang juga digunakan untuk pariwisata juga bersih dan nyaman agar tidak diprotes delegasi tamu penting seperti kejadian sebelumnya. Bukankah kebersihan adalah ibadah? Bagaimanapun, jamban itu merupakan instrumen penting bagi kelangsungan hidup manusia. Jambanisasi sejak era 80-an  ini tentu bukan hal yang mudah.  Perlu transformasi yang nyata untuk  membuat program jambanisasi dan kebersihan kamar mandi. Lagipula, penduduk Bali sampai saat ini masih banyak yang belum menikmati jamban di rumah-rumah mereka. Dan transformasi jamban jongkok ke jamban duduk tidak disertai pemahaman tata cara menggunakannya. Selain itu masyarakat juga perlu diajarkan untuk membersihkan kamar mandi dan jambannya secara teratur. Sehingga, kenyamanan berhajat tidak melulu diperuntukkan untuk bule, orang Bali juga bisa kalau mau. Semoga pemerintah Bali dapat mendorong perubahan outlook atau tampilan Jamban di Bali  menjadi lebih hiegenis.

Denpasar , 6 Januari 2014

Sumber:

http://www.indonesiainfrastructurenews.com/2013/10/joroknya-toilet-bandara-ngurah-rai/

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/5/6/b1.htm

http://news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=37025&Itemid=5

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=82221

JEG MASEPUK!

Tengai tepet.
Behbeh dewa ratu. Jalane buin macet. Ada apa ya miribne? Kene panes gumine, ebuke nglayang nekepin mata. Asep knalpot pisagane jeg ngentut selem pas diarep muane. Makita jegeg, jeg payu  daki muane. Peluh ken ebuke madukan. Misi men mecampur teken pupure ane putih. Yen kene undukne, apa deweke orahina nekepin mua? Pang jeg mata dogen ngenah? Kaca helem srobonge buram. Yen anggo sinah tusing nepukin apa. Peteng detdet. Nyeredet. Yen keto undukne.. dong pocol deweke mapayas. Ehem.. apang ada ja masih anak nyeledetin. Beh-beh…jeg masepuk!
Sing kene sing keto jeg mabaju ninja nasne. Pang jeg karuan mata dogen kelak kelik. Kola yen keneh-kenehang, mirib luwung masi asanange keto, ya? Liu sajan anake luh takut gati kena matanai cara janine. Takut selem, kone. Jeg yen putih cara pamor, cara tacik-tacik Korea mirib lega kenehne. Sekancan obat pemutih suba liu anake ngadep. Ada obat mecap Warna Gading ane nyidayang ngaenang kulit seleme makules dadi putih. Luh-luhe makejang dot jani dadi lelipi, kulitne makules, melengis ulian merkuri. Sing peduli suba dampakne kena kanker kulit. Yen sing miluin keto, sinah kurenanne nguber pisagane ane muane mengkilat ngae ulap. Kenyah-kenyah.Keto kone anake luh luih cara jamane jani. Jeg Masepuk!
Nuju Pempatan Suci.
Lengis miyik tur parpum anake dijalane, sing karuan-karuan suba bonne dicunguhe. Ebo peluh, ebo  cuka jeg rasane patuh dogen. Masem. Kleng. Jalane jani misi masepakan. Apa ya gaene pemerintahe. DSDP pragat molongin jalan. Cara lelawah molongin buah. Setata dadi satua tawah. Yen ipidan masyarakate pragat melungguhin PLN ajak PDAM nyongcong jalan. Jani DSDP. Buin pidan kaden pragat. Apa kone gunane. Yen takonang masyarakate, jeg sing suba nawang unduk. Pragat masyarakate orahina mebalih ajak pamerintahe. Proyek pegaen para intelektuale. Apa kone luwungne mebalih anak nyongcong jalan aspal? Bolonge jeg ngelikadin mata dogen. Enu asane luwungan mabalih bolong cunguh padidi. Karuan yen daki, congcong tur kedasin. Apang tusing matapuk. Hacip paras….bangkes-bangkes baane teken ebuke totonan. Jeg masepuk, Puk!
Sabar.. sabar..buin akejeb akijepan dong cingak pengkolane. Nah, buin telung meter dogen bakat suba jalane. E…e…konden lega bayune nepukin pengkolan, ada kijange saling korot ajak bebek di sampinge. Behbeh.Pengangon kijang ajak bebeke tuwun matungkas munyi. Majaljal saling tudingin. Saling ngedengin surat-surat. Komplit. Pang jeg rame, pang ngenah sing puas, pengangon motore saling pajengkingin. Jani magerengin nyen maluan ngorot kulit pagelahanne. Pada sing nyak ngalah, uyut gede suba dadine. Gumine ngancan panes. Aget ada anak ngelah inisiatip ngidih tulung ajak polisine. Ane lenan mabalih anak majaljal. Nah, pang ada satuang keto mirib kenehne.
Ane lenan mebalih polisi. Kadenange selebritis? Tusing, kadenanga sedeng nilang. Apa ada razia ne? Pang melah ben nyaru-nyaruang. Kirig-kiring pang nyidayang melaib. Soale, sing ngaba pis, sing tis asane. Beh. Jalane ane telung meter jeg sayan ngejohang dogen asane. Jani, jeleme masuksuk mebalih anake makencalan. Miribne, mebalih ento enu luwungan asane ken mebalih proyek DSDP. Deweke suba tusing nyidayang makirig ulian tekepin motor teken bemo. Terpaksa milu, nyeledet mabalih. Deweke ngaba ja surat-surat kola, suba kadaluarsa. Aget sing ada razia, puk. Polisine sregep ngurusang anake majaljal. Jeg nyak maka dadua dame-dame dogen. Apa ya pekakas polisine ento. Lega milu asane.
Jani suba gantine ngidang ngeliwat. Sopire bemone suba misuh-misuh.” Jeg masepuk! Apa ya aliha majaljal tengai tepet. Jeg cakcak nasne!”. Deweke matolihan. Sopire ento misuh, ngeleketik paesne di kaca helem srobong deweke. Kleng! Kola dalam hati dogen. Soale, kumis sopire jembe. Awakne mokoh metato jantung di tengawane. Behbeh.. pak sopire sinah mengutip lagu Nano Biroe ento. Baang ngeliwat malunan, jit bemone matulisan Beli Lacur Luh. Buwung deweke gedeg, payu makebris, makenyem.
Jam 12.30
Matanaine enu dogen nelik. Sing tawanga basange seduk, kriyak kriyuk. Pengkolane suba liwat. Jani suba nepukin setra. Nak seken ne! Setra Gandamayu di Tegal. Jani musim nak mati. Sori, pelih. Liu anake ngelah gae kematian. Jeg suba pasti nekepin jalan. Yen tuwah nekepin jalan, ngaba wadah anak mati, beh suba biasa. Kola yen misi ada anak ngelah kematian tekepina jalan, tusing baang ngaba bangkene mulih ke tanah wayahne, ene mara jeg masepuk! Bangke kone pagerengin. Engsap jenenge iraga enu nyilih angkihan teken ida betara bayu. Sing pedaleme ja anake ane ngelah bangke. Ngeling sigsigan.Kelangan gegelan, kurenan, meme-bapa, ada masih ane kelangan mitrane. Kelangan anak ane ajake idup sewai-wai. Kelangan timpal metungkasan, lakar tusing taen tepuk buin. Ane kelangan pis suba pasti rentenir. Bisa-bisa ngeling kelangan pipis anake ane mati mautang ajak dewekne. Lakar tagih utangne ajak kurenane, keweh, panakne keweh. Rentenire misuh “ jeng masepuk!”
Mati saja tusing keweh. Suba mati apa ya tawanga. Ane keweh ento nyalanang idup. Suba luwungan ngaba dewek, enu masi nemu sengkala. Kenken ja yen jele ngaba bikas? Mirib jeleme ane dadi bangke dugase idup jeg ngedegin basang banjar. Kanti tusing baanga bangkene ngliwat di jalan. Bes pengkung ngerurung kanti puikin tur kasepekang banjar. Mirib ia dugase idup kena bebai buta bongol cara bedogol. Jeg mirib..mirib dogen suba rawose jani. Aget ajanian deweke tusing taen nyingakin kasus cara keto. Deweke nawang ada anake lacur dimatine cara keto ulian satua I koran. Maca koran jeg nyapnyap baane kenehe. Buin pedalem  bangkene ento. Buin kekenehang banjare ane nyepekang. Demokrasi cara jani .. suara terbanyak ane paling benehe. Keto malu. Panes polone ngenehang. Korane jeg mula lamis. Data-data ortanga. Uling kasus pabrik miras, tajen kanti anake makoncrengan tulisa. Dewa cekian melaib. Babotohe tiarap. Anake makoncrengan tangkepe. Soale sing sah kone adane. Laporanga ka polisi unduk mamitra ajak kurenane. Ento mara anak eluh mula sadar hukum. Tagiha hakne ane pakidihange ajak kurenane ken mitrane. Ken kone keadilan? Sewaiwai pules ajak anake lenan. Kurenan padidi baange ngetuhtuh. Kenyel ngantiyang kurenan mulih. E.. e.. mulih kaumah pisagane. Jeg masepuk!
Anake mati bunuh diri liu masih. Suba baanga idep ken betarane, misi med kone. Jeg ajum sajan dadi jadma. Liu jani anake gantung diri. Masebeng romatis demi cinta. Masebeng Jayaprana jak Layonsari mati magelut bunuh diri. Panake bajang minum portas ulian nanangne sing setuju matunangan. Jeg cara gagelane dogen paling jegege tur paling baguse. Behbeh.Dong keweh gati dadi anak tua jamane jani. Tusing dadi panake ajak tusing ngelah. Mara sing baange pipis dasa tali suba nekain rerame ngaba tiyuk. Mara gesahanga ajak timpalne, lek lantas nyemak tengkalung lantas megantung. Engsap jenenga idepe ane taen silih sepatutne uliang baik-baik. Nang mati baik-baik apa.
Pempatan Pemedilan.
Saja suba. Jalane masetop ajak pecalange. Banjare ngaba wadah anak mati ka semane.  Marerod anake nututin. Mirib dugase anake ento mati enu idup rajin mabanjaran, liu sajan anake nututin. Ngetel peluhne cracat crecet. Deweke masih ngetelang peluh. Majemuh ngangon motor. Ngantosang anake liwat kesemane. Ada masih anak sambilang majemuh cara deweke nelpon nganggo hape. Deweke milu ningehang. Krimik-krimik anake ento. Gagelane magandeng ningehang. Kola asananga gagelane tusing ngerti basa Bali. Ningehang dogen di sampingne.
“Kenken, luh? dija antosang bli? paak sekolane? jam kuda? jani? Behbeh, de anake keto. Sing nyidayang jani. Jalane macet puk. Apa? Tusing saja keto. Tresna Bli tuah baang I Luh. Ane ajak bli ibi ento nak misane mara teka uli Jawa. Nak megae di  kafe. Bli ngatehang ibi petenge mulih. Iya nak sing ngelah motor.Ngidih tulung jak Bli. Bli jani ngandeng nyen? Sing ada. Anak Bli padidi”. Beh, jeg masepuk anake muani ene. Suba karuan ngajak anak luh enu masi ngorahang padidian. Sajan layahe tanpa tulang.
Konden ilang ketelan munyi deweke, laut ada anak nyagjagin anak muani ento. Tuwun uli mobil di sampingne. Nyapatin muanine ane sedeng nelpon. Anake ento ngaba masi hape. Sambilanga nelpon sambilanga majujuk di arep muanine ento. Gagelan muanine  tengkesiap. Makecog uli motore, lantas siyep. Muanine ento tengkejut.Lantas makirig ngalih tongos parkir. Uli mobile tuwun rombongan jeleme ngaba kamera. Beh-beh ne mara acara Realiti Show paling gress. Pang sepalan nangkep tunangan selingkuh, pang maan pipis tur bisa pamer ken timpal-timpal taen masuk tipi. Anake muani ajak anake eluh totonan majaljal. Ane muani ngidih kapelihan. Maka dadua anake eluhe ento ngetelang yeh mata. Kenken panyuwudne, deweke tusing suba nawang. Ngancan liu anake mabalih, ngancan macet jalane. Anake ke sema suba liwat. Ring hana ring hanu, deweke luwungan melaib mulih.Basange suba seduk. Mebalih anake ane masuksuk, jeg masepuk!

LAYAR by Gayatri Mantra

 

Pesisir ketika fajar menjelang. Langit memburat keperakan, udara masih lembab memulas warna kelabu di permukaan. Titik air laut mengambang di udara menjadi  kabut menyelubungi semua yang ada, melukiskannya dalam bayangan ketenangan. Siluet bakau, perahu-perahu kayu yang bersandar tegak dan nelayan-nelayan seperti larut dalam hening terbius dan kekhusukan pagi. Ritmis deburan ombak mengawali hari, senantiasa menjadi musik ritual masyarakat pesisir. Pagi ini, Sang Baruna tampak tenang dalam meditasinya. Energinya bergerak konstan dalam keriangan ombak yang bermain, datang-pergi. Ketenangan yang  sungguh mendebarkan! Siapa yang tak bisa membaca langit? Ia akan mati dalam kibasan kilat. Rahasia itu disembunyikan bulan di antara awan-awan dan kelambu masa. Dan, para nelayan menyimpan semua kisah yang digariskan kaki langit dalam kesibukannya menganyam jaring-jaring ikan.

Sebuah ritual pagi dihadapan  deburan ombak: para nelayan hanya menyisakan sepotong kebisuan dalam kesibukan jemarinya. Rokok bertengger di sudut bibir dan secangkir kopi mengepulkan asapnya seperti menghela segala kepenatan. Sesekali, para nelayan bertukar sapa dengan mereka yang baru saja bersandar. Para nelayan membawa hasil tangkapan, pulang setelah berlayar dan berayun beberapa masa di atas samudera. Ikan-ikan ditakar dan ditukar uang. Aroma uang sudah pasti dapat menggariskan senyuman di sudut bibir para istri dan kekasih. Read the rest of this entry »

BAKAO by Gayatri Mantra

Hutan Mangrove.

Senja menjelang, kala sekelompok Burung Kokokan menuju pulang. Menembus awan nimbus, Kokokan putih berarak, bermanuver terbang rendah diantara rerimbunan Hutan Mangrove. Pulang, pulang, pulang!  Raja burung memerintahkan anggotanya bersiap dan bersiaga, agar hari ini mereka bisa tetap selamat sampai ke sarang.  Gerombolan sayap-sayap putih itu terbang  menggaris langit, melayang di atas jalanan bypass yang semakin padat dilintasi kendaraan.

Masih, sepasang kekasih melintasi jembatan kayu yang berkelok seperti ular. Mereka menyandarkan tubuhnya pada pilar jembatan sambil menatap langit dengan tersenyum, lalu diabadikan kamera untuk foto pre-wedding. Payau ini tenang menunggu langit memburatkan warnanya dipermukaan yang bercahaya. Dan, para pemancing seperti kusuk dalam imaginasi tentang ikan-ikan dan kepiting yang berkelebat di bawah riak permukaan danau. Di balik caping bambunya tak terlihat wajah mereka, entah tertidur, menikmati kebebasan dari terikan nasib atau tarian ikan memang begitu menggairahkannya. Entahlah.

Read the rest of this entry »