BIRAHI MERAH

Mang Denik tumben mampir ke tempat kosku. Ia masih sepupu jauh dari kampung. Kami berdua sama-sama merantau di kota ini untuk mengejar impian masing-masing. Aku menjadi guru dan Mang Denik menjadi pemandu wisata. Meskipun tinggal berjauhan, kami masih saling mengunjungi untuk berbagi berita dan rejeki.  Kami masih sama-sama lajang, dan sering meluangkan waktu sekadar cuci mata bersama. Pacar ada sih, tapi lebih enak kumpul-kumpul dengan keluarga dan kawan sekampung, sekadar membunuh keterasingan.

Senja ini, Mang Denik tampak tergopoh-gopoh datang ke kos. Ia meminta agar besok lusa aku mesti membuat jadwal cuti karena ada parum agung, rapat akbar di kampung. Tentu saja aku kaget, tidak biasanya desa menggelar rapat semendadak ini, lagi pula perayaan desa baru saja usai.

“Lusa, kita berdua mesti pulang kampung, penting! “ demikian perintah Mang Denik kepadaku sambil menyeruput kopi panas, mencicip sepiring penganan pisang goreng dan ote-ote kesukaannya.

“Yang benar saja? Perayaan desa kan udah selesai, lagi pula lusa nanti aku  mesti memberikan les tambahan untuk murid-muridku”. Tentu saja aku mesti memberitahu Mang Denik tentang hal ini.

“Harah, undur saja jadwalmu. Di kampung lagi genting, tauk! Sepupumu, Si Degeng  ditangkap pecalang kemarin sore. Akupun mesti pulang gara-gara Degeng, huh… ” Keluh Mang Denik dengan mulut berminyak penuh gorengan, membawa kabar yang tak mengenakkan hatiku.

Degeng seperti namanya kecilnya, sosok sepupu yang patuh, tak banyak cakap, pendiam dan tipe pria rumahan. Mendengar kabar sepupuku ini ditangkap pecalang keamanan desa kami, tentu itu seperti petir di siang bolong. Apalagi, Degeng baru saja menikah dan setahuku istrinya sedang mengandung 4 bulan.

”Ha…, apa masalahnya sampai sepupuku mesti mengalami nasib naas begitu? Apa salahnya?! ‘’

Mang Denik menarik nafas dan mencoba menerangkan dengan merendahkan nada suaranya ‘’Sore kemaren, sepupu kita itu tertangkap sedang bersetubuh dengan sapi betina peliharaannya!”  

Jeder! Suara halilintar seperti terdengar tepat diliang telingaku. Kaget, tentu saja! Aku yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak, hampir saja menyemprot muka Mang Denik. Cerita ini membawa pikiranku ke jejeran ruang sempit di warnet-warnet dekat kampus. Apa  yang diceritakan Mang Denik, begitu mudah diunduh di layar komputer. Tayangan manusia bercinta dengan berbagai binatang dengan beragam gayapun ada. Tontonan bokep, film porno seperti itu malah lebih heboh dan bervariasi. Cukup  di down-load saja.

Tetapi, berita ini menjadi berbeda! Tak bisa kubayangkan peristiwa itu terjadi pada sepupuku, Si Degeng! Tak bisa kubayangkan bagaimana petani ini digiring masyarakat ke balai desa untuk disidangkan karena peristiwa memalukan semacam itu. Dewa Ratu! Si Degeng bersetubuh dengan hewan ternak peliharaannya! Dan, bagaimana perasaan istri dan keluarga? Haruh, akupun jadi turut cemas memikirkan hal ini, tapi aku ingin Mang Denik melanjutkan kabar anyar dari kampung.

”Degeng mengaku dihadapan para tetua adat, bersetubuh empat kali dengan sapi itu. Dia mengaku waktu bersenggama ia tengah membayangkan sapi betina itu seorang wanita cantik. Degeng yakin, pastinya wanita cantik yang menggoda dirinya hingga birahi itu mahluk jadi-jadian. Lalu, warga desa pun setuju itu adalah mahluk halus. Terus, mereka juga menyimpulkan bahwa Si Degeng melakukan persetubuhan dengan sapi itu karena rayuan hantu binal yang merasuki tubuh sapi itu. Apalagi, kandang sapi itu sangat serbi, sunyi. Itu sebabnya, kita diminta hadir untuk memutuskan kapan pelaksanaan upacara adat pembersihan desa dapat kita laksanakan. Yang jelas, sepupu kita itu diputus bersalah melanggar hukum adat, gamia gamana  atau  salah krama” Mang Denik merangkum informasi yang ia dapatkan dari para kerabat kami di kampung.

”Ada-ada saja kamu ini, Mang! Jelas saja Degeng bercinta sambil membayangkan sapi itu manusia, perempuan cantik. Bercinta juga butuh fantasi, kan? Kasihan sekali mahluk halus yang dipersalahkan manusia karena dalih dan kelakuan Degeng ini. Mungkin saja mahluk halus itu tidak tahu apa-apa. Dasar Si Degeng saja yang tak mampu mengendalikan birahinya. Apa tidak sebaiknya Degeng ini diserahkan kepada dokter? Siapa tahu dia mengalami gangguan kejiwaan dan orientasi seksual yang menyimpang? Lagian kamu kan suka nonton bokep, masak kamu tidak pernah melihat adegan begitu?” gerutuku pada Mang Denik, sembari menyalakan televisi sebagai selingan.

Entah kenapa, cerita tentang Degeng membuatku tiba-tiba diserang gelisah dan cemas. Bagaimana tidak? Selama urusan seksualitas tetap tabu, bagaimana kelak anak-anak muridku bisa memahami seksualitas dirinya dengan baik? Atau, mengatasi masalah seperti Si Degeng, sepupuku?

”Iya, aku sih sudah tahu ada bokep begituan. Tapi, kamu ini kan guru?! Kamu saja yang menjelaskan pada tetua adat kita. Kita sendiri sudah tahu, mereka tidak senang keputusannya dipertanyakan lagi. Mereka lebih senang berkomunikasi dengan dukun. Lebih baik kita cari selamat saja. Turuti saja kata-kata tetua adat itu daripada kita lagi yang dipersalahkan! Sudahlah, kita terima saja ini sebagai aib keluarga kita! Katanya, sapi betina itu akan dibunuh, lalu kita akan melakukan guru piduka, permohonan ampun pada dewata dan mengadakan upacara besar bersih desa lainnya”.

Mang Denik sudah pasti pesimis menangapi  ideku tadi akan diterima tetua adat kami. Masalahnya, kami berdua sudah tidak menetap di kampung. Itu artinya, kami tidak berhak ikut campur keputusan desa. Mang Denik menyibukkan diri mengunyah gorengan yang terakhir. Jelas, Mang Denik juga gelisah karena belum mendapatkan keputusanku untuk  berangkat dengannya lusa nanti.

”Tetapi apa yang akan dilakukan masyarakat desa kepada Si Dengeng?” tanyaku pada Mang Denik.

Diam-diam aku ingin tahu. Sebab, dari tadi hanya sapi sial ini saja yang menjadi fokus dalam cerita ini. Aku membayangkan, andaikan sapi itu bisa bicara mungkin dia akan protes karena telah diperkosa tuannya. Nasib buruk sapi ini tidak beda dengan TKW di Saudi, ada yang diperkosa dan tidak sedikit yang mati. Lalu, masyarakat desaku yang tak tahu menahu tentang kejadian ini dikerahkan untuk menggelar hajatan karena skandal seksual ini, dan  melupakan kemungkinan Degeng sepupuku butuh bantuan dokter jiwa. Sial!

 ”Akupun tak tahu, mungkin Degeng dikenakan sejumlah denda uang” Mang Denik mengangkat bahu dan kedua alisnya tanda ia tidak begitu memusingkan apa yang terjadi dengan sepupuku. Dia juga tak tahu apa yang akan terjadi jika Degeng tak sanggup membayar denda uang itu. Baginya, yang penting dia menghadiri rapat, setor muka dan masalah selesai. Lagi pula, wajahnya sudah tampak letih dan mengantuk. Itu berarti, sebentar lagi dia hendak bangkit dan pamit pulang ke kosnya.

”Baiklah kalau begitu, lusa kamu jemput aku dan kita berangkat bersama”.

Keputusan ini kubuat karena bagaimanapun aku adalah sepupu Si Degeng. Dan tentu saja, jika tidak mematuhi  perintah hadir rapat desa itu akibatnya lebih mengerikan daripada ancaman dipecat dari kantor. Sudahlah!

Mang Denik bergegas bangkit untuk segera pulang, namun tiba-tiba pandangan mata kami berdua tertuju pada layar televisi. Kami berdua sejenak terpaku menyantap suguhan berita tentang seorang lelaki pemilik kambing dengan bangga mempertontonkan kambingnya yang berkepala mirip manusia. Warga desa berduyun-duyung datang ke pondok lelaki itu untuk bisa melihat kegaiban itu dan memohon berkah pada anak kambing ajaib itu agar mendapat rejeki. Dan sebentarnya lagi, ditayangkan seekor babi betina melahirkan anak dengan memiliki tanda-tanda mirip bagian tubuh manusia. Televisi menyebutnya ajaib,  badah!

Tayangan itu membuatku tiba-tiba mual. Aku dan Mang Denik saling berpandangan dan bergidik. Jangan-jangan…..?!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

LASKAR BAYANGAN by gayatri mantra


R

umah itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Keramaian yang mencekam. Beberapa lelaki berkaos hitam-ketat membungkus tubuh-bentukan gym, tegap dan berotot tampak lalu- lalang. Mereka mencari tempat bersila di sebuah bale. Tepatnya, mencari ruang dan waktu untuk berdiskusi dengan kelompoknya. Para wanita ada di tempat lain, sibuk dalam hening. Dan, anak-anak sepertinya tak peduli, mereka asik bermain. Rombongan lelaki itu mengenakan destar dan bersarung batik, sebagai sebuah seruan tradisi. Rokok tersulut dan terselip di ujung bibir mereka. Asap dibuang ke atas: puh..! Resah terbaca di permukaan wajah dan udara. Read the rest of this entry »

BULU-BULU ANGSA by gayatri mantra

P

asien kamar 437 telah meninggal tadi pagi. Seorang wanita menangis lalu dipeluk suaminya di koridor rumah sakit. Setelah beberapa saat ditenangkan suaminya, wanita itu menghapuskan airmatanya. Lalu ia menengok ke dalam kamar dari balik jendela. Sang suami menghampiri, memeluknya dan mengajaknya berlalu. Sementara di dalam ruangan, paramedis melakukan tugasnya mengurus jenazah Nyonya Murdata. Wanita berusia 77 tahun itu kini telah terbebas dari penderitaannya. Ia tampak tertidur pulas di atas ranjang. Kanker telah mengunyah kesehatan serta keuangannya.

K

eluarganya menerima kematian Nyonya Murdata dengan iklas, meski kali ini kematian itu justru bukan karena penyakitnya itu. Ia meninggal dini hari karena diduga gagal jantung. Siapa yang peduli? Lansia meninggal karena apapun tak menjadi soal. Itu sudah waktunya. Bahkan banyak yang merasa lega, seakan kehadiran lansia itu hanya menjadi beban saja.

A

nak wanita Nyonya Murdata telah menikah dan hidup di kota lain. Nyonya Murdata hidup kesepian dan menghabiskan waktu dengan membelanjakan uang pensiunannya. Wanita bertumbuh tambun itu hidup di apartemen dekat rumah sakit hanya dengan seekor kucing, Si Kiti kesayangannya. Hingga suatu saat, ia terjatuh tak sadarkan diri seusai jalan-jalan sore hari di taman. Nyonya Murdata dilarikan ke rumah sakit dan didiagnosa terinfeksi kanker otak. Dokter telah memberikan bantuan medis yang terbaiknya. Dan aku, perawat yang melayaninya di kamar itu. Selama dalam perawatan, Nyonya Murdata sering bercerita apa saja padaku. Read the rest of this entry »

KOTA MENARA by gayatri mantra


K

ota ini disebut Kota Menara. Luasnya sekitar 4 hektar. Jumlah penduduknya tak lebih dari 1000. Mereka berasal dari berbagai latar belakang: suku, agama, ras dan status sosial. Kota ini dilindungi oleh benteng yang terbuat dari tembok tinggi dan kokoh. Penjagaannya begitu ketat dan berlapis. Sebuah menara dibangun di poros  kota.  Menara yang begitu angkuh untuk ditaklukkan. Setiap malam ada cahaya berpendar dari puncak menara yang menyinari setiap jendela rumah. Cahaya itu menjadi pemandu waktu bagi penghuninya. Itulah sebabnya ia disebut Kota Menara. Read the rest of this entry »

LASKAR BAYANGAN by GAYATRI MANTRA


R

umah itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Keramaian yang mencekam. Beberapa lelaki berkaos hitam-ketat membungkus tubuh-bentukan gym, tegap dan berotot tampak lalu- lalang. Mereka mencari tempat bersila di sebuah bale. Tepatnya, mencari ruang dan waktu untuk berdiskusi dengan kelompoknya. Para wanita ada di tempat lain, sibuk dalam hening. Dan, anak-anak sepertinya tak peduli, mereka asik bermain. Rombongan lelaki itu mengenakan destar dan bersarung batik, sebagai sebuah seruan tradisi. Rokok tersulut dan terselip di ujung bibir mereka. Asap dibuang ke atas: puh..! Resah terbaca di permukaan wajah dan udara. Read the rest of this entry »