SIMPANAN

“Mereka keluarga yang harmonis” kata Mutiara padaku sambil menghisap rokok  kesukaannya. Asap kelabu bergelung di atas kepalanya, berputar lalu lenyap.

“Kok kamu tahu? Harmonis bagaimana?”

Mutiara sahabatku sejak kecil menyahut santai “Yaiyalah aku tahu! Anak-anaknya sudah beranjak remaja dan kuliah, tetapi mereka tetap bersama. Bahkan Sabtu-Minggu, Bapak tidak bisa diganggu karena itu adalah waktu untuk keluarganya” .

Mutiara bersandar disofanya yang hangat. Sesekali tampak ia menghembuskan asap rokok itu ke arah langit-langit  rumah kontrakan mungilnya yang cozy. Mutiara baru saja bercerai dan aku baru saja membina rumah tangga. Setelah satu dasa warsa, kami bertemu di facebook dan saling mengobrol. Sesekali aku menemui Mutiara mengisi waktu karena suamiku bekerja di kapal ikan. Tapi, Mutiara lebih sering menelpon. Ia lebih senang aku berkunjung ke rumah kontrakannya.

Minggu siang itu, kami berencana pergi mencari tempat nongkrong untuk sekadar minum coffe latte dan mencari suasana baru. Sambil menunggu mobilnya yang  tengah dititipkannya di salon, Mutiara dan aku saling bergosip tentang berbagai hal, termasuk tentang 9 tahun pernikahannya yang gagal.

“Aku tak mau bernasib sial seperti perempuan lainnya. Beruntung, selama perceraian ini aku mendapatkan hak-hakku. Waktu menikah, aku bekerja dan menabung. Jadi, ada-lah sedikit simpanan. Dulu, aku juga membuat perjanjian dengan suami, sehingga ketika aku mendapatkan musibah seperti bercerai, aku tidak begitu terguncang. Tidak banyak sih?! Mantan suamiku lelaki yang baik. Ia memberikanku mobil, beberapa perlengkapan rumah tangga dan juga sejumlah uang cukup untuk membangun sebidang rumah. Karena itulah, aku minta kamu untuk membantu aku, Mira”

Benar juga kata Mutiara. Perempuan menikah, lupa dan bahkan tidak tahu hak-haknya  dalam perkawinan. Simpanan pun tak ada, sama seperti aku saat inilah! Mutiara memberikanku inspirasi untuk membuat tabungan. Perjanjian dalam perkawinan antara aku dan suami, sepertinya harus mulai kupertimbangkan. Banyak kaum perempuan yang bercerai, nasibnya seperti pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mereka kehilangan hak asuh anak, tidak punya harta, dan hidup terlunta-lunta. Slip gaji kantor perlu juga ditunjukkan di hadapan hakim pengadilan? Yaiyalah, ini kan penanda kaum perempuan juga bisa memberikan jaminan sosial bagi anak-anaknya. Lagian hari gini, siapa juga yang mau menampung janda, tanpa harta?! Mutiara, wanita cerdik ini selamat dari neraka itu. Dan kini, akulah arsitek yang akan menggarap rumah idaman yang akan dibangun dari duit pembagian gono-gini.

“Aku salut sama kamu, Mutiara. Bagaimanapun, kamu cukup tegar menghadapi perceraian ini. Perjanjian nikah itu penting juga, ya? Masalahnya, banyak yang malas mengurus ini, mereka takut dikira menikah kok seperti dagang, jual-beli“.

Mutiara merapikan mayang terurainya yang basah habis keramas, berujar  datar “Aku tidak setegar yang kamu kira, Mira. Tapi perkawinan, terkadang membutuhkan perhitungan yang cermat tentang waktu dan uang. Jika kita tidak berhitung untuk musim bencana yang menyakitkan, itu namanya kebodohan. Bayangkan! Istri-istri setia ditinggal kabur suami dengan perempuan lain, mereka kehilangan segalanya: suami, anak-anak dan harta. Nasib mereka justru lebih menyedihkan dari pelacur! Pelacur saja, sekali mengangkang, pura-pura orgasme, langsung dapat bayaran. Istri yang diceraikan suami dapat apa, coba?! Mereka cuma kebagian lebel janda, status cerai hidup! Kenapa juga mesti disebutkan begitu di KTP, yah?”

Bibir kering Mutiara kebanyakan merokok ini menggetarkan kenyataan getir hidup seorang janda. Apalagi, ketika janda muda itu menjalin relasi baru dengan seseorang, kemudian merencanakan pernikahan, status “cerai hidup” sungguh memalukan!

“Sebenarnya, kamu bercerai karena apa, sih? Setahuku kalian hidup mapan dan selalu mesra“ tanyaku ingin tahu.

“Suamiku menghamili pembantuku. Sedangkan, aku tak mampu memberikannya keturunan. Sempat sih, aku hamil. Namun selalu, janin itu menjadi darah. Katanya, aku lemah kandungan tetapi tetangga malah bergosip jabang bayiku dijadikan tumbal oleh mertua. Mereka berkata begitu, karena mertuaku lumayan kaya. Aku mencoba bertahan menjadi menantu, tetapi keguguran itu sungguh menyakitkan! Aku gagal! Aku tak mau larut dalam kepedihan dan akhirnya kami berpisah baik-baik”. Mutiara melumat puntung rokok di asbak berabu dan menyulut rokok baru untuk membuang resahnya saat mengingat masa lalu.

“Dan, bagaimana hubunganmu dengan istri bapakmu?” Aku mencoba mengalihkan kembali pikiran karibku agar kembali pada hari ini.

Mutiara melipat kakinya yang jenjang dan menopang dagunya di tangan sofa “Oh, hubunganku dengan istrinya baik-baik saja. Ibu itu istri yang mapan, dan dia begitu percaya pada suaminya. Atau tepatnya, dia tak peduli dengan aktivitas suaminya. Yaiyalah?! Suaminya kan sudah memenuhi segalanya, memberinya kemewahan dan kemapanan. Berlian, emas, deposito, tanah, rumah atas nama istri, apalagi?”

Penasaran juga dengan cerita Mutiara, akupun bertanya “Tapi, kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana tentang kamu dan Bapak? Apakah ia memberikanmu cukup waktu dan perhatian?”.

“Mira, aku tidak begitu memusingkan itu. Kerjaanku di kantor banyak. Komunikasiku dengannya cukup lewat bébé dan yang penting aku memiliki waktu dan jaminan yang berkualitas. Itu jauh lebih memuaskan”.

“Bagaimana dengan masa depan?”.  Aku masih mengejar Mutiara dengan pertanyaan karena aku masih mengeja kisah Mutiara setelah berpisah dengan suaminya. Maklum begitu banyak masa yang tidak kami lalui bersama.

Mutiara mengangkat  kedua alis matanya yang tebal  tanda tak begitu memusingkan hal itu. “Siapa juga yang tahu masa depan? Siapa juga yang berharap menemukan nasib sepertiku? Menjadi janda kembang? Kalau bukan karena musibah ini, mungkin aku juga tidak tahu mengapa janda-janda begitu menggairahkan. Dan, mengapa istri-istri setia takut dengan kehadirannya? Kamu tahu, Mira? Ketika menjadi istri, kita lupa merawat dirinya, sibuk mengurus keluarga. Dan ketika menjanda, barulah perempuan mulai sadar diri dan usia, baru punya cukup waktu  merawat penampilan, minum vitamin dan jaga body agar tampak fit. Ya seperti aku-lah, sekarang ini!”

Mutiara merebahkan badan dan menyelonjorkan kakinya yang jenjang di sofa panjang, lalu menghisap rokok filternya dalam-dalam. Mutiara baru saja 31 tahun, ia menjadi ranum, memiliki karir yang berkilau dan pribadi yang menarik. Meskipun demikian, Mutiara juga tipe perempuan rumahan yang lebih senang menikmati kesendiriannya dengan fasilitas yang lumayan komplit. Mutiara mengaku padaku masih mengurung diri dan  menyesuaikan diri dengan stigma masyarakat tentang status ke-jandaan-nya.

“Bapak menjamin keluarganya dan aku. Tugasku hanya duduk manis di rumah ini. Aku mendapat jatah sangu sebulan sekali, sebesar gaji bulananku. Lumayan untuk belanja bulanan! Dan yang paling penting, setiap Bapak pulang, aku menyambutnya dan menerima jatah batin darinya. Hubungan seksual kami membara. Dia bilang, ranjang istrinya terasa dingin dan hambar, itu sudah sejak lama. Bersamaku, kami berdua di puncak ekstasi dengan variasi dan sensasi. Bapak menjawab setiap tantangan yang aku berikan di berbagai tempat, berulang kali hanya dalam dua malam saja. Dia lelaki yang hot, panas. Itu sebabnya, aku tidak begitu keberatan menjadi teman bermain Bapak dan tidak ingin berpisah dengannya. Aku sadar jika kami begitu berjarak usia dan waktu. Tapi, akupun tak bernafsu memilikinya”

“Kamu yakin ini akan berlangsung lama, Mutiara?”

Mutiara menarik nafas dalam-dalam. “Sejak aku berpisah empat tahun lalu dengan suamiku, lalu bertemu dengannya di suatu tempat, tidak ada yang berubah. Ah, hubungan kami telah berlangsung selama ini, dan semuanya baik-baik saja. Aku tidak berharap Ibu tahu hal ini. Jelas, Bapak akan berada dipihak istrinya. Dan, aku tak terlalu berharap banyak, sih? Jujur saja aku ingin Bapak ada denganku selamanya, meski tidak setiap waktu. Kurasa aku mencintainya karena kepuasan yang diberikannya”.

Terdengar bébé berkelenting berulang kali. Pertama itu dari salon mobil. Mutiara mengirim seseorang untuk membawa mobilnya pulang. Kelentingan kedua, tentunya dari Bapak yang menanyakan keadaan Mutiara. Lalu, Mutiara mengetik pesan pada kekasihnya tentang kedatanganku yang akan menggarap proyek rumahnya dan rencana kami berdua untuk pergi ke kafe. Pesan ditutup dengan kode ciuman mesra, tanda pesan berakhir. Luar biasa, Ilusi teks yang terasa begitu nyata.

Mutiara mengelung rambutnya yang panjang, menggulung gambar rumahnya dan kamipun bergegas pergi. Kurasa, Mutiara telah mengalami banyak hal dalam hidupnya dan aku tak berani mencampuri urusan ini. Lagipula, aku baru saja mengarungi bahtera, masih buta membaca pasang dan surut musim perkawinan. Terngiang saran Mutiara untuk selamat dari badai perceraian: perempuan perlu punya simpanan. Deposito, tabungan, emas atau apa sajalah, asal bukan “simpanan” lain! Oh, yang terakhir mungkin terlalu berbahaya, tapi who knows-kan? Mahligai Mutiara tak seindah yang dibayangkan,  bekasnya hanya menjadi kenangan  usang. Bagaimana dengan aku?!  Entahlah.

Advertisements

BIRAHI MERAH

Mang Denik tumben mampir ke tempat kosku. Ia masih sepupu jauh dari kampung. Kami berdua sama-sama merantau di kota ini untuk mengejar impian masing-masing. Aku menjadi guru dan Mang Denik menjadi pemandu wisata. Meskipun tinggal berjauhan, kami masih saling mengunjungi untuk berbagi berita dan rejeki.  Kami masih sama-sama lajang, dan sering meluangkan waktu sekadar cuci mata bersama. Pacar ada sih, tapi lebih enak kumpul-kumpul dengan keluarga dan kawan sekampung, sekadar membunuh keterasingan.

Senja ini, Mang Denik tampak tergopoh-gopoh datang ke kos. Ia meminta agar besok lusa aku mesti membuat jadwal cuti karena ada parum agung, rapat akbar di kampung. Tentu saja aku kaget, tidak biasanya desa menggelar rapat semendadak ini, lagi pula perayaan desa baru saja usai.

“Lusa, kita berdua mesti pulang kampung, penting! “ demikian perintah Mang Denik kepadaku sambil menyeruput kopi panas, mencicip sepiring penganan pisang goreng dan ote-ote kesukaannya.

“Yang benar saja? Perayaan desa kan udah selesai, lagi pula lusa nanti aku  mesti memberikan les tambahan untuk murid-muridku”. Tentu saja aku mesti memberitahu Mang Denik tentang hal ini.

“Harah, undur saja jadwalmu. Di kampung lagi genting, tauk! Sepupumu, Si Degeng  ditangkap pecalang kemarin sore. Akupun mesti pulang gara-gara Degeng, huh… ” Keluh Mang Denik dengan mulut berminyak penuh gorengan, membawa kabar yang tak mengenakkan hatiku.

Degeng seperti namanya kecilnya, sosok sepupu yang patuh, tak banyak cakap, pendiam dan tipe pria rumahan. Mendengar kabar sepupuku ini ditangkap pecalang keamanan desa kami, tentu itu seperti petir di siang bolong. Apalagi, Degeng baru saja menikah dan setahuku istrinya sedang mengandung 4 bulan.

”Ha…, apa masalahnya sampai sepupuku mesti mengalami nasib naas begitu? Apa salahnya?! ‘’

Mang Denik menarik nafas dan mencoba menerangkan dengan merendahkan nada suaranya ‘’Sore kemaren, sepupu kita itu tertangkap sedang bersetubuh dengan sapi betina peliharaannya!”  

Jeder! Suara halilintar seperti terdengar tepat diliang telingaku. Kaget, tentu saja! Aku yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak, hampir saja menyemprot muka Mang Denik. Cerita ini membawa pikiranku ke jejeran ruang sempit di warnet-warnet dekat kampus. Apa  yang diceritakan Mang Denik, begitu mudah diunduh di layar komputer. Tayangan manusia bercinta dengan berbagai binatang dengan beragam gayapun ada. Tontonan bokep, film porno seperti itu malah lebih heboh dan bervariasi. Cukup  di down-load saja.

Tetapi, berita ini menjadi berbeda! Tak bisa kubayangkan peristiwa itu terjadi pada sepupuku, Si Degeng! Tak bisa kubayangkan bagaimana petani ini digiring masyarakat ke balai desa untuk disidangkan karena peristiwa memalukan semacam itu. Dewa Ratu! Si Degeng bersetubuh dengan hewan ternak peliharaannya! Dan, bagaimana perasaan istri dan keluarga? Haruh, akupun jadi turut cemas memikirkan hal ini, tapi aku ingin Mang Denik melanjutkan kabar anyar dari kampung.

”Degeng mengaku dihadapan para tetua adat, bersetubuh empat kali dengan sapi itu. Dia mengaku waktu bersenggama ia tengah membayangkan sapi betina itu seorang wanita cantik. Degeng yakin, pastinya wanita cantik yang menggoda dirinya hingga birahi itu mahluk jadi-jadian. Lalu, warga desa pun setuju itu adalah mahluk halus. Terus, mereka juga menyimpulkan bahwa Si Degeng melakukan persetubuhan dengan sapi itu karena rayuan hantu binal yang merasuki tubuh sapi itu. Apalagi, kandang sapi itu sangat serbi, sunyi. Itu sebabnya, kita diminta hadir untuk memutuskan kapan pelaksanaan upacara adat pembersihan desa dapat kita laksanakan. Yang jelas, sepupu kita itu diputus bersalah melanggar hukum adat, gamia gamana  atau  salah krama” Mang Denik merangkum informasi yang ia dapatkan dari para kerabat kami di kampung.

”Ada-ada saja kamu ini, Mang! Jelas saja Degeng bercinta sambil membayangkan sapi itu manusia, perempuan cantik. Bercinta juga butuh fantasi, kan? Kasihan sekali mahluk halus yang dipersalahkan manusia karena dalih dan kelakuan Degeng ini. Mungkin saja mahluk halus itu tidak tahu apa-apa. Dasar Si Degeng saja yang tak mampu mengendalikan birahinya. Apa tidak sebaiknya Degeng ini diserahkan kepada dokter? Siapa tahu dia mengalami gangguan kejiwaan dan orientasi seksual yang menyimpang? Lagian kamu kan suka nonton bokep, masak kamu tidak pernah melihat adegan begitu?” gerutuku pada Mang Denik, sembari menyalakan televisi sebagai selingan.

Entah kenapa, cerita tentang Degeng membuatku tiba-tiba diserang gelisah dan cemas. Bagaimana tidak? Selama urusan seksualitas tetap tabu, bagaimana kelak anak-anak muridku bisa memahami seksualitas dirinya dengan baik? Atau, mengatasi masalah seperti Si Degeng, sepupuku?

”Iya, aku sih sudah tahu ada bokep begituan. Tapi, kamu ini kan guru?! Kamu saja yang menjelaskan pada tetua adat kita. Kita sendiri sudah tahu, mereka tidak senang keputusannya dipertanyakan lagi. Mereka lebih senang berkomunikasi dengan dukun. Lebih baik kita cari selamat saja. Turuti saja kata-kata tetua adat itu daripada kita lagi yang dipersalahkan! Sudahlah, kita terima saja ini sebagai aib keluarga kita! Katanya, sapi betina itu akan dibunuh, lalu kita akan melakukan guru piduka, permohonan ampun pada dewata dan mengadakan upacara besar bersih desa lainnya”.

Mang Denik sudah pasti pesimis menangapi  ideku tadi akan diterima tetua adat kami. Masalahnya, kami berdua sudah tidak menetap di kampung. Itu artinya, kami tidak berhak ikut campur keputusan desa. Mang Denik menyibukkan diri mengunyah gorengan yang terakhir. Jelas, Mang Denik juga gelisah karena belum mendapatkan keputusanku untuk  berangkat dengannya lusa nanti.

”Tetapi apa yang akan dilakukan masyarakat desa kepada Si Dengeng?” tanyaku pada Mang Denik.

Diam-diam aku ingin tahu. Sebab, dari tadi hanya sapi sial ini saja yang menjadi fokus dalam cerita ini. Aku membayangkan, andaikan sapi itu bisa bicara mungkin dia akan protes karena telah diperkosa tuannya. Nasib buruk sapi ini tidak beda dengan TKW di Saudi, ada yang diperkosa dan tidak sedikit yang mati. Lalu, masyarakat desaku yang tak tahu menahu tentang kejadian ini dikerahkan untuk menggelar hajatan karena skandal seksual ini, dan  melupakan kemungkinan Degeng sepupuku butuh bantuan dokter jiwa. Sial!

 ”Akupun tak tahu, mungkin Degeng dikenakan sejumlah denda uang” Mang Denik mengangkat bahu dan kedua alisnya tanda ia tidak begitu memusingkan apa yang terjadi dengan sepupuku. Dia juga tak tahu apa yang akan terjadi jika Degeng tak sanggup membayar denda uang itu. Baginya, yang penting dia menghadiri rapat, setor muka dan masalah selesai. Lagi pula, wajahnya sudah tampak letih dan mengantuk. Itu berarti, sebentar lagi dia hendak bangkit dan pamit pulang ke kosnya.

”Baiklah kalau begitu, lusa kamu jemput aku dan kita berangkat bersama”.

Keputusan ini kubuat karena bagaimanapun aku adalah sepupu Si Degeng. Dan tentu saja, jika tidak mematuhi  perintah hadir rapat desa itu akibatnya lebih mengerikan daripada ancaman dipecat dari kantor. Sudahlah!

Mang Denik bergegas bangkit untuk segera pulang, namun tiba-tiba pandangan mata kami berdua tertuju pada layar televisi. Kami berdua sejenak terpaku menyantap suguhan berita tentang seorang lelaki pemilik kambing dengan bangga mempertontonkan kambingnya yang berkepala mirip manusia. Warga desa berduyun-duyung datang ke pondok lelaki itu untuk bisa melihat kegaiban itu dan memohon berkah pada anak kambing ajaib itu agar mendapat rejeki. Dan sebentarnya lagi, ditayangkan seekor babi betina melahirkan anak dengan memiliki tanda-tanda mirip bagian tubuh manusia. Televisi menyebutnya ajaib,  badah!

Tayangan itu membuatku tiba-tiba mual. Aku dan Mang Denik saling berpandangan dan bergidik. Jangan-jangan…..?!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MÉMÉ


Luh Eka Sundari mepangenan. Méméné ngalahin mati, mulih ke alas wayahné, jam satu dibi sandé. Pantes dugasé punika, Luh Eka Sundari  merasa inguh nénten nyidayang pules. Mémé ipuné megatang angkihan krana amah penyakit kanker rahim. Makudang-kudang balian lan pengobatan alternatip sampun rerehe mangda gering punika ical uli basing méméné. A sasih sedéreng  I Mémé ngalahin mati, tyang nak  polih medelokan mulih ipuné. Dapetang tyang obat saking dokteré kari akéh, mabungkus rapi.

Takénang tyang I Mémé, kenapi ipun nenten ngajeng obat saking I Dokter.  I Mémé  nyaurin, krana ipun sampun ke balian numbas tamba sané maji wantah limang tali rupiah. I Mémé sambilanga ngurut basangné sané sakit  ngorahang, yéning obat  punika cocok ring awak ipuné. Ipun masih moréhin basangné nganggé cakcakan don lan nginem loloh don silik (srikaya). Nanging, kari sakitanga koné  bangkiangné.

Méméné  Luh Eka Sundari ngereng ring baléné naggehang sakit basang ipunné. Peluhné nyerékcék, bibihné  tuh. Sekadi entik-entikané, awak ipuné layu dudus. Ipun wantah nganggé cawet lan kutang metatakan kamen. Bon kamaré sampun masem uyak peluh, uyak boréh, uyak lengis. Dugasé punika, sebet sajan keneh tyangé nyingakin I Mémé buka kénten. Mémé  nénten nyidayang madaaran napi. I Bapa sampun numbasang bubuh ring jaba. Bubuhé kari kebus makudus, nanging I Mémé nénten purun nyicipin bubuh maulam ayam punika. I Mémé aduh-aduh di kamaré, glalang gliling  di baléné, padidiana. Tyang negak dibatarané di sisi, ngorta sareng I Bapa mangda gelis ngajak I Mémé ka rumah sakit.  Nanging I Bapa sekadi anak sané nénten madué harapan, nénten purun makta kurenané mapriksa. Santukan, sami obat farmasiné nénten daara sareng I Mémé. Sebet keneh tyangé nawang indiké punika.

Dugasé punika,  I Mémé sampun tingalin tyang pesu mulih meled nagih ngenceh kewéséné. Sungkan gering punika ngeranayang ipun merasa sekadi anyang-anyangan. Aget tumbasang tyang I Méme susu bubuk. Tundén tyang I Kadék pianak muani I Mémé ngaénang susu panes. Aget I Mémé nyidayang nginem susu angeté punika yadiastun wantah akedik. I Bagus cucuné, milu nyiup susu odahné, krana odahné ten nyak koné nelahang susuné punika. I Bagus wawu metuwuh telung tiban, ipun durung uning napi. Jeg siyupe susu punika sambilange nyeledét lan ngorahang jaen ring odah ipuné. I Mémé kedék sambilanga nanggehang sakit basangné. Pedalema cucuné sane nénten madué rerama. Sabilanga I Méme  inget tekéning kelacuran palekadan cucuné, ngetél sampun yeh matané.

Luh Eka Sundari ngeling sigsigan .  Méméné ngalahin mati. Tresna I Mémé ajaka Luh Eka Sundari yakti ageng pisan. Pianak atugelan Luh Eka Sundari, I Bagus punika wantah  I Mémé ane nyangkutin, ngempu lan merténin.  Luh Eka Sundari wantah pianak luh padidiana. Adine makakalih muani. Dugasé idup, I Mémé nénten taén ngorahang déwék ipuné gelem. I Mémé nika anak luh sané jemet megaé medagang nasi. I Bapa megaé di pasih ngalih tamu dados ‘guide liar’ ten mesértipikat. Dikénkéné polih jinah, dikénkéné mamuyung mulih. I Mémé sampun sané nulungin nambakin jinah akedik.

Kénten masi dugasé Luh Eka Sundari beling, nanging nénten akuina ajak I Muani. I Mémé sampun sané dados dadalan gumi, dadalan désa. I Mémé sampun dados taméng, keni kawon.  I Mémé kasambatang nénten bisa ngajahin pianak. I Bapa uyut, pisaga uyut. I Mémé siyep. Kemamai I Mémé ngatehang Luh Sundari sané beling gedé ngalih wantuan hukum, mangda yén lekad I Kumara nénten kasambat pianak bebinjat. Gelis satua, aget masi anaké muani sané melingang Luh Eka Sundari nyak  ngakuin  I Bagus dados pianak ipuné.

Nika sampun kasurat ring surat pernyataanné, nanging ipun nénten purun nganténang Luh Eka Sundari. Ipun anak kari makurenan lan madué pianak kalih, luh-muani. Béh, daya sajan anaké muani puniki, cocok sampun ipun dados politisi. Mangkin, Luh Eka Sundari  kabawos dados single parent, ngelah pianak nanging nénten madué kurenan, sampun biasa sekadi mangkinné. Napi malih, makéh mangkin anaké lanang kemamai mekarya belingan nanging nénten nyak ipun  ngakuin utawi nénten nyak nganténang kabakané. Muani sekadi puniki kari meled idup cara kedisé, mekeber  bébas.

Luh Eka Sundari ngeling, inget dugasé méméné masuk rumah sakit. “Kanker rahim stadium 3B” kenten dokterné maosang. Artine, sakitné I Mémé sampun parah, kawon pisan. I Mémé patut nyalanang kémoterapi. Sampun kaping kalih makémoterapi, rawuh kertas masurat angka  40  yuta, preabéa rumah sakit. Luh Eka Sundari  paling makyayangan pacang ngerereh jinah akeh punika, mangda  méméné dados kawaliang mulih. Peluhné ngetél, sirahné pengeng. Napi koné anggén jaminan yéning ipun pacang meled nyilang jinah ring finance utawi koperasi, napi malih di bank? Kadirasa ngajeng anggén sewai-wai kemanten ipun kari mautang kemamai. Ngalih gaé cara mangkiné  durung karuan ngemaang gaji sane cukup anggen idup, napi malih anggen mayah piutangan ageng. Dije koné nuduk jinah akéh sekadi punika?

Nanging, yéning ipun nénten nyidayang molihang jinah punika, sinah méméné nénten dados mulih lan prebéa rumah sakité punika sinah lakar ngakéhang. I Bapa lan adin ipuné sami  ngangsel,  nyagerang Luh Sundari,  kénkén je carané pang polih pipis sekadi  isin notané punika. Nyama sampingané makejang ngorahang nénten madue jinah. Pisagané masi patuh kénten. Cutetné, nénten wénten anaké sané madué jinah diguminé puniki. Kije ye sami jinahé melaib lan mengkeb dugasé punika, nggih?

Luh Eka Sundari ngeling, ngeliling  didipané.  Méméné mati amah kanker rahim dijumahné. I Bapa nénten bani malih makta kurenanané ke rumah sakit. Ipun sampun masukserahang  nasib kurenanané ring  Ida Betara. Ipun nénten madué  napi. Yéning ké uling dumunan petugas ring rumah sakit ngaturang informasi indik wantuan pemerintah sekadi JKBM lan Jamkesnas, sinah I Mémé polih pengobatan, nambanin gering kanker rahim ipunné  tanpa prebéa.  Nanging sampun telat. Kanker rahim seka bedik mentik ring tengahing  awak  lan ngamah urip I Mémé.  Di kamarné, I Mémé maguyang nanggehang sakitné kanti mati. “Jatu karma!” kénten krama banjarané ngibur, ngeliangang manah I Bapa. I Mémé mati, kramané matulung makta wadah ka setra lan ngabénin I Mémé mangda ipun gelis dados betara.

Luh Eka Sundari kari ngeling sigsigan. Bapane,uwané, misané, sami penyamané nénten ngemaang Luh Sundari nelokin méméne sane sampun padem. Lek koné reramané nampi Luh Eka Sundari di arep  témpékanné. Lek koné ngelah pianak luh sané ngai kawon adan kaluargané. Lek ulian Luh Eka Sundari beling, nentén wénten kurenané, ulian ipun dados single parent. Napi malih Luh Eka Sundari mangkin nongos ring penjara.

Luh Eka Sundari nénten nyidayang kije-kije, mapingit ring  tengahing natah sané masengker besi. Nangging, nénten wénten kaluargané kahyun nyambatang, ulian napi ké Luh Eka Sundari nongos ring penjara? Palingan sami kitak-kituk, mapi-mapi nénten uning napi. Luh Eka Sundari mategul tanpa tali santukan meled keneh ipun ngayahin méméné dugasé kari idup,  dugasé I Mémé kari ring  rumah sakit. Jengahé nénten madué pipis mekardi ipun mapikenoh bawak, molihang jinah uli ngerereh pemargi sané kawon. “Kénkén je carané maan 40 yuta!” kénten minab kenehné  mamunyi ring kupingné Luh Eka Sundari.

Luh Eka Sundari sampun mautsaha nyalanang  tresnané ring mémé ipuné. Sesampuné mayah rumah sakit, I Mémé dados mulih. Nanging, Luh Eka Sundari ejuka lan kurunga cara anak  matelung bulanan, ring kurungan besi sané ageng. Ipun mangkin kaparipaksa ngijeng ring penjara, kirang langkung sampun makiré atiban.

Méméné mati, Luh Eka Sundari ngeling sigsigan. Mekamen ring sunduk, Ipun maseselan  merasa nénten nyidayang  ngayahin  I Mémé nganti  kalahina mati. Ipun mepangenan, inget ring tresnan méméne dugasé kari idup. Sesampuné mati, nénten nyidayang Luh Eka Sundari nyujuh napi malih ngusud, mayasin paukudan lan nututin kajang méméné ka sétra. Luh Eka Sundari wantah bisa ngeling nyantos lemah sambilanga masoda nasi, yeh, kopi, dupa lan canang. Sesampuné ngabén, roras dina Luh Eka Sundari sampun ngacepang  I Mémé saking  kamar ipuné di penjara. Miribné, I Mémé sampun neked dikadituan. Sambilanga mebakti, Luh Eka Sundari ngeling sigsigan, inget yéning méméné sampun mati. Satua idupné sampun puput.

Katur ring:   N E W ring Sanur, 6 Februari 2011

DADOS RABI

Sampun  telung tiban tyang  metimpal sareng Gung Sri. Tyang sareng ragané megaé ring bagian akonting ring Hotél Manik Galih . Megaé di hotél patut madueg-duegan ngalih timpal. Apang wénten ané dados ajak mapaitungan indik metukar  shift utawi jam kerja nuju  wénten  pikobet  adat di désa. Gung Sri, anak istri jegég mekulit gading niki setata sadia yéning tyang nunas tulung ring ragané. Kénten masi yéning Gung Sri wénten pakayunan matukar cuti, tyang setata dados cagerina. Gung Sri lan tyang kocap  dados ‘Team Paling Kompak’ ring kantor. Read the rest of this entry »

PURUSA by gayatri mantra


“ Dasar Pelacur! Dia tak akan dapatkan apapun dariku!”.

“ Pelacur itu hamil! Ia bilang anak yang dikandungnya itu milikmu”.

“ Itu tidak mungkin! Ia menjebakku! Anak itu pastilah anak dari seribu lelaki!”.

“ Satu diantaranya, adalah dirimu!”

“ Dia hanya inginkan uangku”.

“ Dulu, kau yang inginkan tubuhnya!” Read the rest of this entry »

SANDIKALA by Gayatri Mantra

Kau pernah menegurku:

“Menikahlah, berhentilah seperti kera, melompat riang ke sana-kemari di kebun musa! Berhentilah menjadi sangunis! Demi Tuhan, dewasalah!”.

Dan, aku seperti biasa hanya tersenyum menatap wajahmu, Angga.

K

au tak tahu apa yang kau katakan dan apa yang aku rasakan! Memang, bukan hanya kau yang menatapku dengan pandangan mengiba seperti itu. Kau pikir aku tak menyadari, usia seperti rayap mengunyah diriku diam-diam? Aku memang tak punya kekasih. Apakah itu semacam kutukan bagiku? Read the rest of this entry »

RAY DAN SEBENTUK WAJAH by Gayatri Mantra

“ Kau  bisa pergi dengan kami” bujuk wanita itu.

”Ayolah, Ray! Kita ini masih muda,  jangan mengurung diri saja!” lelaki muda  teman wanita itu mencoba membujuk pria yang  bernama Ray.

”Maapkan aku. Sungguh, aku tak bisa! Aku tak begitu suka menonton film. Kalian berdua, pergilah! Aku akan tinggal di rumah nanti malam” Ray rikuh menolak ajakan sahabatnya. Yulia dan Rana, hanya mereka sahabat yang dimiliki Ray di kota kecil ini. Mereka sepasang kekasih yang baru setahun menjalin kisah cinta. Ah, pastilah menyenangkan bisa mengajak seseorang untuk berkencan. Hari-hari menjadi lebih berwarna  dan segala sesuatu menjadi indah.

”Ray, sepupuku sepertinya menyukaimu. Mita sering menanyakanmu. Bagaimana? Kau bisa telpon dan cobalah ajak dia berkencan!” Rana mencoba meyakinkan Ray untuk pergi.

”O, benarkah? Aku tak tahu dia suka padaku. Aku pikir gadis seperti Mita menyukai pria-pria mapan. Sementara aku? But thanks! Aku akan memikirkannya. Tapi, tidak sekarang oke? Saat ini, aku sungguh ingin sendiri” Ray mencoba menutup pembicaraan dengan meninggalkan sedikit kesopanan.

”Oke deh, kalau itu maumu. Kalau kamu berubah pikiran, tinggal telpon kami, Oke? Chao!” Yulia dan Rana menutup wajah mereka di layar handphone.

Chao! Wajah mereka menghilang, pikiran Ray melayang. Read the rest of this entry »