Poli-Tikus

Ini negeri Indosialitikus. Negeri yang dibangun spesies Koloni Tikus, termasuk rumpun bangsa Kemayu Malasekalia, yang berbulu abu-abu. Dikenal sangat pintar berkamuflase. Penduduk negeri tikus diberi nama Poli-Tikus. Mengerat adalah ideologi tunggal negeri ini. Indosialitikus berwajah multikulturitikus. Masyarakat yang membangun negeri ini terdiri dari beragam tikus, begitu kira-kira. Dari pengusaha tikus berdasi, priyayi tikus berkerah putih hingga bangsa preman dan cecurut. Oya, anak-anak Indosialitikus sangat mencintai Mickeytikus dan Minitikus, artis negeri tetangga, Holi-Tikus. Mereka termasuk spesies tikus berbulu putih.

 
Konon kabar sejarah, wilayah dan kekuasaan Indosialitikus sangat luas. Dan cukup disegani oleh negaratikus lainnya. Itu dulu. Maklum, Poli-Tikus senang sekali mengagungkan kedigjayaan sejarah mereka. Sayang kejayaan itu rupa-rupanya runtuh, karena libido mengerat Poli-Tikus begitu besar. Semua yang disediakan negeri ini habis digerogoti Poli-Tikus. Hingga, wilayah negara mereka semakin menyempit. Bahkan, peta negaratikus pun habis dikerat keturunannya. Pulautikus, gunungtikus, di peta berlubang atau hilang  karena dikerikiti anak-anak Poli-Tikus.
 
Wajah Poli-Tikus dari Indosialitikus, selalu kelaparan. Lapar, lalu mengerat. Begitu terus menerus. Negaratikus lainnya, sampai geleng-geleng kepala. Setiap pertemuan antarnegara tikus, para petinggi Poli-Tikus wajahnya selalu memelas. Dan melaporkan kondisi kelaparan yang terjadi di Indosialitikus. Dan, sejuta kesialan-kesialan hidup lainnya. Tahun ini beritanya, Indosialitikus nyaris kehabisan stok makanan. Habis dikerat-kerat. Sawah-sawah kena pestisida, tergerus dan terendam lumpur limbah industri milik konglomerat Muka Tikus. Biji padi cuma menyisakan kulit. Rasanya pahit. Penduduk Indosialitikus takut keracunan dan tidak sudi makan biji padi lagi.
 
Petinggi Poli-Tikus dari Deputi Kementrian Pangan bersurat. Minta tolong negaratikus tetangga memberikan subsidi bagi bangsa ini. Minjam dulu deh, demikian bunyi NB/PS di pojok bawah surat pendahuluannya. Kuskalikus, masalah utang piutang bisa diurus belakangan. Subsidi datang dari negaratikus lain. Negara tetangga tak makan biji padi, lalu dikirimilah keju sebagai bantuan terhutang. Harga keju negeri tetangga dihitung dengan valutikus. Kurs mata uang terus berfluktuasi. Turun satu, naik dua begitu terus. No problem, buat Indosialitikus. Jaman gini, tidak ada uang kontan, ya dibayar barang. Lantas Presiden Tikus meminta kementrian pertambangan tikus untuk membuat daftar inventaris. Barangkali ada gunung dan pulau tikus lain yang bisa digadaikan.
 
Masyarakat Poli-Tikus mengkonsumsi makanan 100 kali lebih banyak dari negaratikus lainnya. Makan dulu baru bekerja. Begitulah prinsip hidup Poli-Tikus. Berkeringat saat makan, sepertinya satu-satunya yang bisa dimengerti Poli-Tikus. Pekerjaan yang paling berat bagi Poli-Tikus adalah berpikir. Berpikir bisa membuat satu tetes keringat, keluar sia-sia. Para Poli-Tikus tak senang berkeringat. “Malas menyekanya” begitu kata mereka. Maunya terima beres, tanpa mesti  susah payah.  Fasilitas negaratikus ini hampir-hampir semua diadopsi dari negaratikus lainnya. “Buat apa berpikir. Biar saja negaratikus lainnya yang bekerja. Toh, tugas tikus negeri ini hanya mengerati peradaban” ujar salah satu Poli-Tikus.
 
Di Indosialitikus ada sekelompok mafiosotikus. Kelompok ini terdiri dari preman dan bangsa cecurut. Mafiosotikus sangat menakutkan. Mereka layaknya teroris. Bekerja seperti bayangan hitam. Ketuanya Don Tikus, licik dan licin. Sang Don Tikus sangat pandai bicara. Sugestinya terpercaya. Don Tikus bekerja meniup-niup dan mengiming-iming kemuliaan bagi Poli-Tikus. Don Tikus sangat berkuasa di wilayahnya Sarang Tikus. Don Tikus hidup dari menjebak, menipu dan memeras. Poli-Tikus  menyebut mereka para begalitikus. Apalagi  kaki tangan Don Tikus, bangsa cecurut bertingkah bak penguasa. Meneror kesana-kemari.
 
Target Operasi Don Tikus memperdayakan Poli-Tikus dengan memakai tikus-tikus kecil. Para tikus kecil itu  juga tadinya terjebak tipu daya Don Tikus. Anak-anak tikus tak mampu membebaskan diri dari sang Mafiosotikus. Mereka dipekerjakan di brotel-brotel. Tikus kecil tak mampu mencicit. Karena, mulut  Don Tikus lebih besar dari mulut mereka, hingga cicit kecil menjadi tertelan angin. Eksploitasi dan perbudakan anak-anak dalam dunia tikus sangat memprihatinkan.
 
Kali ini, Don Tikus memasang perangkap bagi petinggi Poli-Tikus dengan Jebakan Tikus. Tujuannya jelas untuk memudahkan pemerasan. Umpannya adalah tikus betina. Target operasi Don Tikus kali ini adalah Bajingtikus. Bajingtikus pengusaha kaya dan berkuasa, mantan bupatikus. Agak senang dipuji-puji oleh para tikus penjilat. Bajingtikus ketika berkuasa, berkoalisi dengan preman dan cecurut. Berteman dengan Mafiosotikus. Don Tikus mengenal betul Bajingtikus. Dalam dunia mafiosotikus tak ada persahabatan yang abadi. Ini Politik Tikus, Bung!.
 
Apalagi sebentar lagi para Poli-Tikus akan melakukan voting pemimpin baru. Klengkus! Poli-Tikus macam begini sama sekali tak berguna. Menyingirkan Poli-Tikus busuk macam Bajingtikus tak akan merugikan siapa-siapa. Nothing to loos. ”Klengkus!” dengus Don Tikus.
 
Bajingtikus perlu disingkirkan. Ia petinggi otak udel. Pikirannya tak jauh dari sekitar udel, pupu dan pupur. Tak tahu malu. Bandot tikus tua ini cukup buas dan sangat doyan memangsa tikus-tikus betina kecil. Sekedar untuk dicicipi dan dilepeh. Rasanya sangat puas. Bajingtikus kerap menjamu sekutunya dengan hidangan  pencuci mulut tikus-tikus betina kecil. Bajingtikus menelpon Don Tikus. Minta dikirimi tikus betina pencuci mulut. Klengkus! Maka, diseretlah seorang anak tikus betina menjadi umpannya.Warnanya masih merah, baru belajar mencicit. Liur Bajingtikus sudah mengalir. Don Tikus mematok harga. Kuskalikus harga pas, anak tikus betina menjadi budak Bajingtikus. Maka dijilatinya tikus betina kecil itu. Anak tikus hanya bisa mengerang, memuaskan Si Tikus Tua hingga puas! Anak tikus ketakutan, malam-malam setelah lelah. Rebah dan resah sambil mencicit lirih di kamar motel. Tapi, tembok sepertinya telah menutup daun telinganya. Cicit lemah tak terdengar.
 
Bajingtikus sama busuknya dengan Don Tikus. Budak kecil itu lantas diperjualbelikan. Jatuh dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Jual beli budak antarkolega tikus tampak aman-aman saja. Sepertinya, perdagangan budak tikus betina bukan hal yang baru diantara para Poli-Tikus berduit. Klengkus! Istri cantik, anak sehat dan istana mewah, tak memuaskan otak udel para Poli-Tikus. Klengkus! Don Tikus tak peduli, kipas-kipas dengan duit hasil dagangan tikusnya. Ha….ha….Puas!
 
Seekor tikus betina, Kasturi, umpan Don Tikus tergelepar. Ketakutan dalam perangkap Don Tikus dan Bajingtikus. Lantas melarikan diri dari kamar motel. Segala cara dilakukan, memanjat, meloncat tembok tinggi. Berhasil. Keringat dingin menetes. Kasturi terdampar  di biaratikus. Meminta makan dan bantuan dari pendeta. “Rumah Tuhan, rumah penyelamatan. Mereka tak akan melempar aku, meski seorang pendosa” begitu harapan si anak tikus. Diketuknyalah rumah Tuhan. Tok….tok….tok. Pintu biara terbuka. Pendeta dan komunitas biara terkejut dengan keadaan anak itu. Merekapun membantu anak tikus menceritakan kejadian yang menimpanya. Percakapan pun di rumah Tuhan. Bisik-bisik, senyap. Tiba-tiba pecah suara tangisan. Kira-kira 30 menit, lalu lampu biara dipadamkan. Hening.
 
Pendeta dan komunitas biara menjadi telinga Tuhan. Mereka melaporkan peristiwa itu pada petinggi komisi keamanan dan perlindungan anak tikus. Komisi itu menyelidiki peristiwa itu. Perdagangan anak tikus dan perbudakan sudah sedemikian parah. Sungguh menyedihkan. Don Tikus dan Bajingtikus bukan tikus sembarangan. Kekuasaannya luar biasa, nyaris tak bisa disentuh hukum. Inilah dunia mafiosotikus. Mereka bersembunyi dalam benteng rumah mereka. Komisi perlindungan anak tikus mengerahkan bantuan. Pantang menyerah mendesak agar para Poli-Tikus mendukung upaya perlindungan hukum bagi anak-anak tikus. Kuskalikus, badan investigasi kepolisian tikus mengusut kasus tersebut dibantu para kulitikus (sejenis wartawan, dalam dunia manusia). Sretsretsret….tulisan kulitikus menjadi pedang penyambung lidah. Peristiwa perdagangan budak menjadi berita. Don Tikus dan Bajingtikus ditangkap. Poli-Tikus menjadi resah, gelisah dan ada juga yang meradang. Merusak citra Poli-Tikus. Klengkus!
 
Hanya saja, di Indosialitikus, mengerat adalah ideologi tunggal. Kuskalikus, suara kebenaran menjadi berlubang. Yah.. itu itung-itungan kuskalikus. Siapa yang kuat dia yang berkuasa, lantas mengerat (istilah lain untuk menindas). Memang ini hanyalah masalah kekawatiran saja. Namun, di negeri ini segala sesuatunya memang mengkhawatirkan. Para Poli-Tikus menjadi paranoid. Apalagi, iklim perpolitikan tikus suhunya makin meninggi. Poli-Tikus diserang demam tikus. Kuskalikus, keputusan ditangan para Poli-Tikus. Kita lihat investigasi selanjutnya. Klengkus!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: