BABAD KERATON

 
 
Mpu Tankelingan menyurat Babad Keraton. Beliau, putri dari Mpu Nirdon, abdi dalem istana. Mpu Nirdon diakhir usianya adalah pendamping setia Sang Raja. Mpu Nirdon, mangkat-moksa. Pada putrinya, beliau berpesan  untuk menyurat sastra Babad Keraton.
 
Dalam babad, tersurat sirat kehidupan Keraton Puri Cemeti. Kisah bermula dimasa waituki, warsa 2000. Bagawanta, pandita penasihat kerajaan baru saja menasbih raja. Pangeran Manik Mas  kini bergelar Sri Paduka Manik Mas Cemeti. Mahkota  keratuan telah digelungkan di atas prabhu, Sang Raja baru. Sah. Penobatan raja diikuti pemberian gelar bagi para senopati, panglima, prajurit serta kerabat setia raja. Mereka menjadi abdi dalem raja, wang jero. Sah. Kekuasaan Keraton Puri Cemeti sungguh luar biasa. Sang Raja dan permaisuri tampil biasa-biasa saja. Tetap memiliki taksu wibawa. Namun, kuasa kerabat dan  prajurit puri rupanya sangat menakutkan. Di luar benteng istana, mereka tampak lebih berkuasa dari raja. Mereka semua bertato rajah cemeti. Jelata, wang jaba yang tinggal di luar benteng kerap meringis jika para kaki tangan raja itu  berkelebat. Karena, tak sedikit dari mereka sering bertingkah dibalik kuasa raja. Petantang petenteng pamer tato badan agar mendapat wiski dan menjarah gadis-gadis kembang di brotel-brotel. Gratisan. Sah. Skandal keraton semenamena. Basah. Jelata tak bersuara, diam sambil melengos. Mereka berpikir sedang memiliki seorang Prabhu Drestarasta. Kaki tangan raja bagai Kurawa. Meresahkan. Diam itu emas, dari pada kena lecut para centeng. Bikin susah. Suaka raja hingga ke desa seberang. Keraton tetangga, yakni Puri Rindang Sabo, Puri Sekar Kemoning merupakan sekutu terkuat dalam catatan sejarah Puri Cemeti.  Pertalian yang dibangun dalam pertukaran cincin perkawinan kuasa. Sah.
 
Geger Keraton.
Pada suatu ketika, warga puri gelisah. Kudeta di siang hari bolong. Hianat menjadi kiamat, begitu kata sejarah. Menyurat babad pertikaian perebutan mahkota raja. Basah dengan air mata duka. Ikatan dinasti kembali  dibabat kerabat. Sret. Pertalian sepupu dan sepersusuan dibayar darah. Di halaman keraton terjadi perkelahian raja melawan adipati. Mereka bertarung seperti dua ekor ayam aduan. Tabuh rah. Tangan raja bersimbah darah. Merah. Mengucur dari tubuh adipati, saudara raja lain ayah. Musuh tersungkur mencium tanah. Rebah. Di ujung keris, raja selamat. Begitu juga permaisuri dan putra mahkota. Dinasti dan martabat berwarna merah. Benteng puri retak, mesti tetap dijaga. Singgasana seperti api. Membakar pantat sang Raja.
 
Raja terkejut dan murka. Namun sudah terlambat. Raja mesti selamat dalam permainan catur. Raja  diungsikan dari puri dan singgasananya. Sri Paduka Manik Mas Cemeti, pergi menyelamatkan  mahkota dan umbul-umbul kerajaan. Menjadi refuji mencari suaka ke Keraton Puri Rindang Sabo. Tentu saja, Puri Sekar Kemoning menyetujuinya.  Jelata Puri Rindang Sabo dan Sekar Kemoning menjadi penonton. Keraton yang resah. Skandal istana tersingkap ungkap. Byar. Terang. Rakyat bergunjing. Raja tetangga telah menjadi pembunuh! Sah. Itu dulu. Sekarang ya, tidak sah.
 
Pada masa pelariannya, Sri Paduka Manik Mas Cemeti tenggelam dalam kepedihan. Raja menyepi di kerajaan yang bukan rumahnya. Asing terasing. Seperti orang buangan. Beliau dengan tangan berdarah membawa luka hati, martabat yang terkoyak. Raja menangis, seperti jelata lainnya. Manusiawi. Noda yang tak pernah dikehendaki menjadi tabir gelap Keraton Puri Cemeti. Menjadi catatan hitam sejarah puri. Sekian abad dijaga, tinta merah tertumpah juga. Menjadi warisan dendam beranak-pinak. Tangan berlumuran darah ternyata tak bisa dibilas.
 
Sementara, Keraton Puri Cemeti menangis darah. Para perempuan istana terisak pasrah. Mereka bukan penentu nasib. Raja dan adipati adalah keluarga. Penguasa. Kini keduanya tak ada lagi. Satu menyelamatkan diri. Dan, satu lagi, tewas. Ratu lingsir, nenek sang raja termangu membisu. Permaisuri raja dan adipati  keduanya pasrah berlinang airmata. Saling tak bersua, seperti kewajiban. Meski, mereka berdua tak tahu mengapa. Kuasa perempuan puri, sepertinya hanya untuk merangkul kematian dan kepedihan. Diam dan terdiam. Perseteruan kaum laki-laki. Kuasa yang membinasakan nurani. Tak ada kata kecuali air mata dan kediaman yang sunyi. Dendam para perempuan adalah bara. Menunggu waktu meletup menjadi api lalu membakar. Rahim  kelak menjadi senjata pemusnah.
 
Para abdi dalem, wang jero  bersepakat menyerahkan keputusan pada Bagawanta, pendeta Istana. Sang pandita datang dan berdiri ditengah-tengah. Berjubah putih menuju tanah berdarah. Beliau, Maha Resi Wikan meminta para rabi atau sang permaisuri, selir,  wang jero pasrah dan berserah pada suratan perjalanan karma. Dendam adalah dosa. Bilas dalam air suci dan mantra doa. Keluarga adipati yang mangkat mengangguk dalam diam. Berharap akan ada pembalasan. Jiwa dibayar jiwa. Kali ini mereka pasrah. Kelak tak akan menyerah.
 
Sang Bagawanta meminta wang jero menyiapkan upacara yang sepantasnya bagi Adipati yang mangkat. Jasad Sang Adipati diusung menuju ke tanah tua,  Gandamayu. Istana terakhir bagi jiwa-jiwa penebusan dosa. Dari tanah menjadi tanah, dari debu menjadi debu. Moksa. Hidup yang usai. Sri Paduka Manik Mas Cemeti diminta kembali ke istana oleh Bagawanta. Keselamatannya dijaminkan dalam perlindungan para abdi dalem keraton. Masa pelarian telah usai. Raja kembali dijemput rakyatnya yang setia. Diarak tambur menuju benteng istana. Dikawal prajurit yang menepuk dada, menjadi martir bagi Sang Raja. Permaisuri dan putra mahkota menyambut gembira. Hadirnya suami dan ayah tercinta. Raja kembali. Keistananya. Rumah, nafas yang dikenalinya. Bagawanta datang memberikan doa dan air suci, mencoba membilas kenangan usang Sang Raja. Pada masa-masa suram yang berdarah.
 
 
Puri, istana raja.
Malam-malam raja sendirian. Masih merasa asing di rumah sendiri. Setelah sekian masa ditinggalkan. Merenung berjuta peristiwa. Tak ingin seperti ini. Hidup menghisap udara dendam yang mengambang dipermukaan. Mereka yang pasrah hari ini adalah mereka yang tak akan menyerah esok lusa. Sri Paduka Manik Mas Cemeti menghela nafas. Sadar. Jiwa dibayar jiwa. Hukum hutan semesta. Tidak hari ini, mungkin esok hari.  Sang raja menatap permaisuri dan putra mahkota, yang tertidur pulas. Raja berharap-harap cemas. Pada dinasti yang bersimbah darah. Noda yang tak terbilaskan.
 
Sri Paduka Manik Mas Cemeti memutuskan mengasingkan diri untuk bertapa. Menjadi seorang pengawi, menyurat syair. Mengasah kuasa menjadi rasa dalam bahasa. Menaklukan hasrat lewat kata-kata. Kelak Sang Raja berakhir menjadi pandita dalam pertapaan sunyi. Dan, putra mahkota berbekal sastra. Warisan terakhir sang ayah. Babad Keraton inipun berakhir dalam doa pembilasan dosa bagi sang raja-pandita. Babad Keraton, Tankelingan, Waituki 2000.
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: