SIMPANAN

“Mereka keluarga yang harmonis” kata Mutiara padaku sambil menghisap rokok  kesukaannya. Asap kelabu bergelung di atas kepalanya, berputar lalu lenyap.

“Kok kamu tahu? Harmonis bagaimana?”

Mutiara sahabatku sejak kecil menyahut santai “Yaiyalah aku tahu! Anak-anaknya sudah beranjak remaja dan kuliah, tetapi mereka tetap bersama. Bahkan Sabtu-Minggu, Bapak tidak bisa diganggu karena itu adalah waktu untuk keluarganya” .

Mutiara bersandar disofanya yang hangat. Sesekali tampak ia menghembuskan asap rokok itu ke arah langit-langit  rumah kontrakan mungilnya yang cozy. Mutiara baru saja bercerai dan aku baru saja membina rumah tangga. Setelah satu dasa warsa, kami bertemu di facebook dan saling mengobrol. Sesekali aku menemui Mutiara mengisi waktu karena suamiku bekerja di kapal ikan. Tapi, Mutiara lebih sering menelpon. Ia lebih senang aku berkunjung ke rumah kontrakannya.

Minggu siang itu, kami berencana pergi mencari tempat nongkrong untuk sekadar minum coffe latte dan mencari suasana baru. Sambil menunggu mobilnya yang  tengah dititipkannya di salon, Mutiara dan aku saling bergosip tentang berbagai hal, termasuk tentang 9 tahun pernikahannya yang gagal.

“Aku tak mau bernasib sial seperti perempuan lainnya. Beruntung, selama perceraian ini aku mendapatkan hak-hakku. Waktu menikah, aku bekerja dan menabung. Jadi, ada-lah sedikit simpanan. Dulu, aku juga membuat perjanjian dengan suami, sehingga ketika aku mendapatkan musibah seperti bercerai, aku tidak begitu terguncang. Tidak banyak sih?! Mantan suamiku lelaki yang baik. Ia memberikanku mobil, beberapa perlengkapan rumah tangga dan juga sejumlah uang cukup untuk membangun sebidang rumah. Karena itulah, aku minta kamu untuk membantu aku, Mira”

Benar juga kata Mutiara. Perempuan menikah, lupa dan bahkan tidak tahu hak-haknya  dalam perkawinan. Simpanan pun tak ada, sama seperti aku saat inilah! Mutiara memberikanku inspirasi untuk membuat tabungan. Perjanjian dalam perkawinan antara aku dan suami, sepertinya harus mulai kupertimbangkan. Banyak kaum perempuan yang bercerai, nasibnya seperti pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mereka kehilangan hak asuh anak, tidak punya harta, dan hidup terlunta-lunta. Slip gaji kantor perlu juga ditunjukkan di hadapan hakim pengadilan? Yaiyalah, ini kan penanda kaum perempuan juga bisa memberikan jaminan sosial bagi anak-anaknya. Lagian hari gini, siapa juga yang mau menampung janda, tanpa harta?! Mutiara, wanita cerdik ini selamat dari neraka itu. Dan kini, akulah arsitek yang akan menggarap rumah idaman yang akan dibangun dari duit pembagian gono-gini.

“Aku salut sama kamu, Mutiara. Bagaimanapun, kamu cukup tegar menghadapi perceraian ini. Perjanjian nikah itu penting juga, ya? Masalahnya, banyak yang malas mengurus ini, mereka takut dikira menikah kok seperti dagang, jual-beli“.

Mutiara merapikan mayang terurainya yang basah habis keramas, berujar  datar “Aku tidak setegar yang kamu kira, Mira. Tapi perkawinan, terkadang membutuhkan perhitungan yang cermat tentang waktu dan uang. Jika kita tidak berhitung untuk musim bencana yang menyakitkan, itu namanya kebodohan. Bayangkan! Istri-istri setia ditinggal kabur suami dengan perempuan lain, mereka kehilangan segalanya: suami, anak-anak dan harta. Nasib mereka justru lebih menyedihkan dari pelacur! Pelacur saja, sekali mengangkang, pura-pura orgasme, langsung dapat bayaran. Istri yang diceraikan suami dapat apa, coba?! Mereka cuma kebagian lebel janda, status cerai hidup! Kenapa juga mesti disebutkan begitu di KTP, yah?”

Bibir kering Mutiara kebanyakan merokok ini menggetarkan kenyataan getir hidup seorang janda. Apalagi, ketika janda muda itu menjalin relasi baru dengan seseorang, kemudian merencanakan pernikahan, status “cerai hidup” sungguh memalukan!

“Sebenarnya, kamu bercerai karena apa, sih? Setahuku kalian hidup mapan dan selalu mesra“ tanyaku ingin tahu.

“Suamiku menghamili pembantuku. Sedangkan, aku tak mampu memberikannya keturunan. Sempat sih, aku hamil. Namun selalu, janin itu menjadi darah. Katanya, aku lemah kandungan tetapi tetangga malah bergosip jabang bayiku dijadikan tumbal oleh mertua. Mereka berkata begitu, karena mertuaku lumayan kaya. Aku mencoba bertahan menjadi menantu, tetapi keguguran itu sungguh menyakitkan! Aku gagal! Aku tak mau larut dalam kepedihan dan akhirnya kami berpisah baik-baik”. Mutiara melumat puntung rokok di asbak berabu dan menyulut rokok baru untuk membuang resahnya saat mengingat masa lalu.

“Dan, bagaimana hubunganmu dengan istri bapakmu?” Aku mencoba mengalihkan kembali pikiran karibku agar kembali pada hari ini.

Mutiara melipat kakinya yang jenjang dan menopang dagunya di tangan sofa “Oh, hubunganku dengan istrinya baik-baik saja. Ibu itu istri yang mapan, dan dia begitu percaya pada suaminya. Atau tepatnya, dia tak peduli dengan aktivitas suaminya. Yaiyalah?! Suaminya kan sudah memenuhi segalanya, memberinya kemewahan dan kemapanan. Berlian, emas, deposito, tanah, rumah atas nama istri, apalagi?”

Penasaran juga dengan cerita Mutiara, akupun bertanya “Tapi, kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana tentang kamu dan Bapak? Apakah ia memberikanmu cukup waktu dan perhatian?”.

“Mira, aku tidak begitu memusingkan itu. Kerjaanku di kantor banyak. Komunikasiku dengannya cukup lewat bébé dan yang penting aku memiliki waktu dan jaminan yang berkualitas. Itu jauh lebih memuaskan”.

“Bagaimana dengan masa depan?”.  Aku masih mengejar Mutiara dengan pertanyaan karena aku masih mengeja kisah Mutiara setelah berpisah dengan suaminya. Maklum begitu banyak masa yang tidak kami lalui bersama.

Mutiara mengangkat  kedua alis matanya yang tebal  tanda tak begitu memusingkan hal itu. “Siapa juga yang tahu masa depan? Siapa juga yang berharap menemukan nasib sepertiku? Menjadi janda kembang? Kalau bukan karena musibah ini, mungkin aku juga tidak tahu mengapa janda-janda begitu menggairahkan. Dan, mengapa istri-istri setia takut dengan kehadirannya? Kamu tahu, Mira? Ketika menjadi istri, kita lupa merawat dirinya, sibuk mengurus keluarga. Dan ketika menjanda, barulah perempuan mulai sadar diri dan usia, baru punya cukup waktu  merawat penampilan, minum vitamin dan jaga body agar tampak fit. Ya seperti aku-lah, sekarang ini!”

Mutiara merebahkan badan dan menyelonjorkan kakinya yang jenjang di sofa panjang, lalu menghisap rokok filternya dalam-dalam. Mutiara baru saja 31 tahun, ia menjadi ranum, memiliki karir yang berkilau dan pribadi yang menarik. Meskipun demikian, Mutiara juga tipe perempuan rumahan yang lebih senang menikmati kesendiriannya dengan fasilitas yang lumayan komplit. Mutiara mengaku padaku masih mengurung diri dan  menyesuaikan diri dengan stigma masyarakat tentang status ke-jandaan-nya.

“Bapak menjamin keluarganya dan aku. Tugasku hanya duduk manis di rumah ini. Aku mendapat jatah sangu sebulan sekali, sebesar gaji bulananku. Lumayan untuk belanja bulanan! Dan yang paling penting, setiap Bapak pulang, aku menyambutnya dan menerima jatah batin darinya. Hubungan seksual kami membara. Dia bilang, ranjang istrinya terasa dingin dan hambar, itu sudah sejak lama. Bersamaku, kami berdua di puncak ekstasi dengan variasi dan sensasi. Bapak menjawab setiap tantangan yang aku berikan di berbagai tempat, berulang kali hanya dalam dua malam saja. Dia lelaki yang hot, panas. Itu sebabnya, aku tidak begitu keberatan menjadi teman bermain Bapak dan tidak ingin berpisah dengannya. Aku sadar jika kami begitu berjarak usia dan waktu. Tapi, akupun tak bernafsu memilikinya”

“Kamu yakin ini akan berlangsung lama, Mutiara?”

Mutiara menarik nafas dalam-dalam. “Sejak aku berpisah empat tahun lalu dengan suamiku, lalu bertemu dengannya di suatu tempat, tidak ada yang berubah. Ah, hubungan kami telah berlangsung selama ini, dan semuanya baik-baik saja. Aku tidak berharap Ibu tahu hal ini. Jelas, Bapak akan berada dipihak istrinya. Dan, aku tak terlalu berharap banyak, sih? Jujur saja aku ingin Bapak ada denganku selamanya, meski tidak setiap waktu. Kurasa aku mencintainya karena kepuasan yang diberikannya”.

Terdengar bébé berkelenting berulang kali. Pertama itu dari salon mobil. Mutiara mengirim seseorang untuk membawa mobilnya pulang. Kelentingan kedua, tentunya dari Bapak yang menanyakan keadaan Mutiara. Lalu, Mutiara mengetik pesan pada kekasihnya tentang kedatanganku yang akan menggarap proyek rumahnya dan rencana kami berdua untuk pergi ke kafe. Pesan ditutup dengan kode ciuman mesra, tanda pesan berakhir. Luar biasa, Ilusi teks yang terasa begitu nyata.

Mutiara mengelung rambutnya yang panjang, menggulung gambar rumahnya dan kamipun bergegas pergi. Kurasa, Mutiara telah mengalami banyak hal dalam hidupnya dan aku tak berani mencampuri urusan ini. Lagipula, aku baru saja mengarungi bahtera, masih buta membaca pasang dan surut musim perkawinan. Terngiang saran Mutiara untuk selamat dari badai perceraian: perempuan perlu punya simpanan. Deposito, tabungan, emas atau apa sajalah, asal bukan “simpanan” lain! Oh, yang terakhir mungkin terlalu berbahaya, tapi who knows-kan? Mahligai Mutiara tak seindah yang dibayangkan,  bekasnya hanya menjadi kenangan  usang. Bagaimana dengan aku?!  Entahlah.

Advertisements

5 Comments

  1. Aug said,

    October 5, 2011 at 9:45 am

    nice….

  2. julie said,

    October 9, 2011 at 7:52 am

    hmmmm jadi inget diri sendiri

  3. balibuddy said,

    November 30, 2014 at 7:03 am

    love journey, siapa yang tahu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: