MENGHANCURKAN SPIRITUALITAS BALI : PURA ATAU PURA-PURA?

Sebelum bernama Pura, tempat persembahyangan orang Bali disebut merajan, sanggah, paibon (pa-ibu-an), panti, beji, taman,  kahyangan atau parahyangan. Istilah Pura yang mengadopsi istilah India tampaknya baru diperkenalkan pada era pemerintahan  amoring acintya Prof. Ida Bagus Mantra (mantan Gubernur Bali) yang sempat studi di India. Tapi belakangan ini, banyak para pelajar Bali yang baru datang dari India mencoba menyamakan pura dengan mandira (mandir, kuil pemujaan) dalam  buku terbitan mereka.

Pura didirikan oleh leluhur pada masa lalu selalu dilintasi dengan jalan kegigihan, kesungguhan dan jauh dari keriuhan alam material. Pura kemudian menjadi lokus pendakian menuju  ke tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Pura menjadi ranah sunyi menuju kesadaran pada Sang Sunia, Kesunyataan.

Hari ini, Pura tak lebih sebagai objek kepentingan pariwisata yang diotaki oleh para kapitalis. Keberhasilan kapitalis hari ini adalah menciptakan simulacra, kepalsuan yang telah merasuk jauh dalam ranah kehidupan spiritual, keyakinan dan keagamaan. Mereka situs dan arsitektural pura sebagai barang dagangan komersial tanpa harus bersusah payah untuk mengelola operasional kehidupan pura.

Belakangan ini muncul marketing agama yang bekerja seperti gaya seorang multi level marketing. Mereka menawarkan segenap produk spiritual dari tasbih, foto-foto guru spiritual dan sebagainya. Juga menawarkan kapling-kapling tanah untuk ashram jika mereka mau membuka cabang agama ekspor dari negara lain dengan membentuk yayasan keagamaan.

Keberadaan mereka di desa-desa adat sekalipun tak mampu lagi dibendung. Desa adat tak mampu berbuat apa karena takut dianggap anarkis, takut dianggap melanggar HAM. Takut bersikap karena tekanan negara. Padahal didasar hati yang paling dalam, keyakinan leluhur mereka telah dilecehkan dengan bahasa-bahasa ‘kemurnian’ dan kedamaian.

Desa adat tak mampu bersikap ketika kostum tradisional dan simbol-simbol keagamaan mereka dipinjam untuk ‘diperdagangkan’, seolah-olah semua Orang Bali telah bersepakat menganut keyakinan sektanis dalam berbagai festival keagamaan ekspatriat, agama-agama impor di tanah Bali.

Namun di sisi lain, oknum orang Bali mampu menggerakkan adatnya untuk menghancurkan peradaban dan sisi kemanusiaan bagi bangsanya sendiri. Ada orang Bali yang mencuri arca suci pemujaan (pretime) untuk memuaskan hasrat elit-kapitalis yang menjadikan pretime sebagai boneka mainan terbaru yang eksotis.

Orang-orang Bali menggerus sendiri keyakinan dan keagamaannya. Seolah-olah menjadi orang Bali yang menjalankan adat tradisi sebagai hal yang bodoh dan tidak berdasar pada kitab suci. Seolah-olah menjadi pemeluk Hindu-Bali merupakan tindakan yang tak berdasar pada tuntunan kesucian.

Bali telah hancur dengan adanya bentrok desa karena  persoalan warga ganti nama, mayat-mayat yang diseret ke jalan. Atau, sejumlah pelarangan mayat untuk dimakamkan atau diaben cukup marak. Sementara, di lain tempat bangkai paus yang terdampar ditanam dengan hormat disertai dengan bunga canang sari dan kain putih penuh penghormatan.

Birokrasi desa dinas sebagai warisan kolonial Belanda merupakan celah yang memudahkan benih-benih pertikaian muncul. Konflik pendatang vs warga lokal, pertumbuhan keagamaan sektanis yang cukup signifikan. Di masa depan tidak tertutup kemungkinan ada bentrok desa adat vs desa dinas.

Kini, tidak sedikit pura bersolek karena hasil kompromi dengan para politisi yang rajin berdharma-suaka. Pura telah dijadikan ajang negosiasi politik melalui salam amplop dan pemugaran sejumlah pura. Orang-orang berduyun-duyun hingga berjejal memasuki pura agar terlihat seakan-akan menjadi seorang yang sangat berketuhanan. Merekapun masuk berjejal, tak malu menyikut orang-orang tua, anak-anak agar bisa menjadi orang yang paling pertama mencapai halaman pemujaan. Dan di luar tembok pura jejeran dagang, musik dangdut, musik dugem dan cewek kafe menjadi dunia lain yang menggempur kehidupan masyarakat. Pulau Dewata berubah menjadi Pulau Butha. Pendakian rohani terdesak menjadi pendakian rok mini.

Kini diarahkan menjadi pasar dan marketing spiritual. Otak kapitalis menggunakan ritual-keagamaan orang Bali sebagai event yang menguntungkan secara finasial. Orang ke pura pun disuguhkan dengan berbagai baranag dagangan. Padahal tujuan ke pura mestinya tidak seperti itu. Bhur Bwah, Swah sebagai pijakan pendakian spiritual atau justru tidak dipahami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: