PANGERAN YANG GELISAH

Sang Pangeran tengah bermuram durja. Asap rokok dan secangkir kopi  mengepul di atas meja bundar, di teras keraton. Ia duduk dalam posisi terpekur menghadap ke arah jalan, mengamati perubahan yang begitu dahsyat di luar benteng puri-nya. Dalam begitu banyak kilasan masa, tembok tebal itu berdiri kokoh.  Namun, waktu begitu gigih  untuk meremukkan keangkuhan nasib si benteng merah, dan juga ingatan tentang raja-raja.  Tapi itu masa yang sudah lama sekali. Sesekali dering telepon menggetarkan ingatannya untuk beralih sejenak pada modernisasi. Dunia yang tergenggam kini telah mencengkram dunia Sang Pangeran diam-diam, begitu kuat.

Beberapa koran tergeletak dingin di atas meja. Berita Koran hari ini tak ada satupun ada yang menyenangkan hatinya. Pangeran mendadak mual membaca aktor lokal menjual arca pemujaan nenek moyangnya pada ekspatriat. Di banyak tempat, kafe-kafe lokal didirikan  tepat di sebelah kawasan suci. Umat tak berdaya, dihadapkan pada pilihan, menuju perjalanan rohani atau pendakian si rok mini. Ternyata, sebagian memilih jalur sesat.

Investor lokal amatir mencoba memposisikan diri sebagai bos besar dan mendayakan cewek kafe, wanita buangan dari pulau sebelah. Mereka dijadikan sajian persembahan dalam remang lampu temaram dan keriuhan hingar bingar house music dangdut.

Di sisi kafe, orang-orang yang setia pada leluhurnya, mencoba berdoa dengan gigih agar tak terusik di neraka jahanam yang harus dilintasinya. Bencana ini  musibah kemanusiaan yang tak disadari. Pangeran malu dan muak dengan apa yang diketahuinya. Ia menyalakan geretan, lalu membakar sebatang rokok. Jari tangannya begitu jalang mencumbui nikotin. Tampaknya, semakin sering asap rokok mengepul maka semakin banyak juga gelisah yang dibuangnya ke udara.

Sang Pangeran sesekali menatap wajah langit. Siang ini seperti hari-hari sebelumnya, segerombolan awan kelabu menyelimuti angkasa. Ranting-ranting pohon gigil  meluruhkan dedaunan yang tampaknya mendadak menjadi tua sebelum masa. Angin berpusing tak tahu arah, kemana hendak menuju. Kadang kala hanya berputar-putar dengan kemarahan menyapu semua yang ada dihadapannya dengan begitu tergesa. Tanpa kompromi, kecuali menyisakan ketakutan dengan segala ketidakpastiannya.

Kini, musim tengah tak sudi untuk diramal. Langit abu-abu, politik kelabu keduanya sama-sama menyembunyikan tanda-tanda musibah, demikian pikiran Sang Pangeran. Cuaca bulan Desember ini sama tidak bersahabatnya dengan situasi politik negara di sepanjang tahun yang begitu muram.

Tak jauh dari tempat duduknya, para buruh pekerja tengah lalu lalang sejak pagi menjelang siang pada hari itu. “Saya bukan raja meskipun tinggal di puri raja” demikian Sang Pangeran membuka percakapan diantara para lelaki yang mengitarinya. Sang Pangeran mengerlingkan pandangan ke arah timur menatap para pekerja yang sibuk, sambil meminta agar abdi setianya membuatkan kopi susu bagi para tamunya.

Sementara beberapa meter dari teras, pejabat dari dinas purbakala mengawasi para pekerja. Mereka merestorasi artefak puri: sebidang candi raksasa, jalan masuk menuju rumah raja pada masa lalu. Sisa simbol  kekuasaan keraton yang ringkih, dan nyaris ambruk itu ditegakkan kembali dengan biaya dari negara agar kini masih punya harga diri. Sang Pengeran sama sekali tak menyangkalnya.

“Puri ini tak punya apa-apa kecuali sebuah warisan beban budaya tanpa kekuasaan untuk memulihkan keadaan ini.” Pangeran menghembuskan asap rokok ke udara. Asap  melayang mencoba melukiskan pikiran Pangeran, sempat meliuk namun segera  tersapu angin.

Para lelaki kemudian bergantian membakar rokok seperti tengah bersepakat untuk membakar resah di siang yang murung. Dalam kepitan jari tangan, lintingan rokok  dan juga usia mereka tengah digerogoti bara. Tapi tampaknya mereka tak begitu peduli.  Kegetiran Pangeran bergetar dari bibirnya yang kering. Ia pun  melanjutkan sabdanya dengan parau:

“Politik hari ini berwarna kelabu, mengebiri kesadaran  sehingga kita tak mampu mengeja, benar dan salah. Kita tak mampu bersikap dan menjaga hubungan hidup bersama sebagai bangsa. Jangankan untuk bersikap, bersaudara saja kita tak bisa. Orang-orang membantai keluarga mereka sendiri dalam perang kata dan kuasa. Aduh….!”

Sang Pangeran mengelus dadanya dan menggelengkan kepalanya, tanda prihatin. Garis matanya yang tajam dengan jelas mengguratkan kecemasan yang dalam. Guratan wajahnya letih dalam ketidakberdayaan dan kunyahan usia.

“Puri tak berdaya, saya tak berdaya, kita semua tak berdaya dengan semua perubahan ini. Kita harus mengakui ini semua! Kita semua telah terjajah dalam jaman. Sumber-sumber kehidupan kita telah tercerabut dari tempatnya. Air, laut, gunung, keyakinan, harga diri semua dilibas oleh penguasa dunia maya. Siapa mereka? Mereka tidak di sini, tapi di sana di tempat-tempat yang tak bisa kita jangkau. Wajah mereka tidak bisa kita kenali, tapi mampu menguasai selera, kepercayaan, keyakinan dan kehidupan kita. Sebagai bangsa, kita telah mati suri begitu lama.  Kita menyerahkan nasib pada kehendak mereka yang serupa Tuhan. Kita telah terhimpit dari berbagai sudut ke kehidupan. Dan beberapa dari kita terpaksa menjadi anjing garang yang terdesak di pojok tembok. Ia menyerang, mamangsa anak pinak sendiri. Aduh….!”

Sang Pangeran menjadi semakin gelisah. Segala perasaan, semuanya  hendak ditumpahkan di atas meja bundar dan asbak rokoknya. Asap membumbung di permukaan udara. Para lelaki tepekur menyimak setiap perkataan Pangeran.

“Dan di sini, di tanah ini, pemerintah mendiamkan ruang-ruang keyakinan kita digerus sepanjang hari dengan iming-iming uang, dengan sajian pelacur dan persembahan keriuhan. Tanpa martabat dan kemuliaan. Aduh….! Pangeran tua ini mengelus dadanya berulangkali. Perasaannya tertekan.  Ia melumat puntung rokoknya. Dan seperti ritual, ia menyalakan rokok yang lain.

“Saya tak berdaya dan tak malu mengatakannya. Saya hanya bisa mengadukan semua kegelisahan saya pada Men Mersi“ demikian Sang Pangeran memandang tajam ke arah para lelaki yang sibuk dengan pikirannya.

Seorang lelaki menghisap asap rokok, lelaki yang lain  menghirup kopi susu yang masih hangat. Pangeran tak peduli. Pangeran menghisap kembali asap rokoknya dalam-dalam. Sesekali ia terbatuk. Namun, menceritakan tentang Men Mersi menjadikan perasaan Pangeran jadi baik dan lebih baik. Men Mersi, rupanya wanita itu yang telah mengisi relung hati Pangeran.

“Men Mersi bagi saya seperti seorang ibu yang menampung segenap perasaan, pikiran dan cita-cita saya. Di dekapan Men Mersi, saya bisa bercerita tentang apa dan bagaimana kita hari ini.  Di penggaknya  saya bisa begitu telanjang dan bercerita apa saja untuk menghibur diri“.

“Jika kecemasan datang, saya lukiskan mimpi saya tentang wajah raksasa yang begitu lahap menyantap negara satu demi satu bagian negara ini. Padanya saya adukan hukum negara kita yang memalu tongkat keadilan di atas tumpukan kitab-kitab uang. Apa yang bisa saya lakukan untuk merubah keadaan itu? Siapa yang berkuasa atas semua ini? Tak lain adalah uang!”

Tiba-tiba Pangeran diam, lalu mengambil segempok kartu merah berikut surat ucapan selamat hari raya dari balik tumpukan bukunya. Kartu merah itu  bernilai seperti uang karena merupakan voucer belanja mewah. Pangeran membaginya seperti tengah bermain judi kartu. Setiap tamu mendapatkan bagian segempok kartu merah.

Sambil membagikan kertas merah itu Pangeran berkata “Silakan ambilah  kertas-kertas ini dan pakailah! Kertas ini sangat sakti, pemberian dari pengusaha dan penguasa hebat. Kertas merah ini akan memberikan semua sensasi keistimewaan duniawi sesuai dengan imaji kalian.  Saya harap kalian mengerti mengapa saya melakukannya dan mengapa saya tak ingin kalian menolaknya. Saya tak bisa menerima dan menikmatinya karena saya tengah tak ingin bermain judi kartu dengan pengirimnya”. Setelah itu, Pangeran melumatkan puntung rokok terakhirnya, seperti ingin melumat kemurkaannya yang tak terkatakan.

Para tetamu mendadak kaget menerima kejutan. Kiriman kartu merah tampaknya menjadi alat politik. Tapi malam telah begitu larut untuk membaca tafsir. Pangeran yang gelisah tengah tak ingin dibantah. Para tetamu menerima berkat pemberiannya, sama gelisahnya dengan Pangeran. Mereka paham bahwa besok, kartu merah itu akan menggiring mereka ke suatu arah, mendapatkan sesuatu yang tak mereka butuhkan dan merubah diri mereka menjadi nama-nama yang tak mereka kenali. Jackpot!

*

Untuk : Anak  Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana

Advertisements

1 Comment

  1. Kadek Wahyu said,

    January 8, 2011 at 5:35 am

    Hebat…,,, dan nanti kita harus bantu beliau untuk berjuang…,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: