BUKAN PERAWAN LAGI by gayatri mantra


D

ulu, bapak adalah segala-galanya bagiku. Ia tempat mencurahkan segala masalah. Tapi itu tidak lagi, sejak aku mengenal seorang lelaki lain. Kami berjumpa di sekolah. Kami saling jatuh cinta. Orang bilang itu cinta monyet. Lelaki itu sungguh tampan dan berperilaku santun. Semua kebaikan ada padanya. Tetapi bapak tidak menyukainya. Bapak seperti membenci lelaki yang kusayangi. Aku pun jadi membenci bapakku sendiri.

A

ku memang masih kecil untuk mengenal cinta. Cinta tumbuh seperti bulu-bulu halus lembut dan menggelitiki sekujur tubuhku  yang berkembang makin ranum dan matang. Cinta membuatku menatap cermin makin rajin di kamar, sambil mengaca betapa berharganya aku bagi orang yang kucintai. Cinta juga mulai membuatku bertanya, adakah kekasihku akan menerimaku, seperti apa adanya aku?

C

Intaku padanya memenjaraku. Aku tak boleh bertemu orang yang kucintai. Bapak tak mengijinkanku bertemu dengan kekasihku. Bahkan untuk itu semua, bapak tidak mengijinkanku bersekolah lagi. Demi Tuhan! Itu begitu menyiksa hatiku. Aku dan kekasihku terpaksa bertemu secara sembunyi-sembunyi. Cinta ternyata sanggup membuatku menjadi pengendap karena digigit rindu pada kekasihku.

“Benarkah kamu mencintaiku dan menerimaku seperti apa adanya?” .

“ Iya. Sejak pandangan pertama aku jatuh hati padamu”.

“Aku pikir, kita terlalu dini untuk hidup dalam satu dusta. Dan, aku tak ingin membohongimu. Apakah  itu akan tetap kamu pegang, jika aku mengatakan yang sebenarnya? Ehm… bagaimana jika aku tidak perawan lagi? Dengarkan aku! Aku sedang tidak bercanda. Aku memang sudah tidak perawan lagi! Maafkan aku! Aku menceritakan ini karena kamu lelaki yang baik. Bapak yang melakukan itu  semua padaku”.

“Itu tidak mungkin!” kekasihku  tersentak dan terkejut.

D

an, aku sudah menduganya! Aku sudah mengendalikan diri sejak jauh-jauh hari. Aku sudah menyiapkan diri untuk menceritakan  rahasia ini pada orang yang tepat, orang yang kupercayai.

“Itu telah terjadi sejak aku kelas 4 SD. Aku masih terlalu muda untuk memahami apa yang kulakukan. Apa itu percumbuan! Bapak yang mengajariku. Waktu itu aku sedang liburan sekolah. Ibu sedang bekerja, bapak juga sedang libur kerja dan mengasuhku. Tentu saja aku senang  bisa melihat bapak seharian. Tapi, saat itulah terjadi hal yang tak kubayangkan. Siang itu bapak memintaku tidur siang, dan aku menurut. Lalu, bapak meniduriku. Ini terjadi selama yang diinginkan bapakku. Itu terjadi selama bertahun-tahun. Tidur yang tak pernah kubayangkan dalam hidupku. Tidur yang menyakitkan dan melelahkan. Tidur yang kemudian memberikan aku mimpi buruk sepanjang hayatku. Bapak memintaku untuk tidak menceritakan rahasia yang dia ajarkan padaku, termasuk pada ibuku. Diam itu adalah wujud dari sikap manis dan patuh pada orang tua. Begitulah katanya, saat aku menangis kesakitan”.

“Aku begitu takut dengan apa yang aku alami dan malamnya aku demam. Ibu meminta bapak  mengantarkanku ke dokter. Dan kamipun pergi berdua. Di jalan bapak membelikanku obat penurun demam dan memintaku untuk tutup mulut!”.

“Bagaimana dengan ibumu? Apakah dia tidak curiga  dengan bapakmu?”.

“Ibuku tahu apa yang terjadi. Ia seperti membiarkan segalanya terjadi. Kurasa ia begitu mencintai suaminya, mencintai bapakku. Bukankah diam itu emas? Lagipula aku adalah anaknya. Ibuku juga sangat mencintaiku. Akankah aib anak gadis satu-satunya ini akan dia ceritakan pada orang lain? Apa kata orang, jika pelakunya adalah suaminya, bapak dari anaknya?”.

“Ibu memintaku minum pil. Dulu, katanya itu jamu untuk kesehatanku. Belakangan setelah aku dewasa, aku baru tahu itu pil kontrasepsi. Bukankah  itu semua dilakukan ibuku karena mencintai suami dan anaknya? Menjaga martabat keluarga? Pengorbanan apalagi yang dibutuhkan dari ibuku? Kami tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Ibuku sangat mencintai keluarganya”.

“Itu tak bisa dibenarkan! Itu tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Kamu harus membebaskan dirimu! Aku mencintaimu. Tapi, untuk semua yang terjadi kamu mesti mendapat bantuan dari orang yang tepat”.

M

aka, bertemulah kami dengan dokter Jayanti. Dokter Jayanti seorang konselor anak. Aku memang sudah SMA, tapi aku tetaplah anak-anak di mata hukum negara ini. Begitulah aku memahami penjelasannya padaku. Ia yang meminta dan menemaniku ke kantor polisi melaporkan peristiwa yang kualami. Tapi sayang, penyidikan terhadap kasus ini dipeti-eskan, karena  barang bukti dan saksi tidak ada. Ibuku masih diam tak bergeming, hanya airmata yang sanggup diteteskannya. Ibu memalingkan muka dariku. Ia lebih memilih suaminya, ketimbang aku yang telah melaporkan bapakku sendiri. Anak durhaka! Mungkin, begitulah pikir kedua orang tuaku. Ini adalah pilihan sulit. Kertas visum hanya menegaskan aku, memang bukan perawan lagi!

“Bukankah ini berarti aku menghianati keluargaku sendiri, dokter? Bukankah ini berarti aku melawan dan menyakiti keluargaku, Ibuku, Bapakku? Menyingkap aib keluarga kami? Bukankah itu dosa?” Sebelumnya aku sempat bimbang dengan keputusanku untuk melaporkan bapakku.

Incest tidak dibenarkan  oleh agama,  juga dalam ilmu kedokteran. Hubungan seksual dengan anggota keluarga inti bisa berdampak buruk. Untung saja kamu tidak hamil. Jika itu terjadi, kamu bisa saja melahirkan anak yang cacat fisik. Apa yang terjadi padamu itu tidak baik untukmu, nak. Kamu tidak saja telah menjadi korban incest juga menjadi korban pedofilia. Kamu masih anak-anak untuk melakukan hubungan seksual dengan orang dewasa. Kamu bukanlah budak pemuas nafsu seks bapakmu. Kamu berhak hidup normal seperti yang lainnya. Mencintai dan dicintai seseorang secara tulus. Harusnya orang dewasa melindungimu, bukan sebaliknya menyalahgunakan kekuasaannya atas nama cinta  dan kebaikan! Demi kebaikan siapa? Itulah disebut manipulatif, nak! Itulah kebohongan yang dibenci Tuhan, anakku!”.

L

ama aku mengeja kata-kata itu untuk memahaminya. Normal? Apakah itu hidup yang normal? Apakah segala yang kulakukan bisa merubah segala ketidaknormalan ini menjadi normal?

K

ini, 3 tahun aku sudah tinggal dalam rumah rehabilitasi untuk memulihkan diriku. Kekasihku masih disisiku, entah untuk berapa lama. Kadang aku berpikir, betapa tidak normalnya mereka yang bisa menerima ketidak normalan hidupku. Tapi, aku bersyukur kali ini hal itu berarti baik untuk semua. Begitu juga, Dokter Jayanti  yang selalu memberikan dorongan untuk menghadapi peristiwa lalu.

C

inta memang butuh pengorbanan! Kutindas rinduku pada masa kecil dan keluargaku. Ibu dan bapak kini hanya hadir dalam foto yang masih kusimpan. Bapak-ibuku bersalah menyalahgunakan cinta, atas nama hukum dan agama, meski bukti tak pernah tersingkap. Begitulah caraku membesarkan hati, setiap kali melihat anak-anak TK yang kuasuh. Kuharap anak-anak itu tetap bisa bermain, tertawa ceria dan tidak mengalami hal yang kualami. Dari balik jendela sekolah, aku melihat anak-anak tanpa orang tua itu sedang bermain ayunan, polos dan riang. Berayun, naik-turun, seperti nasib yang mengayunkan mereka. Rasanya hatiku tak ingin menjejak. Biarlah kenangan kelam itu melayang jauh, begitu jauh. Jauh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: