BAYIKU by gayatri mantra


“Perempuan! Beratnya 3,5 Kg, Panjangnya 50 Cm. Selamat ya, Bu! Putrinya cantik sekali”.

P

erempuan lagi! Ini anak perempuan ketiga yang kulahirkan. Perasaanku tidak begitu berbahagia. Kecewa, ya aku begitu kecewa dengan jenis kelamin anakku! Aku tak ingin lagi memikirkan bayi itu. Aku memikirkan perasaan suamiku yang sedang menggendong bayi yang baru saja kulahirkan. Mereka berdua tampak bahagia. Benarkah ia bahagia dengan kelahiran anakku itu? Perempuan! Aku sungguh terpukul! Aku tak dapat menerima kenyataan ini. Aku tak dapat menerima anakku. Aku tak sanggup menerimanya, karena ia perempuan lagi!

“Gimana, Bu? Sudah di USG kehamilannya? Apa kata dokter? Semoga nanti melahirkan bayi laki-laki. Kasihan suaminya loh! Kan, biar ada penerus generasi. Kalau lahir laki-laki, bikin selametan yang besar-besaran dong! Ingat, ngundang kami ya, bu?”

“Untung anak saya sudah lengkap, satu laki, satu perempuan” kata ibu yang lain.

A

ku sungguh membenci situasi seperti itu: menjemput anak ke sekolah dan menunggu mereka keluar kelas. Aku harus menjaga sikap dan perasaanku menghadapi komentar para ibu dari teman anak-anakku.

“Ah, ibu ada-ada saja! Menurut dokter, bayinya sehat-sehat saja. Jenis kelaminnya rahasia. Biar ada kejutan! Laki perempuan itu sama saja kan, Bu? Apapun bayi yang lahir nanti, itu tetap anak saya” Aku berusaha tersenyum dan menjawabnya untuk membela diri.

Aku sendiri tak yakin dengan jawabanku. Padahal, jenis kelamin laki dan perempuan itu jelas-jelas berbeda. Perlakuan yang diterima kedua hal itupun berbeda. Apanya yang sama?!

A

nak lelaki mahkota penerus generasi keluarga suamiku, sementara anak perempuan tidak. Itu kenyataannya! Mereka hanya mengasihi suamiku. Mereka tidak mengasihi aku yang tengah mengandung, kelelahan. Berat badanku melonjak hebat, kakiku bengkak, nafasku sesak, tidur tak nyenyak, jalan terhuyung-huyang dengan perut yang membusung. Penampilan yang sungguh mengerikan! Apa yang mereka pikirkan tentang aku, perempuan? Ibu-ibu itu merasa diri mereka menjadi lengkap dengan memiliki anak lelaki. Jadi, selama ini mereka diam-diam menganggap aku perempuan yang tak lengkap? Cacat?

A

ku yang melahirkan anakku! Putri dan Dewi, mereka anak perempuan yang menyenangkan, membuatku tertawa, mereka anak yang berbakti, menghiburku kala sedih. Mereka itu adalah anakku, aku mencintai mereka. Mereka juga sangat menyayangi suamiku, ayah mereka. Terkadang kusadari, aku terlalu keras mendidik kedua anakku. Aku tak ingin mendengar, orang-orang meremehkan anakku karena mereka perempuan.  Aku berusaha keras agar mereka menjadi sukses dan kelak suamiku akan bangga pada mereka, anak perempuannya. Dan tentu saja aku tak ingin suamiku meninggalkan diriku, hanya karena anak yang kulahirkan, punya vagina sepertiku.

“Sri, kalau bisa jangan ditunda punya anak lagi. Ibu  ingin kamu bisa memberikan cucu lelaki. Biar bisa meneruskan tradisi di rumah ini” begitulah kata mertuaku dua tahun yang lalu. Aku sungguh tergetar, suamiku tak tahu ibunya mengatakan hal itu padaku. Aku menyimpannya selama ini. Aku menghormati ibu mertuaku sebagai orang tua, ibu dari suamiku dan wanita dengan jenis kelamin perempuan! Dengan perasaan bercampur aduk, frustrasi, marah, kecewa, sedih. Aku mencoba menjawabnya dengan diplomatis.

“Kalau begitu, mengapa ibu menerima diri ibu lahir sebagai perempuan? Bukankah lebih baik dunia ini hanya menciptakan anak laki-laki saja?  Mungkin jika dunia dihuni lelaki, maka tugas wanita selesai. Biarkan lelaki menikah dengan laki-laki! Hidup mereka akan lebih mudah. Tidak ada yang menuntut pasangannya untuk punya anak, apalagi punya anak perempuan. Cerita dunia selesai!”

I

bu mertuaku terdiam dan berlalu. Aku tak kuasa membendung airmataku setiba di rumah. Suamiku tak pernah menuntut aku. Ia suami yang begitu baik dan menyayangi kami semua. Tapi tidakkah mungkin ketika suamiku berkumpul dengan teman dan keluarganya, ia juga mengalami apa yang aku alami? …Kapan punya anak lelaki?

“Saya percaya apapun anak yang lahir nanti, akan saya terima dengan  iklas.  Saya yakin mereka adalah inkarnasi dari leluhur saya. Saya akan memberi jalan hidup yang baik agar para leluhur yang hadir dalam diri anak itu bisa berbahagia. Mungkin ini juga jalan bagi saya untuk membalas dan membayar karma di masa lalu” Suamiku secara diplomatis menyatakan sikapnya pada kawan-kawan kami. Kebetulan, mereka terdiri dari satu pasangan suami-istri yang belum punya anak dan para jomblo yang tak punya pasangan kekasih. Tentu saja kawan-kawan kami itu akan memberikan dukungan dan menghibur diriku yang tengah mengadung 8 bulan dan menunggu persalinan. Jelas, mereka ingin aku melahirkan dalam kondisi yang baik, tidak tertekan memikirkan perkataan orang. Mereka memahami keadaanku, karena  mereka juga memiliki kultur yang sama dengan keluarga kami. Tidak punya anak lelaki, itu tidak sempurna! Suamiku membela aku. Tapi, lebih sering aku membela diriku dan anak-anak perempuanku, sendirian!

A

ku masih menatap suamiku yang menggendong bayi kami. Ia tampak bahagia. Perhatiannya tercurah pada bayiku. Dewi dan Putri datang membesukku di rumah bersalin. Mereka tampak girang menyambut adik perempuan mereka. Putri, anak kedua kami tampak sedikit cemburu dan lebih sering merajuk pada ayahnya. Bayi  perempuan itu telah mencuri perhatian ayahnya. Akupun diam-diam cemburu. Tidak ada yang memperhatikan aku yang baru saja selamat dari proses persalinan. Aku merasa seperti menjadi mesin pencetak bayi yang gagal menghasilkan anak laki-laki! Aku merasa menjadi seorang yang melankolis, dunia begitu tidak perduli padaku. Padahal, aku sudah berpartisipasi menjaga spesies manusia dari kepunahannya! Aku mengalami sindroma baby blues, itu kata dokter. Ya, penyakit yang banyak diderita ibu-ibu hamil dan pascamelahirkan. Konon, pada tingkat yang kronis, wanita dengan sindroma ini bisa saja membantai, membunuh dan menghabisi anak-anak mereka. Perasaan pengabaian, penolakan pada dunia itu tidak datang secara tiba-tiba. Andaikan dunia lebih bersahabat dengan perempuan.

A

ku menatap suamiku. Dari matanya aku yakin ia mencintai anak-anaknya, juga mencintai aku. Aku mencoba untuk yakin. Semoga itu untuk selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: