MENEMBUS BATAS TIRANI by gayatri mantra


mahasiswa menuntut pemerintah membebaskan petani dari pajak yang mencekik leher…menurunkan harga minyak goreng…mengganti kerugian korban lumpur panas….meminta negara menginvestigasi penyiksa  TKW dari negeri ini…” demikian laporan pembaca berita di sebuah TV.

A

ku sedang menonton anakku di TV. Ia masuk TV!  Bukan…bukan dia pembaca berita yang berwajah tampan itu! Anakku juga tampan. Ia seperti ayahnya, bersemangat dan menurutku dia cerdas. Ia ada di barisan demonstran, sedang berorasi. Ia memang berbakat. Dulu, ia pernah jadi juara lomba pidato dan baca puisi di kampung. Kini,  anakku bersekolah dan tinggal di kota pulau lain. Ia memang senang belajar. Jadi aku mendukungnya mencapai keinginannya. Barisan polisi mengawal demonstrasi mahasiswa. Sungguh bukan suasana yang menyenangkan bagi seorang ibu menonton anaknya dalam situasi seperti itu.

“ Ibu, aku ingin menjadi  dokter, mau jadi pilot, pengen jadi tukang parkir, ga jadi ah.. pengen jadi ini-itu ” aku selalu dibuatnya tertawa geli dengan semua cita-cita itu. Cita-citanya selalu berubah setiap masa. Apalagi, ia masih sekolah di TK. Kini, Janana bukan bayiku lagi. Tetapi, selalu sulit menerima kenyataan bahwa anakku sudah  dewasa, apalagi menjadi demonstran!

A

da kesunyian sejak ia bersekolah dan jauh dariku. Ia anakku satu-satunya.  Kini, Ia seorang mahasiswa fakultas hukum. Sebagai ibunya, aku pastilah bangga dengan hal itu. Tapi, Aku tak bisa menyentuh dan memeluknya lagi. Aku merasa berjarak dan asing, sejak  ia lebih bangga menyebutnya dirinya aktivis. Ya, aktivis pembela rakyat kecil! Apa itu artinya anakku?

“Ibu, kita harus berpihak untuk membela kepentingan rakyat. Membebaskan mereka dari penindasan! Melepaskan jerat penderitaan mereka, Ibu! Negara tak bisa semena-mena terhadap mereka. Kita harus melawan para kapitalis!” Begitu penjelasannya padaku, saat ia mudik waktu liburan semesteran-setahun lalu.

“ Lantas bagaimana kuliahmu, nak?”.

“Ah, biasa saja. Dosen tak punya perasaan. Diajak diskusi marah-marah, dosen tidak siap dengan perubahan. Jadi malas ah! Sudahlah! Tak usah kuatir, ada kerja yang jauh lebih mulia. Belajar itu kan tidak mesti di kampus. Lagipula kampus tidak memberikan apa-apa. Rakyat membutuhkan aku. Hanya aku yang berani melawan tirani di negara ini. Tenang saja, ibu urus rumah sajalah. Aku akan baik-baik saja”.

S

ejak saat itu, aku tak pernah membahas kuliah anakku. Penjelasan yang diberikannya selalu sama setiap tahun. Aku semakin tak mengenalnya sebagai putraku. Mungkin, itu hanya perasaan melankolis ibu yang kesepian, yang harapannya tak dipenuhi putra tercinta. Tapi, bagaimanapun ia adalah anakku. Aku mencemaskan dirinya, kuliahnya, usianya, masa depannya.  Aku menunggu kabar bahagia dari anakku. Tapi tak pernah kudengar ia menyelesaikan tugasnya untuk belajar.

“Buat apa ijasah sarjana? Tidak bisa ditukar dengan uang kan? Kerjaku mendampingi rakyat lebih penting dari segalanya. Urusan perubahan kebijakan negara ada di tangan kami. Itu membutuhkan diskusi yang panjang… Tidak seperti anggota parlemen yang bisanya tidur dan menghitung duit rakyat. Kami bekerja dengan tulus iklas berjuang untuk kepentingan rakyat. Kami ini independen, bebas dari kepentingan politik”.

Janana anakku. Andai saja kau tahu perasaanku, ibumu. Aku tak mengenal siapa sebenarnya rakyat yang kau sebut dan kau bela itu. Apakah ibumu ini bukan rakyat? Apakah dirimu itu juga bukan rakyat, anakku? Lantas, siapa yang bisa membela kepentingan ibumu? Membela kepentinganmu? Jika ibu adalah rakyat, bolehkah ibu turut bertanya? Bagaimana caramu bisa membuktikan kapasitas dirimu dalam menyelesaikan urusan negara, jika urusan sepele seperti; belajar, membaca dan menulis tak becus kau lakukan? Bukankah bagi orang kebanyakan, belajar itu jauh lebih mudah dari membajak sawah? Jadi buruh pasar? Atau jadi pengamen? Pelajar paling berat membawa buku. Itupun tak akan memeras keringatmu sebutirpun!

Bagaimana kamu akan bisa membebaskan dirimu dari tirani kampus, nak? Faktanya kebebasan yang kau nikmati untuk memperjuangkan rakyat ada harganya. Uang SPP yang tetap harus kau bayarkan untuk mereka yang kau sebut dungu. Tidak sadarkah usia diam-diam mengunyah dirimu, nak? Bukankah tanggung jawab itu bisa juga dilakukan dengan cara bekerja dengan bersemangat untuk diri dan keluargamu? Bukankah perjuangan itu tidak harus dengan mengepalkan tangan ke atas, anakku? Lihatlah mereka, menghitung uang, sambil tidurpun bisa! Sementara, kitapun tak bisa tidur kalau tak punya uang! Urusan negara toh bukan hal satu-satunya yang penting untuk dipikirkan. Bahkan, manusiawi jika seorang  presiden sekali-kali butuh sedikit relaksasi. Negara ini kan tidak kecil, nak?

Apa kebebasan itu anakku? Bukankah itu artinya lepasnya belenggu yang menyakitimu. Mengapa tak kau lawan saja kapitalisme kampus, dengan berhenti mencatatkan diri sebagai mahasiswanya? Bukankah untuk itu kamu tidak harus membayar lagi kebebasanmu itu, anakku? Mengapa tak kau perjuangkan dirimu sendiri dari penindasan birokratik itu, nak? Bebaskan dirimu, anakku! Itu doaku setiap detik. Selalu, ibu tujukan untukmu. Berhentilah berdalih betapa tidak pentingnya ijasah. Legalitas pendidikan tidak membuat orang menjadi kaya, tetapi memberi kunci untuk membuka kekayaanmu, juga hatimu.

Ibu berharap engkau tidak menjadi tiran, anakku. Dengan tidak memperdulikan suara rakyat, suara seorang ibu, dan aku adalah ibumu. Ibu yang terbungkamkan kata hatinya, karena bagaimanapun kau adalah anakku. Ibu selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Bisakah engkau merasakannya, anakku? Dengan nurani?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: