WANITA SEJATI by gayatri mantra

“Maafkan aku… Sebaiknya kita lupakan saja rencana pernikahan itu. Bukankah tanpa itu semua kita sudah berbahagia?”.

“Aku tak percaya kamu akan mengatakannya! Apa hanya itu alasanmu? Apa hanya itu yang kau pikirkan? Apa kau tidak memikirkan perasaanku? Memikirkan perasaan keluargaku? Apa kata orang padaku, pada kita?”.

A

ku ijinkan Sita menumpahkan segalanya hari ini. Aku memang tak ingin menikahinya. Egois! Ya, itu memang keputusanku! Aku memang tak punya perasaan untuk orang yang begitu kucintai di kota ini. 5 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin kisah cinta yang manis dengannya.

“Tolong jangan kau lakukan itu padaku. Katakan apa salahku hingga kau tak mau menikahiku? Lihatlah, kita memiliki segalanya! Kita punya penghasilan yang cukup untuk kita berkeluarga. Kita bisa buktikan pada dunia! Kamu lelaki yang baik. Aku bersedia melakukan apa saja untukmu. Nikahilah aku, kumohon… Jangan kau hinakan aku seperti ini”.

Y

a! Sita membutuhkan statusnya sebagai istriku. Aku telah mencintai dan menidurinya selama ini. Memang sepatutnya Sita mendapatkan hak itu dariku. Lagipula, tiada sedikitpun kekurangan dalam dirinya. Cantik, menarik, memiliki pendidikan yang tinggi, dan pekerjaan yang bagus. Apalagi alasanku untuk tidak menikahinya? Bukankah ia wanita sejati yang kuinginkan, kugambarkan dan  kukejar selama ini? Sita, kau sama sekali tak punya salah apa-apa padaku. Semua ini adalah salahku. Sebuah  kesalahan karena aku memasuki kehidupanmu, dan menjadikannya sebagai kehidupan kita. Aku hanya tak ingin menikahimu. Sulitkah itu bagimu untuk menanggung rasa malu ini? Kau terlalu sempurna untuk kunikahi, Sita.

“Tinggalkan aku sendiri!Aku belum  bisa memberikan alasan yang tepat untukmu”.

“Baiklah jika itu maumu, kumohon kau tak mengabaikan bahwa aku mencintaimu” Sitaku menangis dan pergi meninggalkan aku. Hatiku seperti tertancap sembilu ketika ia menutup pintu rumahku. Ya, hatiku begitu sakit. Aku begitu mencintai wanita itu. Hanya ia wanita sejati yang pernah kukenal dalam hidupku. Sulit bagiku untuk menjelaskan betapa ia adalah segalanya bagiku. Akulah yang bermasalah. Bukan Sitaku. Aku tak memiliki nyali untuk menikahinya, mengajaknya memasuki kehidupan keluargaku yang tak biasa. Akan sulit baginya untuk memahami ibuku.

I

buku bukan wanita biasa. Ibuku wanita cantik dan sangat sadar dengan kecantikannya. Berulangkali ia sudah menjalani operasi plastik untuk kesempurnaan dirinya menjadi wanita sejati. Ibu juga sekaligus menjadi ayah bagiku. Ibu membesarkan aku seorang diri dengan sungguh-sungguh. Meskipun, aku hanyalah anak adopsinya. Ya, aku bukan anak kandungnya. Ia ‘mengadopsi’ ketika aku masih bayi merah. Ia mengambil dan mengangkatku sebagai anak dari seorang pelacur, tetangganya. Ya ibu kandungku pelacur, ibu yang mengasuhku juga pelacur. Aku diadopsi agar ibu kandungku bisa tetap bekerja untuk makan. Aku tak pernah lagi mengenal  ibu kandungku sejak saat itu. Ibuku yang sekarang, menjadikan aku anaknya kelak tempatnya bergantung. Ibuku ini tak mungkin bisa melahirkan seorang bayi, hanya itu kekurangannya. Selebihnya, ia wanita luar biasa yang membesarkanku dengan kasihnya. Sementara itu, ia pun tetap melacur.

W

aktu TK, aku selalu senang melihat ibu berdandan.Aku juga senang jika ada laki-laki yang bertandang ke rumah. Itu artinya, ibu akan punya uang untuk menyekolahkan aku, membelikanku baju baru dan apapun yang kuinginkan. Teman-teman ibuku juga sering bertandang dan arisan di rumah. Mereka senang memujiku sebagai bocah yang tampan dan berebut menciumiku. Mereka juga ingin punya anak sepertiku. Mereka memberiku bermacam-macam hadiah. Ibu-ibu itu juga kerjanya melacur. Itu kata mereka padaku.

Beranjak dewasa, aku baru menyadari ibuku sungguh berbeda dari ibu teman-temanku.

“Ibumu bukan wanita, tapi bencong…bencong…bencong…Ibumu punya penis…ibumu laki-laki…ibumu palsu….!!” begitu teman-teman di sekolah mengolok-olokku. Aku lari pulang dan menangis mencari ibuku. Aku tak mau sekolah.

Ibuku memelukku, mengusap air mataku, menghiburku. Aku memintanya membuktikan kata-kata temanku itu salah, karena aku begitu mencintai ibuku. Ibuku berlinang air mata.

“Maafkan ibu, nak. Ibu bukanlah ibu yang sempurna bagimu. Tapi aku tetap ingin menjadi ibumu, anakku!”

Ibu menuntunku ke kamarnya. Ibu membuka semua pakaiannya. Ia memiliki payudara. Ternyata apa kata temanku itu salah! Lalu, ia membuka celana dalamnya, ternyata ada vaginanya. Jadi temanku itu salah semuanya! Ibuku ternyata wanita sejati. Aku pun memeluk ibuku, minta maaf. Ibu memelukku dengan terharu.

A

ku tak lagi pedulikan ejekan temanku. Bagiku mereka semua hanya iri denganku dan ibuku. Hingga, aku beranjak SMP dan bersekolah jauh dari rumah. Ya, sekolah di bangun jauh dari  lokalisasi tempatku tinggal. Teman-teman baruku juga mengatakan ibuku bencong. Makin besar aku mulai mengerti, ibuku seorang transeksual, waria yang telah operasi kelamin. Aku tersentak dengan kenyataan ini. Tapi, aku jadi pendiam. Apa bedanya waria dengan pelacur? Keduanya tak ada baiknya di mata masyarakat. Dan, aku besar di sarang lokalisasi. Aku baru mengerti kehidupan ibuku itu bejat, brengsek, amoral dari buku pelajaran sekolah. Dan guru BP menyatakan padaku, hidupku tidak wajar dan  moralitasku mesti diselamatkan dari kehidupan yang tercemar. Aku terlalu muda untuk memahami itu semua. Hingga suatu ketika, ibuku menerima sepucuk surat agar aku segera masuk asrama. Ibu memindahkanku ke tempat yang diperintahkan dalam surat itu. Dengan berlinang air mata ibuku mencium keningku, saat melepas kepergianku:

“Ini semua untuk kebaikanmu, agar besok kamu bisa bersekolah yang baik, anakku. Kamu akan menjadi  orang hebat di masa depan. Percayalah! Ibu akan berdoa untuk segala kebaikanmu” sejak saat itu aku tak pernah menerima kabar dari ibuku.

A

sramaku ada di luar pulau. Aku bersekolah hingga menjadi sarjana, dan bekerja. Tak sepucuk surat pun kuterima dari ibu. Belakangan kutahu surat-surat ibu dibakar sebelum sampai ke tanganku. Semua pihak telah melakukan yang terbaik bagi keselamatan moralku. Mereka tak tahu, betapa aku begitu rindu dan mencintai ibuku. Setidaknya ibu tidak melemparku seperti sampah, ia  yang memeliharaku dan mencintaiku”.

K

ini aku memiliki Sita, wanita sejati, perempuan! Ia akan melahirkan anak-anakku dengan rahimnya. Dan, anak-anakku memanggilnya dengan ibu. Ya, aku harus menceritakan semuanya pada Sita. Sebelum semuanya menjadi begitu terlambat! Hanya ia yang bisa memahami dan menerima kisah ini. Jika ia menerimaku dengan apa adanya, maka aku akan putuskan bahwa kami akan menikah. Oh, ibu andai kau bisa menyaksikannya nanti. Aku akan membawa istriku bersujud padamu ibu. Berkatilah  aku selalu, ibu!

Advertisements

4 Comments

  1. fransiska said,

    April 14, 2011 at 6:41 pm

    untaian kata yg begt indah meninggalkan kesan dan pesan mendalam di benak dan hati pembacanya… bravo!

  2. fransiska said,

    April 14, 2011 at 6:42 pm

    .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: