TIGA WANITA by Gayatri Mantra


B

isma membasuh wajah letihnya dengan aliran sungai suci. Ia menatap bayangan yang  memantul di permukaan. Ia melihat dirinya, tanpa mahkota. Wajahnya diraut musim. Ialah maharaja agung dataran ini, terlahir sebagai  putra vasu, manusia setengah dewa. Sejak kelahirannya, sejarah telah mencatatkan kebesaran Wangsa Bharata.

S

emua kisah seperti mengalir, membasuh musim-musim yang telah berganti dalam lintasan sungai ini. Aliran beningnya memburat warna saga dari kaki langit, hari menjelang senja. Bisma, sendirian di tepian sungai dan selalu menyendiri di tempat itu. Gangga, satu-satunya tempat mengasingkan diri dan mengadukan segala beban yang disandangnya.

“Ganggadewi ibuku, mengapakah aku mesti terlahir ke dunia ini? Aku letih ibu. Aku rindu dekapanmu dan dada tempatku menyusu. Hasrat menuntunku tiada henti menuju kehendaknya. Kekuasaan begitu membelenggu jiwa sepanjang hidupku. Keadilan menuntutku dari berbagai arah mata angin. Aku berdiri di tengah belantara keinginan para maraksa. Mereka berjudi dengan segala kehendak, mempertaruhkan apa saja untuk bertahan dan berkuasa. Aku menyaksikan keluargaku terbelah dalam pertempuran kata dan kuasa. Wanita  hanyalah taruhan atas dadu para lelakinya. Mereka tunduk pada romantisme kisah cinta dan kesetiaan. Apa gunanya itu semua harus kusaksikan, ibuku yang mulia?”.

“Bisma Putra Gangga, cinta membuat wanita bertahan. Kami sanggup menanggung beban dunia. Wanita sepertinya diciptakan untuk menegaskan sejarah, sebagai pelengkap kisah orang-orang besar. Wanita memang taruhan bagi kelanggengan persekutuan dan kejayaan. Kami diajarkan tunduk pada apa kata tradisi, demi martabat kaum lelaki di rumah-rumah kami. Lelaki, mereka bersepakat membangun mufakat, dengan menggunakan kami sebagai pertukaran”.

B

ayangan seorang wanita tiba-tiba memantul dari permukaan riak sungai. Wanita agung itu berdiri di belakang  dan menyentuh pundak Bisma yang sedang membasuh wajahnya.

“Siapakah engkau, aku seperti tak mengenalmu” Bisma terkejut dengan wanita yang hadir begitu tiba-tiba dan berdiri di balik punggungnya.

“Seorang raja besar sepertimu akan lebih mudah melupakan diriku. Aku bukanlah wanita yang cukup berharga untuk dikenang, wahai Putra Gangga! Meskipun, aku juga seorang putri raja, apa gunanya itu semua bagiku? Aku adalah taruhan ayahku dengan dirimu. Demi kehormatan dan martabat keluarga, aku berkenan melakukannya. Begitulah tradisi melanggengkan kuasanya atas nurani kami, para wanita. Kalian para lelaki sangat sadar jika kehormatan kalian ada di tangan kami. Sayangnya,  kalian tak pernah mengakuinya. Bagi kalian, wanita tak lebih hanya taruhan, pertukaran, rampasan perang dan sayembara, bukankah begitu wahai kesatria?”

Yayi Amba dewi. Aku tak bermaksud untuk turut dalam perjudian hidup ini. Aku hanya menjalankan kewajibanku terhadap keluargaku. Aku menghormati janjiku pada ayahku, menjaga kejayaan kerajaannya. Aku ingin ayah dengan sungguh-sungguh menerima aku sebagai putranya. Aku ingin sekali menjadi seorang raja yang agung seperti dirinya. Aku tak kuasa menahan hasrat ini. Dan kenyataannya, semua itu tak mungkin! Sekian lama, aku mengendalikan diriku untuk menghapus keinginan, bahwa aku adalah putra tertua dari ayahku. Aku membunuh hasrat pada keterikatan pernikahan, yang  kelak melahirkan penderitaan, seperti yang dialami ayah dan ibuku. Aku telah mengalaminya. Aku tak ingin kelak kelahiran anak-anakku hanya akan menjadi sumber perseteruan dan menghancurkan apa yang telah dibangun ayah dan leluhurnya. Aku melakukan ini untuk ayahku. Sama sepertimu, mau jadi taruhan demi ayahmu, Yayi” Bisma berdiri tertatih berhadapan dengan Amba dewi. Tubuhnya bergetar, matanya berkaca-kaca.

“Bisma yang mulia, siapakah yang bisa membaca masa depan? Tiada yang abadi di dunia ini kecuali Yuga, jaman! Lihatlah pertempuran  Wangsa Bharata! Dengan segala pengorbananmu, janjimu yang kau pegang teguh… Takdir kehancuran tetap tak bisa dielakkan, Tuanku! Apa yang telah dibentuk akan runtuh juga dikunyah kala, sang waktu! Benteng kerajaan yang hancur masih bisa dibangun kembali. Tapi, hatiku yang remuk tak ada penggantinya. Aku tahu, aku menjadi piala dalam adu ketangkasan para kesatria. Piala ini bukan untuk pajangan, apalagi untuk dipertukarkan kembali. Mengertilah wahai raja besar! Aku mengorbankan segala yang kumiliki, dan memberikan diriku, juga hatiku. Aku bertaruh demi ayah dan bangsaku. Tapi, keangkuhanmu telah memijakkan kebijakanmu di atas lumpur kegelapan. Lalu, menginjak dan menenggelamkan aku didalamnya, hingga hidup menjadi tiada gunanya lagi bagiku. Penghinaanmu sungguh merupakan kekejian dan kebengisan yang terkatakan, Maharaja!”.

“Aku sungguh tak bermaksud menyakiti hatimu, Yayi. Aku hanya terlambat menyadarinya. Kau adalah takdir pertemuanku, hidupku yang tiada sempurna. Dulu, aku terlalu memandang rendah martabat dan juga kehormatanmu, Yayi. Aku hanya memikirkan harga kemenangan. Atas segalanya, maafkanlah aku”.

“Aku mengerti, hidup ini ibarat menandur, benih yang ditanam akan dituai hasilnya, phala sebagai sari dari karma. Kewajiban kita selalu akan bertaut dengan kewajiban orang lain. Pada masanya, semua akan mengikuti samsara. Hukum kekekalan, sebab dan akibat rotasi kehidupan, wahai maharaja! Aku hanya pintu tempatmu menuju pada akhir perjalanan. Kelak, letihmu pasti akan tiba di rumah peristirahatannya. Di tangan para wanitalah, semua awal dan akhir dari kisah kebesaranmu dapat dipahami sebagai sejarah, tuanku”.

A

mba dewi lenyap dari tatapan  Bisma. Sungguh tak terkatakan getar hati Bisma bertemu dengan bayangan masa lalunya. Hari lalu ternyata tengah merantainya hingga hari ini, begitu juga masa depan dihadapannya.

“Ampunkan hamba yang datang mengendap-endap di tepi sungai ini, Kaki Bisma. Hamba tahu Kaki selalu ada di tempat ini, karena itu hamba datang kemari. Besok kita akan bertempur. Tiada pilihan lain, sayalah yang akan menghadapi Kaki esok hari. Saya hanya menjalankan tugas sebagai kesatria. Ijinkan saya menghadapimu,  wahai Kaki Bisma yang mulia!”  Berlutut seorang kesatria yang datang mengendap-endap senja itu.

Nanak, jangan takut menghadapi pertempuranmu denganku. Kita hanya  menjalankan apa yang sudah menjadi takdir hidup. Ini bukan urusan wanita dan laki-laki. Ini adalah pertempuran! Jalan para kesatria! Jadilah pejuang yang tangguh! Hadapi aku dengan sungguh, berikan aku jalan menuju rumahku. Mari kita sudahi pertikaian ini. Kita  bertemu besok, di medan perang!”.

F

ajar menyingsing, Bisma menuju tepian sungai Gangga untuk memohon restu. Ia telah melihat dan membaca  tanda jaman. Hari ini, hari yang telah di tunggu-tunggunya sekian musim. Pertempuran terakhir!

S

rikandi dengan perlengkapan perang telah bersiaga di tanah Kuruksetra. Ia sungguh gagah seperti kesatria lainnya. Melihatnya dalam medan perang ini, Bisma belum pernah merasakan bertempur dengan perasaan yang begitu berbahagia dan menggetarkannya. Bisma bersemangat, berjuang, bertarung tanpa kenal lelah. Para dewata dari langit menyaksikan pertempuran  terbesar yang pernah ada. Begitu mendebarkan!

K

usir kereta Bisma memacu kuda dengan gagah. Tubuh Bisma yang tua dan berwibawa tampak hebat dengan busana perang kebesaran miliknya. Kehadiran Bisma di tengah medan perang menggelorakan  semangat para pejuang di kedua kubu, Pandawa dan Kaurawa.

B

ahkan untuk itu, Sri Krisna pun berkenan menjadi kusir kereta bagi Arjuna dalam menghadapi Bisma. Hari ini, Bisma memberikan pertempuran  terbaiknya. Itulah hari yang dinantinya. Seorang ksatria akan menuntunnya menuju rumah terakhir. Rumah impian! Ibu akan menyambutnya dan memeluknya…  hingga tiba-tiba, sepucuk anak panah melesat dan menancap di dadanya. Ia melihat Srikandi telah melesatkan anak panahnya itu. Bisma tersenyum, hanya anak panah dari bentangan busur wanita yang sanggup menembus dirinya, juga hatinya. Tiba-tiba panah yang lain menancap. Bisma tersungkur di atas kereta bersimbah darah. Puluhan anak panah Arjuna telah  menembus tubuh Maha Resi Bisma atas bantuan Srikandi.

L

angit  memburat warna saga. Sangkha, terompet kerang ditiup tanda pertempuran  dihentikan. Wangsa Bharata yang tengah berperang, merapatkan diri. Mereka melupakan pertempuran itu.  Hiruk pikuk peperangan terhenti menjadi suasana perkabungan yang mencekam. Maha Resi Bhisma dikenang sebagai putra raja besar, Kaki, juga guru besar para kesatria. Para kerabat membawa tubuh Bisma yang dipenuhi anak panah secara berhati-hati. Mereka membawanya menuju tempat peristirahatannya, sebuah tanah lapang yang sejuk. Dengan tubuh yang penuh anak panah, Bisma meminta Srikandi untuk menemuinya.

“Srikandi, wahai kesatria besar! Terima kasih, nanak. Betapapun seseorang hidup dalam kebesaran dirinya, benteng terakhir  penembus batas keangkuhan dirinya hanyalah wanita. Akhirnya, jalan itu kau berikan juga. Aku ingin kembali pada ibuku. Hanya itu yang kuinginkan. Ini hanya rahasiamu dan diriku saja. Biarkan sejarah mencatat Pandawa dan Kaurawa sebagai tokoh-tokoh hebat, putri yang mulia. Tanpa ibuku, Amba dan juga dirimu, kisahku hari ini bukanlah apa-apa dan aku bukan siapa-siapa. Sekarang, ijinkan aku menunggu waktu kematianku dalam damai” setelah itu, Bisma sendirian tidur dalam peraduan dari ratusan anak panahnya yang masih menancap di sekujur tubuhnya. Bisma merasa berbahagia, terlentang menatap langit. Di atas pangkuan ibu Gangga dewi, kelak tidurnya akan lelap dan dosanya dibilas. Srikandi berlalu dari hadapan Bisma, ada bulir air mata di sudut matanya. Itulah benteng terakhir dari seorang wanita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: