SANG PRABU by Gayatri Mantra


S

ang Prabhu  resah bukan kepalang. Sejak terbangun dari tidurnya tadi pagi,  segala sesuatu menjadi begitu tidak menyenangkannya. Itu bukan karena semalam bermimpi buruk. Tidak! Sama sekali tidak! Justru karena mimpi menakjubkan yang tidak ingin ditinggalkannya. Begitu  beningnya mimpi itu…..! Memasukinya  seperti berendam dalam  telaga jernih. Mimpi dalam waktu yang dangkal, belum sempat diselami kedalamannya.

S

ang Prabhu tersadar dari peraduan, lalu dirundung gelisah. Beliau  memijit kepalanya yang tiba-tiba menjadi  begitu berat. Ia keluar dari peraduan menuju taman. Taman istana merupakan tempat biasa bagi Sang Prabhu untuk menikmati sarapan dengan Sang Permaisuri.

P

ara dayang istana telah menyiapkan sarapan pagi di taman. Buah-buahan segar, air jeruk murni, dan buah zaitun. Sang Prabhu tak tertarik. Padahal, rasa lapar  telah menyerangnya. Beliau hanya terdiam dan murung. Tidak seperti biasanya! Para dayang menangkap sebuah kediaman yang mencekam. Permaisuri membujuk Sang Prabhu untuk mencicipi hidangan yang tersedia di atas nampan perak. Sang Prabhu menggelengkan kepalanya tanpa kata. Tiba-tiba ia terhuyung-huyung dan terjatuh di atas tanah. Permaisuri menjerit dan para penjaga istana menjadi kalang kabut. Mereka mengangkat tubuh indah sang raja dan membawanya kembali ke peraduan.

P

ermaisuri menemani Sang Prabhu, hanya mereka berdua. Sang Prabhu mengatur nafasnya dan berusaha duduk. Ia berpaling menatap ke luar melalui jendela. Ia masih terdiam. Lalu, Ia menatap permaisuri dengan mata yang letih, dan  berkata: “Kemarin aku bermimpi. Dan setelah itu, aku merasa begitu lapar”.

“Mimpi hanya bunga tidur, Prabhu. Ilusi! Makanlah sarapan yang telah disediakan para pelayan”.

“Benar! Ilusi itu begitu nyata menjadi halusinasi dalam genggamanku. Rasa laparku begitu mencekik tenggorokan”.

“Apa yang ingin Prabhu santap hari ini? Biarlah itu disiapkan pelayan” Permaisuri masih berusaha membujuk.

“Tidak! Tidak ada yang  perlu disiapkan. Semua yang ada, tidak cukup  mengenyangkan rasa laparku. Rasa laparku itu, juga adalah ilusi”.

“Prabhu, dengarlah! Prabhu  butuh Tabib!”

“Tidak juga dia! Aku tidak butuh dia! Aku mampu menyembuhkan rasa laparku. Aku hanya membutuhkanmu di sini. Mendengarkanku! Rasa laparku…  ia ada dalam pikiranku!”.

“Lantas, apa yang bisa membuat  rasa lapar Prabhu bisa terobati? Katakan! Agar  Prabhu tidak murung seperti ini”.

“Aku hanya ingin kau mendengarku. Rasa lapar ini sudah ada sejak mimpi semalam. Ya, aku bermimpi tentang pasar. Dalam mimpi, aku merasa lapar dan pergi ke sebuah pasar untuk mencari sesuatu. Pasar itu konon telah dikunjungi saudagar dari berbagai belahan dunia. Mereka datang bergelombang seperti lautan yang menghempaskan kapal-kapal mereka ke daratan itu. Gelombang pertama, pasar itu disinggahi para pelayar, para petualang  yang menukarkan hasil jarahan mereka dengan makanan. Lalu, merekapun melanjutkan perjalanan. Sesekali mereka juga menjarah dagangan para pedagang lainnya. Begitulah pasar, selalu hiruk pikuk!”. Prabhu mengerling sejenak dan menghela nafas. Ia memperbaiki posisi duduknya dan melanjutkan kisahnya.

“Setelah sekian masa, datang lagi para pedagang. Kali ini mereka adalah kelompok orator dan pemain tonil. Mereka menjual kata-kata dan bermain drama untuk mendapatkan uang. Hebatnya, dengan uang yang dimilikinya, mereka bisa membeli gunung, hutan dan pulau! Hanya dengan kata-kata! Bisakah kau bayangkan itu, Sayangku?! Bodohnya, ada saja yang percaya dan membeli bualan itu. Pasar tetaplah pasar! Mengertikah kau?! Selalu ada menawar, juga ada yang membeli. Para  buruh seperti biasa, ada  yang bertengkar  dengan sumpah serapah”.

“Di manakah Prabhu waktu itu?” tanya Permaisuri penuh selidik.

“Di mana aku? O, Aku tiba-tiba melintas di pasar itu. Seperti orang dungu! Aku menonton  lintasan kisah sejarah. Pemandunya entah siapa. Mimpi, tak mungkin dihentikan! Pasar itu selalu berbau busuk. Dimana-mana  comberan, sampah dan kata. Begitu pesing dan bising! Membuatku mual dan pening. Para pedagang makin bernafsu bersaing dan berebut pembeli. Tapi itu tidak berlangsung lama. Mereka akhirnya lelah juga bertengkar, lalu berganti strategi. Maka, datanglah saudagar gelombang ketiga, Permaisuriku. Pasar dirombak sedemikian rupa. Sebuah perubahan! Ya, perubahan yang begitu menakjubkanku!”.

“Seperti apakah pasar itu Prabhu, ceritakanlah” pinta Permaisuri.

“Pasar begitu luas, berbau aromaterapi, begitu bersih. Pasar yang hening dan damai. Para saudagar berjajar rapi dalam mandala mereka. Tidak ada yang bertengkar mulut. Mereka semuanya tersenyum menyambutku dan para kelana yang melintas. Wajah-wajah mereka tenang seperti tanpa ambisi. Busana mereka bersahaja. Bertutur kata halus dan penuh kebajikan. Sungguh pasar yang tak pernah kubayangkan. Tidak ada barang yang dijual. Tidak ada uang yang tampak menjadi pertukaran. Para  pedagang di sana begitu aneh, tidak butuh uang rupanya?! Mereka semuanya para pendeta dan orang-orang suci. Para pendeta ini telah melintasi samudra dan angkasa dari berbagai belahan dunia. Mereka datang hanya untuk menawarkan  doa. Ya…, doa! Sesuatu yang begitu sederhana. Katanya, doa dapat mengenyangkan rasa lapar. Hidangan penutup bagi kesempurnaan hidup. Dari satu mandala ke mandala lain, para pendeta dan orang suci itu menyatakan hal yang sama. Mereka menawarkan doa  dengan hikmad. Semua doa pasti bagus dan cocok untuk para pembelinya. Aku cicipi satu doa. Benar! Rasa laparku hilang. Tapi, aku merasa belum kenyang. Lalu aku pergi ke mandala lain untuk mencicipi doa yang lainnya. Hebatnya, rasa laparku hilang tiba-tiba! Namun, itupun tidak untuk waktu yang lama. Aneh sekali! Lapar semakin lama semakin menyerangku. Hingga aku terbangun, kekasihku. Dan, aku masih terbangun dengan rasa lapar yang sangat!”.

“Untuk apakah mereka menawarkan doa, jika tidak membutuhkan uang,  Prabhu?” Tanya Permaisuri ingin tahu.

“Kau tahu?” sang Prabhu menggenggam tangan Permaisuri sembari menatap tajam.

“Itu semua untuk menukarkan hidup dan jiwaku padanya. Melayani mereka sepanjang hidupku. Meninggalkan apa yang telah kumiliki. Menjadikan diriku menjadi milik mereka. Menginginkan aku seperti apa yang mereka inginkan. Membentuk aku menjadi  manusia tanah. Menghancurkan aku yang sekarang, membentukku kembali dan  membakar jiwaku,  lalu mendoakan aku ber-inkarnasi menjadi diri yang baru!” seru Sang Prabhu.

“Doa akan membawaku menuju negeri tanpa derita. Semacam morphin yang meniadakan rasa nyeri. Seperti penderita kusta, hidup tanpa ada rasa penyesalan. Itulah yang  mereka tawarkan. Bukankah itu mimpi dalam mimpi?!”.

“Sudahlah, Prabhu. Itu hanyalah mimpi. Ilusi yang tak pasti kebenarannya”.

“Aku mengerti! Bersamamu, aku telah mengarungi lintasan hidup. Tapi mengertilah,  rasa lapar adalah rahasia! Ia  membuat kita bertahan dan berkuasa. Lihatlah sekelilingmu! Istana ini begitu bercahaya. Dirimu begitu gemerlap dan senantiasa mengagumkan bagiku. Lihatlah, hidangan serta kemewahan disekitar kita! Juga, rasa syukur. Kata yang amat bijak! Bahkan,  hidup kita juga sesungguhnya dibangun dari impian. Dari manakah datangnya impian? Bukankah dari pikiran? Pikiran, konon membuat kita merasa ada. Betul sekali! Lihatlah apa yang telah kita genggam! Juga dirimu, wahai kekasihku…budak yang begitu kucintai. Bahkan, untukmu akupun rela menjadi budakmu. Pikiran telah menuntun kita mencapai segalanya. Pemandu yang agung! Ia juga memuaskan rasa lapar kita pada realita dan  ilusi. Dan, sudah pasti memberi kita ekstasi”.

“Hidup begitu indah untuk ditinggal mati. Bukankah itu alasan kita bertahan di dunia ini? Jika kita mengerti semua perjalanan adalah derita – semua akhir adalah kematian, Maka, mengapa kita habiskan waktu untuk mengalaminya? Bukankah luar biasa perjalanan yang telah kita lalui bersama Sang Pikiran? Tapi kini, pikiran itu mulai memperdaya dan memperbudakku. Ia membuatku begitu lapar sehingga tak ada lagi yang memuaskanku. Bagaimana aku menghentikannya, permaisuri? Rasa lapar ini begitu menyiksaku. Lapar yang menakutkan!!!” Sang Prabhu menjamah tangan permaisuri. Menggenggamnya erat-erat. Sang Prabhu menangis.

” Aku lapar… aku lapar… mengertikah kau sayang.. aku sungguh lapar….! Lapar yang sangat, begitu mencekik tenggorokan! Adrenalin membawaku terbang. Ah, aku jadi pening…aku jadi begitu lapar….tolong aku!  Bebaskan aku dari rasa lapar ini. Bukankah kau mencintai aku, kekasihku?” Prabhu  menjerit dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan permaisurinya.

S

ejak Prabhu dicekam penyakit  lapar yang aneh, istana menjadi kalang kabut. Ini terjadi sudah cukup lama. Para koki istana tidak mampu menyajikan  hidangan terlezat apapun, karena Sang Prabu tak ingin menelan apapun. Tabib istana telah berusaha mengobati penyakit lapar itu. Tapi tak satupun yang sanggup menjadi obat untuk penyakit itu. Sang Prabhu semakin  lemah dan kondisinya makin  memprihatinkan.

H

ingga suatu ketika, Sang Prabhu  merasa begitu sakit, lelah, tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi ia bertemu dengan pikiran. Kali ini, Sang Prabhu meminta Pikiran untuk meninggalkan dirinya.

“Kau telah membuatku begitu lapar dan menyiksaku. Aku tak ingin kau perbudak lagi. Tinggalkan aku sendiri!”.

“Tidak mungkin! Mustahil! Kau ada, karena aku yang membuatmu ada. Aku ada dalam dirimu. Kita tak terpisahkan. Kau harus ikuti kata-kataku!”.

“Aku  tak ingin menjadi budakmu! Aku akan mengeyahkanmu! Aku tak ingin mengikuti kata-katamu lagi! Pergilah! ” hardik Sang Prabhu pada pikirannya sendiri.

“Melenyapkanku sama saja dengan membunuh dirimu. Selama ini aku berjasa menuntunmu menjadi apa yang kau inginkan, bukankah begitu?” Pikiran itu menjawabnya.

“Hentikan! Itu dulu! Kini, kau telah menghianatiku. Kau perbudak aku. Kau membuat aku seperti yang kau inginkan. Aku, tak bisa menjadi diriku sendiri kembali. Kau membuat aku begitu lapar pada segalanya. Itu bukan aku! Itu adalah kau!”.

“Tapi, aku adalah kau!”.

“Tidak! Ya, kau ada dalam tubuhku. Tapi, kau hanyalah pikiran. Pikiran yang  memperbudak diriku – aku membencimu!”.

“Kita tak terpisahkan, Sobat! Kita terlahir kembar. Kau ada, karena aku ada. Betul! Aku ada,  juga karena ada kau”.

“O, ya ?! Selama ini kau begitu angkuh mengatakan: hanya karena kau, aku ada. Jadi kini, kau bergantung padaku?!”.

“Maafkan aku kalau begitu. Bisakah kita coba berdamai? Kita saling membutuhkan.”

“Tidak! Aku tak ingin berdamai lagi denganmu! Sepanjang hidup aku telah  mengikuti riakmu. Berliku alur yang sudah kupatuhi. Diam-diam kau sering menyesatkanku. Aku letih…! Kini aku tak ingin mendengarkan pikiranmu lagi. Kau, sungai kegelapan yang penuh jeram. Kau, sumber dari rasa lapar ini. Kau, riuh dengan keinginan. Aku rasa, aku bisa  memuaskanmu. Tapi, untuk terakhir kali!  Sudahlah! Mari kita akhiri persetubuhan ini!”.

“Tapi, kau bisa membunuh kita berdua!”.

“Jika memang itu takdirnya!”.

“Jangan! Dengar… dengar….sabar…sabar….kita masih bisa memiliki segalanya!”.

“Sudahlah, hentikan ocehanmu! Aku sudah memiliki segalanya! Segala yang kau inginkan. Tapi kau tak pernah merasa puas. Selalu lapar dan lapar! Kau membuat tubuhku begitu menderita, untuk memenuhi keinginanmu. Aku harus  membunuhmu!!”.

“Tidak! Jangan kau lakukan itu. Jangan khianati aku! Aku telah memberi segala keinginanmu. Jangan pernah! Jangan sekarang…. Tolong, jangan!”.

“Inilah akhirnya, detik ini juga!”.

“Tolong!  Jangan lakukan itu….!!!!”

T

erlambat! Esok paginya, Sang Prabhu ditemukan telah meninggal. Segala pikiran dalam tubuhnya  pun ikut mati.  Di atas peraduan, tubuh Prabhu terbujur tenang. Ia seakan sedang tersenyum, pulas dan puas karena derita yang mencekam selama hidupnya telah pupus bersama waktu. Permaisuri menatap wajah Prabhu. Dan, Ia mengelusnya seperti seorang bayi, lalu mencium keningnya.

D

i luar benteng istana,  beberapa abdi  berduka cita. Raja mereka yang gila telah meninggal. Itu berarti penobatan raja baru. Sang Permaisuri harus mencari suami, pengganti  Sang Prabu. Sebagian rakyat percaya, raja mereka yang berkuasa itu mati diserang penyakit gila karena kutukan. Para jelata  saling bergunjing tentang raja mereka yang telah tiada.

“Raja kita terlalu serakah. Membunuh terlalu banyak dan menyiksa rakyat terlalu kejam. Raja semacam ini tentu banyak musuhnya. Dan, pasti terkena kutukan. Makanya, dia kena penyakit gila” .

“Haha.. ha…jangan-jangan dia gila diserang penyakit Raja Singa! Ha…ha…!!!” seorang pemabuk  menyemburkan kata  di udara dengan air ludahnya yang  bau alkohol. Para lelaki di bar tertawa terbahak-bahak.

“Hush…jangan keras-keras! Tembok di negeri kita banyak telinganya. Nanti kau bisa mampus ditangkap tentara Sang  Prabhu!” bisik Si Genit – wanita pelayan bar yang berdada montok di telinga lelaki itu.  Lelaki itu menyentil pantatnya. Mereka tertawa,  dan mengganti topik pembicaraan. Mereka saling menyemburkan kata-kata bualan.

K

remasi raja telah dipersiapkan. Upacara berjalan khusuk. Jenasah raja  dibakar dalam api suci. Sang Prabhu mengabu bersama pikirannya. Permaisuri menatap tubuh yang lebur. Ia tampak terpekur dan membisu. Para pelayat mengira permaisuri berduka, dan mereka pun berlaku yang sama.  Padahal, begitu banyak kata yang berkecamuk dalam pikiran Sang Permaisuri:

“Deritamu telah diakhiri Prabhu. Tidak dengan doa dari pendeta dan orang suci! Begitu bodoh mempercayai mimpi. Kita harus mengakhirinya! Terjaga, itulah seharusnya! Mungkin memang lebih baik kau mati untuk menghentikan kegilaanmu. Juga, untuk membayar derita yang telah kau berikan padaku. Rasa laparmu telah merampas segalanya. Kebahagiaanku, negeri serta orang-orang  yang kukasihi. Yah..aku telah menjadi budak yang begitu kau cintai. Tapi, aku tak ingin kau perbudak selamanya”.

“Betul itu! Kematian!  Ia telah membayar deritamu – juga deritanya sendiri. Pikiran yang  memabukkan telah membunuhnya perlahan-lahan. Mati  sebagai orang gila. Itu adalah pikiran yang cerdas. Dengarlah!  Selangkah lagi, tugasmu  menuju tampuk singgasana istana. Kau akan menjadi Ratu dengan orang yang kau kasihi. Setelah kremasi ini, uruslah urusan kita!” bisik Sang Pikiran .

T

idak lama kemudian, permaisuri dinobatkan menggantikan tahta istana dan menikah dengan Pangeran dari negeri Dwaita. Pernikahan ini juga ilusi  yang pernah terampas jutaan masa. Dan kini, cinta mereka dapat  terwujud dalam kenyataan. Menjadi raja dan ratu Kerajaan Mimpi. Sebuah akhir yang  bahagia. Dan di balik bilik diri, pikiran tertawa pada sang diri :

“ Akulah penguasa….Ha.. ha…ha…”


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: