GAUN MERAH DI UJUNG MALAM by gayatri mantra

K

ota ini lebih dingin dari biasanya. Musim-musim tak lagi bersepakat tentang waktu. Cuaca berubah. Daun-daun gugur sebelum waktunya. Hujan turun lebih sering. Badai dan banjir menjadi berita utama televisi. Segala sesuatu berubah dan tak pernah sama, begitu juga kota ini. Seperti mesin,  Ia bergerak dan berdentum. Kota yang tak pernah tidur. Industri telah mengasingkan kesunyian. Mengasingkan malam. Hantu-hantu kota bahkan tergusur tak punya rumah.

M

iss Poleska di bilik sebuah apartemen. Jarum jam mengibas-ngibas pada putaran  11, hari telah malam. Malam dan siang tak ada bedanya di kota ini. Miss Poleska tinggal di apartemen murahan, berukuran 3×4 meter persegi. Untunglah ada kamar mandi dan  dapur kecil di dalamnya. Kamar ini seharga 350 ribu setiap bulan. Harga yang memangkas setengah penghasilan seorang penjaga toko.

M

iss Poleska berasal dari sebuah desa kecil, 40 km dari kota ini. Anak-anak di desanya selalu bermimpi menjadi penjaga toko,  atau menjadi pelayan di sebuah hotel. Pekerjaan ini cukup bergengsi di desa. Ini lebih baik dari pada menjadi petani. Hidup di desa melelahkan. Anak-anak jarang mandi dan bersekolah. Orang desa  mencari kayu bakar di hutan. Para gadis tak pernah bersolek. Desa, selalu akrab dengan bau kotoran sapi dan kuda. Hanya itu, wangi yang  mereka bisa pahami.

M

iss Poleska sibuk berdandan. Rokok di ujung bibirnya seperti mesin uap, selalu berasap. Malam makin larut, Miss Poleska diburu waktu. Ia harus bergegas! Kira-kira 15 menit dengan berjalan kaki, ia akan tiba di tempat yang ingin dituju. Ia berlari menerjang malam yang berkabut karbon. Miss Poleska berjalan melintasi beberapa blok dari apartemennya. Tempat yang dituju telah di depan mata. Pintu itu telah terbuka sejak ia tiba. Tempat yang tidak bisa dikatakan senyap! Bau tembakau mengambang di permukaan ruangan yang  temaram. Beberapa meja telah dipenuhi lelaki yang  menghabiskan malam. Mereka minum-minum; seteguk, dua teguk tequila, dan begitu seterusnya.  Para lelaki menjadi makin jalang, dan mereka butuh hiburan. Begitulah, Miss Poleska malam itu menghibur mereka. Ia penyanyi di klub malam itu. Itu dilakukannya untuk menambah penghasilan. Paginya ia bekerja menjadi pelayan toko. Bercelana panjang hitam dan kemeja bergaris biru, seragam toko. Ia seperti kebanyakan orang di kota itu. Mereka bekerja dengan menggunakan seragam. Industri telah membuat semuanya tampak sama. Para pekerja dan buruh gigih berpacu dengan mesin. Miss Poleska bekerja seperti seorang pelari. Berlari dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendapatkan uang. Uang! Miss Poleska pemuja uang. Uang itulah Tuhannya. Ehm..wangi uang begitu merangsang untuk mempercepatnya berlari. Lari dan lari. Tidur, sepertinya adalah dosa di kota ini.

S

uara Miss Poleska biasa-biasa saja. Ia tidak bernyanyi dengan sungguh. Ia hanyalah seorang lips-singer, pura-pura bernyanyi. Pengunjung tidak mempermasalahkan itu. Mereka datang untuk menghibur diri dan menikmati tubuh sang penyanyi. Ya..tubuh yang penuh energi,  Miss Poleska yang menawan! Bibirnya tebal sensual dan ranum berlipstik merah. Wig pirangnya bergelombang. Ia  mengenakan gaun merah dengan belahan dada rendah. Ditopang korset kawat, ranum payudara silikon seperti menyembul-mengintip. Gaun itu seperti penuh sesak oleh bokong yang  padat berisi spon. Gaun berbelah hingga ke paha, seperti kupasan pisang. Betisnya tampak jenjang dalam balutan stoking jaring hitam. Penampilan Miss Poleska selalu membuat laki-laki menelan ludah, sembari memberi tepuk tangan meriah  pada setiap penampilannya. Bos pemilik bar puas melihat pengunjung  puas.

M

iss Poleska menyanyi sambil menarikan tubuhnya secara sensual. Ia begitu menggoda. Dan, ia kemudian mendatangi pengunjung Bar. Pengunjung  yang  puas akan memberikannya kertas. Kertas yang bertuliskan angka, selalu ada nol dibelakangnya. Semakin banyak angka nol itu, semakin genitlah Miss Poleska menyanyi dan menari. Kertas itu diselipkan di sela-sela garis payudara Miss Poleska. Kadang-kadang ada yang menyelipkannya di antara jaring stoking hitamnya. Lelaki yang memberinya uang akan mendapatkan hadiah satu kecupan. Pengunjung puas! Miss Poleska kembali ke panggung dengan tubuh penuh tempelan uang. Uang! Ya, uang! Malam itu semua berbahagia. Minuman laris terjual. Pengunjung puas dan melanjutkan membuang malam di meja masing-masing, saat Miss Poleska selesai bernyanyi.

M

iss Poleska menghitung uang  di ruang ganti. Rokok masih bertengger di sudut bibirnya. Asap mengepul seperti turut membuang letihnya. Bos datang dan minta setengah bagian dari pertunjukan itu.

“Hari yang  bagus, Sayang!”.

“Akan lebih bagus jika bagian itu tidak kuserahkan padamu”.

“Seseorang  telah menantimu di bawah sana. Jangan kau kecewakan dia, mengerti!”.

“Aku tahu, apa yang mesti kulakukan! ”.

“Jangan lupa, sebagian lagi adalah milikku!”.

M

iss Poleska tak menghiraukannya. Jam telah menunjukkan angka 3 pagi. Dan kini dia harus menemui seseorang. Tubuhnya telah letih dan butuh tidur. Tapi seseorang  telah menunggunya di bawah sana. Lelaki itu mungkin sama letihnya dengan dirinya. Ia juga ingin tidur. Tepatnya, menidurinya dengan bayaran 300 ribu, hingga matahari terbit. Di Kota ini, bermimpi pun ada harganya.

M

iss Poleska menduga lelaki yang akan menindih dirinya pagi itu, pastilah bermulut busuk. Bau alkohol! Ia menuju bilik  yang telah disiapkan bosnya. Ternyata tidak! Dihadapannya, berdiri seorang lelaki muda. Kira-kira 18 tahun, terlihat seperti anak sekolahan. Ia tampan dan sedikit pemalu. Rambutnya ikal dan  berkulit bersih. Miss Poleska seperti tak percaya ia harus melayani seorang anak laki-laki !Bau mulutnya pun hanya permen karet.

“Mengapa kau kemari? Tahukah kau? Tempat ini tak pantas untukmu. Tidak punya kekasih? Sayang sekali! Lelaki muda setampan kau harusnya memiliki seorang kekasih yang bisa kau ajak tidur. Tapi kau masih anak-anak ”.

Lelaki muda itu terdiam dan menundukkan kepalanya.

“Punya uang? Dari orang tuamu? Harusnya kau belajar atau  tidur di rumah saja. Simpan uangmu! Mungkin kau perlukan untuk sekolah” bisik Miss Poleska di belakang telinga lelaki itu.

“Ehm….Aku punya seseorang”.

“Perempuan? Apa masalahmu?”.

“Ehm…Kau tahu?! Ehm…Aku tak pernah melakukannya. Ehm… Aku tak tahu caranya. Ehm…Aku takut!”.

“Hamil?! Bodoh sekali, kau kan bisa pakai kontrasepsi! ”.

“Ehm..Aku malu….. Aku takut….. Aku tak mampu….ehm.. Temanku yang mengajakku kemari. Ehm..Ia juga yang memberiku uang…”.

“Begitukah?! Anak bodoh! Tapi, kau cukup tampan. Mari dekatlah padaku! Kau dan aku tak ada beda. Yang kau lihat, tak seperti yang kau duga. Aku akan mengajarimu. Simpan uangmu itu. Aku akan memberikanmu sesuatu yang akan kau kenang selama hidupmu” desah Miss Poleska sambil mencumbui batang leher pemuda itu. Tubuh pemuda itu bergetar dan berkeringat.

M

iss Poleska jatuh cinta. Menatap anak muda itu, letihnya menguap bersama asap tembakaunya. Ia melucuti pakaian anak muda itu dan mengajarinya bagaimana cara tidur tanpa rasa cemas. Miss Poleska, seperti seorang ibu menidurkan pemuda itu hingga  tertidur  puas dan pulas. Begitulah setiap akhir pekan, Miss Poleska berkencan dengan kekasih mudanya.

B

osnya tampak tidak senang, karena ia jadi kehilangan sebagian penghasilannya sejak Miss Poleska jatuh cinta. Miss Poleska seperti kehilangan akal. Uang tak lagi menjadi masalah. Anak laki-laki itu, kini bahkan lebih bisa memuaskannya. Dunia menjadi terbalik. Ialah yang memberi anak lelaki itu uang. Miss Poleska bekerja untuk memenuhi kebutuhan kekasihnya. Uang sekolah, apartemen dan segalanya. Miss Poleska bekerja dengan penuh semangat. Karena, Cinta!

T

ahun berganti, segala sesuatu mulai berubah. Miss Poleska, energinya mulai surut ditelan usia. Uang yang didapat tidak sebanyak yang dulu. Bar semakin sedikit pengunjung dan bos pemilik bar merasa tidak berbahagia. Ia mencari pendamping Miss Poleska, seorang lips-singer yang  lebih muda dan menggairahkan. Miss Poleska mulai merasa tersisihkan. Cermin tempatnya berdandan dengan jujur menghitung  bertambahnya kerut di wajahnya. Tapi, ia masih bersemangat. Ia masih punya seorang kekasih, Tuhannya yang baru. Kekasih memberinya keyakinan dan semangat. Kini, kekasihnya telah menjadi seorang yang sukses, kelak ia bisa bergantung hidup. Malam ini sama seperti setiap akhir pekan sekian tahun ini, sang kekasih seperti biasa menemuinya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu”.

“Katakanlah, sayang! Aku begitu rindu padamu”.

“Aku juga rindu padamu, tapi tak bisa bersamamu lagi”.

“Kau dipindahkan dari tempatmu bekerja?”.

“Bukan begitu. Aku tak bisa menemuimu lagi”.

“Apa maksudmu? Aku rasa kau telah memilih  orang lain, bukankah begitu?! Jangan katakan itu padaku! Kau mencintai seseorang?!”.

“Maafkan aku”.

“Maaf ? Untuk apa?! Aku rasa, aku hanya terlambat menyadarinya. Aku bukan wanita seperti yang kau inginkan”.

“Bukan aku yang ingin itu…. Keluargaku, kolegaku, sekitarku. Mereka… memiliki hidup yang biasa….”.

“Dan, kita… tidak?! Bukankah itu yang kau ingin katakan?! Kau kini merasa asing? Bukankah aku yang mengajarimu, apa itu cinta? Kini kau meninggalkanku?!”.

“Aku tak bermaksud melukaimu. Aku memiliki Maya”.

“Maya? Wanita itu memuaskan hidupmu? Memberikanmu seperti apa yang diinginkan orang-orang disekitarmu? Menyenangkan hati mereka? Sementara denganku, kau harus mengendap-endap dalam malam. Menghabiskan malam dan bercinta di lorong-lorong, seperti kelelawar. Itu tidak seperti mereka, bukan? Oh…Aku mengerti! Aku telah mengenalmu cukup lama. Baiklah, jika itu maumu… Pergi! Oh…demi Tuhan…! Tinggalkan dan lupakan aku! Kita anggap hubungan ini hanyalah mimpi. Buruk, untukmu dan untukku! Pergilah!”.

“Maafkan aku”. Lelaki itu berpaling dan bergegas. Ia tak pernah kembali. Miss Poleska menatap cermin yang selalu jujur. Ada air mata di sudut matanya. Iapun tercekat dalam nyeri. Sendiri!

“Tak kuduga, akhir yang paling menakutkan akan tiba juga. Mengapa sekarang?! Mengapa tidak dari dulu saja kuhentikan? Harusnya tidak kusesali segalanya, setelah segalanya terlambat! Lelaki, selalu tak bisa dipercaya!”.

Setiap pekan malam, Miss Poleska digigit rindu. Hatinya remuk seperti daun-daun kering yang gugur. Tembakaunya masih mengepit di ujung bibir yang semakin menghitam. Berbotol-botol alkohol telah direguknya untuk membuatnya lupa dan tertidur. Mabuk setiap malam! Lupa, itulah yang ingin dilakukannya!

Miss Poleska tidak lagi bernyanyi di Bar itu. Pemilik Bar telah menendangnya jauh-jauh. Kini, ia  bernyanyi di lorong-lorong gang. Ia menjadi gelandangan mabuk yang sibuk mengoceh. Ia selalu mengenakan gaun merah kesayangannya. Gaun itu  telah compang-camping. Stoking hitam itu telah sobek di makan waktu. Ia ingin mengenang dirinya sebagai Miss Poleska, Sang Penyanyi. Hingga suatu pagi, seorang gelandangan menemukannya meringkuk, tertidur begitu pulas di sebelah tong sampah. Gelandangan itu membangunkannya. Namun, tak ada sahutan. Miss Poleska tak pernah bangun lagi. Ia mati!  Esok harinya di pojok kanan sebuah kolom surat kabar, diberitakan:

“Seorang bergaun merah, berstoking hitam, menggunakan wig pirang ditemukan tewas di sebuah lorong gang. Penyebab kematiannya diduga karena serangan jantung. Hingga berita itu diterbitkan, nama waria itu tak di kenal”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: