RAHIM PERADABAN by gayatri mantra

“Kebahagiaan apa lagi yang kau minta dariku?

Aku telah berikan segalanya padamu. Aku telah berikan semua, hingga yang tersisa dari rumah ini hanyalah puing-puing, begitu pula hatiku. Kau rampas segala yang kami miliki sebagai sebuah kekalahan. Tidakkah itu semua cukup bagimu? ”.

“Belum semua. Ada satu hal yang belum kita selesaikan. Dan, aku akan memintanya baik-baik darimu. Kuharap kau menerima itikad baik ini untuk mengakhiri perseteruan di antara kita. Kami inginkan Ratnamu!”.

“Kau sungguh keterlaluan! Lelaki kami sudah mati! Lihatlah, berapa banyak lagi tubuh-tubuh tanpa kepala yang harus disemayamkan? Berapa banyak lagi wanita kehilangan suaminya, juga kekasihnya? Gadis-gadis menari bersijingkat bersamaku, karena diperkosa oleh bala tentara rajamu! Mereka ada dalam ketiadaannya, seperti aku ada dalam ketiadaanku. Aku pun telah mati begitu lama melihat kekejian perang. Tanah ini menjadi negeri tanpa lelaki. Tanpa dinasti! Apa yang ingin kau menangkan dari peperangan ini? Kini, kau meminta Ratnaku sebagai pertukaran?! Puih, bagaimana aku bisa menerima benih ditanam dari tangan yang berlumur darah! Masuli adalah anakku. Ia adalah semangat hidupku. Jangan kau libatkan anakku dalam persoalan ini! “.

“Aku hanya menjalankan titah. Aku meminta kau memikirkan permintaan ini. Berhentilah bersikap keras kepala, jika kau tak ingin korbankan rakyat dan tentara wanitamu lebih banyak lagi! Camkanlah permintaan itu! Aku berikan waktu seminggu untuk memikirkannya. Ini semua untuk kebaikan kalian, juga kebaikanmu!” Barala berlalu dengan pengikutnya.

Ya, Negeri Para Dewi telah ditaklukkan.Tetapi memenangkan tubuh dan hati wanita itu soal lain!

“Dengar, mereka hanya akan melahirkan anak-anak kita, bukan anak-anak mereka! Itulah kemenangan kita! Taklukkan! Semai benihnya, maka tanah mereka akan jadi milik kita!” begitulah titah Sri Baginda. Rahim Negeri Para Dewi menjadi tujuan kejayaan. Penaklukan peradaban!

“Bagaimana ibu harus menerima penghinaan ini, anakku? Bagaimana ibu kelak bisa melihat putra-putri lahir dari benih yang disemai para penjajah negeri ini? Benih yang ditanam di rahim anakku?! Bagaimana ibu akan bisa melupakan lukisan sejarah digurat pada setiap wajah anak-anak itu? Para penindas telah merampas suamiku, orang-orang yang kucintai, juga ayah dari anakku. Bagaimana ibu bisa menyerahkanmu pada mereka yang telah merampas kebahagiaan kita? Aku tak ingin diperbudak oleh keinginan mereka. Atau, menjadi penghianat atas bangsa ini. Aku tak punya kuasa melakukannya padamu, anakku. Kita harus tetap melawan!”.

“Ibu, kita telah kalah dan dikalahkan. Aku tak ingin kita mempertaruhkan lebih banyak lagi nyawa dari mereka yang masih setia pada negeri ini! Jika tubuhku yang dikehendakinya, biarkan tubuh ini mereka jadikan rampasan. Ku-ijinkan mereka menikmatinya dengan sepuas-puasnya. Tetapi tidak jiwaku, tidak jiwa kita, Ibu! Bukankah kita telah mati sejak lama, ibu? Kita hanyalah bayang-bayang yang mereka cari, tapi juga mereka takuti”.

“Rahimmu kelak melahirkan tubuh-tubuh yang akan membenciku. Mereka akan membenciku sebagai darah lumpur, anakku. Begitulah doktrin yang nanti diajarkan pada anak-anak itu. Begitulah kuasa lidah para penguasa. Mereka akan melukiskan kegelapanku dalam catatan sejarahnya. Mereka lupa, aku seorang ibu. Ibu darimu, Masuli!” M asuli memeluk ibunya, menenangkan perasaannya.

Masuli memutuskan untuk menerima tawaran istana. Hatinya telah mati! Ia telah menguburnya dalam-dalam di liang jiwanya. Pertumpahan darah, perang saudara telah mengeringkan sumber airmatanya. Peperangan menjadi permainan orang-orang dewasa yang mengerikan. Ia tak ingin mengorbankan lebih banyak lagi orang-orang yang dikasihinya, juga negerinya.

“Diriku, tinggal di sebuah tubuh yang tanggal, tanpa rasa dan jiwa. Apakah diri ini menjadi begitu penting dibandingkan pengorbanan yang telah dilakukan wanita lainnya? Untuk siapa lagi hidup ini harus dikorbankan? Apa yang dimenangkan, apa yang dikalahkan? Ibuku telah berbuat banyak bagiku dan juga tanah ini. Perkawinan, aku berkenan melakukannya, untuk mereka, untuk kehidupan!” Masuli hanya meratap dalam batin dan menegas-negaskan hatinya sambil menjejakkan langkah menuju kuil.

Angin berdesir, malam memeluk dan menghiburnya. Bayangan ranting dan cecabang pohon meliuk memberi jalan untuk berbagi resah. Lenda-lendi, tentara wanita pengikut setia ibunya menemaninya malam itu. Mereka berdoa pada Betari Durga, memohon keselamatan diri dan tanah air mereka. P ada hari yang ditentukan, Masuli dipertautkan dengan Rahula dalam perkawinan kuasa. Masuli dapat merasakan getir hati ibunya yang telah hidup sendirian, tanpa suami dan kini, ia juga meninggalkannya. Perkawinan dengan pihak musuh telah memisahkan mereka sebagai keluarga. Inilah harga dari sebuah kekalahan. O, kebahagiaan apakah itu artinya?

***

“Kebahagiaan itu artinya, memutuskan tali penderitaanmu di dunia. Aku akan membantumu untuk memberikan jalan itu. Pemberontakan, kecerdasan dan kuasamu itu berbahaya, wahai wanita agung! Kami tidak butuh wanita yang punya otak dan mulut. Kami hanya inginkan rahim kalian. Kini hanya ada kita berdua, kau dan aku. Raja menitahkanku untuk membunuhmu karena kuasamu kelak akan merongrong kami. Jika tidak, maka Masuli sebagai gantinya. Aku memintamu melakukannya untuk dirimu sendiri, juga untuk anakmu”.

“Aku rasa, ibu manapun di dunia ini sanggup berbuat apa saja untuk anaknya. Kau telah menipu dan mengelabui kami. Aku akan penuhi permintaan rajamu! Kehidupan Masuli lebih berharga dari kematianku. Nyawaku bukan apa-apa, dan aku akan melakukannya untuk anakku, juga tanah ini. Berikan keris istana itu! Tubuhku boleh saja kau tumpas, tapi tidak pikiran dan jiwaku!” penguasa Negeri Para Dewi itu menikam tubuhnya, begitu pula dengan para lenda-lendinya.

Mereka menikam tubuh mereka sendiri! Terkapar! B arala, tubuhnya tergetar melihat semua itu. Dihadapannya para wanita itu sekarat mengakhiri hidupnya, sementara ia terpaku tak berdaya dan hanya memandangi tubuh-tubuh tanpa jiwa lagi. Tiada kata-kata yang dapat melukiskan pemandangan yang tragis itu. Siapa yang kalah, siapa yang menang? Ia merasa menjadi pecundang menghadapi para wanita, yang sesungguhnya tiada jelas apa kesalahannya. Ia juga tak tahu dimana letak kemenangannya dengan tewasnya para wanita itu. D an, di tempat lain, Masuli tergetar hebat mendengar ibunya telah tiada. Semuanya telah mati! Mereka mati sebagai pemberontak! Sementara, ia menjadi tawanan lelaki. Mereka menawan rahimnya! Juga mengakhiri silsilah keluarganya.

Masuli tercenung, hatinya membatu. “Sejarah hanya mencatat kemenangan para tiran, ibu! Biarkan jiwa kita tetap menjadi bayang-bayang bagi mereka. Bayang-bayang yang mereka cari, juga mereka takuti. Aku akan terus hidup dan mengisahkannya, O Ibu, O Betari”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: