PURUSA by gayatri mantra


“ Dasar Pelacur! Dia tak akan dapatkan apapun dariku!”.

“ Pelacur itu hamil! Ia bilang anak yang dikandungnya itu milikmu”.

“ Itu tidak mungkin! Ia menjebakku! Anak itu pastilah anak dari seribu lelaki!”.

“ Satu diantaranya, adalah dirimu!”

“ Dia hanya inginkan uangku”.

“ Dulu, kau yang inginkan tubuhnya!”

“Bukan aku yang memulainya. Ia yang merayuku. Ia datang dengan begitu  menggoda; rok pendek, kaos ketat, rambut panjang di cat merah. Garis dadanya, bahkan tampak begitu nyata. Bagiku ia tak lebih seperti properti!”.

“Nyatanya, kau menjelajahinya. Matamu yang lapar!”.

“Bagaimana mungkin aku mengusir wanita  itu? Ia datang padaku dengan seribu kisah. Aku tak sadar semuanya dusta. Ia sengaja datang untuk menjebakku”.

“Nyatanya, kau sengaja mendengarkan semua kisahnya itu. Telingamu yang lapar!”

“Aku hanya mencoba membantunya. Aku membantu banyak orang, semua orang tahu itu! Dia pun datang untuk memintanya dariku”.

“Sok pahlawan!”.

“O, bukan maksudku menyombongkan diri. Aku ini orang terpilih! Aku datang dari keturunan terhormat! Pelacur sialan itu ingin menjebakku! Ia pastilah orang bayaran politisi busuk lainnya!”.

“Baumu juga busuk! Kau membuat perangkap juga, kan? Katamu membantu, mengapa kau inginkan tubuhnya sebagai imbalan? Pelacur punya tubuh untuk dijual. Sementara, kau punya uang dan kehormatan. Pelacur sudah sepantasnya mendapat bayaran dan perlakuan yang pantas dari lelaki seperti dirimu”.

“ Aku punya keluarga, istri dan anak. Pelacur itu sudah mengetahuinya”.

“ Kau memiliki segalanya dan pelacur itu mencintaimu. Apa itu tidak boleh?”

“ Tak relevan! Aku tak mencintainya. Aku bahkan tak mengenalnya!”.

“ Munafik! Kau lupakan anak dan istrimu. Kau punya keluarga, masih juga main pelacur! Diam-diam kau nikmati dirinya. Kau menidurinya bukan hanya sekali! Bagaimana mungkin kau tak mengenal setiap lekuk dan desahnya? Tak ada yang salah darinya. Hasratmu yang lapar!”.

“ O, berhentilah! Aku bukan ayah dari bayi itu. Aku tak inginkan itu… aku tak bisa, kau tahu itu!”.

“Kau mengelaknya, itu boleh saja! Kau lupa pengaman! Tes DNA akan membuktikannya. Pelacur itu tak takut bersumpah dihadapan para dewata. Lagipula, jika kelak bayi yang lahir itu benar anakmu, bukankah itu berarti kau abaikan inkarnasi dari leluhurmu sendiri? Kau lancang sekali! Itu penghinaan bagi semua Pirata! Bukankah lelaki terhormat seperti dirimu sepantasnya memberikan jalan bagi kemuliaan jiwa yang lahir sebagai penebusan dosamu sendiri?  Rupanya kau tak takut lagi pada kutukan? Maap, itu bukan kata-kataku! Itu yang  mereka ajarkan dan kita berdua meyakininya, bukan? Nikahi saja wanita itu! Aku memikirkan anak yang kelak akan lahir. Anak, bukankah itu lebih baik daripada memberinya gelar hina sebagai bebinjat? Jika itu benar anakmu, bukankah dengan demikian kau hinakan dan rendahkan martabat darah dagingmu sendiri? Bukankah begitu?”

“ Tapi, ia hanyalah pelacur!”

“Dan, kau telah menghamilinya! Kau telah menanam akar tunggang diantara cecabang kedua kaki dari wanita itu! Kau telah membentuk kisah dari pohon silsilah dalam diri janinnya! Kelak , ia akan memanggil pelacur itu: Ibu!”.

“ Aku tak  mungkin menikahinya”.

“O, Sudahlah! Wanita itu mungkin saja tak butuh kau nikahi. Ia hanya ingin kau mengakui janin itu sebagai  anakmu. Anak itu pasti akan mencari akar yang pernah menancap dan menjadi silsilahnya”.

“Aku tak mungkin melakukannya! Itu rumit! Ini bisa menjadi masalah waris,  dan kau tahu, itu masalah besar! Itu akan menjadi masalah dalam keluarga besarku, juga  bagi anak lelakiku. Aku punya purusa”.

“Kau membawa masalah itu kerumahmu. Hadapilah!  Kejalanganmu memang sepantasnya memberi masalah bagimu. Mengapa kau bebankan  pada wanita hamil itu? Dengan mudah, bibirmu menyumpahinya sebagai pelacur? Lalu, kau inginkan dirimu tertidur dengan nyenyak? Kau inginkan wanita itu memikirkan nasib diri dan kandungannya sendirian?”.

“ Hentikan! Aku butuh waktu memikirkannya!”.

“ Sampai kapan?”

“Entah…Aku tak tahu… aku tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Aku lelah”.

***

W

idura menatap wajahnya di cermin. Batinnya sungguh tertekan belakangan ini. Wajahnya terlihat letih. Rambutnya panjangnya telah dicukur rapi, wajahnya pun kini tanpa cambang. Ia bukannya tak tahu masyarakat tengah menggunjingkannya. Punya rambut panjang itu bisa saja diartikan punya istri hamil. Faktanya, orang tahu istrinya sedang tak hamil. Justru, yang hamil itu Maya. Ia wanita tetangga sebelah desa tempat Widura tinggal. Wanita itulah yang disumpahinya, Pelacur! Skandal seksual mereka tampaknya telah merebak begitu jauh. Pelacur itu melawannya! Pelacur itu mengirimkan surat tuntutan kedesanya agar ia mengakui bayi yang dikandungnya itu sebagai anaknya. Sialan! Mulut wanita itu tak bisa disumbatnya dengan uang! Perang opini istrinya dan keluarga Maya telah terbangun di mulut pasar desa.

W

idura, anggota parlemen terhormat tengah menatap dirinya di cermin. Bayangan di cermin itu juga menatapnya. Mereka berdua tampak sama letihnya. Bayangan itu terus mendesak Widura untuk menyelesaikan persoalan itu, mereka berdua memang telah bersekongkol meniduri Maya. Widura mencoba menyangkalnya. Ia masih berhitung harga diri dan martabat keluarganya. Semua itu ternyata jauh dari kalkulasinya. Dalam pikirannya, Widura merasa bukan satu-satunya lelaki yang terjebak dalam situasi ini.

“Aku terjebak dalam perangkapku sendiri. Somasi, dua kali dilayangkan kuasa hukum pelacur itu. Aku belum putuskan sikap. Istriku mengancam menceraikan aku dan membawa anak-anak. Apa kata dunia? Dan, para pengacara sialan itu menuntut dan mengancamku!” Begitu keluh batinnya pada bayangan di dalam cermin.

“Kita memang pandai sekali berdalih. Kita tak pernah memikir mereka, istri dan anak-anak. Kita ingin selalu muda dan berkuasa. Sudahlah! Hentikan omong kosong kita hari ini! Bayi itu sebentar lagi akan lahir. Anakmu, anakku, anak pelacur itu juga! Boleh saja kita menyangkalnya hari ini. Tetapi, sejarah yang terekam hari ini akan membekukan hidup kita di masa depan. Ia akan menjadi bayang-bayang sepanjang hidup. Ia akan membuntutimu, juga diriku. Sebagian dari bayangan itu adalah kita! Ia justru menjadi ancaman terbesar bagi masa depanmu dan aku!” begitu seruan bayangan dalam cermin.

W

idura menutup kedua telinganya, tetapi suara bayangan itu terus terngiang hingga kebatinnya. Suara itu adalah suara dirinya! Ia tak bisa lagi berpikir. Ia menatap bayangan dihadapannya yang terus mengoceh. Setiap kata-kata terdengar di setiap degup jantungnya. Makin hari, Widura tak ingin lagi menatap bayangan di cermin. Ia merasa mual dan muak setiap menatap wajah itu. Dan, itu adalah wajah dirinya!

Advertisements

3 Comments

  1. Erlangga said,

    March 3, 2010 at 4:26 pm

    Bagus..

    • dayugayatri said,

      March 5, 2010 at 3:59 am

      terima kasih. ini kasus nyata yang ditangani forum komunikasi perempuan mitr kasih bali (waktu itu saya masih ketuanya) dgn lembaga bantuan hukum bali. kami mendemo pengadilan negeri denpasar agar hakim tidak terpengaruh dengan anggota dewan tersebut.
      dapat saya laporkan, kami menang di pengadilan, anak tersebut diakui ayahnya, tetapi ibunya tetap tak dinikahkan. kedua, si anggota dewan terpilih lagi menjadi anggota dewan…nampaknya kita memang senang memilih anggota dewan yang penjahat kelamin, yang melakukan pembalakan hutan, korup…meskipun tidak semuanya begitu…oknumlah… Terima kasih atas responnya

      • Kadek Wahyu said,

        January 8, 2011 at 6:10 am

        aku tau orangnya hahahahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: