MEGALOMANIUS by gayatri mantra

“Akulah Megalomanius yang Agung. Aku adalah dunia, Dunia adalah aku…huahaha…” Megalomanius tertawa di depan cermin. Ia berada di dalam kamarnya, puri yang dindingnya dihiasi cermin dan cermin. Rakyat tak begitu mengenalnya. Megalomanius terlalu sibuk menghabiskan waktu di depan cermin untuk memandangi wajahnya. Berjam-jam! Ia sangat mengagumi wajahnya yang tampan, karismatik, muda, menggairahkan, berkuasa. Dan ini benar!

Megalomanius melanjutkan bercermin. Ia kembali memandangi dirinya dari ujung rambut dan ujung kaki. Telanjang bulat, Ia merasakan sensasi kesempurnaan pada dirinya. Begitu juga bayangannya.

“Namaku  Kaisar Megalomanius. Kaisar besar trah Drakulius, dinasti Midaspenindas dari puri kelelawar. Aku orang besar yang lahir dari trah priyayi besar, huahaha…”. Bangga!

Ia berputar memandangi  bentuk tubuh mudanya. “Kekuasaanku begitu luas. Aku menguasai 9999…bla…bla…pasar dan  marketing religius. Tercatat dalam sejarah Murius, sebagai pemegang tampuk kekuasaan terbanyak. Aku sama berkuasanya dengan Cesarius. Sama berkarismanya dengan Gandius. Huahaha…”Megalomanius  berpidato di depan cermin sambil menepuk dadanya. Ia mematut-matutkan diri. Bayangan di dalam cermin juga menepuk dadanya. Mereka tertawa bersama “ Huahaha…”.

“Megalomanius, aku sungguh mencintaimu” kata Sang Kaisar pada bayangan di dalam cermin. Bayangan itupun meniru perkataan tubuh telanjang di depannya. Mereka kemudian saling mendekat. Begitu dekatnya, hingga hanya dibatasi permukaan cermin. Mereka sama-sama telanjang , saling bersentuhan.

“Megalomanius, Aku mencintaimu”.

“Aku juga begitu”.

“ Aku menyukai senyummu, rambutmu, tubuhmu, kakimu, aku mencintai gaya bicaramu, kekuasaanmu, karismamu. Aku mencintai semua yang melekat dalam dirimu” .

“Sama! “.

“Aku bangga padamu”

“ Aku juga!”.

Megalomanius menciumi bayangannya. Mereka saling bercumbu.

T

iba-tiba interkom menjerit. Suara Sirius menggema:

“Tabik Tuan. Budak Napsumukus telah tiba. Tuanku telah memintanya untuk datang menghadap”.

Megalomanius terkejut, lalu menekan tuts jawab pada interkomnya:

“Suruh budak itu masuk, Sirius!”.

“Baik tuanku”.

M

egalomanius bergegas mengenakan jubahnya. Dia duduk disinggasananya. Pintu kamar terbuka. Masuklah seorang lelaki tinggi besar, tidak begitu tampan tapi gagah. Tatanan rambutnya rapi. Ia sama sekali tak seperti budak, meski kulitnya legam. Satu-satunya yang menunjukkan ia seorang budak hanyalah tatapan matanya yang  tak berdaya. Di belakang lelaki itu muncul Sirius. Lelaki itu juga gagah, berkulit coklat dan bersih, berbusana berkualitas.

“Ini Napsumukus. Budak yang memenangkan kejuaraan lomba ketampanan seantero kota, tuanku. Lomba itu tuan sendiri yang menyelenggarakannya. Budak ini sesuai dengan yang tuan inginkan”.

Well.. well.. well Napsumukus. Kamu memang seperti yang kuinginkan. Tampan dan ambisius. Sirius, tinggalkan kami berdua!” katanya sambil mengipaskan tangan seperti mengusir nyamuk.

“Baik, Tuan” Sirius berbalik sambil mengerling pada Napsumukus. Tatapannya cemburu. Ia berjalan keluar sambil menutup pintu. Jeder! Pintu kayu tertutup rapat. Kini tinggal Sang Kaisar dengan budaknya. Megalomanius berdiri dan menghampiri Napsumukus. Ia memegang bahu Napsumukus, hingga mereka berjalan dan berdiri di depan cermin kesayangannya. Kini mereka berdua berada di depan cermin. Megalomanius berdiri di belakang budak itu. Dan berbisik ditelinga Napsumukus, yang berdiri dalam diam. Pasrah.

“Aku dapat memberikanmu apa saja untuk mewujudkan impianmu, Napsumukus. Kemasyuran, kekuasaan, ketenaran. Apapun dapat kuberikan. Bahkan dunia! Itu, hanya jika kau menjadi budak setiaku, Napsumukus. Lihatlah dihadapanmu! Kita berdua di depan cermin seperti pasangan yang serasi. Kau sungguh tampan, Napsumukus”.

N

apsumukus tak berani berkutik. Dalam pikirannya  ia hanya bisa pasrah. Teringat wajah orangtuanya di kampung, jauh diseberang sana. Petani tua yang miskin. Napsumukus merasa terlahir di tempat yang salah. Ia merasa asing lahir diantara wajah kemiskinan. Dari atas permukaan air sungai ia kerap mematutkan diri.

“Wajahku tampan seperti bangsawan. Andaikan aku berjubah sutra seperti Cesar, akupun tak kalah wibawanya” demikian pikir Napsumukus saban sore, waktu mandi di sungai. Setiba di rumah, wajah kemiskinan sepertinya tak sepadan bersanding dengan ketampanannya. Napsumukus membenci dinding kemiskinan pondoknya, juga takdir dirinya terlahir di rumah itu. “Harusnya aku tak tinggal di pondok reot sialan itu!” serunya pada bayangan dirinya di atas air sungai yang mengalir.

“Benar, kau terlalu tampan untuk menjadi petani. Kau semestinya mengenakan jubah kebesaran dan duduk di singgasana sambil menjamu tetamu dengan anggur” kata bayangan dirinya.

N

apsumukus menginginkan tempat yang sepadan bagi ketampanan dirinya. Lantas iapun  mengikuti sayembara pemilihan budak bagi Megalomanius. Ia menjadi orang yang terpilih. Bangga! Orangtuanya mengiringi kepergiannya dengan doa pemberkatan. Ibunya berlinang air mata ditinggalkan anak lelakinya. Bayangan itu kini lenyap di kamar Megalomanius yang agung. Gambaran  desa kelahirannya semakin jauh dan mengabur. Lenyap!

K

ini, dihadapannya berdiri lelaki yang menjadi pujaannya. Megalomanius  telah berada dibelakangnya, melepaskan jubah kainnya yang kasar berserat. Menelanjanginya di depan cermin. Menciumi punggungnya mesra. Menjilati daun telinganya. Napsumukus diam tak berkutik. Ia tak menyangka jika Megalomanius menginginkan dirinya. Napsumukus menatap cermin sambil melihat Megalomanius mencicipi dirinya. Tubuh Napsumukus tergetar. Baru pertama kali dia dicumbui lelaki. Teringat ia akan Magdalena, kekasihnya di kampung. Bayangan mereka pernah berciuman, kini jadi berkabut dan  akhirnya sirna!

“Napsumukus, lihatlah diri kita berdua. Kita begitu dekat dan begitu mesra, mari kita bercumbu”. Megalomanius menggumuli Napsumukus diperaduannya. Bulanpun lelah mengintip, lalu memejamkan matanya. Malam semakin larut. Malam-malam berikutnya adalah malam-malam yang menggairahkan dan melelahkan bagi mereka berdua.

N

apsumukus mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebuah rumah megah, dan kemewahan. Ia sangat menikmati kehidupan barunya. Di depan cermin ia mematutkan diri.

“Lihatlah dirimu Napsumukus. Ketampananmu, jubahmu sungguh serasi. Kau sungguh tampan. Megalomanius begitu mencintaimu”  kata Napsumukus pada bayangan dirinya.

“Benar. Kita berdua sungguh tampan.. huahaha. Dan aku juga mencintainya” kata bayangannya. Mereka berdua tertawa-tawa.

***

D

i dalam kamar,  Megalomanius menekan tuts  interkomnya, sambil berujar:

“Sirius, aku inginkan budak baru. Napsumukus sudah membosankanku. Aku tak ingin menemuinya lagi. Kau tahu apa yang harus kau lakukan!”.

“Baik tuan, saya mengerti”.

K

eesokan harinya, Sirius menemui Napsumukus di rumah mewahnya. Ia menyerahkan surat Megalomanius. Napsumukus tergetar membaca isi surat itu. Berikut, Sirius lalu menyerahkan segelas anggur kepada Napsumukus.

“Ini anggur untuk menenangkanmu, Napsumukus” nasihat Sirius.

T

angan Napsumukus tergetar dan memandang anggur dengan tatapan ngeri. Perutnya mendadak mual, tapi ia harus meminumnya. Anggur merah yang memabukkan. Ia meminum habis anggur itu. Sirius menuntunnya keperaduan, seperti orang mabuk Napsumukus merebahkan dirinya dan berbisik pelan pada Sirius:

“Titip maaf pada orang tuaku”. Napsumukus lalu tertidur. Selamanya.

M

egalomanius mendengar kabar dari bilik kamar Purinya. Nafsumukus tewas bunuh diri karena meminum terlalu banyak anggur. Megalomanius menatap cermin sambil tersenyum. “Kau tahu?  Tidak ada yang kucintai selain dirimu!” begitu kata Megalomanius pada bayangannya di cermin.

“Tentu saja aku tahu! Aku juga mencintaimu” kata bayangannya. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak di dalam kamar itu. Gemanya memenuhi ruangan.

“Dan kau, Sirius, budak kesayanganku. Mari kita bercumbu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan!”. Dua bayangan bercumbu di dalam cermin.  Bulan malas bergosip dan memejamkan matanya. Hasrat mereka turut pada malam yang semakin larut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: