LASKAR BAYANGAN by GAYATRI MANTRA


R

umah itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Keramaian yang mencekam. Beberapa lelaki berkaos hitam-ketat membungkus tubuh-bentukan gym, tegap dan berotot tampak lalu- lalang. Mereka mencari tempat bersila di sebuah bale. Tepatnya, mencari ruang dan waktu untuk berdiskusi dengan kelompoknya. Para wanita ada di tempat lain, sibuk dalam hening. Dan, anak-anak sepertinya tak peduli, mereka asik bermain. Rombongan lelaki itu mengenakan destar dan bersarung batik, sebagai sebuah seruan tradisi. Rokok tersulut dan terselip di ujung bibir mereka. Asap dibuang ke atas: puh..! Resah terbaca di permukaan wajah dan udara.

“Dua tewas” bisik seorang berambut panjang memulai percakapan. Gelang uli hitam berukir perak, berujung kepala naga dan bermata mirah delima, melingkar di pergelangan tangannya.

”Ini bukan yang pertama” bisik lelaki lain. Lelaki itu berkaca mata hitam sambil menghembuskan asap rokok ke langit. Badannya kurus dan tato terlukis di kedua tangan yang berkulit putih-bersih.

”Satu tertusuk belati dan satu lagi tertebas parang!”  bisik lelaki muda dengan mimik serius. Anting perak seperti hurup O, tertindik di dua telinganya. Wajah lelaki ini cukup tampan dengan sudut senyum yang menawan.

”Itu sudah kita urus” ujar seorang lelaki paro baya, berkaca mata hitam dengan tenang. Ia tampak bijak dengan rambut dan jenggot kelabunya. Lelaki ini memiliki wibawa seorang gusti priyayi. Ia mewarisi keangkuhan seorang penguasa terlihat dari gerak bola matanya. Sudut mata dan mulutnya bergerak dengan tertata dan terbatas. Kalungnya emas berliontin gading menyembul di kemeja hitamnya. Hape terbaru bertengger di ikat pinggang besar terbuat dari kulit berwarna hitam.Ia bukan lelaki biasa!

”Tapi, kita hal ini tak bisa kita biarkan!” bisik lelaki yang lebih muda. Tampaknya ia sedikit tegang dan bersemangat. Ia merokok seperti mengibas nyamuk saking groginya. Baru pertama kali ini ia berkesempatan berkumpul dengan komunitas lelaki dewasa.Itu luar biasa!

”Kita selesaikan setelah kremasi ini. Jangan bertindak gegabah! Tunggu perintah!” tegas lelaki paro baya itu. Intonasi katanya  dalam dan masih tertahan seperti bisikan.

P

ara lelaki yang berkumpul terdiam tak membantah. Mereka menghembuskan asap rokok ke udara. Pikiran dan rencana tampaknya telah tergambar dalam asap rokok masing-masing. Tidak ada yang perlu dibahas lagi. Kopi diminum, rokok disundut di asbak. Sebagian mengalihkan energi. Mereka bermain kartu ceki di meja bersudut lima, magebag sampai pagi. Sebagian lagi memilih  mengobrol dengan tamu yang baru datang. Mereka saling menyapa dan melempar kata, sedikit tertawa lalu berlalu. Yang lain membubarkan diri dan melanjutkan urusan masing-masing. Ada juga yang pergi dan bezuk ke rumah sakit. Mereka menengok temannya yang terluka.

***

D

ua istri meraung memeluk tubuh dingin berkain kasa. Tubuh itu baru saja tiba dari rumah sakit. Tubuh itu adalah tubuh suaminya. Tubuh yang sejak pagi hingga sore tadi ia temui di rumah yang sama, rumah mereka! Malam ini, wanita-wanita itu meraung-raung seperti orang gila menyambut jenasah suaminya. Lelaki itu tewas  ditikam seseorang! Padahal tadi paginya, sang suami tampak sehat. Kini, ia sudah tak bergeming. Dingin. Mereka sempat bertengkar tentang suatu hal kemarin pagi.

”Andai pertengkaran itu tak terjadi. Andai kata maap itu sempat kuucap. Andai senyum masih kusungging untuknya. Andai kopi masih kuhidangkan. Andai…terakhir…semuanya baik-baik saja”  sesal istrinya.

”O Tuhan, apa yang terjadi dengan hari ini? Mengapa kau rampas dia dari hidupku dengan cara seperti ini? Siapa yang begitu kejam berbuat ini pada suamiku? Bagaimana dengan nasib anak-anak? O Tuhan, tolong aku!” raung sang istri.

M

atanya merah sembab dan rambutnya awut-awutan. Tubuh wanita itu lunglai lalu ditopang para kerabat yang lain. Tubuh itu dipisahkan dari jenasah yang selanjutnya diurus oleh beberapa lelaki berkaos hitam. Wanita itu tak mampu berbuat apa-apa, tiada daya. Kedua tangannya mencoba menggapai langit. Ia sepertinya ditakdirkan hanya untuk menangis dan meraung tanpa mengerti apapun. Pasrah, itu yang diminta orang-orang padanya.

***

S

ementara itu, dua ibu meraung di rumah sakit. Anak lelakinya tertebas parang sore tadi. Temannya tewas dan satu lagi ada di ranjang yang lain masih bersimbah darah. Tubuh ibu-ibu  itu tergetar melihat anak mereka  di ruang emerjensi. Darah dagingnya tergeletak tak berdaya, sekarat! Sang ibu ditenangkan anak lelakinya yang lain. Adik perempuannya tampak menangis sesenggukan. Para wanita berpelukan berurai air mata. Sang kakak lelaki memerintahkan mereka untuk diam. Itu karena mereka mengeluarkan kata yang tak sepatahpun bisa dimengertinya. Raungan dan airmata tampaknya menjadi bahasa hati para wanita yang terluka. Bahasa ini begitu menyayat dan begitu mengganggu perasaan kelelakiannya. Ia jadi rikuh dengan situasi itu. Ibu dan anak gadisnya mengusap air mata sambil berusaha menahan tangis. Entah, karena lelah menangis atau karena takut dengan perintah sang kakak.

B

eberapa lelaki berkaos hitam ketat lalu-lalang. Sang kakak menemui rombongan lelaki itu, berjabat tangan dan berpelukan. Mereka bercakap sebentar, mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Mereka merokok, beberapa gelas kopi disiapkan dan mereka mengobrol. Sama sekali tidak tampak jika sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Mereka seperti begitu terlatih mengendalikan situasi. Sebentuk pikiran dan rencana tergambar dari asap rokok yang mengambang. Sang ibu dan anak gadisnya rupanya bisa membaca suatu hal yang suram akan terjadi. Air mata masih mengambang di pelupuk mata dan berharap semoga segalanya kesedihan ini segera berakhir.

L

elaki yang tewas itu Wariga dan Kojak. Keduanya  bekerja sebagai laskar, dan semua orang tahu itu. Underdog! Wariga dan Kojak adalah laskar pilihan, konon dianggap panglima dikelompoknya. Kematiannya telah merapatkan barisan laskar yang lain. Dua tewas dan 2  terkapar mengenaskan, itu bukan suatu berita yang baik. Itu seruan perang!

M

enk dan Sobrat, nama dua pemuda sekarat yang ada di rumah sakit. Umurnya menjelang 20 tahun. Mereka juga bekerja dan menjadi anggota laskar bayangan. Itu pilihan! Ikuti perintah atasan, bereskan! Pertemuan, perintah, kerja semuanya terjadi begitu samar. Berjejak namun tak terlacak, serupa halimun.

D

i kota metropolitan ini memang banyak lelaki menjadi laskar bayangan. Mereka menjadi bekerja seperti mesin tiranik! Modal kerja cuma nyali, solidaritas dan kesetiaan pada kelompok. Tugasnyapun sederhana: mengawal dan menjaga para kapitalis, pemilik modal dan aset agar tidak lecet apalagi tergencet. Mereka  memiliki tanda kelompok, tato simbolik sindikat mereka. Setiap sindikat memiliki ranah kuasa dan sepasukan laskar masing-masing. Mereka  kerap bertemu satu dengan yang lain untuk satu urusan atau  sekedar menyelesaikan perselisihan antarsindikat.

M

ata para laskar muda nanar dan selalu gelisah. Pupil matanya cepat membesar dan bergerak lincah tak pernah menatap lawan bicara. Sebagian besar laskar memiliki tangan kokoh yang senantiasa siaga dan terkepal. Bahkan ada yang tak tahu bagaimana membuka dan memperlihatkan telapak tangannya. Tak pernah terbayangkan hidup dan bercinta dengan lelaki yang sepertinya tak tahu cara mengelus wajah wanita. Apalagi, untuk  mengusap air matanya! Jarak hidup dan mati bagi para laskar begitu tipis, hanya dibatasi rauangan dan genangan air mata wanita mereka. Selebihnya, itu adalah urusan mereka.

***

D

ua wanita lain menangisi kekasihnya. Kali ini tanpa air mata, karena tak ada lagi yang tersisa untuk diteteskan. Lelakinya dikirim ke penjara karena terbukti menikam Wariga dan menebas Kojak sampai mati. Lelakinya juga seorang laskar dari sindikat yang lain. Mereka rupanya bertikai mempertahankan wilayah kuasa dan kata.

L

askar bertemu laskar di penjara imaji. Bayangan dua lelaki diadili di tengah sebuah kamar berjeruji, terekam di tembok. Satu bayangan memasang rante kalung, cincin pipih sedikit cembung untuk tiga jari tengahnya, lalu meninju dua-tiga pukulan. Pukulan dilayangkan di wajah dan badan. Satu bayangan menjambak. Ada bayangan yang mematahkan lengan dan kakinya. Bunyi tulang patah begitu bergemeretak. Bayangan yang lain menghunus belati dan menikamnya ke tubuh, bertubi-tubi. Beberapa bayangan lain beramai-ramai menginjak tubuh itu. Tembok-tembok begitu bebal dan tuli untuk mendengar jeritan cengeng seorang laskar. Bayangan-bayangan itu menjelma menjadi laskar tanpa cantelan hati dan jiwa. Tubuh dan tindakan mereka akhirnya menjadi pertunjukan bayang-bayang di balik kelir.

S

ang dalang khusuk memainkan sebuah lakon untuk orang lain atau untuk dirinya sendiri. Hanya pagi ini setelah sang panglima mati, sang dalang menjadi lebih penyendiri dan merokok lebih sering. Klimaks cerita mengalami ejakulasi. Semua terjadi begitu cepat, kejutan yang tak diharapkan! Para laskar siaga menunggu skenario improvisasi dan penonton masih tersentak tegang. Dan para wanita, seperti biasa selalu berurai air mata pada sandiwara hidup ini. Suka dan duka.

P

ara wanita menonton laskar bayangan itu mengatur takdir mereka. Bayangan  mereka itu nyata. Namun sungguh begitu lama tak teraba dan tereja dalam sebuah pengertian: Bagaimana bayang-bayang itu bisa ada di dalam kehidupan mereka? Para wanita dan anak-anak tak tahu jawabannya. Mereka hanya bisa meraung dan meneteskan air mata, bahasa yang tak dimengerti para lelaki. Percuma saja! Esok dan hari-hari berikutnya, akan selalu ada pertemuan dan pertempuran para laskar.  Lelaki dengan urusan mereka sendiri!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: