Arah Angin by gayatri mantra


S

udirman makin hari makin nyinyir. Jalan itu selalu dipenuhi kendaraan yang lalu lalang. Knalpot mobil dan motor makin lama makin memekakkan telinga. Emisi asap karbon mengabut sepanjang hari. Sudirman terbatuk dan sesak nafas, tapi siapa yang peduli? Pohon Palma hanya bergoyang-goyang, malas menanggapi. Ia pun lunglai dan melepaskan pelepahnya yang makin tua. Ia hanya bisa terpaku dengan tubuh penuh paku untuk spanduk entertainment. Apa yang orang tahu tentang luka dan nyeri?

L

ain lagi dengan Udayana yang makin hari makin ganjen dan bersolek. Gedung kampus  dibangun makin mewah dan tampak makin congkak. “Kecantikan itu membangun wibawa dan kecerdasan” begitu katanya.  Para mahasiswa Udayana lalu lalang entah belajar atau sekedar mampir mengisi waktu luang di kampus. Mahasiswa dan mahasiswi berkostum industri dan tak  beda dengan gaya para bintang iklan di TV.  Di dalam pagar kampus, mereka tampak berkilau bak priyayi.

S

ementara dihadapannya, Gandhi masih berdiri  tak bergeming, menatap kosong pada wajah ibu-ibu pengemis. Mereka  menggendong bayi-bayi dekil, entah miliknya atau milik orang lain. Ibu serta anak-anak itu bernaung dan tiduran di bawah kaki Gandhi. Bayi-bayi itu menyusu sambil menghisap asap karbon. Anak-anak  pengemis yang turut, mereka bermain di perempatan jalan. Mereka bekerja sambil bermain menengadahkan telapak tangan. Mereka menata mimik wajahnya agar tampak tak berdaya. Kostum pengemis mereka makin hari tampak makin bagus. Kemiskinan telah mengajarkan mereka menjadi pandai berekting di panggung jalanan. Aktor cilik jalanan ini mengumpulkan uang receh, lumayan untuk menghidupi ayah dan ibunya.

T

api, O…mereka seperti jerawat  di wajah kota!

“Tidak menarik!” teriak penguasa.

P

etugas Tramtib berkewajiban memencet dan menangkapi mereka, lalu menggiringnya ke dalam mobil.  Pengemis anak-anak menjerit ketakutan melihat seragam seram sang petugas. Kostum dan dandanan yang menakutkan! Petugas Tramtib seperti Petakut, orang-orangan sawah. Petakut yang beraninya berteriak dan menakut-nakuti burung-burung kecil pencuri biji padi.  Sementara, burung-burung besar bertengger dikepalanya, tak bisa disentuh! Gandhi menghela nafas dan tak sanggup berbuat apa-apa.  Ia hanya diam dan berdoa dalam diam :“Om, Harijan…Harijan…Om”.

G

andhi bungkam di tepi jalan berkalung garlan. Sementara, anak-anak terpelajarnya sibuk menghapal puja dan mantra di dalam ashram. Mereka, anak-anak yang hidup mapan tetapi ringkih dan manja. Makan teratur, tidur nyenyak dan biaya sekolah semua sudah diatur dan disediakan pengelola ashram. Tubuh mereka makin lama makin besar dan berotot. Mereka seperti tak peduli dengan apa yang terjadi di depan pagar rumah mereka. Tugas mereka adalah menjadi penjaga spiritualitas dengan menyalakan api, mencakupkan tangan, merapal doa dan tidur siang. Apa yang terjadi di luar sana, bukan urusan mereka. Konon, mereka juga datang dari keluarga yang tidak mampu. Mungkin, hanya peruntungan saja yang membedakan: mereka yang mengemis di luar dengan yang berada di dalam pagar.

G

andhi tak ingin terkurung di dalam pagar, sejak masa yang sudah usang. Mungkin lebih baik baginya tetap berdiri dan diterpa terik mentari dan guyuran hujan. Meskipun mematung, menjadi naungan pengemis yang tiduran di bawah kakinya, baginya itu lebih  berguna. Ia lebih baik merasakan dunia yang sesungguhnya. Pembebasan diri!

G

andhi menatap di seberang jalan. Ia melihat seorang anak berumur 4 tahun. Gandhi menamainya Arah Angin. Ia menjadi penunjuk jalan  bagi ayahnya yang buta. Ibunya juga buta. Sang ayah berkacamata hitam memegang pundak bocah itu. Ibunya memegang ujung baju suaminya. Mereka berjalan beriringan. Arah Angin menuntun ayah dan ibunya menyeberangi  jalan.

S

udirman menjerit  pada kendaraan yang melintas. Lampu lalu lintas  disihirnya menjadi merah, maka semua kendaraan berhenti.  Arah Angin menyeberangkan kedua orang tuanya. Keringat meleleh di sekujur tubuhnya. Arah Angin belum bersekolah tetapi ia sudah tahu arah. Ia mengantarkan ayah dan ibunya bekerja sebagai tukang pijat di Dria Raba. Dulu, kedua orang tua Arah Angin bersekolah di tempat ini. Ya, sekolah ini ada di seberang kampus dan di belakang ashram. Tampaknya penghuni kampus dan ashram tak pernah berkunjung apalagi peduli dengan tempat ini.

K

edua orang tua Arah Angin, mereka sama-sama tak bisa melihat dunia. Tetapi, mereka belajar memahami keindahan dalam mata yang tak sempurna. Mereka mengasah intuisi. Mereka memiliki jari jemari yang terlatih, telinga yang peka dan hati yang tajam. Semakin dewasa mereka mengenal apa itu cinta, ternyata sama dengan mereka yang melihat. Lalu mereka menikah dan memiliki Arah Angin yang sempurna. Apa yang perlu ditakutkan dalam hidup? Berani mati itu, apa menariknya? Berani hidup itu justru yang luar biasa!

“Hadapi!” kata kedua orang tua Arah Angin ketika mereka mengikrarkan janji pernikahan.

B

egitulah, setiap hari Arah Angin menjadi tongkat dan penunjuk arah. Ia tetap bersemangat dan sepertinya mengerti dengan keadaan kedua orang tuanya. Pundaknya semakin kokoh sebagai tumpuan tangan ayahnya. Dalam dunia yang tiada sempurna ini, mereka tidak mengemis dan meminta belas kasihan. Mereka juga tidak melacurkan diri atas kekurangan dan  kemiskinan.  Kedua tangan mereka tidak menengadah. Jari jemari mereka menari di atas tubuh-tubuh letih pemilik uang.  Setiap receh adalah berkat yang kuasa, sangat berarti bagi mereka.

A

rah Angin tahu benar untuk apa receh itu dikumpulkan orang tuanya. Uang itu untuk menghargai hidup! Lagi pula, tahun depan ia akan bersekolah. Pulang sekolah ia akan tetap mengantarkan kedua orang tuanya bekerja. Kalau tidak bekerja di Dria Raba, ya mungkin mereka harus berjalan sedikit menyusuri trotoar yang penuh lubang. Arah Angin menuntun kedua orang tuanya agar tidak terperosok dan terjatuh ke dalam got. Musim kemarau lebih baik dari musim hujan, karena lubang itu bisa lebih terlihat.

D

iponogoro, di sudut  timur jalan itu berdiri sebuah hotel  yang menyediakan tempat bagi para pemijat tuna netra untuk bekerja dan berkumpul. Arah Angin sudah terbiasa mengantarkan orang tuanya ke sana. Hanya itu tugas yang dipahami Arah Angin.

G

andhi memilih tetap berdiri dan menyerap peristiwa. Setiap hari ia bisa melihat Arah Angin dan kedua orang tuanya. Pada jam yang sama seperti hari kemarin, mereka menyeberangi jalan. Udayana makin angkuh. Sudirman masih menjerit! Pengemis datang silih berganti. Petugas Tramtib masih berwajah sangar dan marah-marah tanpa sebab yang jelas. Perempatan jalan itu selalu sibuk dengan sejuta kisah spiritual hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: