KORI by Gayatri Mantra

Kori, gerbang mungil bertembok tanah liat itu tampak rapuh dikunyah waktu. Kulit tua jelanan, daun pintu kayu tanpa pulasan itu telah terkelupas. Permukaan pintu dipenuhi guratan tanda-tanda jaman, seperti keriput penanda ketuaan. Kori ini membisu menyimpan sejuta rahasia orang-orang yang hidup didalamnya. Dan kini, kori ini mencoba untuk angkuh menghadapi isak tangis Ni Kebek, wanita yang pernah lahir di pekarangan rumah ini.

Ni Kebek menangis di depan kori berpalang dari dalam. Tidak ada yang membukakannya pintu. Tidak ada! Itu bukan berarti tidak ada penghuni didalamnya. Di dalam tembok pekarangan, Ni Tampi membisu di dapur bertembok hitam bekas asap dari tungku perapian. Ni Tampi duduk dengan wajah mengeras karena ditindas ketegangan. Kebek adalah putrinya, adik dari I Naban, putra satu-satunya. Raungan Ni Kebek dari luar pagar tembok rumah menyayat relung hatinya. Dan ia mencoba menguat-nguatkan dirinya untuk tak bergeming  dari dapur itu. Meski kemudian, ketegangan ini telah memeras emosi dan menggantungkan sebulir air disudut matanya. Sejenak, airmata itu menitik lalu menjangkau tulang pipi.

Masih di pekarangan itu, tetapi di balé bagian rumah lain, I Naban anak lelaki Ni Tampi berdiri tegar tak bergeming. Ia menatap wajah istrinya yang berlinang air mata saat memeluk Luh De Sekar, putri pertama mereka. Luh De Sekar baru saja berumur telung oton. I Naban bersikukuh tak mengijinkan siapapun untuk membuka jelanan, pintu kori tua rumah mereka. I Naban bukannya tak tahu adiknya akan pulang hari ini. Ia telah mengetahui hal ini dari istrinya sejak dua hari yang lalu.

“ Untuk apa Ni Kebek pulang?” tanya I Naban pada  istrinya Ketut Rintin.

“ Suaminya memukuli dan meneriakinya bekung! Suaminya menikah lagi dan mengusir adikmu. Ni Kebek  tak tahan disiksa lagi dan ingin kembali ke rumah ini” jawab Ni Rintin

“ Biarkan adikmu pulang ke rumah ini, Naban”  pinta Ni Tampi kepada I Naban.

“ Hei perempuan, mengertilah! Aku tak bisa menerima Ni Kebek ke rumah ini sebelum suaminya mengembalikannya secara baik-baik!” tegas I Naban pada Ibu dan istrinya.

“ Tapi, itu mustahil! Suaminya tak akan melakukan itu! Ia dan keluarganya tak ingin mempertanggungjawabkan kehidupan Ni Kebek lagi” jerit Ni Tampi.

“Jika suami dan keluarganya tak mau, apa kalian pikir kita mampu mempertanggungjawabkan kehidupannya? Lihatlah sekeliling kita! Hidup kitapun serba kekurangan. Jika ditambah lagi dengan Ni Kebek yang datang tanpa ijin suaminya, masalah baru pasti akan datang. Ini akan jadi masalah adat! Sejak Kebek menikah maka ia telah menjadi milik suaminya. Ia menjadi warga dimana suaminya berada. Hubungan kita telah putus dengannya! Aku tak berhak mencampuri kehidupannya! Kebek harusnya telah tahu artinya meninggalkan rumah ini untuk dinikahi lelaki yang dicintainya!” tegas I Naban pada kedua wanita dihadapannya.

“ Tapi ia adalah adikmu! Berikan dia kesempatan tinggal sementara di rumah ini sampai ia temukan hidupnya kembali !’ jerit Ni Tampi, sang Ibu sambil berlinang air mata.

“ Dengar, mémé! Aku kepala rumah tangga di rumah ini. Aku yang memutuskan apa yang terbaik bagi kita semua. Aku tak inginkan Ni Kebek kembali ke rumah ini dan jangan ganggu aku dengan air mata kalian. Hidup ini menderita, jangan ditambahkan dengan penderitaan orang lain! Aku tak ingin melihatnya menjadi janda di rumah ini dan menjadi gunjingan tetangga! Dia bisa tinggal dimanapun dia mau, asal bukan di rumah ini!” suara I Naban seperti menggelegar dalam ingatan Ni Tampi.

Dan jelanan, daun pintu kori ini memang telah terkunci untuk Ni Kebek. Wanita bertubuh mungil, setinggi satu meter dan berwajah camed ini menangis di depan pintu rumah bajang-nya. Rambut panjangnya kusut masai. Kamen, kain panjangnya kotor berdebu.

“Ijinkan aku masuk, mémé! Tolong aku, sekali ini saja! Berikan aku tempat berteduh! Suamiku tak inginkan aku lagi. Aku telah jadi orang buangan. Aku tak punya rumah. Terimalah aku kembali!”  seru Ni Kebek di depan kori rumah orang tuanya.

Angin menghela permohonan Ni Kebek. Waktu bersilur menerawangkan senja diantara reranting yang menghitam. Mentari jelang tenggelam. Jelanan kori tetap terkunci seperti mulut orang-orang di balé, rumah dalam pekarangan. Begitu juga dengan para tetangga yang hanya bisa menonton Ni Kebek tak bisa pulang kerumahnya  karena jelanan kori tertutup rapat. Mereka tak bisa membantu karena itu bukan urusan mereka. Mereka hanya menonton. Mereka tak bisa dan tak mau terlibat masalah.

Ni Kebek terus memohon seperti orang gila agar dibukakan pintu oleh keluarganya. Ia lelah dengan semuanya tetapi ia tak ingin mati. Ia hanya ingin kembali pulang dimana ia berasal. Ia ingin kembali pada Ni Tampi, ibunya. Ia rindu dekapan dan perlindungan ibunya. Sejak ia tumbuh besar bersama I Naban, tak satupun ingatan tentang ayah terlintas. Ia dan Naban dibesarkan oleh ibu dan kakeknya, Kaki Karang. Mereka bekerja memunuh padi di sawah orang. Tapi sejak Kaki Karang meninggal, ibu bekerja di pasar sebagai buruh suwun. Apapun dilakukannya untuk bisa memberikan mereka makan sehari-hari, sekedar bertahan hidup dari kemiskinan.

“Pasar, ya pasar di sanalah aku akan tinggal” begitu pikiran Ni Kebek sambil menghapus air matanya. Ia sudah mengerti bahwa hidupnya kini telah berakhir sebagai orang-orang ungsian. Tak punya rumah karena ia perempuan! Tak punya rumah karena ia bekung, mandul! Ni Kebek membaringkan tubuhnya di depan kori rumahnya. Ia merebahkan tubuhnya hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit. Dalam tidur lelahnya ia  bermimpi tentang pasar, rumah barunya.

Fajar  menjelang, langit perlahan memburat cahaya perak. Ni Kebek terbangun dari tidurnya. Ia berdiri dan menatap kori rumahnya untuk terakhir kali. Air ludah mengental dan terasa getir  tertelan ditenggorokannya. Ia pergi meninggalkan rumah tempat ia pernah dilahirkan dan dibesarkan.

Ni Kebek memulai hidupnya di pasar. Tidur dan bekerja di pasar sebagai buruh suwun. Semua kenangan tentang rumah, suami dan keluarga ia lupakan. Ia bekerja giat mengumpulkan uang. Dari uang itu, ia kumpulkan modal untuk berjualan lakar base, bumbu dapur. Ia berdagang melintasi desa lain bahkan kabupaten lain. Ia ingin pergi sejauh mungkin dari kenangan akan rumah dan keluarga.

Dalam lintasan waktu dan perjalanan, seorang lelaki mencintainya dan menerimanya sebagai istri. Ni Kebek menjadi  istri kedua  Pan Lekir. Mereka hidup berbahagia, meskipun Ni Kebek tak mampu memberinya anak. Sayangnya, Pan Lekir tak berumur panjang. Ia mati karena TB, tuberculosis. Ni Kebek diusir dari rumah suaminya oleh kemenakan Pan Lekir. Itu karena mereka tak punya anak, bekung! Ni Kebek dirundung duka dan murka yang begitu mendalam. Semua itu ia bantai dalam kibasan ingatan akan waktu. Ia memuntahkannya dalam jeritan juga airmata. Ia pun membunuh kenangan itu satu persatu. Sampai suatu ketika, petugas Tibum menciduknya di pasar Bajra Tabanan. Ni Kebek, wanita tua itu tak punya kartu tanda penduduk dan ditemukan terkapar sakit.

“ Namaku Kebek. Mémé – ku bernama Tampi. Aku anak Ni Tampi. Aku tak punya keluarga. Aku tak ingat punya seorang ayah. Aku punya kakak lelaki bernama I Naban. Tetapi ia bukan saudaraku karena ia tak inginkan aku menjadi saudara perempuannya. Aku Kebek, anak Ni Tampi” begitu penjelasannya kepada petugas dan perawat rumah sakit.

Tak ada keluarga yang menjenguknya. Ni Kebek lalu di bawa ke panti sosial. Tak ada keluarga yang mencarinya, apalagi merindukannya. Dan ia telah lupakan semua kenangan akan orang-orang dan waktu. Ni Kebek selalu rajin menyapu ruangan panti, seperti menyapu kenangan pahitnya yang berdebu. Hanya satu yang dia ukir dalam kesendiriannya:

“ Aku bernama Ni Kebek dan Ni Tampi adalah ibuku. Aku tak punya rumah. Aku tak ingat apapun” begitulah wanita setengah tuli ini menjelaskan tentang dirinya kepada siapapun yang ingin mengenal dirinya. Dan, iapun berlalu sambil menyapu lantai dan juga ingatan.

Terjemahan    :

Memunuh padi     :         mengais bulir-bulir padi untuk dikumpulkan

Suwun                     :          menjunjung sesuatu di kepala

Bajang                     :          bujang

Bekung                   :           mandul

Mémé :          ibu

Jelanan                 :           daun pintu

Telung oton        :           satu setengah tahun

Camed                  :           rahang bawah lebih panjang dari rahang atas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: