SANDIKALA by Gayatri Mantra

Kau pernah menegurku:

“Menikahlah, berhentilah seperti kera, melompat riang ke sana-kemari di kebun musa! Berhentilah menjadi sangunis! Demi Tuhan, dewasalah!”.

Dan, aku seperti biasa hanya tersenyum menatap wajahmu, Angga.

K

au tak tahu apa yang kau katakan dan apa yang aku rasakan! Memang, bukan hanya kau yang menatapku dengan pandangan mengiba seperti itu. Kau pikir aku tak menyadari, usia seperti rayap mengunyah diriku diam-diam? Aku memang tak punya kekasih. Apakah itu semacam kutukan bagiku?

Banyak yang  berujar:

”Cantik, tak punya kekasih, ah, masak?! Berpendidikan bagus, juga  tak punya kekasih? Ah, yang benar?! Punya karir, masih tak punya kekasih juga?! Wow..wow…jangan-jangan ada yang salah denganmu, wanita?!”

S

epertimu Angga, mereka bertanya tentang tujuan hidupku di dunia ini. Lalu mereka mengatur perasaannya padaku. Kemudian, mereka mengambil ancang-ancang mengasihaniku dan memberikan kotbahnya tentang jalan hidup sejati.

Demi matahari!

Aku begitu bahagia dengan hidupku, meski aku belum menikah.

Demi malam!

Aku miliki segala syukur, kesehatan, tawa dan hari-hari yang kulintasi dengan keriangan. Bukankah semua orang inginkan itu, dan aku telah dapat semuanya? Aku hidup bagaikan anak dewa, begitu nyaman di rumah orang tuaku. Dan bahkan, kasih ibuku tak akan bisa menggantikan semua kebahagiaan dunia ini. Apalagi yang kucari?

”Tapi, sampai kapan kau bisa menikmati hal itu? Sampai kapan kau akan bersembunyi dalam dekapan orang tua? Jika orang tuamu tiada, kau tak akan berbahagia. Kau akan jadi manusia kesepian”.

O, Anggaku! Kau masih saja mendesakku, rupanya! Mengapa kita harus berdebat tentang hidupku, Angga? Mengapa kedirianku begitu mengusikmu, ehm?!

”Ya..ya.. jika itu terjadi, aku akan menderita sekali. Aku tak punya orang tua lagi, aku akan berduka untuk waktu yang cukup panjang. Aku akan kehilangan pilar hidupku. Aku pasti menderita! Sungguh, itu menyedihkan! Tetapi, bukankah hakekat hidup ini: lahir, hidup, menderita dan mati? Apa yang mesti kita takutkan? Menikah atau tidak, aku pasti akan mengalami penderitaan dan kesedihan itu, bukan?”.

”Tapi, itu berbeda! Jika kau menikah, maka ada keluarga yang akan merawatmu. Suami adalah teman hidupmu kelak, kau bisa berbagi cerita dengannya. Anak-anakmu akan memberikan irama dan nada baru dalam hidupmu, sayang!”.

A

ku menatap rona merah jambu di pipi Angga. Rupanya romantisme ini mengalir dinadinya, membuat dia tampak bersemangat. Aku terpesona merasakan gairah  itu. Benarkah?!

“Angga, O itu sungguh indah! Andaikan seluruh suami di dunia itu selalu mendekap erat kekasihnya. Dan, mereka saling mendengarkan kisah masing-masing tentang lintasan cahaya dan malam. Andaikan ada atau tiadanya anak tak akan mengurangi kasih itu. Andaikan melodi kehidupan teraba indah di jiva. O, betapa menyenangkannya berandai-andai. Tetapi, itu seperti ilusi! Itu tak seperti yang sering kudengar dan kulihat!”

Kau tahu, Angga?

P

ada malam-malam sunyi, orang-orang menjejak ditepian pantai. Mereka datang untuk menatap laut dan melukiskan kisah mereka pada angin. Mereka berharap muson akan menerbangkan segenap resah dan gelisah hati. Pada suatu malam, seorang perempuan menangis ditepian pantai  untuk waktu berjam-jam. Kedua kakinya dan juga perasaannya yang telah remuk, terbenam dalam pasir basah dan dingin. Malam itu semua tampak begitu kelu! Tak ada yang berani mengusiknya. Orang-orang mengabaikannya karena merekapun tengah mengeja suasana hati sendiri.

A

ku menemui wanita itu dan kami duduk bersisian dalam diam. Sejak saat itu, aku tahu sebuah jawaban! Samudra melarung segenap rasa duka dan kehilangan. Palung laut seperti cawan menampung seluruh air mata wanita dan dunia. Karena itu, samudra berasa garam! Dan kekasih…. O, ia seperti angin! Dapat dirasakan datang dan perginya, namun tak kuasa untuk diraih. Hasrat akan dirinya seperti pasir dalam genggaman. Ia  makin cepat meluncur dan lebur justru dalam eratnya rengkuhan”.

“Kau terlalu banyak berdalih! Kau tak berani menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Kau hanya ingin bermain-main dalam hidup ini. Cobalah kau lihat sekelilingmu. Jika hidup bersama dalam ikatan keluarga itu menjadi sumber penderitaan, maka mengapa begitu banyak orang melakukannya dengan pasangan mereka? Mereka menikah, punya anak-anak dan membentuk keluarga mereka sendiri. Biasa-biasa saja! Aku rasa kau terlalu melebih-lebihkannya. Tujuan hidup ini untuk mengalami perubahan! Pengalaman itu tak akan pernah sama, satu dengan yang lainnya. Melajang dan menikah dari pengalaman spiritual masing-masing orang tentu berbeda. Itu adalah pilihan, sayang!”. Dari nada bicaranya, aku merasakan ketegasan dan kesabaran Angga untuk menjelaskan argumentasinya.

“Aku mengerti! Menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan! Begitu jamak  terdengar. Tetapi, dasar dari pemikiran hidup bersama bukan semata-mata untuk melangsungkan persetubuhan jasmani dan rohani, Angga! Lihatlah, wanita di dunia ini tak pernah sempurna! Melajang, menikah, punya anak, mereka tak akan pernah bisa sempurna! Itu fakta! Mereka tak bisa memenuhi hasrat  akan kesempurnaan hidup ini. Rahim wanita jadi parodi yang benar-benar satiris, Anggaku! Ia jadi bahan olok-olok atas ketaksempurnaannya! Sebagian bersedia menjadi mesin tiranik untuk melahirkan mahluk sempurna yang bernama putra sang Purusa. Sebagian nelangsa dan membawa hati yang gugur, karena tak berbuah setelah musim kawin. Ibaratkan sebuah tunas muda yang tercerabut dari tanah kelahirannya, sebagian tergeletak begitu saja di ladang asing. Penelantaran, pengabaian dan juga kekejian fisikal telah banyak merajam jiwa dan raga wanita, sayangku”.

”Aku tak seperti itu! Aku tak mengenal mereka! Tidak semua lelaki seperti itu! Ada banyak lelaki yang memberikan kebahagiaan bagi para wanita. Lagipula, setiap orang membawa nasib baik dan buruknya masing-masing!”. Angga tampak defensif dengan argumentasiku. Aku sudah menduganya! Aku hanya menyampaikan padanya apa yang tengah kupikirkan.

”Itulah inti jawaban atas pertanyaanmu padaku. Jika aku tidak menikah, kau telah menjawabnya. Jika aku menikah, kaupun telah menjawabnya. Penilaian tentang kebahagiaan bukan ditentukan karena menikah atau tidaknya seseorang di dunia ini. Kita tak perlu mengasihani seseorang karena status dirinya itu. Mungkin lebih baik, kita mengasihani diri yang belum mengetahui derajat kebahagiaan diri kita sendiri. Atau mungkin kita tidak mengetahui apa yang membuat diri kita bisa berbahagia. Aku tengah berada di puncak kebahagianku, Angga! Aku berbahagia menjadi diriku sendiri. Aku menikmati setiap detik kibasan waktu dengan segenap rasa syukurku. Aku berbahagia dengan kebebasanku. Meski, derita dan kematian jadi keniscayaan yang pasti, tetapi hari ini merupakan berkat yang tak terhingga bagiku” .

”Aku tahu apa yang bisa membuatku bahagia. Aku pasti berbahagia bersamamu! Aku mencintaimu, sayang! Aku ingin kau tahu, aku ingin membuatmu lebih berbahagia. Percayalah! Hiduplah denganku, cinta! Aku membutuhkanmu untuk menopang segenap keteguhan diriku menghadapi hari esok. Maukah kau bersamaku?”

O

, Angga sudahlah! Aku tak tahu lagi bagaimana mesti menjawabmu. Lihatlah ke depan, senja tampak merona dan diam-diam memburat bara. Dan, samudra  bergelora ini senantiasa mesti dikuduskan garis langit. Kau dan aku, kita tengah menjejak di atas pasir basah. Dan, kau tengah melukiskan hatimu diatasnya. Lidah samudra mampir dan mengeja setiap goresan itu dan menghapusnya perlahan, lalu berlalu. Muson sore itu menerbangkan imaji kebebasanku ke antariksa. Angga, bukankah kau sudah tahu jawabannya? Kecaplah samudra ini, masih berasa garam! Karena saat ini juga, air mataku menetes dan larut didalamnya.

Advertisements

2 Comments

  1. January 30, 2010 at 5:16 pm

    Nice blog!

    Salam kenal maya,
    Kenal maya pada,
    Maya pada go blog.

    Aku tengah berada di puncak kebahagianku, Angga! Aku berbahagia menjadi diriku sendiri. Aku menikmati setiap detik kibasan waktu dengan segenap rasa syukurku. Aku berbahagia dengan kebebasanku. Meski, derita dan kematian jadi keniscayaan yang pasti, tetapi hari ini merupakan berkat yang tak terhingga bagiku” .
    Angga: Terima kasih lah kepada hari ini!
    Tapi, rasanya sulit kita bisa menjeneret kebahagiaan di dlm kesendirian, Mba! Suka-cita hanya bisa dikenal melalui duka-cita dan duka-cita tak dapat kita ciptakan sendirian. Apa mungkin masih ada jalur lain utk mengenalnya dgn akrab selama hidup?

    • dayugayatri said,

      January 31, 2010 at 5:24 am

      hi dear,

      terima kasih atas apresiasinya.
      suka dan duka itu hakikat hidup
      menerimanya membutuhkan waktu yang panjang
      bagaimana mengenalnya?
      melalui pengalaman
      jadi,
      mari kita nikmati!
      salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: