RAY DAN SEBENTUK WAJAH by Gayatri Mantra

“ Kau  bisa pergi dengan kami” bujuk wanita itu.

”Ayolah, Ray! Kita ini masih muda,  jangan mengurung diri saja!” lelaki muda  teman wanita itu mencoba membujuk pria yang  bernama Ray.

”Maapkan aku. Sungguh, aku tak bisa! Aku tak begitu suka menonton film. Kalian berdua, pergilah! Aku akan tinggal di rumah nanti malam” Ray rikuh menolak ajakan sahabatnya. Yulia dan Rana, hanya mereka sahabat yang dimiliki Ray di kota kecil ini. Mereka sepasang kekasih yang baru setahun menjalin kisah cinta. Ah, pastilah menyenangkan bisa mengajak seseorang untuk berkencan. Hari-hari menjadi lebih berwarna  dan segala sesuatu menjadi indah.

”Ray, sepupuku sepertinya menyukaimu. Mita sering menanyakanmu. Bagaimana? Kau bisa telpon dan cobalah ajak dia berkencan!” Rana mencoba meyakinkan Ray untuk pergi.

”O, benarkah? Aku tak tahu dia suka padaku. Aku pikir gadis seperti Mita menyukai pria-pria mapan. Sementara aku? But thanks! Aku akan memikirkannya. Tapi, tidak sekarang oke? Saat ini, aku sungguh ingin sendiri” Ray mencoba menutup pembicaraan dengan meninggalkan sedikit kesopanan.

”Oke deh, kalau itu maumu. Kalau kamu berubah pikiran, tinggal telpon kami, Oke? Chao!” Yulia dan Rana menutup wajah mereka di layar handphone.

Chao! Wajah mereka menghilang, pikiran Ray melayang.

”Mita suka padaku? Ah, gadis itu masih terlalu muda untuk mengenal patah hati” Ray menatap dirinya di depan cermin.

”Seperti ranting patah aku masih bertahan untuk mengingat kenangan. Aku berjuntai pada harapan, seakan aku baik-baik saja. Kutinggalkan kota, kutinggalkan segala untuk mengejar sebentuk wajah. Wajah cahaya yang merasuki diriku dengan segenap kehangatan dan mengisi setiap poriku yang kosong. Orang bilang aku terjatuh dalam dataran cinta. Bahkan, aku malah tak sanggup menapak-berpijak. Mata, ya mata itu telah membidik hatiku” bisik Ray pada wajah dihadapannya. Dan wajah itu seperti begitu hikmad mendengarkan setiap ujaran Ray.

”Kau tahu? Maya, wanita itu malaekatku. Matanya bercahaya dan tubuhnya terasa hangat. Lehernya jenjang, kulitnya mulus dan aku bisa merasakan hembusan nafas perlahan melumerkan segenap kebekuan diriku. Suara dan tawanya membuat tubuhku ikut bergetar. Tubuh yang sempurna bagi jiwaku. Namun, aku tak pernah sanggup menyatakan semua yang ingin kukatakan padanya. Aku hanya menatapnya dari kejauhan. Tak sanggup kakiku menapak dan menatap wajahnya. Apalagi, menyatakan betapa aku cinta padanya. Ia terlalu sempurna bagiku, bahkan hingga saat ini. Maya belum tergantikan dihatiku” bayangan itu dengan tajam  menatap Ray. Ia  belum pernah menyentuh tubuh siapapun. Jadi ia mencoba mengerti setiap ejaan isi hati Ray.

R

ay meneruskan perkataannya ”Berpuluh wanita telah kujumpai. Mereka tak punya mata seperti mata malaekatku. Beraneka ragam wajah telah kukenali. Tapi, mereka semua berwajah kaku dan dingin. Wajah-wajah ketakutan dikunyah waktu. Beberapa wajah menggunakan silikon dan detox.  Astaga, kemudaan yang penuh rekayasa! Sudut mata bahkan garis senyum mereka menjadi begitu palsu. Aku bahkan pernah menjelajahi tubuh sintal, kenyal bersilikon. Dagu, tulang pipi, pantat semuanya bersilikon. Wanita-wanita yang pernah riuh dalam keinginan itu tampak puas dan pulas. Mereka diam saja saat wajah pucatnya kulapisi bedak. Bibir keringnya kupulas dengan lipstik merah. Alisnya kurapikan dan rambutnya kutata indah. Tubuh telanjang mereka kudandani dengan busana pengantin. Bagiku, mereka menjelma menjadi manekin. Tubuh mematung itu kudandani sesuai dengan permintaan keluarganya. Tubuh-tubuh yang patuh!” bayangan  di dalam cermin masih mendengarkan Ray sambil memulas bibirnya dengan lipstik warna merah.

”Perias jenasah. Apa bagusnya pekerjaan ini kuceritakan pada Mita? Aku sendiri menutupi pekerjaan ini dari Yulia dan Rana. Aku tak ingin mereka menyimpan kengerian membayangkanku menggerayangi tubuh-tubuh tanpa jiwa. Tubuh utuh masih lebih baik dari pada potongan mutilasi dan irisan otopsi. Tak bisa kubayangkan, jika sahabatku meninggalkan diriku. Hidupku pasti akan lebih sunyi dari kematian” Ray masih bercakap dengan pria tampan dihadapannya. Mereka seperti sepasang anak kembar yang ringkih dan pemalu. Hanya tubuh mereka berada pada dimensi lain.

”Siapa yang mau melamar pekerjaan sepertiku? Kupikir pekerjaan ini seperti kutukan. Aku tak mengerti mengapa keluargaku memilih berbisnis peti mati dan batu nisan. Dan aku terperangkap di dunia mayat. Apa ini bukan kutukan? Toko jadi selalu tampak muram. Dan, sudah pasti konsumen yang datang tidak dengan perasaan yang bahagia. Aku sendiri menyerap kemuraman suasana selama bertahun-tahun dengan tumbuh menjadi pria yang tak percaya diri. Aku menjadi sungguh tak bernyali dihadapan wanita seperti Maya. Sementara, setiap lekuk tubuh mayat wanita telah kujelajahi, sehingga aku jadi mengerti betapa sempurnanya Maya jika menjadi pendampingku” bayangan di cermin  mengalihkan perhatian. Ada telpon yang tiba-tiba berdering.

” Ray, besok sore datanglah ke Apartemen Melati No. 239! Ada mayat perempuan yang mesti kau dandani. Dengar-dengar sih wanita itu mati bunuh diri” seseorang menelpon Ray dan ia pun menyetujui hal itu.

***

R

ay datang ke tempat yang dimaksud tepat pukul 4 sore. Tampak beberapa anggota keluarga dari wanita yang tewas itu tengah berkabung dan dirundung kesedihan. Dengan berat hati Ray memperkenalkan diri sebagai perias jenasah. Lelaki tua, tampaknya ayah dari wanita yang tewas dengan wajah sembab memberikan instruksi singkat pada Ray. Di sudut ruangan, tampak seorang wanita paruh baya duduk dengan lemah menerima dukungan dari kerabat yang lain. Itu pastilah ibu dari wanita yang akan diriasnya. Seorang lelaki tampan, dengan wajah sedih menghampiri Ray. Lelaki ini tampak begitu gentlemen, sekitar 30-an, tampak matang dan mapan diusianya.

”Kamarnya ada di sebelah. Dia kekasihku. Aku ingin kau meriasnya dengan secantik mungkin. 6 bulan lagi kami akan menikah, entah mengapa ia mengambil jalan pintas seperti ini” Lelaki itu tampak terpukul dengan peristiwa itu. Tapi, Ray hanya diam saja untuk beberapa saat dan berlalu menuju kamar tempat mayat disemayamkan.

P

intu dibuka. Pandangan mata diedarkan ke seluruh ruangan. Ray terpaku menatap sebuah foto di dinding. Foto itu seperti sedang tersenyum pada dirinya. Wajah itu tak asing bagi Ray. Itu seperti wajah Maya! Ray berjalan ke arah jenasah dengan peralatan rias. Sendirian. Tidak ada yang menemaninya. Lagi pula, siapa yang tertarik menemaninya merias jenasah?

”Aku mau menemanimu, Ray” suara seorang wanita secara tiba-tiba menyentuh gendang telinga Ray.

”Ma…ma…maya…itu…kah kau?” Ray berbalik, dan jadi tergagap menatap wanita pujaan hatinya. Kaget! Ternyata ada juga yang mendengar pikirannya.

” Iya. Ini aku. Senang kau bisa datang kemari. Meski ya, situasinya  tidak seperti yang kamu harapkan. Sejak dulu kamu suka padaku kan, Ray? Aku  tahu itu dari caramu menatapku. Apa kamu tidak suka aku lagi?” tanya Maya sedikit merajuk.

”A..ak..aku tak bermaksud….aku ..sungguh suka padamu….aku cinta padamu!” Ray terbata-bata menyatakan pikirannya. Tapi, ia sungguh tak mengerti bagaimana mungkin kalimat cinta yang disimpan sekian tahun begitu lancar keluar dari mulutnya? Di kamar tempat gadis yang mati bunuh diri terbaring, sungguh bukan tempat yang romantis untuk menyatakan cinta!

”Lihatlah wajah gadis itu Ray! Wajah wanita itu sungguh menyedihkan. Ia kesepian selama hidupnya. Ia merasa tak ada seorangpun yang sungguh-sungguh mencintainya. Dan lelaki di luar sana, kekasihnya itu seekor ular! Lelaki itu penuh dusta! Kau tahu? Lelaki itu mengikat leher kekasihnya di ranjang agar wanita itu bisa menyaksikan ular itu mencumbui betina lainnya. Sementara, setelah itu mereka menikmati dirinya dalam keadaan terikat. Jika kemauannya tidak terpenuhi, ular itu akan menyiksanya, Ray! Orang-orang melihat mereka sebagai sepasang kekasih yang sempurna. Tetapi wanita tak berdaya ini, muak dengan semua itu saat ia tahu seseorang mencintainya, Ray! Ia begitu ingin mencintai dan dicintai dengan sungguh. Dulu, ia pun takut bertepuk sebelah tangan. Ia hanya menunggu karena tak tahu caranya. Lalu ia mendapati kisah cinta lain, dan mengakhiri semua dengan caranya sendiri. Sungguh wanita yang rapuh!” Maya berbisik di  belakang telinga Ray.

R

ay memiringkan kepalanya menatap wanita yang tertidur di atas ranjang dan menatap Maya. Mata malaekatnya meredup  kehilangan cahaya. Senyumnya masih tersungging hanya saja getarnya begitu getir.

Maya, aku tak tahu harus bicara apa. Dunia kita begitu jauh berbeda. Kau begitu sempurna bagiku. Ya, aku mencintaimu. Tapi aku tak ingin berharap dari semua itu. Hanya perlu kau tahu, kau selalu ada dihatiku” Ray mencoba mengendalikan perasaannya. Jarak mereka berdua begitu dekat. Ray menjadi begitu gugup.

”Betulkah? Maukah kau ciumi aku sekali ini saja. Bagaimana?”

” Di kamar ini?!”  tanya Ray begitu tak percaya sambil menengok ke kiri ke kanan.

“Mengapa tidak? Bukankah kau mencintaiku? Tidak ada yang akan mengusik. Lagi pula siapa yang akan masuk ke kamar tempat jenazah?” tawaran Maya sungguh menjadi sensasi tersendiri bagi Ray.

T

ubuh mereka perlahan merapat dan Ray mencium bibir ranum Maya. Dan, Maya memejamkan matanya. Dua pasang kelopak mengatupkan mata yang indah itu. Ray merasakan kehangatan menjalar ke segala tubuhnya. Itu ciuman yang pertama dalam hidupnya.

”Terima Kasih Ray. Jadikan aku yang tercantik bagimu” bisik Maya. Suara lembut itu berlalu diterbangkan angin.

B

ibir Ray menempel di bibir jenasah. Maya tampak begitu pulas dalam peristirahatannya yang terakhir.  Wanita itu telah mati karena bunuh diri. Setetes air jatuh di wajah pucat itu. Itu air mata Ray!

T

ubuh Ray terguncang di bibir ranjang. Ray mengendalikan dirinya beberapa saat. Lalu ia membuka kotak riasnya. Ia mulai membersihkan wajah pucat Maya. Ia mendandani mayat itu dengan sempurna sesuai dengan keinginannya. Ray ingin Maya tampak cantik, semurni ketika pertama kali ia menatap wajah itu di sudut kota. Ia mendandani Maya dengan berhati-hati dan sungguh khidmat, meskipun pada saat bersamaan perasaannya sudah patah beranting-ranting. Sejak saat ia menyatakan cinta pada seorang gadis, sejak itu pula Ray merasakan patah hati yang pertama. Patah hati yang belum tersembuhkan, bahkan hingga  hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: