PADANG SAVANA by Gayatri Mantra


“Bukan salahku!”

Melati, temanku sejak SMA menyatakan pembelaan dirinya di hadapanku. Dia memang terbiasa datang ke rumahku, jika  ada hal yang menggundahkan hatinya.

“Tetapi, bagaimana dengan suamimu?” tanyaku. Aku memang tidak memahami persoalan yang dihadapi. Lagipula aku tak berpengalaman menghadapi masalah rumah tangga, karena belum pernah menikah.

“Suamiku seperti pura-pura tak tahu. Kami kini jarang serumah, apalagi seranjang. Padahal, alasan kami berdua meninggalkan rumah pemberian orangtuaku dengan mengontrak rumah, karena mengikuti kata-katanya untuk hidup mandiri. Kau tak akan tahu apa yang aku rasakan” Melati menarik nafasnya dan mencoba menjaga emosinya.

“Aku tahu kamu cukup lama, Melati. Aku menerimamu sebagai teman apapun keadaanmu. Tentu aku bisa merasakan apa yang kau rasakan!” kataku menenangkan dan memeluknya. Aku mencoba memberikan rasa empatiku atas apa yang dialaminya, sebab aku tak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Melati datang tiba-tiba seperti biasa dengan membawa masalah untuk disampaikan.

M

elati dan aku memang telah berkawan lebih dari 15 tahun. Melati anak tunggal dan sangat patuh pada orang tuanya. Sejak kecil ia sudah yatim, dan hanya ibunda yang memeliharanya. Kami berpisah ketika memutuskan bersekolah di universitas yang berbeda. Sejak saat itu kami tak lagi punya kesempatan menjadi kawan dekat. Ketika ia menikah, aku tak datang karena ia tak mengabariku. Jadi, aku tak tahu jika ia telah menikah karena perjodohan dari orangtuanya.

A

ku mengetahui hal itu justru dari dokter yayasan tempatku bekerja, dokter Muti namanya. Waktu itu, seorang wanita tengah melahirkan bayi. Suaminya sekarat terpapar AIDS di rumah sakit saat si istri meregang seorang diri melahirkan bayi laki-laki mereka yang  tampan. Sang suami hanya sempat memangku bayi itu beberapa hari, lalu meninggal karena sakitnya. Bayi itu diberi nama Bagaskara. Sama seperti ibunya, Bagaskara pun telah menjadi yatim sejak masih bayi merah. Aku mengetahui nama ibu bayi itu adalah Melati. Dan, ia adalah teman SMA-ku.

K

ami bertemu dalam kondisi yang menyedihkan. Melihat kawan kehilangan suami yang meninggalkannya dengan seorang bayi, dan sekaligus terpapar HIV positif, itu bukan lagi menyedihkan, tapi mengerikan! Aku mengajaknya ke kantor tempatku bekerja, karena tempatnya bekerja tidak menginginkannya lagi. Waktu itu, aku bekerja di yayasan yang peduli masalah HIV/AIDS. Dan, sejak saat itu Melati menjadi kolega  sampai aku pindah bekerja di tempat lain.

B

anyak pasang surut hidup kami alami berdua hingga 12 tahun telah berlalu. Melati dan aku, kini kami masih berteman baik. Melati masih hidup dengan HIV positif dan tampak masih sehat dan  matang. Sementara,  Bagaskara kini beranjak  remaja. Waktu rupanya begitu cepat mengejar kehidupan dan usia. Sementara aku masih hidup seperti burung, bebas berpetualang.

M

elati, kini sudah menikah kembali. Mereka bertemu karena perasaan senasib di sebuah kantor pelayanan sosial. Waktu mereka menikah, aku hadir dengan perasan haru dan bahagia. Pasti, itu saat yang mendebarkan bagi setiap wanita untuk menyaksikan apalagi mengalami sebuah pernikahan. Sedangkan, Bagaskara diasuh  nenek dan kakeknya. Bagaskara dipisahkan dengan ibunya, Melati dengan alasan yang menurutku tak masuk akal. Konon, sang kakek dan nenek  memisahkan Bagaskara karena takut ibunya akan menularkannya HIV.

“Luna, kamu sudah tahu bagaimana kisah hidupku. Waktu menikah kembali, aku  rasa hidupku akan baik-baik saja setelah  itu. Jika dulu aku menikah karena perjodohan, lalu kini aku bisa memilih kekasihku, aku pikir itu akan menjadi sebuah kisah hidup yang lebih indah” Melati memperbaiki cara duduknya diranjangku. Kami memang biasa bergosip dan berkisah apa saja di ranjang besi tuaku.

“Ya, hidup tak selalu mudah Melati, dengan atau tanpa HIV” komentarku biasa-biasa saja karena memang, aku toh tahu HIV tak akan menular hanya karena mengobrol dan berpelukan dengannya.

“Tetapi, suamiku memiliki kekasih baru! Aku mendatangi rumah kekasihnya dan menjaga emosiku ketika kujumpai suamiku di rumah wanita itu. Rasanya, setelah kehilangan suami pertama, apa yang kuhadapi saat itu menjadi begitu datar meski cukup menyakitkan! Aku tanya baik-baik wanita itu, apakah dia mengetahui keadaan suamiku. Wanita itu menganggukkan kepalanya. Aku terpukul! Sungguh! Aku terpukul bukan karena kenyataan perselingkuhan itu! Tetapi, karena menghadapi wanita yang menerima perselingkuhan dan keadaan suamiku yang HIV positif. Aku jadi bingung siapa yang gila! Aku bingung hingga aku pergi tanpa kata-kata lagi dari rumah mereka. Aku bingung! Aku kemari karena hal itu!” Melati bergetar, airmatanya mulai menitik meski ia berusah tegar.

A

ku terdiam mendengar hal itu, lalu memberikannya selembar tissue untuk mengusap airmata. Tentu menyakitkan menghadapi kenyataan itu. Itu pukulan telak! Jika itu terjadi padaku, entah apa aku sanggup untuk berkata-kata atau tidak! Mungkin aku akan mengakhiri hidupku?!

“Itu tidak terjadi dalam sehari, Luna! Itu telah terjadi selama dua tahun terakhir. Dan akupun, melakukan hal yang sama. Rai, kekasihku masih begitu muda tetapi tampak matang dalam usianya. Ia seorang programer komputer. Ia tahu aku HIV positif dan tak masalah bercinta denganku. Tampaknya ia tak peduli, karena dunia yang dia kenal hanyalah sebidang layar komputer dan kamar kerjanya. Aku seperti menikmati hal itu. Yah, kau akan mengerti yang kumaksudkan. Semuanya! Perhatiannya dan seks! Itu semua yang dibutuhkan wanita dalam perkawinan, Luna. Rai melengkapi semua yang kubutuhkan setelah suamiku abaikan aku. Meskipun pada akhirnya, aku semakin tak mengerti dengan perjalanan hidup itu sendiri” Melati menarik nafas dalam-dalam meski setiap menyebut nama Rai, wajahnya merona.

“Apakah kalian bercinta secara aman?” tentu saja maksud pertanyaanku adalah apakah mereka bercinta dengan menggunakan kondom atau  tidak. Yah, sekadar memastikan hubungan mereka baik-baik saja.

“Sejauh ini aku yang memintanya. Rai tahu dan kadang ia tak menginginkannya. Tapi kau tahu, Aku tak ingin hamil! Hanya itu alasan yang membuatnya mendengarkan kata-kataku. Aku rasa kami saling mencintai. Aku sering menginap di tempat kekasihku. Begitu juga suamiku, ia ada  di tempat kekasihnya. Aku  rasa suamiku melakukannya karena aku tak ingin memiliki anak darinya. Lagipula dari suami pertama aku telah memiliki Bagaskara. Oh, mengertilah! Aku tak ingin memberikan anak dalam keadaan HIV positif. Tapi suamiku berkeras inginkan anak. Bagiku itu tindakan bodoh! Aku sangat tahu keadaan diriku, hamil lagi itu sungguh gila! Hidupku tak akan lama, dan bagaimana dengan masa depan anak itu nanti, bukan? Apakah aku terlalu egois mengabaikan harapan suamiku, sementara kami berdua mengetahui konsekuensi yang tak mudah?” tutur Melati datar.

“O, begitukah?” Aku cukup heran dengan hiruk pikuk kisah cinta Melati. Aku mencoba memahami dan  mengendalikan perasaanku. Saat itu aku tak ingin menghakimi kawanku. Lagipula akupun akan bertanya, siapa yang  gila?! Hasrat manusia memang sering tak terkendali. Menurutku, memiliki anak bukan sebatas insting pemenuhan hasrat melainkan sebuah pilihan dan memiliki konsekuensi logis bagi masa depan anak-anak.

“Aku ingin mengakhiri permainan ini, Luna! Tapi, aku tak tahu caranya. Aku kalut! Permainan ini penuh jebakan dan aku sulit untuk melepas jerat yang kupasang sendiri” Melati tampak putus asa dengan semuanya.

“Dengar, suami atau kekasihmu bukan satu-satunya jalan bagi kekosongan hatimu! Kamu masih punya Bagaskara, untuk diperhatikan, Melati! Anak itu sebentar lagi remaja dan punya kekasih. Dan kau, akan ditinggalkannya untuk berbahagia bersama kawan-kawan sebayanya. Mengapa tak kau gunakan waktu yang sempit ini untuk berkumpul dengannya, Melati? Ia membutuhkanmu sebagai kawan dan juga ibunya“ Aku berusaha menjadi teman yang bijak, meskipun aku tak tahu apakah itu akan menjadi hal yang penting baginya.

A

kupun pernah jatuh cinta. Dan, cinta lebih memikat perhatian dan pikiran dari apapun di dunia ini. Aku tahu temanku sedang kasmaran pada Rai. Bisa kurasakan Melatiku seperti ada di padang savana. Ia mencoba bertahan untuk tetap bisa hidup, melihat cahaya dan merasakan rasa lapang kebebasan, membawanya kemanapun udara meniupnya! Namun, menjadi manusia tak akan pernah sempurna. Terseret, tergelincir bahkan terlindas jaman, bukan menjadi akhir hidup! Hingga suatu ketika, telepon berdering:

“Luna, aku sedang bersama dengan Bagaskara. Kami makan malam bersama dengan kawan anakku. Aku seperti bersama dua orang kekasih tampan. Mereka membuatku tertawa. Aku merasa hari ini menjadi menyenangkan, bisa melupakan masalahku dengan suamiku dan Rai. Aku bahagia bisa mengingat, anakku bangga dengan adanya aku malam ini!” bunyi klik terdengar setelah kujawab dengan banyak tertawa . Aku menanggapi seruannya dengan rasa senang. Begitulah,  selalu ada kisah untuk diceritakan hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: