TOLAK NASKAH AKADEMIK DAN RANCANGAN PERDA PROVINSI BALI TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

Terlalu terbiasa masyarakat dininabobokkan dengan ‘menyuapi’ sejumlah peraturan pemerintah dengan iming-iming  dapat memberikan sensasi suatu relaksasi hingga ekstase seolah-olah, kebutuhan masyarakat atas jaminan hukum telah dipenuhi negara. Apalagi perempuan, pasti langsung setuju jika nasib anak mereka dilindungi undang-undang dan peraturan pemerintah lainnya.

Belum lagi ketika disodori naskah akademik yang dibuat dengan membawa gengsi dari universitas terkemuka, bisa jadi kaum ibu-ibu langsung mendukung dengan penuh keyakinan nasib mereka dijamin negara. Begitu tinggi kepercayaan masyarakat terhadap berbagai regulasi dan dengan mudah untuk digiring seperti kerbau yang dicocok hidungnya, menerima sakralisasi wacana-wacana hukum yang kesannya luar biasa,  namun kemudian berakhir menjadi piagam tanpa guna.  But not this time, tidak kali ini!

Naskah akademik dan Rancangan Perda Provinsi Bali tentang Perlindungan Anak yang disusun tim peneliti pusat perancangan Hukum FH Universitas Udayana yang diajukan Pansus Komisi IV DPRD Prov. Bali, PERLU DITOLAK SEKALIGUS DIBATALKAN demi tegaknya hukum dan keadilan bagi anak.

Penolakan ini bukan dikarenakan naskah akademik dan ranperda yang mengikutinya tidak penting bagi nasib anak Bali. Sama sekali tidak! Penolakan ini dengan terpaksa perlu dilakukan karena  naskah ini jauh dari kata layak disebut sebagai ‘naskah akademik’ apalagi dijadikan acuan untuk dijadikan suatu Peraturan Daerah (PERDA) bagi anggota Parlemen Provinsi Bali. Terlebih lagi, naskah ini dijadikan acuan penting perlindungan nasib masa depan anak.  Bahkan, ada indikasi produk hukum ini ‘dipaksakan’ menjadi PERDA sebelum Pemilu. Ini merupakan praktik kekerasan simbolik, pemaksaan kehendak demi pencitraan.  Apa jadinya jika naskah ini beredar di masyarakat dan dibaca oleh akademisi lainnya?  Sungguh hal yang memprihatinkan kalau tidak ingin disebut memalukan. Tentu ada sejumlah argumentasi mesti diajukan sebelum ‘menggugat’ kompetensi para ahli perancangan Hukum Universitas Udayana.

GEGABAH dan AMATIRAN

“Naskah Akademik Rancangan Perda  Provinsi Bali Tentang Perlindungan Anak “jelas-jelas dibuat secara gegabah dan amatiran. Naskah akademik ini kurang memenuhi kriteria sebagai tulisan ilmiah, tanpa dasar kajian akademis tentang anak-anak Bali. Pada bagian latar belakang penyusunan naskah akademik ini di antaranya adanya pernyataan:

“ Tingginya permasalahan yang berkaitan tentang anak sangat memerlukan adanya penegakan hukum (terketik: hokum) yang optimal”.  

 

Apa dasarnya? Memang pada naskah akademik ini menggunakan data kekerasan kasus anak yang diambil dari yayasan Lembaga Perlindungan Anak Bali. Data LPA  menunjukkan angka kekerasan anak ‘hanya’ mencapai 150 kasus sejak tahun 2011-2013. Pernyataan yang menyatakan tingginya permasalahan anak di Bali ini tentu tidak berdasar, mengingat tidak ada indikator pendamping yang dapat dijadikan pembanding agar  informasi yang disampaikan mendekati akurat, seperti : berapa jumlah anak di Bali? berapa angka kematian bayi di Bali? berapa anak bali yang tidak bersekolah? berapa yang bekerja? Berapa anak yang dibuang dan ditelantarkan? Berapa anak yang dipenjara? berapa anak yang disabilitas? Berapa anak yang berhadapan dengan hukum? Berapa anak yang menggepeng? Berapa yang diperkosa? Berapa anak yang dipasung? Berapa anak jenius Bali, berapa anak berprestasi di Bali?.

Ini baru merupakan sebagian kecil pertanyaan mendasar yang harus diketahui peneliti sebelum menyusun naskah akademik apalagi menjadikannya sebagai peraturan daerah.  Sayang sekali, data yang disajikan dalam naskah akademik begitu kecil dibandingkan jumlah anak di Bali (sangat tidak mungkin jumlah anak Bali ‘hanya’ 150?). Dan jika data kuantitatif ini digunakan sebagai dasar pembuatan Perda Perlindungan Anak tentu argumentasinya sangat lemah dan gegabah. Padahal, stakeholder yang bergerak dalam bidang pemerhati anak itu banyak sekali, seperti: lembaga pendidikan (sekolah dari Paud, SD- SMA). Lembaga pelayanan kesehatan, kepolisian, Bapas, pengadilan,  masyarakat adat, keluarga, forum anak, P2TP2 dan sebagainya yang tentunya memiliki data yang lebih akurat. Selain itu mereka tentu lebih mengetahui problema penanganan anak di lapangan,  dan  mendekati realitas sosial anak Bali.  Jangan salahkan jika membaca naskah akademik ini memunculkan sejumlah asumsi: peneliti meremehkan data lapangan, kemalasan melakukan penelitian lapangan atau karena isolasi yang memerangkap diri dalam teks-teks hukum tanpa memahami realitas nasib anak-anak Bali.

Tapi haruskah masa depan anak Bali menjadi wacana basi-basi alakadarnya seperti ini? Kemudian memaksa masyarakat untuk menerima gagasan seperti ini dalam bentuk Perda? Begitukah? Jika ini benar, tentunya mentalitas seperti ini benar-benar menyedihkan. Penyederhanaan masalah semacam ini tentu merupakan bentuk pembodohan masyarakat yang ‘dipaksa’ menerima studi yang tidak berbobot seperti ini. Dan koreksi terhadap naskah ini menjadi penting untuk mengawasi kinerja-kinerja yang menggunakan dana dari masyarakat. Selain itu, naskah akademik ini menjadi tampak ‘amatiran’ ketika rumusan masalah dengan hasil analisis yang diajukan, disandingkan sehingga jawabannya ibarat pepatah: jauh panggang dari api.

Pada rumusan masalah pertama berbunyi: permasalahan hukum apakah yang dihadapi sebagai alasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang Perlindungan  Anak? Logika dari pertanyaan ini tentu merujuk pada sejumlah produk hukum yang bermasalah jika diterapkan dalam upaya perlindungan anak. Tetapi, pada hasil analisisnya justru disajikan tampilan produk hukum yang digunakan sebagai dasar dalam Ranperda yaitu: UU 12/2011 pasal 5 dan 6, UU No 39 tahun 1999 tentang HAM, UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (tapi, tampak peneliti tidak konsisen karena, di halaman lain disebut, UU No 23 tahun 2004 tentang Perlindungan Anak), PP No 38 tahun 2007 tentang pembagian Urusan, Peraturan Daerah Provinsi Bali No 1 tahun 2008 . Itupun tidak mengikutsertakan produk hukum yang lebih fresh seperti UU SPPA tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Pada rumusan masalah kedua berbunyi: Apakah yang menjadi pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, yuridis pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang Perlindungan anak? Hasil analisisnya: tidak ada! Terlalu banyak ‘bunyi-bunyian’ yang dikutip menurut beberapa ahli hukum, tapi tidak menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri.

Pada rumusan masalah ketiga berbunyi: Apakah sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan dan jangkauan, dan arah pengaturan dalam Rancangan Peraturan  Daerah Provinsi Bali tentang perlindungan anak? Jawaban yang diberikan penuh kegalauan dan kegamangan seperti terkena sindrom ‘schizophrenia’: yang penting menabur sejumlah kalimat, tak penting bermakna atau tidak.  Sasaran yang diwujudkan pastinya untuk perlindungan anak, namun anak seperti apa yang akan disasar dalam naskah dan ranperda itu?

Peraturan Daerah tentunya tidak sama dengan Undang-Undang meskipun produk ini harus mengacu pada produk perundang-undangan yang ada di atasnya. Gejala ‘copy-paste’ bunyi-bunyian dalam produk hukum dan kemudian mencantelkannya dalam peraturan daerah tanpa kajian yang serius dan ilmiah tentu merupakan tindakan yang gegabah.

TAK PAHAM KONSEP ANAK

Konsep anak yang diajukan dalam naskah akademik ini masih “standar” kutipan pasal 1 Konvensi Hak Anak, bahwa anak adalah:

“…setiap manusia yang berusia 18 tahun kecuali berdasarkan Undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia anak dicapai lebih awal”.

 

Definisi anak berdasarkan diskusi terfokus yang diselenggarakan LBH Bali dalam menganalisa RANPERDA tentang perlindungan anak, begitu banyak menyajikan realitas sosial anak-anak Bali. Padahal kenyataannya, berbagai produk hukum mendefinisikan anak dengan umur yang beragam. Anak merupakan suatu definisi yang bersifat kompleks secara kultural dan sosial. Dalam institusi pendidikan dikenal istilah “anak berkebutuhan khusus”, “anak dengan layanan khusus”. Selain itu ada istilah “anak Negara”,” anak disabilitas”, “anak dari penyandang disabilitas”. Dan perkembangan terbaru sebagai praktisi hukum peneliti mestinya sudah tahu ada istilah “Anak Berhadapan” dengan Hukum dan “Anak Berkonflik” dengan hukum. Dalam dunia kesehatan dikenal istilah, janin, bayi, balita, masa pubertas dan sebagainya. Dan mereka semua ini berhak mendapatkan jaminan perlindungan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Jadi ‘realitas’ sosial wajah anak-anak Indonesia termasuk di Bali tidaklah sama dan perlakuan yang dibutuhkanpun tidak bias diseragamkan. Definisi anak  yang kompleks ini mencerminkan realitas kehidupan anak yang tidak sesederhana definisi yang diajukan. Terlebih lagi di Bali masalah seksualitas anak menentukan perlakuan yang menjadi pemicu sejumlah diskriminasi dan kekerasan terhadap anak, seperti: konsep purusa dan pradana yang masih bersifat politis, mempengaruhi posisi dan disposisi sosial termasuk masa depan anak. Semestinya kompleksitas kebutuhan anak inilah dijadikan dasar-dasar argumentatif bagi penyusunan latar belakang akademik dan data-data yang akurat. Sayangnya hal-hal urgensi berkaitan dengan kebutuhan anak, tidak sampai dalam Naskah Akademik dan juga Ranperda Perlindungan Anak.

TIDAK MEMENUHI VALIDITAS HUKUM

Pada halaman 21 naskah akademik ini disampaikan bahwa validitas hukum atau keabsahan suatu hukum sebagai peraturan perundang-undangan di Indonesia harus sesuai dengan:1) landasan filosofis, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut suatu negara; 2) sosiologis, mencerminkan tuntutan dan kenyataan yang hidup dalam masyarakat; 3) yuridis, sebagai norma hukum, adanya kesesuaian hubungan kondisi dengan akibatnya, adanya lembaga yang berwenang) dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan yang lebih tinggi; 4) politis, sesuai dengan cita-cita dan konstitusi.

Dan, Naskah Akademik ini jelas tidak memenuhi aspek sosiologis dan telah mengabaikan realitas sosial tentang anak-anak Bali: bagaimana anak hidup, tumbuh dan berkembang anak di tanah Bali. Rancangan Peraturan Daerah (perda) tentang Perlindungan Anak setidaknya secara ideal melibatkan landasan filosofis kearifan Sosial Budaya Bali dalam menata dan mengatasi masalah sosial termasuk dalam perlindungan anak, termasuk melibatkan masyarakat adat Bali.

KOORDINASI KERJA SKPD TIDAK JELAS

Naskah akademik dan juga Ranperda Tentang Perlindungan Anak yang hendak dipaksakan ‘sukses’ ketok palu sebelum pemilu 2014 ini menyisakan banyak problematik yang dirasakan beberapa stakeholder dalam SKPD, Satuan Kerja Perangkat Daerah (aparat terkait) yang terlibat di dalamnya. Dalam diskusi membahas Ranperda tentang Perlindungan Anak, perdebatan koordinasi para pihak dalam ruang lingkup pemerintahan masih tidak jelas, tumpang tindih. Bidang pemberdayaan perlindungan perempuan dan anak melalui P2TP2A mengeluhkan dana yang terbatas tidak sebanding dengan dengan ribuan kasus-kasus yang dihadapi. Pihak kepolisian membutuhkan shelter bagi anak yang berhadapan dengan hukum, selisih paham tentang “Rumah Sosial Perlindungan Anak” yang menurut Dinas sosial itu hanyalah sebagai tempat konsultasi bukan untuk shelter.

Ini baru sebagian kecil dari kekacauan jalur komunikasi dan koordinasi yang harus dihadapi dalam internal pemerintahan. Sejumlah aktivis perempuan dan stake holder lainnya termasuk dari dinas pendidikan, pengadilan juga mengharapkan “Anak Berkonflik” dengan hukum tidak dipenjarakan di lapas  orang dewasa, selain faktor Lapas Anak Gianyar yang berlokasi di Karangasem dirasakan terlalu jauh sehingga ada desakan untuk menyiapkan tempat yang lebih dekat dan representatif untuk anak-anak yang berhadapan hukum. Penyusunan naskah akademik ini tampaknya belum sampai pada bagian ‘membaca realitas’ atau melakukan kajian kontekstual yang serius dalam penyusunan rancangan perlindungan anak ini. Apa yang dipaparkan dalam naskah akademik ini baru terbatas menyajikan pengetahuan hukum tentang anak secara umum.

 

TOLAK ‘PROYEK’ RANPERDA PERLINDUNGAN ANAK 

Naskah akademik dan Ranperda Perlindungan Anak perlu ditolak! Naskah akademik ini argumentasinya sangat lemah, prematur dan baru sebatas memamerkan pengetahuan tekstual tentang hukum yang sebenarnya juga bisa diakses masyarakat melalui internet. Kajian ‘kontekstual’ berbasis realitas sosial dan kajian budaya dengan melibatkan stakeholder belum disentuh dalam kajian akademis ini. Semestinya dalam naskah akademik dan juga Ranperda Perlindungan Anak ini,  UU SPPA ini perlu dijadikan salah satu dasar bagi terbentuknya Perda Perlindungan Anak.

Undang-undang No 11 tahun 2012, Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) telah disahkan sejak 2012 dan baru akan diberlakukan Agustus 2014, inipun beberapa bagian pasalnya tengah di-uji material-kan oleh Ikatan Hakim Indonesia dan disetujui MK. Sayangnya kehadiran UU SPPA tampaknya alpa dicantumkan, entah karena peneliti tidak ‘update’  informasi, ataukah karena “lupa” memang menjadi penyakit kronis yang harus dilawan oleh bangsa ini. Padahal UU SPPA ini relevan dengantopik perlindungan anak yang berhadapan dengan hukum, baik yang menajdi korban maupun pelaku.  

 Naskah akademik dan Ranperda Perlindungan Anak harus berani untuk ditolak, karena tiada gunanya menciptakan produk hukum yang tak berguna dalam kenyataan, hanya dipaksakan untuk pencitraan aktor-aktor politik dengan kinerja yang tidak maksimal dengan mengorbankan nasib anak-anak Bali.

 Setidaknya naskah akademik ini memberikan gambaran tentang realitas betapa tidak seriusnya penanganan nasib anak Bali. Anak masih dianggap sekedar ‘proyek’ wacana, tanpa keseriusan untuk benar-benar memikirkan bagaimana naskah akademik ini layak menjadi dasar bagi terbentuknya Ranperda Perlindungan Anak dan dapat diimplementasikan. Sudah saatnya masyarakat juga mesti ‘melek hukum’ dengan membaca secara hati-hati berbagai produk hukum yang dibuat kaum intelektual, untuk menghindari manipulasi dan pembodohan masyarakat.

 

Sumber:

https://dayugayatri.wordpress.com/tag/ranperda-perlindungan-anak/

Diskusi kelompok terfokus yang diselenggarakan YLBHI-Bali 13 Januari 2014

RANPERDA PERLINDUNGAN ANAK

Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Perlindungan Anak digagas sebagai inisiatif dari Pansus Perda Perlindungan Anak, Komisi IV DPRD Provinsi Bali. Sayangnya semangat perancangan Peraturan Daerah ini lebih kuat didorong unsur politis. Substansi yang semestinya ditujukan untuk menjadikannya sebagai instrumen yang mumpuni dalam upaya memberikan perlindungan bagi anak-anak Bali, menjadi pereduksian realitas sosial anak. Ranperda menjadi arena politik karena ada indikasi rancangan dipaksakan untuk diselesaikan dan bila perlu disahkan menjadi Perda sebelum pemilu 9 April 2014 ini sesuai dengan yang disampaikan sekretaris Pansus, Ibu Utami.

Beruntung, YLBHI-Bali berinisiatif mengajak stakeholder bertemu pada 13 Januari 2014 untuk berpartisipasi dan menganalisa konten Ranperda Perlindungan Anak. Pertemuan ini menjadi penting untuk mengantisipasi adanya upaya menggampangkan masalah dengan melakukan generalisasi isi Ranperda seperti mencontek dari berbagai sumber perundang-undangan, atau yang lebih fatal jika ditemukan adanya indikasi mencontek Ranperda serupa dari provinsi lain yang secara substansi tidak sama dengan Bali. Padahal substansi Ranperda harus bersumber dari realitas kebutuhan anak untuk mendapat pengakuan identitas, untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar.

Konsep anak
Pada ketentuan umum Ranperda, disebutkan konsep anak mencakup anak yang berusia hingga 18 tahun. Agar sesuai dengan substansi Ranperda, dalam ketentuan umum belum dijelaskan tentang anak disabilitas, anak penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak dengan layanan khusus yang berhubungan dengan sistem pendidikan untuk anak Indonesia. Perancang Ranperda tampaknya belum mengikuti perkembangan semiotik kebahasaan terutama perkembangan peristilahan baru, seperti masih menggunakan kata anak cacat, padahal sekarang sudah disosialisasikan istilah anak disabilitas. Perancang Ranperda juga perlu mengetahui perbedaan konsep anak disabilitas dan anak dari penyandang disabilitas dimana kedua konsep ini masih berhubungan dengan Ranperda, karena keduanya tidak jarang menjadi korban bullying pelecehan baik di sekolah maupun di lingkungannya.

Paradigma tentang Anak
Paradigma Ranperda ini masih bersifat otoriter, memosikan anak sebagai mahluk yang tak berdaya (disabilitas), rentan dan dianggap tidak mampu membuat pilihan-pilihan sendiri, serta mengabaikan nasib anak-anak yang berdaya dan anak yang bertalenta. Tentunya partisipasi anak untuk turut serta dalam penyusunan Ranperda yang akan memengaruhi hidup dan masa depan anak-anak Bali, perlu didengar sebagai aspirasi penting. Forum Anak Bali, perwakilan OSIS dari berbagai sekolah, Seka Teruna, kelompok komunitas anak dan remaja, lembaga pemerhati dan peduli anak perlu diberikan ruang untuk terlibat memberikan masukan untuk memahami berbagai kebutuhan dasar anak dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam mengawal proses perancangan Ranperda ini menjadi perda perlindungan anak.

Koreksi Kritis
Beberapa koreksi kritis tentang konten Ranperda : menyangkut dasar-dasar hukum yang dijadikan pertimbangan; perlunya kejelasan koordinasi terutama SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang mengimplementasikan Perda jika telah disahkan; koordinasi SKPD dengan stakeholder; transparansi dan teknis mendapatkan akses pendanaan dalam penanganan perlindungan anak. Beberapa dasar hukum seperti UU tentang Disabilitas dan UU tentang kependudukan belum dijadikan pertimbangan. Jalur komunikasi SKPD harus dibuat sebening air mineral agar tidak memunculkan polemik dan indikasi adanya saling lempar tanggung jawab dalam SKPD.

Kesehatan reproduksi anak juga belum diatur dalam Ranperda, termasuk hak anak untuk menentukan orientasi seksual dirinya. Argumentasi: ada anak yang terlahir dengan kelamin ganda atau ada anak yang merasa berada di tubuh yang salah karena jenis kelamin yang dimilikinya tidak membuatnya menjadi pribadi yang utuh.

Pendidikan khusus dan layanan khusus untuk anak perlu di atur dalam Ranperda yang mengacu pada kebutuhan anak disabilitas, anak berkebutuhan khusus, anak yang hidup dalam penjara. Poin penting lainnya dalam Ranperda ini adalah menyangkut akses untuk anak, seperti ruang bermain, tempat dan lingkungan bertumbuh kembang yang baik untuk anak.

Hak atas identitas pribadi juga belum dimasukkan dalam isi Ranperda. Dasar argumentasi: banyak anak-anak yang dibuang dan ditelantarkan, diadopsi sehingga mereka berhak untuk mengetahui asal usulnya.

Sebagai homo ludens, mahluk yang bermain, manusia khususnya anak membutuhkan ruang bebas untuk mengeskpresikan diri. Ruang atau taman bermain untuk anak dan remaja merupakan kebutuhan penting yang memiliki fungsi rohani mengekspresikan emosi dan menyalurkan agresi secara positif untuk mencegah kriminalitas anak. Sayangnya, ruang atau taman seperti ini begitu minim disediakan pemerintah. Akses yang tak kalah penting dan harus jelas dan tegas dalam Ranperda ini yaitu teknis mendapatkan akses dana untuk upaya perlindungan anak. Selama ini administrasi yang menjelimet dan sistem koordinasi yang tidak jelas dirasakan merugikan berbagai organisasi perlindungan anak.
Masyarakat juga membutuhkan shelter atau rumah perlindungan anak. Konsep yang dipahami pihak kepolisian dan aktivis perlindungan anak menganggap bahwa pembangunan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) merupakan shelter bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Sayangnya dalam pandangan dinas sosial, RPSA ini bukan panti untuk tempat tinggal anak dan tempat ini hanyalah untuk berkonsultasi. Perbedaan persepsi ini jika tidak dikomunikasikan tentu menimbulkan polemik.

Prematur
Staf ahli yang ditunjuk anggota dewan legislatif untuk membantu merancang Perda Perlindungan Anak ini perlu memahami, bahwa konten Ranperda tidaklah sama dengan konten dalam Undang-Undang yang cenderung merupakan generalisasi masalah dan bersifat normatif. Ranperda ini masih begitu prematur untuk dipaksakan menjadi Perda karena berbagai masukan stakeholder belum terakomodasikan di dalamnya.

Ranperda Perlindungan Anak ini harus benar-benar menyentuh kehidupan, mendekati realitas kehidupan sosial anak Bali. Sehingga, jika Ranperda ini dipaksakan untuk disahkan menjadi Perda sebelum pemilu dengan mengabaikan pandangan stakeholder, merupakan praktik kekerasan simbolik dari panitia khusus dewan legislatif yang terlibat dalam Ranperda ini, yang harusnya berpihak pada rakyat.

Tentu para stakeholder tidak berharap hasil pembahasan Ranperda hanya akan menghasilkan wacana hipersemiotik dimana Perda yang nantinya diproduksi dan didistribusikan tak lebih sekedar menjadi “piagam” yang tidak dapat digunakan sebagai instrumen penegakan hukum bagi perlindungan anak. Intinya, Ranperda sebaiknya jangan dijadikan instrumen politik dan dijadikan sebagai trajektori kesuksesan kinerja anggota dewan legilatif sebelum realitas kebutuhan anak benar-benar dijadikan dasar penyusunan Ranperda ini.

JAMBAN BALI

Jamban alias WC (water closet) tempat khusus untuk buang hajat: tinja, kencing dan sampah perut lainnya. Ih, jijik! Jangan jijik dulu! Kalau semua sampah perut itu tidak keluar dengan baik, pastinya hidup manusia akan sangat menderita, dari diare hingga sembelit alias ambeyen. Bahkan lebih fatal lagi,  konon jika tidak berhajat dengan baik akan mengancam jiwa alias bikin orang mati. Pasien yang paling gawat sekalipun dikontrol dokter dengan memeriksa feces (kotoran perut) dan memastikan  pasiennya kentut. “Udah kentut apa belum?”. Itu akan jadi pertanyaan  dokter kepada pasien yang sama pentingnya dengan pertanyaan malaekat kepada tubuh manusia: “masih hidup, apa sudah mati?”.  Jamban menerima segala penderitaan, kotoran sebagai ekses dari pola konsumsi manusia dan menjadi ruang yang paling pribadi dari manusia modern Bali.

Jamban orang Bali pada masa kini mengalami penyempitan ruang dan makna. Dulu jamban memiliki ruang yang luas: sepanjang  aliran sungai, seluas ladang yang membentang. Ruang luas itu memanjakan orang-orang Bali untuk berhajat secara merdeka. Jambanisasi pada  era 80an merubah konsepsi manusia Bali tentang ruang berhajat di tempat terbuka menjadi  kamar khusus untuk Buang Air Besar (BAB). Ruang berhajat yang sebelumnya di ruang terbuka itu, mungkin punya fungsi yang juga luas juga untuk memupuk kebun atau untuk konsumsi hewan ternak celeng yang pada masa itu masih berkeliaran di halaman rumah.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Bali, tahun 2013 ini masih ada sekitar 12 persen warga Bali yang tak terakses jamban sehat. Masyarakat yang tidak terakses ini masih buang air besar di saluran air seperti sungai dan tegalan. Menurut Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinkes Bali, I Wayan Yogianti, capaian akses jamban sehat di seluruh Bali sekitar 88 persen. Angka ini melampaui target 85 persen dan di atas rata-rata nasional yang menargetkan angka 62,37 persen.

Kini, jamban berada di ruang sempit dan gelap dan bau anyir tak bisa ditutupi dengan pintu yang kadang engselnya telah mencantel dengan kondisi sekarat. Kapur barus di lantai tak kuat menutupi semua bau-bauan yang tak sedap dari jamban yang berkerak, berlantai  keramik tapi berlumut dan tembok yang berkelabang. Jamban duduk model terbaru yang dipajang di toilet perkantoran, tutupannya sering basah berwarna kuning bekas tetesan pipis seseorang. Jamban model baru ini memang lagi trend, tapi tidak banyak yang tahu bagaimana memakainya. Mestinya bantalan itu dipakai untuk perempuan. Bantalan jamban duduk mestinya disandarkan pada tangki airnya, sebelum digunakan untuk pipis oleh laki-laki, sehingga setelah digunakan ditidurkan kembali pada dudukannya agar tidak tampak lagi tetesan kencing yang bau anyir itu.

Pada abad ke-21 ini, “Jamban duduk” di mall-mall masih tampak bekas telapak sepatu yang artinya ada yang jongkok di atasnya. Entah, karena kebiasaan, tidak mengerti memakainya atau jijik karena kotor? Sekolah, kampus, rumah sakit, gedung pemerintahan, perkantoran bahkan bandara interansional ngurah Rai di Bali anehnya memiliki jamban seperti itu. Bupati Jembarana pun sempat murka karena menemukan toilet di kantor Dikporaparbud Jembrana  digunakan sebagai gudang menyimpan komputer bekas, mimih ratu betara! Ini sudah alih fungsi yang luar biasa!

Pada KTT APEC tahun lalu yang dihadiri sejumlah tamu negara penting harus menghadapi kenyataan toilet di daerah kunjungan wisata Bali jauh dari kata layak pakai karena kotor dan rusak. Kebersihannya tidak beda jauh dengan kualitas hiegenisnya jamban pasar, terminal dan pompa bensin (terkadang airnya juga berminyak). Tak bisa dibayangkan wajah profesor, doktor, sarjana, pejabat, pegawai , tamu Negara duduk di atas jamban seperti itu. Entah kenapa jamban dibiarkan anyir, bau dan kotoran dibiarkan mengambang karena salah cara menginstalasinya.

Di desa, masih banyak yang menggunakan jamban jongkok. Itupun diletakkan di ruang tersembunyi yang kecil, gelap, pengap dan pastinya tetap anyir. Airnya di bak tampak keruh penuh kotoran cecak, jentik nyamuk, air keruh, dan bekas sabun batangan dan pasta gigi lengket di tepian bak air. Dekorasi toilet ramai dengan pakaian kotor yang digantung dan direndam di ember. Coba saja meminjam kamar mandi di perkampungan di Bali,  tidak sedikit pemilik rumah akan minta maap kepada peminjam, karena kamar mandinya kotor. Tapi anehnya, keadaan kotor itu tidak segera diperbaiki. Jelas terjadi pembiaran, padahal itu kan sumbernya berbagai penyakit? Tampak terjadi ketidaksesuaian apa yang dipikirkan pemilik tentang kamar mandi yang seharusnya digunakan “tamu” (mestinya bersih) dengan kamar mandi yang digunakan mereka untuk sehari-hari (sudah biasa kotor).

Jamban bagi orang Bali itu tempatnya di zone “nista” alias rendahan, jadi membersihkan jamban  di rumah sendiri dianggap sebagai pekerjaan hina. Tapi anehnya, orang Bali tidak keberatan bekerja membersihkan WC hotel agar turis bule bisa buang hajat dengan nyaman, tentram dan damai. Bahkan, untuk ini mereka harus bersekolah khusus menjadi cleaning service selama bertahun-tahun dengan biaya mahal. Kebayang kan jika kamar mandi di perumahan di kampung merupakan kamar mandi umum yang digunakan beberapa anggota keluarga? Mulailah konflik muncul: siapa yang paling pantas membersihkan jamban?” Karena semua merasa tidak pantas, maka tidak ada satupun yang berniat membersihkan kamar mandi apalagi jambannya yang salome, satu lobang dipake rame-rame.

Orientasi orang Bali memosisikan jamban sungguh berbeda dengan “Nak Jawa” alias orang-orang di Jawa. Kamar mandi di tempat-tempat pemberhentian truk sepanjang perjalanan dari Ketapang menuju Surabaya tampak kinclong , minimal airnya jernih, lantainya masih kesat dan jambannya bersih. Mengapa? Karena kamar mandi bagi mereka memegang peranan penting yang digunakan untuk mendukung ibadah, berwudu. Bahkan saking bersihnya, untuk mandipun bisa digunakan.

Kapankah orang Bali bisa memiliki WC yang hiegenis? Minimal WC yang di areal tempat suci (pura) yang juga digunakan untuk pariwisata juga bersih dan nyaman agar tidak diprotes delegasi tamu penting seperti kejadian sebelumnya. Bukankah kebersihan adalah ibadah? Bagaimanapun, jamban itu merupakan instrumen penting bagi kelangsungan hidup manusia. Jambanisasi sejak era 80-an  ini tentu bukan hal yang mudah.  Perlu transformasi yang nyata untuk  membuat program jambanisasi dan kebersihan kamar mandi. Lagipula, penduduk Bali sampai saat ini masih banyak yang belum menikmati jamban di rumah-rumah mereka. Dan transformasi jamban jongkok ke jamban duduk tidak disertai pemahaman tata cara menggunakannya. Selain itu masyarakat juga perlu diajarkan untuk membersihkan kamar mandi dan jambannya secara teratur. Sehingga, kenyamanan berhajat tidak melulu diperuntukkan untuk bule, orang Bali juga bisa kalau mau. Semoga pemerintah Bali dapat mendorong perubahan outlook atau tampilan Jamban di Bali  menjadi lebih hiegenis.

Denpasar , 6 Januari 2014

Sumber:

http://www.indonesiainfrastructurenews.com/2013/10/joroknya-toilet-bandara-ngurah-rai/

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/5/6/b1.htm

http://news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=37025&Itemid=5

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=82221

Poli-Tikus

Ini negeri Indosialitikus. Negeri yang dibangun spesies Koloni Tikus, termasuk rumpun bangsa Kemayu Malasekalia, yang berbulu abu-abu. Dikenal sangat pintar berkamuflase. Penduduk negeri tikus diberi nama Poli-Tikus. Mengerat adalah ideologi tunggal negeri ini. Indosialitikus berwajah multikulturitikus. Masyarakat yang membangun negeri ini terdiri dari beragam tikus, begitu kira-kira. Dari pengusaha tikus berdasi, priyayi tikus berkerah putih hingga bangsa preman dan cecurut. Oya, anak-anak Indosialitikus sangat mencintai Mickeytikus dan Minitikus, artis negeri tetangga, Holi-Tikus. Mereka termasuk spesies tikus berbulu putih.

 
Konon kabar sejarah, wilayah dan kekuasaan Indosialitikus sangat luas. Dan cukup disegani oleh negaratikus lainnya. Itu dulu. Maklum, Poli-Tikus senang sekali mengagungkan kedigjayaan sejarah mereka. Sayang kejayaan itu rupa-rupanya runtuh, karena libido mengerat Poli-Tikus begitu besar. Semua yang disediakan negeri ini habis digerogoti Poli-Tikus. Hingga, wilayah negara mereka semakin menyempit. Bahkan, peta negaratikus pun habis dikerat keturunannya. Pulautikus, gunungtikus, di peta berlubang atau hilang  karena dikerikiti anak-anak Poli-Tikus.
 
Wajah Poli-Tikus dari Indosialitikus, selalu kelaparan. Lapar, lalu mengerat. Begitu terus menerus. Negaratikus lainnya, sampai geleng-geleng kepala. Setiap pertemuan antarnegara tikus, para petinggi Poli-Tikus wajahnya selalu memelas. Dan melaporkan kondisi kelaparan yang terjadi di Indosialitikus. Dan, sejuta kesialan-kesialan hidup lainnya. Tahun ini beritanya, Indosialitikus nyaris kehabisan stok makanan. Habis dikerat-kerat. Sawah-sawah kena pestisida, tergerus dan terendam lumpur limbah industri milik konglomerat Muka Tikus. Biji padi cuma menyisakan kulit. Rasanya pahit. Penduduk Indosialitikus takut keracunan dan tidak sudi makan biji padi lagi.
 
Petinggi Poli-Tikus dari Deputi Kementrian Pangan bersurat. Minta tolong negaratikus tetangga memberikan subsidi bagi bangsa ini. Minjam dulu deh, demikian bunyi NB/PS di pojok bawah surat pendahuluannya. Kuskalikus, masalah utang piutang bisa diurus belakangan. Subsidi datang dari negaratikus lain. Negara tetangga tak makan biji padi, lalu dikirimilah keju sebagai bantuan terhutang. Harga keju negeri tetangga dihitung dengan valutikus. Kurs mata uang terus berfluktuasi. Turun satu, naik dua begitu terus. No problem, buat Indosialitikus. Jaman gini, tidak ada uang kontan, ya dibayar barang. Lantas Presiden Tikus meminta kementrian pertambangan tikus untuk membuat daftar inventaris. Barangkali ada gunung dan pulau tikus lain yang bisa digadaikan.
 
Masyarakat Poli-Tikus mengkonsumsi makanan 100 kali lebih banyak dari negaratikus lainnya. Makan dulu baru bekerja. Begitulah prinsip hidup Poli-Tikus. Berkeringat saat makan, sepertinya satu-satunya yang bisa dimengerti Poli-Tikus. Pekerjaan yang paling berat bagi Poli-Tikus adalah berpikir. Berpikir bisa membuat satu tetes keringat, keluar sia-sia. Para Poli-Tikus tak senang berkeringat. “Malas menyekanya” begitu kata mereka. Maunya terima beres, tanpa mesti  susah payah.  Fasilitas negaratikus ini hampir-hampir semua diadopsi dari negaratikus lainnya. “Buat apa berpikir. Biar saja negaratikus lainnya yang bekerja. Toh, tugas tikus negeri ini hanya mengerati peradaban” ujar salah satu Poli-Tikus.
 
Di Indosialitikus ada sekelompok mafiosotikus. Kelompok ini terdiri dari preman dan bangsa cecurut. Mafiosotikus sangat menakutkan. Mereka layaknya teroris. Bekerja seperti bayangan hitam. Ketuanya Don Tikus, licik dan licin. Sang Don Tikus sangat pandai bicara. Sugestinya terpercaya. Don Tikus bekerja meniup-niup dan mengiming-iming kemuliaan bagi Poli-Tikus. Don Tikus sangat berkuasa di wilayahnya Sarang Tikus. Don Tikus hidup dari menjebak, menipu dan memeras. Poli-Tikus  menyebut mereka para begalitikus. Apalagi  kaki tangan Don Tikus, bangsa cecurut bertingkah bak penguasa. Meneror kesana-kemari.
 
Target Operasi Don Tikus memperdayakan Poli-Tikus dengan memakai tikus-tikus kecil. Para tikus kecil itu  juga tadinya terjebak tipu daya Don Tikus. Anak-anak tikus tak mampu membebaskan diri dari sang Mafiosotikus. Mereka dipekerjakan di brotel-brotel. Tikus kecil tak mampu mencicit. Karena, mulut  Don Tikus lebih besar dari mulut mereka, hingga cicit kecil menjadi tertelan angin. Eksploitasi dan perbudakan anak-anak dalam dunia tikus sangat memprihatinkan.
 
Kali ini, Don Tikus memasang perangkap bagi petinggi Poli-Tikus dengan Jebakan Tikus. Tujuannya jelas untuk memudahkan pemerasan. Umpannya adalah tikus betina. Target operasi Don Tikus kali ini adalah Bajingtikus. Bajingtikus pengusaha kaya dan berkuasa, mantan bupatikus. Agak senang dipuji-puji oleh para tikus penjilat. Bajingtikus ketika berkuasa, berkoalisi dengan preman dan cecurut. Berteman dengan Mafiosotikus. Don Tikus mengenal betul Bajingtikus. Dalam dunia mafiosotikus tak ada persahabatan yang abadi. Ini Politik Tikus, Bung!.
 
Apalagi sebentar lagi para Poli-Tikus akan melakukan voting pemimpin baru. Klengkus! Poli-Tikus macam begini sama sekali tak berguna. Menyingirkan Poli-Tikus busuk macam Bajingtikus tak akan merugikan siapa-siapa. Nothing to loos. ”Klengkus!” dengus Don Tikus.
 
Bajingtikus perlu disingkirkan. Ia petinggi otak udel. Pikirannya tak jauh dari sekitar udel, pupu dan pupur. Tak tahu malu. Bandot tikus tua ini cukup buas dan sangat doyan memangsa tikus-tikus betina kecil. Sekedar untuk dicicipi dan dilepeh. Rasanya sangat puas. Bajingtikus kerap menjamu sekutunya dengan hidangan  pencuci mulut tikus-tikus betina kecil. Bajingtikus menelpon Don Tikus. Minta dikirimi tikus betina pencuci mulut. Klengkus! Maka, diseretlah seorang anak tikus betina menjadi umpannya.Warnanya masih merah, baru belajar mencicit. Liur Bajingtikus sudah mengalir. Don Tikus mematok harga. Kuskalikus harga pas, anak tikus betina menjadi budak Bajingtikus. Maka dijilatinya tikus betina kecil itu. Anak tikus hanya bisa mengerang, memuaskan Si Tikus Tua hingga puas! Anak tikus ketakutan, malam-malam setelah lelah. Rebah dan resah sambil mencicit lirih di kamar motel. Tapi, tembok sepertinya telah menutup daun telinganya. Cicit lemah tak terdengar.
 
Bajingtikus sama busuknya dengan Don Tikus. Budak kecil itu lantas diperjualbelikan. Jatuh dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Jual beli budak antarkolega tikus tampak aman-aman saja. Sepertinya, perdagangan budak tikus betina bukan hal yang baru diantara para Poli-Tikus berduit. Klengkus! Istri cantik, anak sehat dan istana mewah, tak memuaskan otak udel para Poli-Tikus. Klengkus! Don Tikus tak peduli, kipas-kipas dengan duit hasil dagangan tikusnya. Ha….ha….Puas!
 
Seekor tikus betina, Kasturi, umpan Don Tikus tergelepar. Ketakutan dalam perangkap Don Tikus dan Bajingtikus. Lantas melarikan diri dari kamar motel. Segala cara dilakukan, memanjat, meloncat tembok tinggi. Berhasil. Keringat dingin menetes. Kasturi terdampar  di biaratikus. Meminta makan dan bantuan dari pendeta. “Rumah Tuhan, rumah penyelamatan. Mereka tak akan melempar aku, meski seorang pendosa” begitu harapan si anak tikus. Diketuknyalah rumah Tuhan. Tok….tok….tok. Pintu biara terbuka. Pendeta dan komunitas biara terkejut dengan keadaan anak itu. Merekapun membantu anak tikus menceritakan kejadian yang menimpanya. Percakapan pun di rumah Tuhan. Bisik-bisik, senyap. Tiba-tiba pecah suara tangisan. Kira-kira 30 menit, lalu lampu biara dipadamkan. Hening.
 
Pendeta dan komunitas biara menjadi telinga Tuhan. Mereka melaporkan peristiwa itu pada petinggi komisi keamanan dan perlindungan anak tikus. Komisi itu menyelidiki peristiwa itu. Perdagangan anak tikus dan perbudakan sudah sedemikian parah. Sungguh menyedihkan. Don Tikus dan Bajingtikus bukan tikus sembarangan. Kekuasaannya luar biasa, nyaris tak bisa disentuh hukum. Inilah dunia mafiosotikus. Mereka bersembunyi dalam benteng rumah mereka. Komisi perlindungan anak tikus mengerahkan bantuan. Pantang menyerah mendesak agar para Poli-Tikus mendukung upaya perlindungan hukum bagi anak-anak tikus. Kuskalikus, badan investigasi kepolisian tikus mengusut kasus tersebut dibantu para kulitikus (sejenis wartawan, dalam dunia manusia). Sretsretsret….tulisan kulitikus menjadi pedang penyambung lidah. Peristiwa perdagangan budak menjadi berita. Don Tikus dan Bajingtikus ditangkap. Poli-Tikus menjadi resah, gelisah dan ada juga yang meradang. Merusak citra Poli-Tikus. Klengkus!
 
Hanya saja, di Indosialitikus, mengerat adalah ideologi tunggal. Kuskalikus, suara kebenaran menjadi berlubang. Yah.. itu itung-itungan kuskalikus. Siapa yang kuat dia yang berkuasa, lantas mengerat (istilah lain untuk menindas). Memang ini hanyalah masalah kekawatiran saja. Namun, di negeri ini segala sesuatunya memang mengkhawatirkan. Para Poli-Tikus menjadi paranoid. Apalagi, iklim perpolitikan tikus suhunya makin meninggi. Poli-Tikus diserang demam tikus. Kuskalikus, keputusan ditangan para Poli-Tikus. Kita lihat investigasi selanjutnya. Klengkus!

BABAD KERATON

 
 
Mpu Tankelingan menyurat Babad Keraton. Beliau, putri dari Mpu Nirdon, abdi dalem istana. Mpu Nirdon diakhir usianya adalah pendamping setia Sang Raja. Mpu Nirdon, mangkat-moksa. Pada putrinya, beliau berpesan  untuk menyurat sastra Babad Keraton.
 
Dalam babad, tersurat sirat kehidupan Keraton Puri Cemeti. Kisah bermula dimasa waituki, warsa 2000. Bagawanta, pandita penasihat kerajaan baru saja menasbih raja. Pangeran Manik Mas  kini bergelar Sri Paduka Manik Mas Cemeti. Mahkota  keratuan telah digelungkan di atas prabhu, Sang Raja baru. Sah. Penobatan raja diikuti pemberian gelar bagi para senopati, panglima, prajurit serta kerabat setia raja. Mereka menjadi abdi dalem raja, wang jero. Sah. Kekuasaan Keraton Puri Cemeti sungguh luar biasa. Sang Raja dan permaisuri tampil biasa-biasa saja. Tetap memiliki taksu wibawa. Namun, kuasa kerabat dan  prajurit puri rupanya sangat menakutkan. Di luar benteng istana, mereka tampak lebih berkuasa dari raja. Mereka semua bertato rajah cemeti. Jelata, wang jaba yang tinggal di luar benteng kerap meringis jika para kaki tangan raja itu  berkelebat. Karena, tak sedikit dari mereka sering bertingkah dibalik kuasa raja. Petantang petenteng pamer tato badan agar mendapat wiski dan menjarah gadis-gadis kembang di brotel-brotel. Gratisan. Sah. Skandal keraton semenamena. Basah. Jelata tak bersuara, diam sambil melengos. Mereka berpikir sedang memiliki seorang Prabhu Drestarasta. Kaki tangan raja bagai Kurawa. Meresahkan. Diam itu emas, dari pada kena lecut para centeng. Bikin susah. Suaka raja hingga ke desa seberang. Keraton tetangga, yakni Puri Rindang Sabo, Puri Sekar Kemoning merupakan sekutu terkuat dalam catatan sejarah Puri Cemeti.  Pertalian yang dibangun dalam pertukaran cincin perkawinan kuasa. Sah.
 
Geger Keraton.
Pada suatu ketika, warga puri gelisah. Kudeta di siang hari bolong. Hianat menjadi kiamat, begitu kata sejarah. Menyurat babad pertikaian perebutan mahkota raja. Basah dengan air mata duka. Ikatan dinasti kembali  dibabat kerabat. Sret. Pertalian sepupu dan sepersusuan dibayar darah. Di halaman keraton terjadi perkelahian raja melawan adipati. Mereka bertarung seperti dua ekor ayam aduan. Tabuh rah. Tangan raja bersimbah darah. Merah. Mengucur dari tubuh adipati, saudara raja lain ayah. Musuh tersungkur mencium tanah. Rebah. Di ujung keris, raja selamat. Begitu juga permaisuri dan putra mahkota. Dinasti dan martabat berwarna merah. Benteng puri retak, mesti tetap dijaga. Singgasana seperti api. Membakar pantat sang Raja.
 
Raja terkejut dan murka. Namun sudah terlambat. Raja mesti selamat dalam permainan catur. Raja  diungsikan dari puri dan singgasananya. Sri Paduka Manik Mas Cemeti, pergi menyelamatkan  mahkota dan umbul-umbul kerajaan. Menjadi refuji mencari suaka ke Keraton Puri Rindang Sabo. Tentu saja, Puri Sekar Kemoning menyetujuinya.  Jelata Puri Rindang Sabo dan Sekar Kemoning menjadi penonton. Keraton yang resah. Skandal istana tersingkap ungkap. Byar. Terang. Rakyat bergunjing. Raja tetangga telah menjadi pembunuh! Sah. Itu dulu. Sekarang ya, tidak sah.
 
Pada masa pelariannya, Sri Paduka Manik Mas Cemeti tenggelam dalam kepedihan. Raja menyepi di kerajaan yang bukan rumahnya. Asing terasing. Seperti orang buangan. Beliau dengan tangan berdarah membawa luka hati, martabat yang terkoyak. Raja menangis, seperti jelata lainnya. Manusiawi. Noda yang tak pernah dikehendaki menjadi tabir gelap Keraton Puri Cemeti. Menjadi catatan hitam sejarah puri. Sekian abad dijaga, tinta merah tertumpah juga. Menjadi warisan dendam beranak-pinak. Tangan berlumuran darah ternyata tak bisa dibilas.
 
Sementara, Keraton Puri Cemeti menangis darah. Para perempuan istana terisak pasrah. Mereka bukan penentu nasib. Raja dan adipati adalah keluarga. Penguasa. Kini keduanya tak ada lagi. Satu menyelamatkan diri. Dan, satu lagi, tewas. Ratu lingsir, nenek sang raja termangu membisu. Permaisuri raja dan adipati  keduanya pasrah berlinang airmata. Saling tak bersua, seperti kewajiban. Meski, mereka berdua tak tahu mengapa. Kuasa perempuan puri, sepertinya hanya untuk merangkul kematian dan kepedihan. Diam dan terdiam. Perseteruan kaum laki-laki. Kuasa yang membinasakan nurani. Tak ada kata kecuali air mata dan kediaman yang sunyi. Dendam para perempuan adalah bara. Menunggu waktu meletup menjadi api lalu membakar. Rahim  kelak menjadi senjata pemusnah.
 
Para abdi dalem, wang jero  bersepakat menyerahkan keputusan pada Bagawanta, pendeta Istana. Sang pandita datang dan berdiri ditengah-tengah. Berjubah putih menuju tanah berdarah. Beliau, Maha Resi Wikan meminta para rabi atau sang permaisuri, selir,  wang jero pasrah dan berserah pada suratan perjalanan karma. Dendam adalah dosa. Bilas dalam air suci dan mantra doa. Keluarga adipati yang mangkat mengangguk dalam diam. Berharap akan ada pembalasan. Jiwa dibayar jiwa. Kali ini mereka pasrah. Kelak tak akan menyerah.
 
Sang Bagawanta meminta wang jero menyiapkan upacara yang sepantasnya bagi Adipati yang mangkat. Jasad Sang Adipati diusung menuju ke tanah tua,  Gandamayu. Istana terakhir bagi jiwa-jiwa penebusan dosa. Dari tanah menjadi tanah, dari debu menjadi debu. Moksa. Hidup yang usai. Sri Paduka Manik Mas Cemeti diminta kembali ke istana oleh Bagawanta. Keselamatannya dijaminkan dalam perlindungan para abdi dalem keraton. Masa pelarian telah usai. Raja kembali dijemput rakyatnya yang setia. Diarak tambur menuju benteng istana. Dikawal prajurit yang menepuk dada, menjadi martir bagi Sang Raja. Permaisuri dan putra mahkota menyambut gembira. Hadirnya suami dan ayah tercinta. Raja kembali. Keistananya. Rumah, nafas yang dikenalinya. Bagawanta datang memberikan doa dan air suci, mencoba membilas kenangan usang Sang Raja. Pada masa-masa suram yang berdarah.
 
 
Puri, istana raja.
Malam-malam raja sendirian. Masih merasa asing di rumah sendiri. Setelah sekian masa ditinggalkan. Merenung berjuta peristiwa. Tak ingin seperti ini. Hidup menghisap udara dendam yang mengambang dipermukaan. Mereka yang pasrah hari ini adalah mereka yang tak akan menyerah esok lusa. Sri Paduka Manik Mas Cemeti menghela nafas. Sadar. Jiwa dibayar jiwa. Hukum hutan semesta. Tidak hari ini, mungkin esok hari.  Sang raja menatap permaisuri dan putra mahkota, yang tertidur pulas. Raja berharap-harap cemas. Pada dinasti yang bersimbah darah. Noda yang tak terbilaskan.
 
Sri Paduka Manik Mas Cemeti memutuskan mengasingkan diri untuk bertapa. Menjadi seorang pengawi, menyurat syair. Mengasah kuasa menjadi rasa dalam bahasa. Menaklukan hasrat lewat kata-kata. Kelak Sang Raja berakhir menjadi pandita dalam pertapaan sunyi. Dan, putra mahkota berbekal sastra. Warisan terakhir sang ayah. Babad Keraton inipun berakhir dalam doa pembilasan dosa bagi sang raja-pandita. Babad Keraton, Tankelingan, Waituki 2000.
 

JEG MASEPUK!

Tengai tepet.
Behbeh dewa ratu. Jalane buin macet. Ada apa ya miribne? Kene panes gumine, ebuke nglayang nekepin mata. Asep knalpot pisagane jeg ngentut selem pas diarep muane. Makita jegeg, jeg payu  daki muane. Peluh ken ebuke madukan. Misi men mecampur teken pupure ane putih. Yen kene undukne, apa deweke orahina nekepin mua? Pang jeg mata dogen ngenah? Kaca helem srobonge buram. Yen anggo sinah tusing nepukin apa. Peteng detdet. Nyeredet. Yen keto undukne.. dong pocol deweke mapayas. Ehem.. apang ada ja masih anak nyeledetin. Beh-beh…jeg masepuk!
Sing kene sing keto jeg mabaju ninja nasne. Pang jeg karuan mata dogen kelak kelik. Kola yen keneh-kenehang, mirib luwung masi asanange keto, ya? Liu sajan anake luh takut gati kena matanai cara janine. Takut selem, kone. Jeg yen putih cara pamor, cara tacik-tacik Korea mirib lega kenehne. Sekancan obat pemutih suba liu anake ngadep. Ada obat mecap Warna Gading ane nyidayang ngaenang kulit seleme makules dadi putih. Luh-luhe makejang dot jani dadi lelipi, kulitne makules, melengis ulian merkuri. Sing peduli suba dampakne kena kanker kulit. Yen sing miluin keto, sinah kurenanne nguber pisagane ane muane mengkilat ngae ulap. Kenyah-kenyah.Keto kone anake luh luih cara jamane jani. Jeg Masepuk!
Nuju Pempatan Suci.
Lengis miyik tur parpum anake dijalane, sing karuan-karuan suba bonne dicunguhe. Ebo peluh, ebo  cuka jeg rasane patuh dogen. Masem. Kleng. Jalane jani misi masepakan. Apa ya gaene pemerintahe. DSDP pragat molongin jalan. Cara lelawah molongin buah. Setata dadi satua tawah. Yen ipidan masyarakate pragat melungguhin PLN ajak PDAM nyongcong jalan. Jani DSDP. Buin pidan kaden pragat. Apa kone gunane. Yen takonang masyarakate, jeg sing suba nawang unduk. Pragat masyarakate orahina mebalih ajak pamerintahe. Proyek pegaen para intelektuale. Apa kone luwungne mebalih anak nyongcong jalan aspal? Bolonge jeg ngelikadin mata dogen. Enu asane luwungan mabalih bolong cunguh padidi. Karuan yen daki, congcong tur kedasin. Apang tusing matapuk. Hacip paras….bangkes-bangkes baane teken ebuke totonan. Jeg masepuk, Puk!
Sabar.. sabar..buin akejeb akijepan dong cingak pengkolane. Nah, buin telung meter dogen bakat suba jalane. E…e…konden lega bayune nepukin pengkolan, ada kijange saling korot ajak bebek di sampinge. Behbeh.Pengangon kijang ajak bebeke tuwun matungkas munyi. Majaljal saling tudingin. Saling ngedengin surat-surat. Komplit. Pang jeg rame, pang ngenah sing puas, pengangon motore saling pajengkingin. Jani magerengin nyen maluan ngorot kulit pagelahanne. Pada sing nyak ngalah, uyut gede suba dadine. Gumine ngancan panes. Aget ada anak ngelah inisiatip ngidih tulung ajak polisine. Ane lenan mabalih anak majaljal. Nah, pang ada satuang keto mirib kenehne.
Ane lenan mebalih polisi. Kadenange selebritis? Tusing, kadenanga sedeng nilang. Apa ada razia ne? Pang melah ben nyaru-nyaruang. Kirig-kiring pang nyidayang melaib. Soale, sing ngaba pis, sing tis asane. Beh. Jalane ane telung meter jeg sayan ngejohang dogen asane. Jani, jeleme masuksuk mebalih anake makencalan. Miribne, mebalih ento enu luwungan asane ken mebalih proyek DSDP. Deweke suba tusing nyidayang makirig ulian tekepin motor teken bemo. Terpaksa milu, nyeledet mabalih. Deweke ngaba ja surat-surat kola, suba kadaluarsa. Aget sing ada razia, puk. Polisine sregep ngurusang anake majaljal. Jeg nyak maka dadua dame-dame dogen. Apa ya pekakas polisine ento. Lega milu asane.
Jani suba gantine ngidang ngeliwat. Sopire bemone suba misuh-misuh.” Jeg masepuk! Apa ya aliha majaljal tengai tepet. Jeg cakcak nasne!”. Deweke matolihan. Sopire ento misuh, ngeleketik paesne di kaca helem srobong deweke. Kleng! Kola dalam hati dogen. Soale, kumis sopire jembe. Awakne mokoh metato jantung di tengawane. Behbeh.. pak sopire sinah mengutip lagu Nano Biroe ento. Baang ngeliwat malunan, jit bemone matulisan Beli Lacur Luh. Buwung deweke gedeg, payu makebris, makenyem.
Jam 12.30
Matanaine enu dogen nelik. Sing tawanga basange seduk, kriyak kriyuk. Pengkolane suba liwat. Jani suba nepukin setra. Nak seken ne! Setra Gandamayu di Tegal. Jani musim nak mati. Sori, pelih. Liu anake ngelah gae kematian. Jeg suba pasti nekepin jalan. Yen tuwah nekepin jalan, ngaba wadah anak mati, beh suba biasa. Kola yen misi ada anak ngelah kematian tekepina jalan, tusing baang ngaba bangkene mulih ke tanah wayahne, ene mara jeg masepuk! Bangke kone pagerengin. Engsap jenenge iraga enu nyilih angkihan teken ida betara bayu. Sing pedaleme ja anake ane ngelah bangke. Ngeling sigsigan.Kelangan gegelan, kurenan, meme-bapa, ada masih ane kelangan mitrane. Kelangan anak ane ajake idup sewai-wai. Kelangan timpal metungkasan, lakar tusing taen tepuk buin. Ane kelangan pis suba pasti rentenir. Bisa-bisa ngeling kelangan pipis anake ane mati mautang ajak dewekne. Lakar tagih utangne ajak kurenane, keweh, panakne keweh. Rentenire misuh “ jeng masepuk!”
Mati saja tusing keweh. Suba mati apa ya tawanga. Ane keweh ento nyalanang idup. Suba luwungan ngaba dewek, enu masi nemu sengkala. Kenken ja yen jele ngaba bikas? Mirib jeleme ane dadi bangke dugase idup jeg ngedegin basang banjar. Kanti tusing baanga bangkene ngliwat di jalan. Bes pengkung ngerurung kanti puikin tur kasepekang banjar. Mirib ia dugase idup kena bebai buta bongol cara bedogol. Jeg mirib..mirib dogen suba rawose jani. Aget ajanian deweke tusing taen nyingakin kasus cara keto. Deweke nawang ada anake lacur dimatine cara keto ulian satua I koran. Maca koran jeg nyapnyap baane kenehe. Buin pedalem  bangkene ento. Buin kekenehang banjare ane nyepekang. Demokrasi cara jani .. suara terbanyak ane paling benehe. Keto malu. Panes polone ngenehang. Korane jeg mula lamis. Data-data ortanga. Uling kasus pabrik miras, tajen kanti anake makoncrengan tulisa. Dewa cekian melaib. Babotohe tiarap. Anake makoncrengan tangkepe. Soale sing sah kone adane. Laporanga ka polisi unduk mamitra ajak kurenane. Ento mara anak eluh mula sadar hukum. Tagiha hakne ane pakidihange ajak kurenane ken mitrane. Ken kone keadilan? Sewaiwai pules ajak anake lenan. Kurenan padidi baange ngetuhtuh. Kenyel ngantiyang kurenan mulih. E.. e.. mulih kaumah pisagane. Jeg masepuk!
Anake mati bunuh diri liu masih. Suba baanga idep ken betarane, misi med kone. Jeg ajum sajan dadi jadma. Liu jani anake gantung diri. Masebeng romatis demi cinta. Masebeng Jayaprana jak Layonsari mati magelut bunuh diri. Panake bajang minum portas ulian nanangne sing setuju matunangan. Jeg cara gagelane dogen paling jegege tur paling baguse. Behbeh.Dong keweh gati dadi anak tua jamane jani. Tusing dadi panake ajak tusing ngelah. Mara sing baange pipis dasa tali suba nekain rerame ngaba tiyuk. Mara gesahanga ajak timpalne, lek lantas nyemak tengkalung lantas megantung. Engsap jenenga idepe ane taen silih sepatutne uliang baik-baik. Nang mati baik-baik apa.
Pempatan Pemedilan.
Saja suba. Jalane masetop ajak pecalange. Banjare ngaba wadah anak mati ka semane.  Marerod anake nututin. Mirib dugase anake ento mati enu idup rajin mabanjaran, liu sajan anake nututin. Ngetel peluhne cracat crecet. Deweke masih ngetelang peluh. Majemuh ngangon motor. Ngantosang anake liwat kesemane. Ada masih anak sambilang majemuh cara deweke nelpon nganggo hape. Deweke milu ningehang. Krimik-krimik anake ento. Gagelane magandeng ningehang. Kola asananga gagelane tusing ngerti basa Bali. Ningehang dogen di sampingne.
“Kenken, luh? dija antosang bli? paak sekolane? jam kuda? jani? Behbeh, de anake keto. Sing nyidayang jani. Jalane macet puk. Apa? Tusing saja keto. Tresna Bli tuah baang I Luh. Ane ajak bli ibi ento nak misane mara teka uli Jawa. Nak megae di  kafe. Bli ngatehang ibi petenge mulih. Iya nak sing ngelah motor.Ngidih tulung jak Bli. Bli jani ngandeng nyen? Sing ada. Anak Bli padidi”. Beh, jeg masepuk anake muani ene. Suba karuan ngajak anak luh enu masi ngorahang padidian. Sajan layahe tanpa tulang.
Konden ilang ketelan munyi deweke, laut ada anak nyagjagin anak muani ento. Tuwun uli mobil di sampingne. Nyapatin muanine ane sedeng nelpon. Anake ento ngaba masi hape. Sambilanga nelpon sambilanga majujuk di arep muanine ento. Gagelan muanine  tengkesiap. Makecog uli motore, lantas siyep. Muanine ento tengkejut.Lantas makirig ngalih tongos parkir. Uli mobile tuwun rombongan jeleme ngaba kamera. Beh-beh ne mara acara Realiti Show paling gress. Pang sepalan nangkep tunangan selingkuh, pang maan pipis tur bisa pamer ken timpal-timpal taen masuk tipi. Anake muani ajak anake eluh totonan majaljal. Ane muani ngidih kapelihan. Maka dadua anake eluhe ento ngetelang yeh mata. Kenken panyuwudne, deweke tusing suba nawang. Ngancan liu anake mabalih, ngancan macet jalane. Anake ke sema suba liwat. Ring hana ring hanu, deweke luwungan melaib mulih.Basange suba seduk. Mebalih anake ane masuksuk, jeg masepuk!

SIMPANAN

“Mereka keluarga yang harmonis” kata Mutiara padaku sambil menghisap rokok  kesukaannya. Asap kelabu bergelung di atas kepalanya, berputar lalu lenyap.

“Kok kamu tahu? Harmonis bagaimana?”

Mutiara sahabatku sejak kecil menyahut santai “Yaiyalah aku tahu! Anak-anaknya sudah beranjak remaja dan kuliah, tetapi mereka tetap bersama. Bahkan Sabtu-Minggu, Bapak tidak bisa diganggu karena itu adalah waktu untuk keluarganya” .

Mutiara bersandar disofanya yang hangat. Sesekali tampak ia menghembuskan asap rokok itu ke arah langit-langit  rumah kontrakan mungilnya yang cozy. Mutiara baru saja bercerai dan aku baru saja membina rumah tangga. Setelah satu dasa warsa, kami bertemu di facebook dan saling mengobrol. Sesekali aku menemui Mutiara mengisi waktu karena suamiku bekerja di kapal ikan. Tapi, Mutiara lebih sering menelpon. Ia lebih senang aku berkunjung ke rumah kontrakannya.

Minggu siang itu, kami berencana pergi mencari tempat nongkrong untuk sekadar minum coffe latte dan mencari suasana baru. Sambil menunggu mobilnya yang  tengah dititipkannya di salon, Mutiara dan aku saling bergosip tentang berbagai hal, termasuk tentang 9 tahun pernikahannya yang gagal.

“Aku tak mau bernasib sial seperti perempuan lainnya. Beruntung, selama perceraian ini aku mendapatkan hak-hakku. Waktu menikah, aku bekerja dan menabung. Jadi, ada-lah sedikit simpanan. Dulu, aku juga membuat perjanjian dengan suami, sehingga ketika aku mendapatkan musibah seperti bercerai, aku tidak begitu terguncang. Tidak banyak sih?! Mantan suamiku lelaki yang baik. Ia memberikanku mobil, beberapa perlengkapan rumah tangga dan juga sejumlah uang cukup untuk membangun sebidang rumah. Karena itulah, aku minta kamu untuk membantu aku, Mira”

Benar juga kata Mutiara. Perempuan menikah, lupa dan bahkan tidak tahu hak-haknya  dalam perkawinan. Simpanan pun tak ada, sama seperti aku saat inilah! Mutiara memberikanku inspirasi untuk membuat tabungan. Perjanjian dalam perkawinan antara aku dan suami, sepertinya harus mulai kupertimbangkan. Banyak kaum perempuan yang bercerai, nasibnya seperti pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mereka kehilangan hak asuh anak, tidak punya harta, dan hidup terlunta-lunta. Slip gaji kantor perlu juga ditunjukkan di hadapan hakim pengadilan? Yaiyalah, ini kan penanda kaum perempuan juga bisa memberikan jaminan sosial bagi anak-anaknya. Lagian hari gini, siapa juga yang mau menampung janda, tanpa harta?! Mutiara, wanita cerdik ini selamat dari neraka itu. Dan kini, akulah arsitek yang akan menggarap rumah idaman yang akan dibangun dari duit pembagian gono-gini.

“Aku salut sama kamu, Mutiara. Bagaimanapun, kamu cukup tegar menghadapi perceraian ini. Perjanjian nikah itu penting juga, ya? Masalahnya, banyak yang malas mengurus ini, mereka takut dikira menikah kok seperti dagang, jual-beli“.

Mutiara merapikan mayang terurainya yang basah habis keramas, berujar  datar “Aku tidak setegar yang kamu kira, Mira. Tapi perkawinan, terkadang membutuhkan perhitungan yang cermat tentang waktu dan uang. Jika kita tidak berhitung untuk musim bencana yang menyakitkan, itu namanya kebodohan. Bayangkan! Istri-istri setia ditinggal kabur suami dengan perempuan lain, mereka kehilangan segalanya: suami, anak-anak dan harta. Nasib mereka justru lebih menyedihkan dari pelacur! Pelacur saja, sekali mengangkang, pura-pura orgasme, langsung dapat bayaran. Istri yang diceraikan suami dapat apa, coba?! Mereka cuma kebagian lebel janda, status cerai hidup! Kenapa juga mesti disebutkan begitu di KTP, yah?”

Bibir kering Mutiara kebanyakan merokok ini menggetarkan kenyataan getir hidup seorang janda. Apalagi, ketika janda muda itu menjalin relasi baru dengan seseorang, kemudian merencanakan pernikahan, status “cerai hidup” sungguh memalukan!

“Sebenarnya, kamu bercerai karena apa, sih? Setahuku kalian hidup mapan dan selalu mesra“ tanyaku ingin tahu.

“Suamiku menghamili pembantuku. Sedangkan, aku tak mampu memberikannya keturunan. Sempat sih, aku hamil. Namun selalu, janin itu menjadi darah. Katanya, aku lemah kandungan tetapi tetangga malah bergosip jabang bayiku dijadikan tumbal oleh mertua. Mereka berkata begitu, karena mertuaku lumayan kaya. Aku mencoba bertahan menjadi menantu, tetapi keguguran itu sungguh menyakitkan! Aku gagal! Aku tak mau larut dalam kepedihan dan akhirnya kami berpisah baik-baik”. Mutiara melumat puntung rokok di asbak berabu dan menyulut rokok baru untuk membuang resahnya saat mengingat masa lalu.

“Dan, bagaimana hubunganmu dengan istri bapakmu?” Aku mencoba mengalihkan kembali pikiran karibku agar kembali pada hari ini.

Mutiara melipat kakinya yang jenjang dan menopang dagunya di tangan sofa “Oh, hubunganku dengan istrinya baik-baik saja. Ibu itu istri yang mapan, dan dia begitu percaya pada suaminya. Atau tepatnya, dia tak peduli dengan aktivitas suaminya. Yaiyalah?! Suaminya kan sudah memenuhi segalanya, memberinya kemewahan dan kemapanan. Berlian, emas, deposito, tanah, rumah atas nama istri, apalagi?”

Penasaran juga dengan cerita Mutiara, akupun bertanya “Tapi, kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana tentang kamu dan Bapak? Apakah ia memberikanmu cukup waktu dan perhatian?”.

“Mira, aku tidak begitu memusingkan itu. Kerjaanku di kantor banyak. Komunikasiku dengannya cukup lewat bébé dan yang penting aku memiliki waktu dan jaminan yang berkualitas. Itu jauh lebih memuaskan”.

“Bagaimana dengan masa depan?”.  Aku masih mengejar Mutiara dengan pertanyaan karena aku masih mengeja kisah Mutiara setelah berpisah dengan suaminya. Maklum begitu banyak masa yang tidak kami lalui bersama.

Mutiara mengangkat  kedua alis matanya yang tebal  tanda tak begitu memusingkan hal itu. “Siapa juga yang tahu masa depan? Siapa juga yang berharap menemukan nasib sepertiku? Menjadi janda kembang? Kalau bukan karena musibah ini, mungkin aku juga tidak tahu mengapa janda-janda begitu menggairahkan. Dan, mengapa istri-istri setia takut dengan kehadirannya? Kamu tahu, Mira? Ketika menjadi istri, kita lupa merawat dirinya, sibuk mengurus keluarga. Dan ketika menjanda, barulah perempuan mulai sadar diri dan usia, baru punya cukup waktu  merawat penampilan, minum vitamin dan jaga body agar tampak fit. Ya seperti aku-lah, sekarang ini!”

Mutiara merebahkan badan dan menyelonjorkan kakinya yang jenjang di sofa panjang, lalu menghisap rokok filternya dalam-dalam. Mutiara baru saja 31 tahun, ia menjadi ranum, memiliki karir yang berkilau dan pribadi yang menarik. Meskipun demikian, Mutiara juga tipe perempuan rumahan yang lebih senang menikmati kesendiriannya dengan fasilitas yang lumayan komplit. Mutiara mengaku padaku masih mengurung diri dan  menyesuaikan diri dengan stigma masyarakat tentang status ke-jandaan-nya.

“Bapak menjamin keluarganya dan aku. Tugasku hanya duduk manis di rumah ini. Aku mendapat jatah sangu sebulan sekali, sebesar gaji bulananku. Lumayan untuk belanja bulanan! Dan yang paling penting, setiap Bapak pulang, aku menyambutnya dan menerima jatah batin darinya. Hubungan seksual kami membara. Dia bilang, ranjang istrinya terasa dingin dan hambar, itu sudah sejak lama. Bersamaku, kami berdua di puncak ekstasi dengan variasi dan sensasi. Bapak menjawab setiap tantangan yang aku berikan di berbagai tempat, berulang kali hanya dalam dua malam saja. Dia lelaki yang hot, panas. Itu sebabnya, aku tidak begitu keberatan menjadi teman bermain Bapak dan tidak ingin berpisah dengannya. Aku sadar jika kami begitu berjarak usia dan waktu. Tapi, akupun tak bernafsu memilikinya”

“Kamu yakin ini akan berlangsung lama, Mutiara?”

Mutiara menarik nafas dalam-dalam. “Sejak aku berpisah empat tahun lalu dengan suamiku, lalu bertemu dengannya di suatu tempat, tidak ada yang berubah. Ah, hubungan kami telah berlangsung selama ini, dan semuanya baik-baik saja. Aku tidak berharap Ibu tahu hal ini. Jelas, Bapak akan berada dipihak istrinya. Dan, aku tak terlalu berharap banyak, sih? Jujur saja aku ingin Bapak ada denganku selamanya, meski tidak setiap waktu. Kurasa aku mencintainya karena kepuasan yang diberikannya”.

Terdengar bébé berkelenting berulang kali. Pertama itu dari salon mobil. Mutiara mengirim seseorang untuk membawa mobilnya pulang. Kelentingan kedua, tentunya dari Bapak yang menanyakan keadaan Mutiara. Lalu, Mutiara mengetik pesan pada kekasihnya tentang kedatanganku yang akan menggarap proyek rumahnya dan rencana kami berdua untuk pergi ke kafe. Pesan ditutup dengan kode ciuman mesra, tanda pesan berakhir. Luar biasa, Ilusi teks yang terasa begitu nyata.

Mutiara mengelung rambutnya yang panjang, menggulung gambar rumahnya dan kamipun bergegas pergi. Kurasa, Mutiara telah mengalami banyak hal dalam hidupnya dan aku tak berani mencampuri urusan ini. Lagipula, aku baru saja mengarungi bahtera, masih buta membaca pasang dan surut musim perkawinan. Terngiang saran Mutiara untuk selamat dari badai perceraian: perempuan perlu punya simpanan. Deposito, tabungan, emas atau apa sajalah, asal bukan “simpanan” lain! Oh, yang terakhir mungkin terlalu berbahaya, tapi who knows-kan? Mahligai Mutiara tak seindah yang dibayangkan,  bekasnya hanya menjadi kenangan  usang. Bagaimana dengan aku?!  Entahlah.

BIRAHI MERAH

Mang Denik tumben mampir ke tempat kosku. Ia masih sepupu jauh dari kampung. Kami berdua sama-sama merantau di kota ini untuk mengejar impian masing-masing. Aku menjadi guru dan Mang Denik menjadi pemandu wisata. Meskipun tinggal berjauhan, kami masih saling mengunjungi untuk berbagi berita dan rejeki.  Kami masih sama-sama lajang, dan sering meluangkan waktu sekadar cuci mata bersama. Pacar ada sih, tapi lebih enak kumpul-kumpul dengan keluarga dan kawan sekampung, sekadar membunuh keterasingan.

Senja ini, Mang Denik tampak tergopoh-gopoh datang ke kos. Ia meminta agar besok lusa aku mesti membuat jadwal cuti karena ada parum agung, rapat akbar di kampung. Tentu saja aku kaget, tidak biasanya desa menggelar rapat semendadak ini, lagi pula perayaan desa baru saja usai.

“Lusa, kita berdua mesti pulang kampung, penting! “ demikian perintah Mang Denik kepadaku sambil menyeruput kopi panas, mencicip sepiring penganan pisang goreng dan ote-ote kesukaannya.

“Yang benar saja? Perayaan desa kan udah selesai, lagi pula lusa nanti aku  mesti memberikan les tambahan untuk murid-muridku”. Tentu saja aku mesti memberitahu Mang Denik tentang hal ini.

“Harah, undur saja jadwalmu. Di kampung lagi genting, tauk! Sepupumu, Si Degeng  ditangkap pecalang kemarin sore. Akupun mesti pulang gara-gara Degeng, huh… ” Keluh Mang Denik dengan mulut berminyak penuh gorengan, membawa kabar yang tak mengenakkan hatiku.

Degeng seperti namanya kecilnya, sosok sepupu yang patuh, tak banyak cakap, pendiam dan tipe pria rumahan. Mendengar kabar sepupuku ini ditangkap pecalang keamanan desa kami, tentu itu seperti petir di siang bolong. Apalagi, Degeng baru saja menikah dan setahuku istrinya sedang mengandung 4 bulan.

”Ha…, apa masalahnya sampai sepupuku mesti mengalami nasib naas begitu? Apa salahnya?! ‘’

Mang Denik menarik nafas dan mencoba menerangkan dengan merendahkan nada suaranya ‘’Sore kemaren, sepupu kita itu tertangkap sedang bersetubuh dengan sapi betina peliharaannya!”  

Jeder! Suara halilintar seperti terdengar tepat diliang telingaku. Kaget, tentu saja! Aku yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak, hampir saja menyemprot muka Mang Denik. Cerita ini membawa pikiranku ke jejeran ruang sempit di warnet-warnet dekat kampus. Apa  yang diceritakan Mang Denik, begitu mudah diunduh di layar komputer. Tayangan manusia bercinta dengan berbagai binatang dengan beragam gayapun ada. Tontonan bokep, film porno seperti itu malah lebih heboh dan bervariasi. Cukup  di down-load saja.

Tetapi, berita ini menjadi berbeda! Tak bisa kubayangkan peristiwa itu terjadi pada sepupuku, Si Degeng! Tak bisa kubayangkan bagaimana petani ini digiring masyarakat ke balai desa untuk disidangkan karena peristiwa memalukan semacam itu. Dewa Ratu! Si Degeng bersetubuh dengan hewan ternak peliharaannya! Dan, bagaimana perasaan istri dan keluarga? Haruh, akupun jadi turut cemas memikirkan hal ini, tapi aku ingin Mang Denik melanjutkan kabar anyar dari kampung.

”Degeng mengaku dihadapan para tetua adat, bersetubuh empat kali dengan sapi itu. Dia mengaku waktu bersenggama ia tengah membayangkan sapi betina itu seorang wanita cantik. Degeng yakin, pastinya wanita cantik yang menggoda dirinya hingga birahi itu mahluk jadi-jadian. Lalu, warga desa pun setuju itu adalah mahluk halus. Terus, mereka juga menyimpulkan bahwa Si Degeng melakukan persetubuhan dengan sapi itu karena rayuan hantu binal yang merasuki tubuh sapi itu. Apalagi, kandang sapi itu sangat serbi, sunyi. Itu sebabnya, kita diminta hadir untuk memutuskan kapan pelaksanaan upacara adat pembersihan desa dapat kita laksanakan. Yang jelas, sepupu kita itu diputus bersalah melanggar hukum adat, gamia gamana  atau  salah krama” Mang Denik merangkum informasi yang ia dapatkan dari para kerabat kami di kampung.

”Ada-ada saja kamu ini, Mang! Jelas saja Degeng bercinta sambil membayangkan sapi itu manusia, perempuan cantik. Bercinta juga butuh fantasi, kan? Kasihan sekali mahluk halus yang dipersalahkan manusia karena dalih dan kelakuan Degeng ini. Mungkin saja mahluk halus itu tidak tahu apa-apa. Dasar Si Degeng saja yang tak mampu mengendalikan birahinya. Apa tidak sebaiknya Degeng ini diserahkan kepada dokter? Siapa tahu dia mengalami gangguan kejiwaan dan orientasi seksual yang menyimpang? Lagian kamu kan suka nonton bokep, masak kamu tidak pernah melihat adegan begitu?” gerutuku pada Mang Denik, sembari menyalakan televisi sebagai selingan.

Entah kenapa, cerita tentang Degeng membuatku tiba-tiba diserang gelisah dan cemas. Bagaimana tidak? Selama urusan seksualitas tetap tabu, bagaimana kelak anak-anak muridku bisa memahami seksualitas dirinya dengan baik? Atau, mengatasi masalah seperti Si Degeng, sepupuku?

”Iya, aku sih sudah tahu ada bokep begituan. Tapi, kamu ini kan guru?! Kamu saja yang menjelaskan pada tetua adat kita. Kita sendiri sudah tahu, mereka tidak senang keputusannya dipertanyakan lagi. Mereka lebih senang berkomunikasi dengan dukun. Lebih baik kita cari selamat saja. Turuti saja kata-kata tetua adat itu daripada kita lagi yang dipersalahkan! Sudahlah, kita terima saja ini sebagai aib keluarga kita! Katanya, sapi betina itu akan dibunuh, lalu kita akan melakukan guru piduka, permohonan ampun pada dewata dan mengadakan upacara besar bersih desa lainnya”.

Mang Denik sudah pasti pesimis menangapi  ideku tadi akan diterima tetua adat kami. Masalahnya, kami berdua sudah tidak menetap di kampung. Itu artinya, kami tidak berhak ikut campur keputusan desa. Mang Denik menyibukkan diri mengunyah gorengan yang terakhir. Jelas, Mang Denik juga gelisah karena belum mendapatkan keputusanku untuk  berangkat dengannya lusa nanti.

”Tetapi apa yang akan dilakukan masyarakat desa kepada Si Dengeng?” tanyaku pada Mang Denik.

Diam-diam aku ingin tahu. Sebab, dari tadi hanya sapi sial ini saja yang menjadi fokus dalam cerita ini. Aku membayangkan, andaikan sapi itu bisa bicara mungkin dia akan protes karena telah diperkosa tuannya. Nasib buruk sapi ini tidak beda dengan TKW di Saudi, ada yang diperkosa dan tidak sedikit yang mati. Lalu, masyarakat desaku yang tak tahu menahu tentang kejadian ini dikerahkan untuk menggelar hajatan karena skandal seksual ini, dan  melupakan kemungkinan Degeng sepupuku butuh bantuan dokter jiwa. Sial!

 ”Akupun tak tahu, mungkin Degeng dikenakan sejumlah denda uang” Mang Denik mengangkat bahu dan kedua alisnya tanda ia tidak begitu memusingkan apa yang terjadi dengan sepupuku. Dia juga tak tahu apa yang akan terjadi jika Degeng tak sanggup membayar denda uang itu. Baginya, yang penting dia menghadiri rapat, setor muka dan masalah selesai. Lagi pula, wajahnya sudah tampak letih dan mengantuk. Itu berarti, sebentar lagi dia hendak bangkit dan pamit pulang ke kosnya.

”Baiklah kalau begitu, lusa kamu jemput aku dan kita berangkat bersama”.

Keputusan ini kubuat karena bagaimanapun aku adalah sepupu Si Degeng. Dan tentu saja, jika tidak mematuhi  perintah hadir rapat desa itu akibatnya lebih mengerikan daripada ancaman dipecat dari kantor. Sudahlah!

Mang Denik bergegas bangkit untuk segera pulang, namun tiba-tiba pandangan mata kami berdua tertuju pada layar televisi. Kami berdua sejenak terpaku menyantap suguhan berita tentang seorang lelaki pemilik kambing dengan bangga mempertontonkan kambingnya yang berkepala mirip manusia. Warga desa berduyun-duyung datang ke pondok lelaki itu untuk bisa melihat kegaiban itu dan memohon berkah pada anak kambing ajaib itu agar mendapat rejeki. Dan sebentarnya lagi, ditayangkan seekor babi betina melahirkan anak dengan memiliki tanda-tanda mirip bagian tubuh manusia. Televisi menyebutnya ajaib,  badah!

Tayangan itu membuatku tiba-tiba mual. Aku dan Mang Denik saling berpandangan dan bergidik. Jangan-jangan…..?!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEREMPUAN DAN KISAH BABI HITAM

Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah. Aku membajak hatiku dengan doa keselamatan. Aku menyuburkannya dengan hujan air mata dan bulir-bulir keringat [malam-malam usai suamiku membajak tubuh dan jiwaku]. Seperti sapi, Aku  sesekali melenguh menerima  benih yang ditebarkannya. Serupa orang-orangan sawah dengan rupa yang mengerikan, aku menjaga benih yang ditanam dirahimku. Tiba waktu untuk memanen kelamin, tunas itu kusemai sendirian di atas ranjang bersimbah darah. Laki-laki ataukah perempuan, begitu mereka menamai keunggulan. Sayangnya meskipun tumbuh di ladang rahimku, mahluk yang dipanen dari rahimku bukanlah milikku. Aku hanya bisa mengaku-ngaku ibunya, tanpa bisa memilikinya.

Sejak dulu, aku  dan perempuan sesuku tak punya tanah dan rumah di negeri ini. Perempuan dinegeriku bekerja menggarap ladang-ladang kehidupan yang bukan miliknya. Perempuan dinegeriku adalah semut pekerja, mencari penghidupan untuk memastikan kehidupan tetap terjaga, meski dalam musim yang paling buruk sekalipun. Dan jika letih mendera, mereka  memejamkan mata sekedar menumpang  tidur di rumah ayah dan ibu [kelak semua itu  menjadi milik saudara lelaki atau para paman], Sang Penjaga Ladang Silsilah.

Lalu pada waktu birahi dan bunting, para perempuan dinegeriku menumpang nasib di rumah para suami. Jika  beruntung, tubuh perempuan  seperti tunas pisang: dicerabut dari akarnya, dibenamkan,  kemudian dengan sendirinya berbuah dan tasak, mengenyangkan harapan setiap keluarga.  Jika nasib tiada berpihak, maka ia layu sebelum berkembang dan gugur mencium kerinduan pada bayangannya. Sendirian. Terkadang  tak sedikit yang mekar, kesegarannya dipetik lalu dijadikan persembahan dewata.

Sampai kinipun, aku perempuan tak punya tanah dan rumah. Meskipun jauh sebelum aku dilahirkan, kedua orang tuaku memiliki tanah dan rumah untuk ditempati. Dan, aku dibesarkan dalam rumah yang baru saja mereka bangun. Waktu itu tembok bata belum lagi diplester dan lantai masih berupa tanah. Beberapa babi hitam berbulu ijuk masih berkeliaran karena nenek yang memeliharanya untuk bekal hari raya. Aku menetas  dan tumbuh riang di tanah dan rumah milik kakek, lalu menjadi  milik  ayahku dan paman-pamanku. Aku dan anak-anak lain bermain diantara babi-babi hitam itu, tumbuh tanpa rasa jijik ataupun kebencian. Babi-babi hitam itu harta keluarga, tepatnya milik nenek karena ialah yang mengasihinya, memberikannya makan dan kebebasan.

Aku, perempuan  tak punya  tanah dan rumah. Meskipun beranjak dewasa, rumah ayah dan ibuku semakin menegaskan bentuk, warna dan menampilkan gaya. Sesekali aku mengundang kawan  untuk bertandang dan memperkenalkannya sebagai rumahku. “Hayo, main ke rumahku!”.  Namun, betapa malunya aku setelah beranjak dewasa, mengetahui semua itu hanyalah bualan masa kecilku. Ternyata, itu bukanlah rumahku. Aku hanyalah  bocah pengungsi yang riang dan tak tahu apa-apa.

Kini, kenangan itu sudah mati karena nenek juga sudah lama pergi ke Tanah Tua milik Sang Muasal. Begitu juga kisah Si Babi Hitam,  ia sudah punah dari ingatan. Tak ada lagi Bangkung, Si Babi hitam betina berperut buncit dengan puting susu menjuntai, serta ekornya melengkung yang bisa seenaknya menempati dan berak di halaman rumah bersama anak-anaknya. Mereka tampak begitu buruk rupa dengan mulut monyong dibandingkan dengan Si Babi Bule berwarna pink, babi ekspatriat yang lagi naik daun. Bahkan dalam dunia babi pun, diskriminasi warna dan kelas menjadi begitu ideologis. Hitam seperti  kutukan. Lokal menjadi  kelas rendahan dan dieliminasi. Dan, babi-babi tak bisa lagi menjadi binatang peliharaan rumah.

Kisah tentang hidup babi pun seperti sinetron, antara cinta dan benci. Ada tetangganya diam-diam memelihara babi, dibiakkan lalu dijagal ketika ada kelahiran bayi baru meminta pengganti jiwa anak babi, untuk keselamatan. Ada babi mati karena wabah, menjadi berita. Bentrok warga karena kandang babi, jadi berita. Ada juga babi terpaksa diungsikan karena diharamkan  pandangan mata, lidah dan titah. Menyebutkannya pun menjadi begitu memalukan dan memilukan.Tetanggaku bilang, babi-babi itu pergi dan mati karena bau, dan turis tidak menyukainya. Ah, babi hitam yang malang.

Aku, perempuan tak punya rumah, apalagi tanah. Tanah dan rumah adalah milik lelaki dan aku hanyalah perempuan. Kemungkinan besar hidupku bernasib sama dengan kisah babi hitam itu. Perempuan, kelak mengungsi ke suatu tempat : birahi, kawin ,beranak dan mati tanpa ada yang mengingat namanya apalagi jasanya.

Lama aku amati ibuku. Ia perempuan sesuku. Ternyata ia juga sama sepertiku. Ia seorang pengungsi. Ibuku seorang perempuan yang tiada letih bekerja secara mekanik melayani kepentingan keluarga, kerabat dan desa. Selebihnya, Ia hanya menumpang tidur di rumah suaminya, di rumah ayahku, di tanah kakekku.

Atas nama kehormatan keluarga suaminya, ibu bekerja giat dan liat hingga tulang punggungnya melengkung dan garis keriputnya seperti serat  kayu tua. Ia berjuang di desa agar namanya diakui pernah ada di ladang yang digarapnya, di ladang silsilah milik suami serta kerabatnya.

Sebagai seorang pengungsi, hak menjadi sebuah kemewahan. Ibuku telah berusaha begitu keras untuk mendapatkan haknya. Dulu, aku tak mengetahui untuk apa ibu bekerja begitu giat, menyiapkan jenukan berisi beras, gula dan kopi untuk dibawa ke tetangga yang memiliki hajatan. Ia begitu cemas jika tak bisa melakukannya. “Semua tetangga melakukannya, kita pun harus begitu” kata ibu.  Konon, jika ia tak melakukannya, maka ia akan diperlakukan seperti bangkai anjing, tikus, ular yang dilindas roda kendaraan, dilindas kekuasaan dan digeret kejalanan tanpa kehormatan, meskipun ia sudah menjadi mayat sekalipun.

Setelah menjadi perempuan dewasa barulah aku mengetahui, ibu melakukan semua itu untuk mendapatkan hak meminjam liang kubur desa untuk dirinya sendiri. Demi Tuhan, hanya itukah hak yang ia dapatkan? Hanya untuk sebuah liang kubur? Dulu aku bertanya pada ibu, “Untuk apa semua itu?”.

Ibu menabung karma baik. Ibu berharap, jika ia mati warga desa sudi menanam mayatnya seperti tunas-tunas pisang di kuburan desa. Tiba waktu tubuhnya tak lagi berdaging, warga sudi mengangkat belulangnya untuk dijadikan abu. Hanya itulah hak perempuan dan impian-impian perempuan tanpa rumah dan tanah dinegeriku.

Ibuku dan juga nenekku adalah pengungsi di rumah dan tanah yang sama. Nenekku pun menjadi pengungsi di tanah kakekku. Perempuan di negeriku mengungsi tanpa membawa bekal apapun.  Dan kakek mendirikan pasak rumah baginya untuk menjadi naungan dan membiakkan anak  keturunan. Begitu pula yang dilakukan oleh ayahku, anak laki-laki di rumah mereka. Bibi-bibiku sejak lama berlalu dari rumah  itu dan menjadi pengungsi di rumah lain. Mereka menyebut dirinya di ladang asing sebagai istri. Dan, paman-pamanku membawa istri ke tanah dan rumah milik mereka, setelah memetiknya dari halaman dan rumah keluarga lain yang masih sesuku.

Perempuan itu sesekali saling bergunjing, sesekali saling mencibir,  sambil menggantang asap dengan pikiran yang sia-sia dan bodoh. Perempuan di negeriku tak banyak yang pandai bicara. Mereka lebih banyak  bergumam dalam doa, menghibur diri karena sayapnya telah dipatahkan. Mereka pun tak punya rumah dan tanah. Pulang, menjadi kata penghiburan. Kemana? Rumah siapa?

Begitulah perempuan di negeriku. Seperti kisah babi hitam, perempuan dihajar waktu dan musim, menua, menjadi buruk rupa yang tak sedap lagi dipandangan mata.  Perempuan, tersingkir dari  ruang dan waktu, sebagai orang-orang ungsian tanpa ingatan tentang nama dan silsilah. Karena, ladang itu hanyalah milik lelaki yang mengukirnya sebagai sejarah. Aku menua dan menuai seperti ibu dan nenekku. Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah, pengungsi yang kelak mati seperti kisah Si Babi Hitam.

 

KEKERASAN DAN BUDAYA KEKERASAN

APA ITU KEKERASAN?

Kekerasan (violence, bahasa Inggris) berasal dari kata latin violentus , berasal dari kata vi atau vis yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Kekerasan merupakan cerminan dari tindakan agresi atau penyerangan kepada kebebasan atau martabat seseorang oleh perorangan atau sekelompok orang. Kekerasan dapat juga diartikan sebagai tindakan yang sewenang-wenang dan menyalahgunakan kewenangan secara tidak absah.

Kekerasan adalah tingkah laku agresif yang dipelajari secara langsung,  yang sadar atau tidak sadar telah hadir dalam pola relasi sosial seperti keluarga sebagai unit paling kecil hingga kelompok-kelompok sosial yang lebih kompleks. Kekerasan terjadi dalam berbagai bidang  kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya.

Bentuk kekerasan banyak ragamnya, meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan psikologis, kekerasan ekonomi, kekerasan simbolik dan penelantaran. Kekerasan dapat dilakukan oleh  perseorangan maupun secara berkelompok, secara serampangan [dalam kondisi terdesak] atau teroganisir.

KEKERASAN DAN PERILAKU MENYIMPANG

Kekerasan juga diidentikkan dengan perilaku menyimpang. Tuti Budirahayu (2004) dalam buku “Sosiologi”  menjelaskan, perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku (nonconform), tindakan anti sosial (melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum dan tindakan kriminal (pelanggaran aturan hukum, mengancam jiwa dan keselamatan orang lain).

Penentuan siapa yang bisa disebut memiliki  perilaku menyimpang sangat relatif karena norma-norma yang mengatur perilaku juga bervariasi. Perilaku ini dapat dikenali dari reaksi orang lain (masyarakat) jika norma telah ditetapkan dan penyimpangan telah diidentifikasi.

Seseorang menjadi penyimpang karena proses interaksi dan intepretasi tentang kesempatan bertindak menyimpang, pengendalian diri yang lemah dan kontrol masyarakat yang longgar (permisif). Perilaku menyimpangan yang dilakukan kelompok disebut dengan subkultur menyimpang. Subkultur menyimpang memiliki norma, nilai, kepercayaan,kebiasaan atau gaya hidup yang berbeda dari kultur dominan. Subkultur misalnya, komunitas biker, rider, kelompok drugusers, kelompok homoseksual, kelompok punk, dan sebagainya.

Teori Yang Berkaitan Dengan Perilaku Menyimpang :

  1. 1. Teori Anomie

Pandangan ini dikemukakan oleh Robert Merton yang menyatakan,  perilaku menyimpang terjadi akibat adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi penyimpang.

  1. 2. Teori Belajar ( Teori Sosialisasi)

Edwin H.Sutherland menyatakan teorinya asosiasi diferensial yaitu penyimpangan itu adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari subkultur atau teman-teman sebaya yang menyimpang.

3. Teori Labeling  (teori  pemberian cap atau teori reaksi masyarakat)

Becker menyatakan teori bahwa penyimpangan merupakan suatu konsekuensi dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar. Misalnya Seseorang  yang terlanjur dilabelkan atau dicap negatif sebagai pemabuk  maka  orang itu justru minum sebanyak-banyaknya untuk mengatasi penolakan masyarakat terhadap dirinya.

4. Teori Kontrol

Teori ini muncul karena adanya pandangan yang  mengasumsikan bahwa setiap orang  cenderung tidak patuh pada hukum atau untuk memiliki dorongan pelanggaran pada hukum. Hirshi menyatakan empat unsur  pengikat  sosial (sosial bond) yang berfungsi sebagai pengendali perilaku individu yaitu : attachment (kasih sayang), commitmen (tanggung jawab), involvement (keterlibatan), believe (kepercayaan, kepatuhan, kesetiaan)

5. Teori Konflik

Teori ini menyatakan bahwa kelompok elite dengan kekuasaannya menciptakan peraturan, khususnya hukum, untuk melindungi  dan memenangkan kepentingan mereka. Persaingan kepentingan mengakibatkan terjadinya konflik antara kelompoks atu dan kelompok lainnya. (menurut : Quinney, Clinnard dan Meier).

APAKAH KEKERASAN ITU BUDAYA?

Ya. Kekerasan itu budaya, jika dilihat dari pengertian budaya sebagai sebuah cara hidup menurut Raymond Williams (pemikir kajian budaya/cultural studies dari Inggris). Budaya menurut Kephart meliputi adat istiadat / kebiasaan, nilai-nilai, pemahaman yang sama yang menyatukan sebagai masyarakat (Chaney, 2006).

Jelas, pada banyak sisi kehidupan kekerasan itu menjadi  budaya. Tafsir terhadap kekerasan itu sangat subyektif, bersifat kultural dan tergantung pada keyakinan, pandangan, nilai atau norma yang diyakini kelompok-kelompok masyarakat.

Motivasi kekerasan ditujukan untuk :  bertahan hidup (survival), memenuhi kebutuhan atas hasrat [libido] kekerasan, melanggengkan kekuasaan, mempertahankan diskriminasi dan  stratifikasi sosial.

Sebagai cara hidup, budaya kekerasan itu: dipelajari, diadopsi, dibiakkan, dikonsumsi dipertunjukkan, didistribusikan atau bahkan dijadikan komoditas fetishme [pemuas birahi kekerasan, seperti penjualan alat-alat kekerasan seksual bagi para sadomasokis].

APAKAH BUDAYA KEKERASAN ITU?

Budaya Kekerasan terjadi, ketika kekerasan (violence), ketakutan (horror) dan teror berkonspirasi membentuk perilaku yang menyimpang dan menjadi praksis kehidupan masyarakat.  Kekerasan  dianggap hal yang biasa karena menjadi komsumsi pikiran dan termanifestasi dalam tindakan sehari-hari.

Media massa memberikan kontribusinya yang sangat besar dalam mendistribusi kekerasan. Rumah-rumah produksi berlomba-lomba menyajikan tayangan  sinetron, reality show yang sarat dengan caci maki, intrik jahat, kisah yang menampilkan darah dan airmata, penindasan dan berbagai kekerasan lainnya.

Yasraf Amir Piliang (Alfatri Adlin, 2006:201) menuding modernisasi dunia ketiga menimbulkan banyak  kesenjangan dan penderitaan sosial seperti: penggusuran, pengusiran, perampasan hak milik dan pemerkosaan hak hidup. Fenomena ini disebut sebagai horror-culture yaitu kecenderungan dimana ketakutan dan horor dijadikan elemen utama pembentuk budaya. Horror culture meliputi :

  1. Horrosophy yaitu wacana pemikiran  dan pemikiran dalam menciptakan konsep-konsep yang tujuannya menimbulkan rasa takut. [Misalnya wacana tentang G30S PKI, wacana tentang  pendatang, pemulung, kesepekan, dsbnya]
  2. Horrography yaitu strategi untuk memproduksi rasa takut. Strategi ini sejalan dengan pemikiran filsuf Perancis, Pierre Bordieu  yaitu kekerasan simbolik, sebuah kekerasan yang dilakukan dengan cara halus melalui suatu mekanisme tertentu (misalnya mekanisme kekuasaan) sehingga tidak tampak sebagai kekerasan. [Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni]
  3. Horrocracy sebuah sistem pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi terletak pada sebuah kekuatan yang memproduksi dirinya melalui cara-cara kekerasan, terror, dan prinsip ketakutan [contoh: mobilisasi massa mengatasnamakan adat untuk mengucilkan, melakukan pelarangan jenasah di Bali, pecalang yang menyidak penduduk]
  4. 4. Horronomics sebuah sistem dengan tindakan ekonomi yang dalam proses produksi dan distribusinya menggunakan cara-cara kekerasan dan terror untuk menimbulkan rasa takut terhadap pihak lain [bakso krama bali dalam konteks persaingan usaha antaretnis]

FENOMENA KEKERASAN DI BALI

  1. 1. Kekerasan sebagai Komoditas

Beberapa bentuk kekerasan dijadikan komoditas yang digunakan untuk mendongkrak perekonomian dan pariwisata. Misalnya, atraksi saling pukul dengan pandan berduri dalam tari Perang  Pandan (tari memanggil hujan orang Trunyan), sejumlah bentuk olah raga seperti bela diri (silat),  mepantigan (gulat Bali).

Atraksi hiburan “Jogeg Porno” (Joged Ngebor, menurut istilah Prof. Bawa Atmaja) juga menjadi semacam birahi kekerasan seksual yang dilakukan penari dengan pengibing, ditonton dari berbagai kalangan usia. Atau, atraksi menusuk badan sendiri (ngurek/ngunying). selain menjadi bagian dari ritual dan pertunjukan untuk pariwisata.

  1. 2. Kekerasan dan Mobilisasi Massa

Fenomena belakangan yang marak di Bali adalah mobilisasi massa untuk melakukan kekerasan, yang disakralkan dengan mengatasnamakan adat. Kekerasan ini tidak saja melibatkan mediasi aparat kepolisian tetapi juga oleh penguasa [bupati, gubernur].

Sejumlah tafsir hukum adat dan agama dijadikan bahan argumentasi terkait dengan berbagai ketegangan konflik sosial. Beberapa identifikasi kekerasan yang melibatkan massa di Bali, seperti: pelarangan penguburan jenasah, proses pemisahan wilayah akibat  pemekaran, perselisihan antarkelompok pemuda, pengucilan terhadap seseorang atau kelompok masyarakat, akibat perubahan nama dengan melekatkan atau mengganti gelar kebangsawanan.

Potensi konflik ini sarat dengan kepentingan politik dan penguasa lokal, melibatkan kekerasan dan dampaknya sangat  merugikan banyak keluarga dan melumpuhkan  perekonomian. Korban kekerasan simbolik  menjadi orang-orang ungsian (tak jarang di tempat baru muncul konlik baru), kehilangan harta benda, kerusakan di berbagai ranah kehidupan dan keluarga pontensial tercerai-berai.

  1. 3. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Belakangan marak terjadinya fenomena perceraian di kalangan keluarga di Bali akibat terjadinya KDRT. Para perempuan sering tidak mendapatkan keadilan dalam distribusi ekonomi (pemisahan harta gono-gini) atau dalam mendapatkan hak untuk mengasuh  anak dengan alasan stratifikasi sosial (persoalan beda kasta).

Perkawinan dan perceraian bagi perempuan Bali telah menjadikan banyak perempuan berstatus refuji, pengungsi tanpa ‘identitas’ dan rumah. Hal yang menakutkan bagi perempuan Bali pascaperceraian adalah tidak memiliki ‘identitas’ yang diakui oleh sebuah komunitas. Status mereka pada akhirnya hanyalah diakui sebagai pendatang, pengungsi tanpa [kepala] keluarga.

Kekerasan yang dilakukan pemerintah terhadap perempuan, tampak dari sistem pencatatan sipil hanya mengakui status dari keluarga yang ideal (lengkap dengan nama suami sebagai kepala keluarga). Hal ini tidak mempertimbangkan hak perempuan-perempuan yang mampu hidup mandiri  (apalagi bagi yang telah bercerai). Jika perempuan itu beruntung, ia masih bisa kembali kepada keluarganya, namun dengan status menumpang, pengungsi tanpa hak.

  1. 4. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)

Lembaga Pemasyarakatan merupakan fenomena sosial-budaya  yang menarik untuk dicermati. Lapas seperti planet lain di muka bumi ini, keberadaaannya seperti ada dan tiada, dan penuh  misteri. Lapas adalah sebuah benteng  yang memisahkan  para pelaku perilaku menyimpang dengan masyarakat yang berperilaku dominan.

Pemerintah telah berupaya merubah paradigma ‘penjara’ menjadi ‘pemasyarakatan’ ditujukan untuk menjadikan lembaga pemerintahan ini sebagai institusi rehabilitasi atau ‘terapi perilaku’. Harapannya, agar para narapidana (warga binaan pemasyarakatan) dapat berperilaku dan menyesuaikan diri (adaptif) sesuai dengan perilaku dominan masyarakat di luar tembok penjara.

Isu Lapas menjadi begitu kompleks karena melibatkan persoalan  jenis kelamin, kelompok usia (lansia, anak-anak dan bayi yang kebetulan lahir di dalam penjara), kelompok gender (waria, homoseksual), kelompok etnis, ras dan agama, kelompok intelektual, politisi, kelompok terlatih (mantan tentara, polisi), masalah kesehatan (pecandu dan HIV/AIDS), penyebaran penyakit, akses pendidikan, dan beragama persoalan yang berkaitan dengan hak asasi penghuni lapas. Sementara,  Lapas memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan tenaga terlatih yang memiliki kapasitas  merehabilitasi berbagai ragam perilaku menyimpang.

Menariknya,  jumlah orang yang dinyatakan memiliki perilaku menyimpang sesuai dengan bunyi teks hukum yang diberlakukan negara semakin meningkat. Bahkan, jumlah mereka melebihi kapasitas lapas yang layak huni. Berdasarkan data tahun 2010, jumlah penghuni lapas kelas II A Denpasar (Kerobokan), sebesar  799 orang, terdiri atas 356 tahanan dan 443 orang napi. Untuk tahanan sebanyak itu terdiri atas 317 orang pria dan 39 wanita, sedangkan untuk napi masing-masing 394 pria dan 49 wanita.Dikatakan, jumlah penghuni Lapas Kerobokan yang mencapai 799 orang itu, telah melebihi kapasitas yang sesungguhnya hanya 323 orang. Perkembangan tahun 2011 diperkirakan jumlah penghuni mencapai 900an orang.

Menurut  Donald Black, hal ini bisa dijelaskan dalam teori hukum tentang penahanan. Penahanan (an arrest) berkaitan dengan keputusan polisi. Ini juga merupakan peristiwa psikologis dan merupakan fenomena sosial. Penahanan berkaitan dengan variabel sikap dan persepsi, terkait dengan latar belakang pendidikan, ekspektasi  atasan dan rekan sekerja, aksi dan reaksi masyarakat.

Prestasi aparat kepolisian yang disandarkan pada ekpektasi atasan untuk meningkatkan data kuantitatif laporannya,  menjadikan kapasitas Lapas menjadi kelebihan penghuni. Perburuan manusia yang potensial untuk dijadikan tahanan atau  narapidana semakin agresif dilakukan oleh aparat yang memiliki kuasa dengan mengatasnamakan kontrol sosial.Hal ini berbanding terbalik dengan ekspektasi dari Mentri Hukum dan Ham RI, Patrialis Akbar  kalah cepat menurunkan jumlah penghuni Lapas.

Dalam sudut pandang yang  berbeda, pencapaian prestasi yang dianggap sebagai  ‘keberhasilan’ aparat kepolisian dalam meningkatkan jumlah penghuni lapas dapat dikritisi   tidak saja sebagai bentuk longgarnya kontrol sosial. Tetapi, fenomena ini juga dapat digunakan untuk mengkritisi kinerja atau ‘kegagalan’ aparat kepolisian dalam melakukan tindak preventif terhadap potensi terjadinya tindak pelanggaran dan kejahatan.

Wajah Lapas adalah sisi gelap dan paling suram dalam peradaban manusia, dan bangsa Bali pada khususnya. Meningkatnya jumlah penghuni lapas seharusnya disikapi dengan secara kritis terhadap beberapa aspek kehidupan, beberapa hal :

  1. Relasi, jarak dan komunikasi sosial
  2. Melihat visi pemerintah terhadap pembangunan masyarakat
  3. Mengkaji  koordinasi antarainstitusi pemerintahan yang tampaknya masih bekerja secara parsial.
  4. Mengkritisi beban APBD atau APBN yang dikeluarkan pemerintah dalam membiayai operasional dan kelangsungan hidup warga binaan dan petugas lapas.
  5. Mempertimbangkan dampak dari penahan seseorang menjadi penting, mengingat dengan adanya peningkatan jumlah orang yang ditahan maka meningkat pula jumlah angkatan kerja yang tidak produktif, pengangguran terselubung bahkan potensial melahirkan kemiskinan baru dan beruntun.
  6. Teks hukum serta kewenangan lapas dalam penanganan warga binaan dibatasi. Misalnya, WBP pecandu narkoba dan HIV/AIDS sebaiknya diserahkan pada institusi rehabilitasi medis. Atau penanganan tahanan anak diserahkan pada dinas sosial dan tenaga medis (psikiater, psikolog).

AKAR MASALAH KEKERASAN

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.”— Mahatma Gandhi (18691948)

Gandhi  mengasumsikan akar dari kekerasan terjadi ketika sebuah kehidupan tidak dilandasi  hukum dan etika sosial. Burhanuddin Salam (1997: 129-136; Black, 1976:2) menyatakan, hukum adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah atau oleh suatu badan yang digunakan sebagai alat untuk mengatur kehidupan warganya.

Hukum dan etika pada dasarnya memiliki kesamaan yaitu bersumber dari pengalaman dan ditujukan untuk mengatur tertib hidup bermasyarakat. Keduanya, baik hukum dan etika membatasi gerak, hak dan wewenang seseorang dalam pergaulan hidup. Bedanya, hukum biasanya tertulis, objektif, tegas, menuntut, memerlukan alat negara dan bukti untuk menjatuhkan sanksi. Sedangkan etika timbul dari tata kesopanan yang tidak tertulis dan menjadi kebiasaan, bersifat fleksibel dan sifatnya sebagai tuntunan, dan  landasan tingkah laku adalah kesadaran.

Akar kekerasan lain juga disebabkan karena kemiskinan. Donald Black (1976:30) dalam teori tentang perilaku menyimpang (theory of deviant behavior) menyatakan, seseorang yang  kesejahteraan terampas cenderung akan berperilaku yang menyimpang, agresif dan memiliki kecenderungan terlibat dalam bisnis yang terlarang, melakukan kekerasan dan perusakan (vandalism).

FENOMENA [PRODUK] HUKUM DAN KEADILAN SEMU (PSEUDO OF JUSTICE)

Tuti Budirahayu (2004:98) mengutip pandangan Karl Marx yang melihat korelasi produk [teks] hukum dengan kepentingan para kapitalis yang didukung oleh agen pelaku kontrol sosial seperti polisi, pengadilan dan sistem penjara/ lembaga pemasyarakatan.

Menurut Marx, kapitalisme mengembangbiakkan hukum-hukum kriminal karena hukum tersebut dibutuhkan untuk memelihara tatanan yang mapan,  yang datang dari kelas atas melawan kelas bawah. Dan peran negara  tidak netral karena, sesungguhnya peran negara ditujukan untuk melayani dan melindungi orang-orang yang membuat peraturan serta menghindarkan mereka dari ancaman-ancaman orang atau kelompok lain.

Gejala perilaku [agen penegak] hukum hari ini sangat terkait dengan pasar. Tafsir teks hukum diperdagangkan para makelar kasus. Kekuatan uang dijadikan kunci sukses dalam memenangkan perselisihan hukum. Donal Black (1976) mengingatkan, perlakuan hukum memang kerap bersifat diskriminatif. Mereka yang berasal dari kalangan yang kurang mampu (miskin) yang mengalami kasus hukum umumnya sulit mendapatkan pelayanan hukum apalagi keadilan. Jasa pengacara lebih banyak diperlukan oleh mereka yang berduit alias memiliki kapital. Putusan yang dijatuhkan kepada  mereka yang miskin cenderung lebih berat jika dibandingkan dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang memiliki akses politik yang luas dan uang. Pada banyak hal, mereka yang memiliki modal kapital cenderung menang di pengadilan dan ini merupakan wajah keadilan yang semu (pseudo of justice).

SARAN: REFORMASI PENEGAKAN [SISTEM] HUKUM

Sebagai sistem, penegakan hukum melibatkan berbagai komponen, seperti:  ideologi (norma, nilai), institusi penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan), masyarakat.

Penegakan [sistem] hukum dapat dilakukan dengan memperbaiki pola relasi keluarga, mempersempit jarak sosial dan meningkatkan komunikasi positif dan mengembangkan etika sosial. Paradigma hukum seharusnya mengikuti dinamika masyarakat yang berubah dan dinamis. Misalnya, reformasi teks hukum yang tidak sesuai dengan semangat jaman sebaiknya dihapus [seperti penghapusan hukuman mati].

Reformasi institusi penegak hukum diperlukan khususnya dalam efisiensi birokrasi, evaluasi efektifitas dan efisiensi kinerja berbasis good government dan clean governance,  serta pembatasan wewenang aparat agar tidak bertindak secara absolut dan sewenang-wenang.   Sosialisasi Hukum dan HAM bagi masyarakat harus dilakukan secara aktif oleh pemerintah dan lembaga sosial yang terkait.

Daftar Bacaan

Adlin, Alfatri. 2006.Spiritualitas dan Realita Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra

Black, Donald.1976. The Behavior of Law. London : Academic Press

Budirahayu, Tuti.2004. Perilaku Menyimpang. Jakarta: Prenada Media

Chaney, David.1996. Lifestyles. Yogyakarta: Jalasutra

Salam, Burhanuddin.1997. Etika Sosial—Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia.Jakarta: Rineka Cipta

*Makalah diskusi panel reformasi penegakan hukum bali

diselenggarakan oleh Manikaya Kauci- LBH BAli-Indonesian Police  Watch

Pembicara : ida ayu made gayatri adalah mahasiswa program doktoral kajian budaya universitas udayana dan ketua NAPI (National Alliance for Prisoner in Indonesia ) Bali Region

« Older entries