Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah. Aku membajak hatiku dengan doa keselamatan. Aku menyuburkannya dengan hujan air mata dan bulir-bulir keringat [malam-malam usai suamiku membajak tubuh dan jiwaku]. Seperti sapi, Aku sesekali melenguh menerima benih yang ditebarkannya. Serupa orang-orangan sawah dengan rupa yang mengerikan, aku menjaga benih yang ditanam dirahimku. Tiba waktu untuk memanen kelamin, tunas itu kusemai sendirian di atas ranjang bersimbah darah. Laki-laki ataukah perempuan, begitu mereka menamai keunggulan. Sayangnya meskipun tumbuh di ladang rahimku, mahluk yang dipanen dari rahimku bukanlah milikku. Aku hanya bisa mengaku-ngaku ibunya, tanpa bisa memilikinya.
Sejak dulu, aku dan perempuan sesuku tak punya tanah dan rumah di negeri ini. Perempuan dinegeriku bekerja menggarap ladang-ladang kehidupan yang bukan miliknya. Perempuan dinegeriku adalah semut pekerja, mencari penghidupan untuk memastikan kehidupan tetap terjaga, meski dalam musim yang paling buruk sekalipun. Dan jika letih mendera, mereka memejamkan mata sekedar menumpang tidur di rumah ayah dan ibu [kelak semua itu menjadi milik saudara lelaki atau para paman], Sang Penjaga Ladang Silsilah.
Lalu pada waktu birahi dan bunting, para perempuan dinegeriku menumpang nasib di rumah para suami. Jika beruntung, tubuh perempuan seperti tunas pisang: dicerabut dari akarnya, dibenamkan, kemudian dengan sendirinya berbuah dan tasak, mengenyangkan harapan setiap keluarga. Jika nasib tiada berpihak, maka ia layu sebelum berkembang dan gugur mencium kerinduan pada bayangannya. Sendirian. Terkadang tak sedikit yang mekar, kesegarannya dipetik lalu dijadikan persembahan dewata.
Sampai kinipun, aku perempuan tak punya tanah dan rumah. Meskipun jauh sebelum aku dilahirkan, kedua orang tuaku memiliki tanah dan rumah untuk ditempati. Dan, aku dibesarkan dalam rumah yang baru saja mereka bangun. Waktu itu tembok bata belum lagi diplester dan lantai masih berupa tanah. Beberapa babi hitam berbulu ijuk masih berkeliaran karena nenek yang memeliharanya untuk bekal hari raya. Aku menetas dan tumbuh riang di tanah dan rumah milik kakek, lalu menjadi milik ayahku dan paman-pamanku. Aku dan anak-anak lain bermain diantara babi-babi hitam itu, tumbuh tanpa rasa jijik ataupun kebencian. Babi-babi hitam itu harta keluarga, tepatnya milik nenek karena ialah yang mengasihinya, memberikannya makan dan kebebasan.
Aku, perempuan tak punya tanah dan rumah. Meskipun beranjak dewasa, rumah ayah dan ibuku semakin menegaskan bentuk, warna dan menampilkan gaya. Sesekali aku mengundang kawan untuk bertandang dan memperkenalkannya sebagai rumahku. “Hayo, main ke rumahku!”. Namun, betapa malunya aku setelah beranjak dewasa, mengetahui semua itu hanyalah bualan masa kecilku. Ternyata, itu bukanlah rumahku. Aku hanyalah bocah pengungsi yang riang dan tak tahu apa-apa.
Kini, kenangan itu sudah mati karena nenek juga sudah lama pergi ke Tanah Tua milik Sang Muasal. Begitu juga kisah Si Babi Hitam, ia sudah punah dari ingatan. Tak ada lagi Bangkung, Si Babi hitam betina berperut buncit dengan puting susu menjuntai, serta ekornya melengkung yang bisa seenaknya menempati dan berak di halaman rumah bersama anak-anaknya. Mereka tampak begitu buruk rupa dengan mulut monyong dibandingkan dengan Si Babi Bule berwarna pink, babi ekspatriat yang lagi naik daun. Bahkan dalam dunia babi pun, diskriminasi warna dan kelas menjadi begitu ideologis. Hitam seperti kutukan. Lokal menjadi kelas rendahan dan dieliminasi. Dan, babi-babi tak bisa lagi menjadi binatang peliharaan rumah.
Kisah tentang hidup babi pun seperti sinetron, antara cinta dan benci. Ada tetangganya diam-diam memelihara babi, dibiakkan lalu dijagal ketika ada kelahiran bayi baru meminta pengganti jiwa anak babi, untuk keselamatan. Ada babi mati karena wabah, menjadi berita. Bentrok warga karena kandang babi, jadi berita. Ada juga babi terpaksa diungsikan karena diharamkan pandangan mata, lidah dan titah. Menyebutkannya pun menjadi begitu memalukan dan memilukan.Tetanggaku bilang, babi-babi itu pergi dan mati karena bau, dan turis tidak menyukainya. Ah, babi hitam yang malang.
Aku, perempuan tak punya rumah, apalagi tanah. Tanah dan rumah adalah milik lelaki dan aku hanyalah perempuan. Kemungkinan besar hidupku bernasib sama dengan kisah babi hitam itu. Perempuan, kelak mengungsi ke suatu tempat : birahi, kawin ,beranak dan mati tanpa ada yang mengingat namanya apalagi jasanya.
Lama aku amati ibuku. Ia perempuan sesuku. Ternyata ia juga sama sepertiku. Ia seorang pengungsi. Ibuku seorang perempuan yang tiada letih bekerja secara mekanik melayani kepentingan keluarga, kerabat dan desa. Selebihnya, Ia hanya menumpang tidur di rumah suaminya, di rumah ayahku, di tanah kakekku.
Atas nama kehormatan keluarga suaminya, ibu bekerja giat dan liat hingga tulang punggungnya melengkung dan garis keriputnya seperti serat kayu tua. Ia berjuang di desa agar namanya diakui pernah ada di ladang yang digarapnya, di ladang silsilah milik suami serta kerabatnya.
Sebagai seorang pengungsi, hak menjadi sebuah kemewahan. Ibuku telah berusaha begitu keras untuk mendapatkan haknya. Dulu, aku tak mengetahui untuk apa ibu bekerja begitu giat, menyiapkan jenukan berisi beras, gula dan kopi untuk dibawa ke tetangga yang memiliki hajatan. Ia begitu cemas jika tak bisa melakukannya. “Semua tetangga melakukannya, kita pun harus begitu” kata ibu. Konon, jika ia tak melakukannya, maka ia akan diperlakukan seperti bangkai anjing, tikus, ular yang dilindas roda kendaraan, dilindas kekuasaan dan digeret kejalanan tanpa kehormatan, meskipun ia sudah menjadi mayat sekalipun.
Setelah menjadi perempuan dewasa barulah aku mengetahui, ibu melakukan semua itu untuk mendapatkan hak meminjam liang kubur desa untuk dirinya sendiri. Demi Tuhan, hanya itukah hak yang ia dapatkan? Hanya untuk sebuah liang kubur? Dulu aku bertanya pada ibu, “Untuk apa semua itu?”.
Ibu menabung karma baik. Ibu berharap, jika ia mati warga desa sudi menanam mayatnya seperti tunas-tunas pisang di kuburan desa. Tiba waktu tubuhnya tak lagi berdaging, warga sudi mengangkat belulangnya untuk dijadikan abu. Hanya itulah hak perempuan dan impian-impian perempuan tanpa rumah dan tanah dinegeriku.
Ibuku dan juga nenekku adalah pengungsi di rumah dan tanah yang sama. Nenekku pun menjadi pengungsi di tanah kakekku. Perempuan di negeriku mengungsi tanpa membawa bekal apapun. Dan kakek mendirikan pasak rumah baginya untuk menjadi naungan dan membiakkan anak keturunan. Begitu pula yang dilakukan oleh ayahku, anak laki-laki di rumah mereka. Bibi-bibiku sejak lama berlalu dari rumah itu dan menjadi pengungsi di rumah lain. Mereka menyebut dirinya di ladang asing sebagai istri. Dan, paman-pamanku membawa istri ke tanah dan rumah milik mereka, setelah memetiknya dari halaman dan rumah keluarga lain yang masih sesuku.
Perempuan itu sesekali saling bergunjing, sesekali saling mencibir, sambil menggantang asap dengan pikiran yang sia-sia dan bodoh. Perempuan di negeriku tak banyak yang pandai bicara. Mereka lebih banyak bergumam dalam doa, menghibur diri karena sayapnya telah dipatahkan. Mereka pun tak punya rumah dan tanah. Pulang, menjadi kata penghiburan. Kemana? Rumah siapa?
Begitulah perempuan di negeriku. Seperti kisah babi hitam, perempuan dihajar waktu dan musim, menua, menjadi buruk rupa yang tak sedap lagi dipandangan mata. Perempuan, tersingkir dari ruang dan waktu, sebagai orang-orang ungsian tanpa ingatan tentang nama dan silsilah. Karena, ladang itu hanyalah milik lelaki yang mengukirnya sebagai sejarah. Aku menua dan menuai seperti ibu dan nenekku. Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah, pengungsi yang kelak mati seperti kisah Si Babi Hitam.


santidiwyarthi said,
August 17, 2011 at 10:36 am
Nice posting….
Nanoq da Kansas said,
August 18, 2011 at 10:25 am
dahsyat!
dayugayatri said,
August 18, 2011 at 12:58 pm
terima kasih
igedearyapardita said,
September 13, 2011 at 11:41 am
my brain cannot reach yours…
slow loading…. trrrttt… trrrtttt…. error occurs…. error occurs
dayugayatri said,
September 23, 2011 at 4:42 am
ini tentang perempuan bali yang tidak punya harta benda dan warisan