Hari-hari yang melelahkan. Pindah kos lagi. Begitulah. Merantau ke kota, tak punya keluarga tempat tinggal yang paling diburu, ya rumah kos. Harga kos sekarang ditentukan oleh keberadaan kamar mandinya. “Mau yang di dalam apa di luar?” begitulah pertanyaan pemilik rumah kos-kosan. Kamar yang lengkap dengan kamar mandinya, harganya lebih mahal. Secara, Asanti sudah bekerja jadi ia lebih memilih kamar yang lengkap. Malas banget kan, pagi-pagi mau kerja mesti antre kamar mandi segala?
Kamar kos ini standar ukuran 6×3 meter persegi untuk barang-barang anak kos yang tidak banyak dan serba praktis. Kebetulan, kamar kos yang disewa seharga 400 ribu sebulan belum termasuk biaya listrik, air dan sampah. Ini sudah kamar kos paling murah. Asanti menata barang-barangnya, sebuah lemari, majic jar, televisi, jemuran pakaian dan spring bed mungil. Asanti tidak sendiri, masih ada puluhan kamar kos berjejer di sebelahnya. “Uhf….” Asanti terkapar kelelahan pascapindah rumah, pindah kos.
Asanti bekerja sebagai guru, masih single dan kekasihnya masih bekerja di kapal pesiar. Asanti gadis periang dan banyak teman, jadi tidak ada alasan untuknya merasa jablai, alias kesepian. Belum lagi menjadi guru SD, gadis berkulit hitam manis ini sangat sibuk karena harus memberikan les tambahan bagi murid-muridnya.
Anyway, aku adalah tetangga Asanti. Sama seperti tetanggaku itu, aku pun pindah kamar kos sudah berkali-kali. Jaman masih kuliah, aku tinggal di asrama. Setelah bekerja aku memilih ngekos ketimbang tinggal dengan keluarga paman dan bibiku. Aku merasa sudah dewasa, banyak kegiatan, banyak teman, sudah mulai kerja dan mulai pacaran. Seperti orang muda lainnya, akupun ingin mandiri dan memiliki kebebasan. Kenyamanan dan privasi menjadi alasan utama mengapa aku lebih memilih tinggal di kamar kos. Harga kamar juga jadi pertimbanganku, maklum mesti disesuaikan dengan kocek bulanan dari gaji.
Aku dan Asanti tinggal di tempat kos khusus putri. Gaya hidup urban sepertiku sudah lumrah, mau tidak mau aku bertetangga dengan berbagai suku bangsa. Aku pernah juga sih, kos di tempat dimana ada kamar yang dihuni cowok-cowok dan orang yang berkeluarga. Tidak betah! Cowok-cowoknya suka menyetel musik keras-keras. Ada juga yang malam mingguan dan menjomblo mengundang kawan-kawannya untuk minum-minum miras. Dan di sebelah kamarku, tetanggaku baru punya bayi, kebayangkan? Sepanjang malam bayinya menjerit-jerit, minta susu dan selalu popoknya basah kena pipis. Dunia terasa begitu hiruk pikuk, pekak dan menyebalkan.
Aku cabut, pindah dan sekarang menjadi tetangga Asanti. Lumayan tempat kos kami agak hening. Cewek-cewek yang tinggal di tempat kami sebagian besar baru belajar bekerja dan mandiri. Jadi kami masih semangat dan disiplin. Pada banyak hal, antara aku dan Asanti banyak memiliki kesamaan hobi dan usia sebaya. Kebetulan kami sama-sama bekerja di pagi hari. Jadi, sore atau malam hari jika tidak ada kesibukan, kami mengobrol secara bergiliran, kadang di kamarku atau di kamar Asanti.
Sore yang gelisah.
Ini sudah memasuki bulan kelima Asanti tinggal di rumah kos. Asanti datang ke kamarku.
“Sonya, aku mau tanya…ehm…anu..celana dalamku hilang. Kamu ada mindahin dari tempat jemuranku, gak?” Asanti tampak salah tingkah dengan pertanyaan sendiri. Celana dalam bagi cewek kan hal pribadi banget? Aku sih biasa saja dengan pertanyaan ini. Sebab, antara aku dan Asanti, kami biasa saling memperhatikan barang-barang properti kami berdua. Maklum kamar kos dengan banyak penghuni, jadi mesti ekstra waspada.
Kami biasa menjemur pakaian di tempat yang disediakan tuan rumah, sepetak halaman yang rindang dengan pohon pisang. Di tempat itu, beberapa kutang berjuntai-bergelantungan. Pakaian basah tergantung dan terhuyung-huyung ditampar angin, dan biasanya celana dalam berwarna warni terjepit diantara tali-tali. Ada g-string, ada yang maxi, mini ada juga yang bergaya sport. Semua cewek memiliki selera celana dalam masing-masing. Aku lebih suka berbahan katun, maxi atau sport. Asanti suka yang G-string, satin atau brokat berenda. Kami merasa seksi saja dengan pilihan celana dalam masing-masing.
Aku jawab santai sambil tiduran sambil blackberry-an “ Aku gak ada mindahin kok. Eh, btw, bukan kamu ajah kok yang kehilangan celana dalam. Aku juga sempat kehilangan celana dalam. Kupikir ada tetangga kita yang tertukar mengambilnya. Tidak sengaja mungkin, siapa tahu jatuh ditiup angin. Cuman, aku curiga ada yang memang suka nyolongin celana dalam kita”.
“Masak sih? Buat apa juga orang itu tertarik celana dalam yang sudah kita pakai, diembat segala? “ Asanti memonyongkan mulutnya karena jengkel. Kami berdua dengan perasaan yang masih jengkel kehilangan beberapa celana dalam, berusaha untuk berpikir positip.
“Ah, mungkin hanya orang iseng saja ngambil celana dalam yang masih bau deterjen dan pengharum pakaian itu“ demikianlah komentarku menghibur diri kami berdua.
Lagi pula hal itu baru pengalaman pertama kehilangan celana dalam. Sempat sih, pikiran buruk sempat muncul, tapi cepat dikalahkan kelelahan karena kesibukan rutinitas harian. Untung, stok celana dalam kami lumayan banyak. Segeralah kejadian itu kami lupakan, dan kamipun berjanji akan pergi bareng untuk shopping. Lalu kamipun melanjutkan obrolan lain, ini dan itu, gosip terbaru, masalah kerjaan hingga akhirnya Asanti balik ke kamarnya untuk tidur. Besok masih ada hari yang sibuk untuk kami berdua.
Minggu yang menggelisahkan.
Waktu mencuci pakaian dan menjemurnya aku dan Asanti bertemu Putri , anak kamar 15. Dia juga tengah menjemur pakaiannya. Tidak biasanya Putri mencuci pakaian di hari Minggu. Kami saling bertegur sapa dan menjemur pakaian masing-masing. Sambil menggantung pakaian, Putri memulai percakapan sambil merendahkan suara. Namun, apa yang diucapkannya cukup membuat telinga kami merah dan tentu saja mengagetkan aku dan Asanti.
Aku dan Asanti sama-sama menanggapi perkataan Putri “ Serius, nih?”
“Iya. Aku merasa was-was nih. Aku sudah berkali-kali kehilangan celana dalam di hari Rabu. Aku merasa gak nyaman. Jadi aku numpang jemur pakaian dengan kalian, yah? Siapa tahu celana dalamku gak hilang kali ini” pengakuan Putri membuat Aku dan Asanti saling berpandangan. Jadwal mencuci pakaian penghuni kos berbeda, karena waktu kesibukan masing-masing orang berbeda. Aku dan Asanti biasa mencuci pakaian di Hari Minggu. Tapi, toh sama saja. Hari minggu lalu, celana dalam Asanti sudah hilang juga.
Memang sih, harga celana dalam tak seberapa. Tapi, kalau setiap saat kehilangan celana dalam, itu sungguh menyebalkan. Celana dalam memang dipakai setiap hari, tapi dibeli dengan waktu khusus. Pilihan-pilihan, persiapan khusus dan menjadi ritual khusuk bagi perempuan untuk belanja celana dalam. Benda yang bernama celana dalam seperti kain talisman, ajimat pelindung bagian yang paling berharga dalam tubuh seorang wanita. Begitu penting dan sekaligus rahasia. Begitu berharga sekaligus enggan disingkap. Menjemurnya pun malu-malu, tabu.
Langsung aku tarik tangan Putri mendekat kearahku. Aku, Asanti dan Putri berbagi pengalaman kehilangan celana dalam. Kami bertiga saling mengerutkan kening dan mulai merasa terancam. Seolah-olah, ada mata tersembunyi yang mengawasi gerak-gerik kami. Selama ini, kami merasa kurang peka dengan lingkungan di sekeliling. Kami tidak peduli dengan orang yang lalu lalang. Dengan peristiwa kehilangan celana dalam, bukan saja hal ini menjadi memalukan untuk diceritakan. Hal ini juga membuat cewek-cewek di rumah kos, merasa seperti tengah menghadapi ancaman teroris.
Selembar celana dalam hilang, mungkin tidak layak dijadikan berita. Tapi, kehilangan ini menjadi begitu menyakitkan. Privasi kami terancam. Tanpa sadar, sesungguhnya ada yang diam-diam mengintai kehidupan kami. Kami merasa seperti hendak ditelanjangi, diperkosa karena bagian yang paling pribadi seorang wanita, berupa celana dalam telah diembat seseorang yang mungkin jiwanya tengah sakit. Bertiga, kami menginvestigasi cewek-cewek kamar lain seandainya mereka juga pernah punya pengalaman seperti itu. Ternyata jawaban mereka, sama!
“Maling sialan!” gerutu cewek-cewek kos ditempatku. Dan kamipun ramai-ramai mengadukan peristiwa itu pada tuan rumah.
Sore yang menggegerkan!
Sepulang kerja, aku dan Asanti mendapatkan berita yang ternyata telah heboh sejak siang tadi. Maling celana dalam sudah ditangkap. Cewek-cewek kamar kos menyambut gembira dengan kelegaan yang luar biasa. Pelakunya konon bernama Herman, pria pekerja serabutan dan kos dua blok dari tempat tinggal kami. Brengsek! Pria itu konon sering melintasi tempat kami, sambil membaca situasi dan mengawasi kami. Tuan rumah juga sudah melaporkan kepada pecalang, keamanan di lingkungan kami tinggal.
Maling celana dalam ditangkap siang tadi. Herman Si Celana Dalam fetish ditangkap saat dia terpergok mencuri celana dalam Sukesi, anak kos kamar 5. Sungguh memalukan! Dan, ini bukan yang pertama kalinya Herman melakukan aksi terornya pada perempuan. Maling ini ternyata biasa beraksi saat semua cewek-cewek di tempat kos tidur siang. Herman, menjadi kleptomania spesialis celana dalam karena perasaan rendah diri. Beranjak dewasa, Herman birahi dan tertarik pada wanita. Namun Herman cukup sadar diri, tak cukup punya keberanian dan modal mendekati perempuan. Nekat maling celana dalam. Badah!
Alhasil, Herman merasa cukup puas dengan mencuri celana dalam wanita. Herman lalu bercinta dengan celana dalam curian sambil membayangkan bersetubuh dengan wajah cantik Si Pemilik Celana Dalam. Alhasil, di lemari pakaiannya ditemukan sejumlah barang bukti berupa tumpukan celana dalam perempuan. Bahkan, satu celana dalam ternyata milik Putri tergeletak di kamar mandinya. Celana dalam itu dijadikan bukti di pengadilan, karena saat ditemukan sperma pelaku masih lengket di celana dalam brokat putih berenda itu.Sialan!


Ita said,
March 29, 2011 at 8:02 am
Keren Gek…
a JUNK said,
March 29, 2011 at 8:14 am
berapa lama dirimu mengetik, membaca, mengetik, baca lagi, ngetik lagi untuk menyelesaikan celana dalam itu??? hehehehe
dayugayatri said,
September 23, 2011 at 4:44 am
dasar
andy said,
March 30, 2011 at 6:04 am
hahahaaaaaa….
asyik deh kakak….
pernah ngalamin beneran ya kak..?
hihii…
lam manis,
andy sw
dayugayatri said,
September 23, 2011 at 4:44 am
belum sih.. kawan-kawan ku udah.. yang ngasih cerita malah kawan-kawan di penjara
Geneveiva said,
March 30, 2011 at 7:07 am
ih…. paling sebel kalo underwear yg raib….. kalo samapi tertangkap tangan si pencuri gue gebukin rame-rame
kris said,
April 4, 2011 at 5:08 am
awas di santet!