SIMPANAN

“Mereka keluarga yang harmonis” kata Mutiara padaku sambil menghisap rokok  kesukaannya. Asap kelabu bergelung di atas kepalanya, berputar lalu lenyap.

“Kok kamu tahu? Harmonis bagaimana?”

Mutiara sahabatku sejak kecil menyahut santai “Yaiyalah aku tahu! Anak-anaknya sudah beranjak remaja dan kuliah, tetapi mereka tetap bersama. Bahkan Sabtu-Minggu, Bapak tidak bisa diganggu karena itu adalah waktu untuk keluarganya” .

Mutiara bersandar disofanya yang hangat. Sesekali tampak ia menghembuskan asap rokok itu ke arah langit-langit  rumah kontrakan mungilnya yang cozy. Mutiara baru saja bercerai dan aku baru saja membina rumah tangga. Setelah satu dasa warsa, kami bertemu di facebook dan saling mengobrol. Sesekali aku menemui Mutiara mengisi waktu karena suamiku bekerja di kapal ikan. Tapi, Mutiara lebih sering menelpon. Ia lebih senang aku berkunjung ke rumah kontrakannya.

Minggu siang itu, kami berencana pergi mencari tempat nongkrong untuk sekadar minum coffe latte dan mencari suasana baru. Sambil menunggu mobilnya yang  tengah dititipkannya di salon, Mutiara dan aku saling bergosip tentang berbagai hal, termasuk tentang 9 tahun pernikahannya yang gagal.

“Aku tak mau bernasib sial seperti perempuan lainnya. Beruntung, selama perceraian ini aku mendapatkan hak-hakku. Waktu menikah, aku bekerja dan menabung. Jadi, ada-lah sedikit simpanan. Dulu, aku juga membuat perjanjian dengan suami, sehingga ketika aku mendapatkan musibah seperti bercerai, aku tidak begitu terguncang. Tidak banyak sih?! Mantan suamiku lelaki yang baik. Ia memberikanku mobil, beberapa perlengkapan rumah tangga dan juga sejumlah uang cukup untuk membangun sebidang rumah. Karena itulah, aku minta kamu untuk membantu aku, Mira”

Benar juga kata Mutiara. Perempuan menikah, lupa dan bahkan tidak tahu hak-haknya  dalam perkawinan. Simpanan pun tak ada, sama seperti aku saat inilah! Mutiara memberikanku inspirasi untuk membuat tabungan. Perjanjian dalam perkawinan antara aku dan suami, sepertinya harus mulai kupertimbangkan. Banyak kaum perempuan yang bercerai, nasibnya seperti pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mereka kehilangan hak asuh anak, tidak punya harta, dan hidup terlunta-lunta. Slip gaji kantor perlu juga ditunjukkan di hadapan hakim pengadilan? Yaiyalah, ini kan penanda kaum perempuan juga bisa memberikan jaminan sosial bagi anak-anaknya. Lagian hari gini, siapa juga yang mau menampung janda, tanpa harta?! Mutiara, wanita cerdik ini selamat dari neraka itu. Dan kini, akulah arsitek yang akan menggarap rumah idaman yang akan dibangun dari duit pembagian gono-gini.

“Aku salut sama kamu, Mutiara. Bagaimanapun, kamu cukup tegar menghadapi perceraian ini. Perjanjian nikah itu penting juga, ya? Masalahnya, banyak yang malas mengurus ini, mereka takut dikira menikah kok seperti dagang, jual-beli“.

Mutiara merapikan mayang terurainya yang basah habis keramas, berujar  datar “Aku tidak setegar yang kamu kira, Mira. Tapi perkawinan, terkadang membutuhkan perhitungan yang cermat tentang waktu dan uang. Jika kita tidak berhitung untuk musim bencana yang menyakitkan, itu namanya kebodohan. Bayangkan! Istri-istri setia ditinggal kabur suami dengan perempuan lain, mereka kehilangan segalanya: suami, anak-anak dan harta. Nasib mereka justru lebih menyedihkan dari pelacur! Pelacur saja, sekali mengangkang, pura-pura orgasme, langsung dapat bayaran. Istri yang diceraikan suami dapat apa, coba?! Mereka cuma kebagian lebel janda, status cerai hidup! Kenapa juga mesti disebutkan begitu di KTP, yah?”

Bibir kering Mutiara kebanyakan merokok ini menggetarkan kenyataan getir hidup seorang janda. Apalagi, ketika janda muda itu menjalin relasi baru dengan seseorang, kemudian merencanakan pernikahan, status “cerai hidup” sungguh memalukan!

“Sebenarnya, kamu bercerai karena apa, sih? Setahuku kalian hidup mapan dan selalu mesra“ tanyaku ingin tahu.

“Suamiku menghamili pembantuku. Sedangkan, aku tak mampu memberikannya keturunan. Sempat sih, aku hamil. Namun selalu, janin itu menjadi darah. Katanya, aku lemah kandungan tetapi tetangga malah bergosip jabang bayiku dijadikan tumbal oleh mertua. Mereka berkata begitu, karena mertuaku lumayan kaya. Aku mencoba bertahan menjadi menantu, tetapi keguguran itu sungguh menyakitkan! Aku gagal! Aku tak mau larut dalam kepedihan dan akhirnya kami berpisah baik-baik”. Mutiara melumat puntung rokok di asbak berabu dan menyulut rokok baru untuk membuang resahnya saat mengingat masa lalu.

“Dan, bagaimana hubunganmu dengan istri bapakmu?” Aku mencoba mengalihkan kembali pikiran karibku agar kembali pada hari ini.

Mutiara melipat kakinya yang jenjang dan menopang dagunya di tangan sofa “Oh, hubunganku dengan istrinya baik-baik saja. Ibu itu istri yang mapan, dan dia begitu percaya pada suaminya. Atau tepatnya, dia tak peduli dengan aktivitas suaminya. Yaiyalah?! Suaminya kan sudah memenuhi segalanya, memberinya kemewahan dan kemapanan. Berlian, emas, deposito, tanah, rumah atas nama istri, apalagi?”

Penasaran juga dengan cerita Mutiara, akupun bertanya “Tapi, kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana tentang kamu dan Bapak? Apakah ia memberikanmu cukup waktu dan perhatian?”.

“Mira, aku tidak begitu memusingkan itu. Kerjaanku di kantor banyak. Komunikasiku dengannya cukup lewat bébé dan yang penting aku memiliki waktu dan jaminan yang berkualitas. Itu jauh lebih memuaskan”.

“Bagaimana dengan masa depan?”.  Aku masih mengejar Mutiara dengan pertanyaan karena aku masih mengeja kisah Mutiara setelah berpisah dengan suaminya. Maklum begitu banyak masa yang tidak kami lalui bersama.

Mutiara mengangkat  kedua alis matanya yang tebal  tanda tak begitu memusingkan hal itu. “Siapa juga yang tahu masa depan? Siapa juga yang berharap menemukan nasib sepertiku? Menjadi janda kembang? Kalau bukan karena musibah ini, mungkin aku juga tidak tahu mengapa janda-janda begitu menggairahkan. Dan, mengapa istri-istri setia takut dengan kehadirannya? Kamu tahu, Mira? Ketika menjadi istri, kita lupa merawat dirinya, sibuk mengurus keluarga. Dan ketika menjanda, barulah perempuan mulai sadar diri dan usia, baru punya cukup waktu  merawat penampilan, minum vitamin dan jaga body agar tampak fit. Ya seperti aku-lah, sekarang ini!”

Mutiara merebahkan badan dan menyelonjorkan kakinya yang jenjang di sofa panjang, lalu menghisap rokok filternya dalam-dalam. Mutiara baru saja 31 tahun, ia menjadi ranum, memiliki karir yang berkilau dan pribadi yang menarik. Meskipun demikian, Mutiara juga tipe perempuan rumahan yang lebih senang menikmati kesendiriannya dengan fasilitas yang lumayan komplit. Mutiara mengaku padaku masih mengurung diri dan  menyesuaikan diri dengan stigma masyarakat tentang status ke-jandaan-nya.

“Bapak menjamin keluarganya dan aku. Tugasku hanya duduk manis di rumah ini. Aku mendapat jatah sangu sebulan sekali, sebesar gaji bulananku. Lumayan untuk belanja bulanan! Dan yang paling penting, setiap Bapak pulang, aku menyambutnya dan menerima jatah batin darinya. Hubungan seksual kami membara. Dia bilang, ranjang istrinya terasa dingin dan hambar, itu sudah sejak lama. Bersamaku, kami berdua di puncak ekstasi dengan variasi dan sensasi. Bapak menjawab setiap tantangan yang aku berikan di berbagai tempat, berulang kali hanya dalam dua malam saja. Dia lelaki yang hot, panas. Itu sebabnya, aku tidak begitu keberatan menjadi teman bermain Bapak dan tidak ingin berpisah dengannya. Aku sadar jika kami begitu berjarak usia dan waktu. Tapi, akupun tak bernafsu memilikinya”

“Kamu yakin ini akan berlangsung lama, Mutiara?”

Mutiara menarik nafas dalam-dalam. “Sejak aku berpisah empat tahun lalu dengan suamiku, lalu bertemu dengannya di suatu tempat, tidak ada yang berubah. Ah, hubungan kami telah berlangsung selama ini, dan semuanya baik-baik saja. Aku tidak berharap Ibu tahu hal ini. Jelas, Bapak akan berada dipihak istrinya. Dan, aku tak terlalu berharap banyak, sih? Jujur saja aku ingin Bapak ada denganku selamanya, meski tidak setiap waktu. Kurasa aku mencintainya karena kepuasan yang diberikannya”.

Terdengar bébé berkelenting berulang kali. Pertama itu dari salon mobil. Mutiara mengirim seseorang untuk membawa mobilnya pulang. Kelentingan kedua, tentunya dari Bapak yang menanyakan keadaan Mutiara. Lalu, Mutiara mengetik pesan pada kekasihnya tentang kedatanganku yang akan menggarap proyek rumahnya dan rencana kami berdua untuk pergi ke kafe. Pesan ditutup dengan kode ciuman mesra, tanda pesan berakhir. Luar biasa, Ilusi teks yang terasa begitu nyata.

Mutiara mengelung rambutnya yang panjang, menggulung gambar rumahnya dan kamipun bergegas pergi. Kurasa, Mutiara telah mengalami banyak hal dalam hidupnya dan aku tak berani mencampuri urusan ini. Lagipula, aku baru saja mengarungi bahtera, masih buta membaca pasang dan surut musim perkawinan. Terngiang saran Mutiara untuk selamat dari badai perceraian: perempuan perlu punya simpanan. Deposito, tabungan, emas atau apa sajalah, asal bukan “simpanan” lain! Oh, yang terakhir mungkin terlalu berbahaya, tapi who knows-kan? Mahligai Mutiara tak seindah yang dibayangkan,  bekasnya hanya menjadi kenangan  usang. Bagaimana dengan aku?!  Entahlah.

BIRAHI MERAH

Mang Denik tumben mampir ke tempat kosku. Ia masih sepupu jauh dari kampung. Kami berdua sama-sama merantau di kota ini untuk mengejar impian masing-masing. Aku menjadi guru dan Mang Denik menjadi pemandu wisata. Meskipun tinggal berjauhan, kami masih saling mengunjungi untuk berbagi berita dan rejeki.  Kami masih sama-sama lajang, dan sering meluangkan waktu sekadar cuci mata bersama. Pacar ada sih, tapi lebih enak kumpul-kumpul dengan keluarga dan kawan sekampung, sekadar membunuh keterasingan.

Senja ini, Mang Denik tampak tergopoh-gopoh datang ke kos. Ia meminta agar besok lusa aku mesti membuat jadwal cuti karena ada parum agung, rapat akbar di kampung. Tentu saja aku kaget, tidak biasanya desa menggelar rapat semendadak ini, lagi pula perayaan desa baru saja usai.

“Lusa, kita berdua mesti pulang kampung, penting! “ demikian perintah Mang Denik kepadaku sambil menyeruput kopi panas, mencicip sepiring penganan pisang goreng dan ote-ote kesukaannya.

“Yang benar saja? Perayaan desa kan udah selesai, lagi pula lusa nanti aku  mesti memberikan les tambahan untuk murid-muridku”. Tentu saja aku mesti memberitahu Mang Denik tentang hal ini.

“Harah, undur saja jadwalmu. Di kampung lagi genting, tauk! Sepupumu, Si Degeng  ditangkap pecalang kemarin sore. Akupun mesti pulang gara-gara Degeng, huh… ” Keluh Mang Denik dengan mulut berminyak penuh gorengan, membawa kabar yang tak mengenakkan hatiku.

Degeng seperti namanya kecilnya, sosok sepupu yang patuh, tak banyak cakap, pendiam dan tipe pria rumahan. Mendengar kabar sepupuku ini ditangkap pecalang keamanan desa kami, tentu itu seperti petir di siang bolong. Apalagi, Degeng baru saja menikah dan setahuku istrinya sedang mengandung 4 bulan.

”Ha…, apa masalahnya sampai sepupuku mesti mengalami nasib naas begitu? Apa salahnya?! ‘’

Mang Denik menarik nafas dan mencoba menerangkan dengan merendahkan nada suaranya ‘’Sore kemaren, sepupu kita itu tertangkap sedang bersetubuh dengan sapi betina peliharaannya!”  

Jeder! Suara halilintar seperti terdengar tepat diliang telingaku. Kaget, tentu saja! Aku yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak, hampir saja menyemprot muka Mang Denik. Cerita ini membawa pikiranku ke jejeran ruang sempit di warnet-warnet dekat kampus. Apa  yang diceritakan Mang Denik, begitu mudah diunduh di layar komputer. Tayangan manusia bercinta dengan berbagai binatang dengan beragam gayapun ada. Tontonan bokep, film porno seperti itu malah lebih heboh dan bervariasi. Cukup  di down-load saja.

Tetapi, berita ini menjadi berbeda! Tak bisa kubayangkan peristiwa itu terjadi pada sepupuku, Si Degeng! Tak bisa kubayangkan bagaimana petani ini digiring masyarakat ke balai desa untuk disidangkan karena peristiwa memalukan semacam itu. Dewa Ratu! Si Degeng bersetubuh dengan hewan ternak peliharaannya! Dan, bagaimana perasaan istri dan keluarga? Haruh, akupun jadi turut cemas memikirkan hal ini, tapi aku ingin Mang Denik melanjutkan kabar anyar dari kampung.

”Degeng mengaku dihadapan para tetua adat, bersetubuh empat kali dengan sapi itu. Dia mengaku waktu bersenggama ia tengah membayangkan sapi betina itu seorang wanita cantik. Degeng yakin, pastinya wanita cantik yang menggoda dirinya hingga birahi itu mahluk jadi-jadian. Lalu, warga desa pun setuju itu adalah mahluk halus. Terus, mereka juga menyimpulkan bahwa Si Degeng melakukan persetubuhan dengan sapi itu karena rayuan hantu binal yang merasuki tubuh sapi itu. Apalagi, kandang sapi itu sangat serbi, sunyi. Itu sebabnya, kita diminta hadir untuk memutuskan kapan pelaksanaan upacara adat pembersihan desa dapat kita laksanakan. Yang jelas, sepupu kita itu diputus bersalah melanggar hukum adat, gamia gamana  atau  salah krama” Mang Denik merangkum informasi yang ia dapatkan dari para kerabat kami di kampung.

”Ada-ada saja kamu ini, Mang! Jelas saja Degeng bercinta sambil membayangkan sapi itu manusia, perempuan cantik. Bercinta juga butuh fantasi, kan? Kasihan sekali mahluk halus yang dipersalahkan manusia karena dalih dan kelakuan Degeng ini. Mungkin saja mahluk halus itu tidak tahu apa-apa. Dasar Si Degeng saja yang tak mampu mengendalikan birahinya. Apa tidak sebaiknya Degeng ini diserahkan kepada dokter? Siapa tahu dia mengalami gangguan kejiwaan dan orientasi seksual yang menyimpang? Lagian kamu kan suka nonton bokep, masak kamu tidak pernah melihat adegan begitu?” gerutuku pada Mang Denik, sembari menyalakan televisi sebagai selingan.

Entah kenapa, cerita tentang Degeng membuatku tiba-tiba diserang gelisah dan cemas. Bagaimana tidak? Selama urusan seksualitas tetap tabu, bagaimana kelak anak-anak muridku bisa memahami seksualitas dirinya dengan baik? Atau, mengatasi masalah seperti Si Degeng, sepupuku?

”Iya, aku sih sudah tahu ada bokep begituan. Tapi, kamu ini kan guru?! Kamu saja yang menjelaskan pada tetua adat kita. Kita sendiri sudah tahu, mereka tidak senang keputusannya dipertanyakan lagi. Mereka lebih senang berkomunikasi dengan dukun. Lebih baik kita cari selamat saja. Turuti saja kata-kata tetua adat itu daripada kita lagi yang dipersalahkan! Sudahlah, kita terima saja ini sebagai aib keluarga kita! Katanya, sapi betina itu akan dibunuh, lalu kita akan melakukan guru piduka, permohonan ampun pada dewata dan mengadakan upacara besar bersih desa lainnya”.

Mang Denik sudah pasti pesimis menangapi  ideku tadi akan diterima tetua adat kami. Masalahnya, kami berdua sudah tidak menetap di kampung. Itu artinya, kami tidak berhak ikut campur keputusan desa. Mang Denik menyibukkan diri mengunyah gorengan yang terakhir. Jelas, Mang Denik juga gelisah karena belum mendapatkan keputusanku untuk  berangkat dengannya lusa nanti.

”Tetapi apa yang akan dilakukan masyarakat desa kepada Si Dengeng?” tanyaku pada Mang Denik.

Diam-diam aku ingin tahu. Sebab, dari tadi hanya sapi sial ini saja yang menjadi fokus dalam cerita ini. Aku membayangkan, andaikan sapi itu bisa bicara mungkin dia akan protes karena telah diperkosa tuannya. Nasib buruk sapi ini tidak beda dengan TKW di Saudi, ada yang diperkosa dan tidak sedikit yang mati. Lalu, masyarakat desaku yang tak tahu menahu tentang kejadian ini dikerahkan untuk menggelar hajatan karena skandal seksual ini, dan  melupakan kemungkinan Degeng sepupuku butuh bantuan dokter jiwa. Sial!

 ”Akupun tak tahu, mungkin Degeng dikenakan sejumlah denda uang” Mang Denik mengangkat bahu dan kedua alisnya tanda ia tidak begitu memusingkan apa yang terjadi dengan sepupuku. Dia juga tak tahu apa yang akan terjadi jika Degeng tak sanggup membayar denda uang itu. Baginya, yang penting dia menghadiri rapat, setor muka dan masalah selesai. Lagi pula, wajahnya sudah tampak letih dan mengantuk. Itu berarti, sebentar lagi dia hendak bangkit dan pamit pulang ke kosnya.

”Baiklah kalau begitu, lusa kamu jemput aku dan kita berangkat bersama”.

Keputusan ini kubuat karena bagaimanapun aku adalah sepupu Si Degeng. Dan tentu saja, jika tidak mematuhi  perintah hadir rapat desa itu akibatnya lebih mengerikan daripada ancaman dipecat dari kantor. Sudahlah!

Mang Denik bergegas bangkit untuk segera pulang, namun tiba-tiba pandangan mata kami berdua tertuju pada layar televisi. Kami berdua sejenak terpaku menyantap suguhan berita tentang seorang lelaki pemilik kambing dengan bangga mempertontonkan kambingnya yang berkepala mirip manusia. Warga desa berduyun-duyung datang ke pondok lelaki itu untuk bisa melihat kegaiban itu dan memohon berkah pada anak kambing ajaib itu agar mendapat rejeki. Dan sebentarnya lagi, ditayangkan seekor babi betina melahirkan anak dengan memiliki tanda-tanda mirip bagian tubuh manusia. Televisi menyebutnya ajaib,  badah!

Tayangan itu membuatku tiba-tiba mual. Aku dan Mang Denik saling berpandangan dan bergidik. Jangan-jangan…..?!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEREMPUAN DAN KISAH BABI HITAM

Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah. Aku membajak hatiku dengan doa keselamatan. Aku menyuburkannya dengan hujan air mata dan bulir-bulir keringat [malam-malam usai suamiku membajak tubuh dan jiwaku]. Seperti sapi, Aku  sesekali melenguh menerima  benih yang ditebarkannya. Serupa orang-orangan sawah dengan rupa yang mengerikan, aku menjaga benih yang ditanam dirahimku. Tiba waktu untuk memanen kelamin, tunas itu kusemai sendirian di atas ranjang bersimbah darah. Laki-laki ataukah perempuan, begitu mereka menamai keunggulan. Sayangnya meskipun tumbuh di ladang rahimku, mahluk yang dipanen dari rahimku bukanlah milikku. Aku hanya bisa mengaku-ngaku ibunya, tanpa bisa memilikinya.

Sejak dulu, aku  dan perempuan sesuku tak punya tanah dan rumah di negeri ini. Perempuan dinegeriku bekerja menggarap ladang-ladang kehidupan yang bukan miliknya. Perempuan dinegeriku adalah semut pekerja, mencari penghidupan untuk memastikan kehidupan tetap terjaga, meski dalam musim yang paling buruk sekalipun. Dan jika letih mendera, mereka  memejamkan mata sekedar menumpang  tidur di rumah ayah dan ibu [kelak semua itu  menjadi milik saudara lelaki atau para paman], Sang Penjaga Ladang Silsilah.

Lalu pada waktu birahi dan bunting, para perempuan dinegeriku menumpang nasib di rumah para suami. Jika  beruntung, tubuh perempuan  seperti tunas pisang: dicerabut dari akarnya, dibenamkan,  kemudian dengan sendirinya berbuah dan tasak, mengenyangkan harapan setiap keluarga.  Jika nasib tiada berpihak, maka ia layu sebelum berkembang dan gugur mencium kerinduan pada bayangannya. Sendirian. Terkadang  tak sedikit yang mekar, kesegarannya dipetik lalu dijadikan persembahan dewata.

Sampai kinipun, aku perempuan tak punya tanah dan rumah. Meskipun jauh sebelum aku dilahirkan, kedua orang tuaku memiliki tanah dan rumah untuk ditempati. Dan, aku dibesarkan dalam rumah yang baru saja mereka bangun. Waktu itu tembok bata belum lagi diplester dan lantai masih berupa tanah. Beberapa babi hitam berbulu ijuk masih berkeliaran karena nenek yang memeliharanya untuk bekal hari raya. Aku menetas  dan tumbuh riang di tanah dan rumah milik kakek, lalu menjadi  milik  ayahku dan paman-pamanku. Aku dan anak-anak lain bermain diantara babi-babi hitam itu, tumbuh tanpa rasa jijik ataupun kebencian. Babi-babi hitam itu harta keluarga, tepatnya milik nenek karena ialah yang mengasihinya, memberikannya makan dan kebebasan.

Aku, perempuan  tak punya  tanah dan rumah. Meskipun beranjak dewasa, rumah ayah dan ibuku semakin menegaskan bentuk, warna dan menampilkan gaya. Sesekali aku mengundang kawan  untuk bertandang dan memperkenalkannya sebagai rumahku. “Hayo, main ke rumahku!”.  Namun, betapa malunya aku setelah beranjak dewasa, mengetahui semua itu hanyalah bualan masa kecilku. Ternyata, itu bukanlah rumahku. Aku hanyalah  bocah pengungsi yang riang dan tak tahu apa-apa.

Kini, kenangan itu sudah mati karena nenek juga sudah lama pergi ke Tanah Tua milik Sang Muasal. Begitu juga kisah Si Babi Hitam,  ia sudah punah dari ingatan. Tak ada lagi Bangkung, Si Babi hitam betina berperut buncit dengan puting susu menjuntai, serta ekornya melengkung yang bisa seenaknya menempati dan berak di halaman rumah bersama anak-anaknya. Mereka tampak begitu buruk rupa dengan mulut monyong dibandingkan dengan Si Babi Bule berwarna pink, babi ekspatriat yang lagi naik daun. Bahkan dalam dunia babi pun, diskriminasi warna dan kelas menjadi begitu ideologis. Hitam seperti  kutukan. Lokal menjadi  kelas rendahan dan dieliminasi. Dan, babi-babi tak bisa lagi menjadi binatang peliharaan rumah.

Kisah tentang hidup babi pun seperti sinetron, antara cinta dan benci. Ada tetangganya diam-diam memelihara babi, dibiakkan lalu dijagal ketika ada kelahiran bayi baru meminta pengganti jiwa anak babi, untuk keselamatan. Ada babi mati karena wabah, menjadi berita. Bentrok warga karena kandang babi, jadi berita. Ada juga babi terpaksa diungsikan karena diharamkan  pandangan mata, lidah dan titah. Menyebutkannya pun menjadi begitu memalukan dan memilukan.Tetanggaku bilang, babi-babi itu pergi dan mati karena bau, dan turis tidak menyukainya. Ah, babi hitam yang malang.

Aku, perempuan tak punya rumah, apalagi tanah. Tanah dan rumah adalah milik lelaki dan aku hanyalah perempuan. Kemungkinan besar hidupku bernasib sama dengan kisah babi hitam itu. Perempuan, kelak mengungsi ke suatu tempat : birahi, kawin ,beranak dan mati tanpa ada yang mengingat namanya apalagi jasanya.

Lama aku amati ibuku. Ia perempuan sesuku. Ternyata ia juga sama sepertiku. Ia seorang pengungsi. Ibuku seorang perempuan yang tiada letih bekerja secara mekanik melayani kepentingan keluarga, kerabat dan desa. Selebihnya, Ia hanya menumpang tidur di rumah suaminya, di rumah ayahku, di tanah kakekku.

Atas nama kehormatan keluarga suaminya, ibu bekerja giat dan liat hingga tulang punggungnya melengkung dan garis keriputnya seperti serat  kayu tua. Ia berjuang di desa agar namanya diakui pernah ada di ladang yang digarapnya, di ladang silsilah milik suami serta kerabatnya.

Sebagai seorang pengungsi, hak menjadi sebuah kemewahan. Ibuku telah berusaha begitu keras untuk mendapatkan haknya. Dulu, aku tak mengetahui untuk apa ibu bekerja begitu giat, menyiapkan jenukan berisi beras, gula dan kopi untuk dibawa ke tetangga yang memiliki hajatan. Ia begitu cemas jika tak bisa melakukannya. “Semua tetangga melakukannya, kita pun harus begitu” kata ibu.  Konon, jika ia tak melakukannya, maka ia akan diperlakukan seperti bangkai anjing, tikus, ular yang dilindas roda kendaraan, dilindas kekuasaan dan digeret kejalanan tanpa kehormatan, meskipun ia sudah menjadi mayat sekalipun.

Setelah menjadi perempuan dewasa barulah aku mengetahui, ibu melakukan semua itu untuk mendapatkan hak meminjam liang kubur desa untuk dirinya sendiri. Demi Tuhan, hanya itukah hak yang ia dapatkan? Hanya untuk sebuah liang kubur? Dulu aku bertanya pada ibu, “Untuk apa semua itu?”.

Ibu menabung karma baik. Ibu berharap, jika ia mati warga desa sudi menanam mayatnya seperti tunas-tunas pisang di kuburan desa. Tiba waktu tubuhnya tak lagi berdaging, warga sudi mengangkat belulangnya untuk dijadikan abu. Hanya itulah hak perempuan dan impian-impian perempuan tanpa rumah dan tanah dinegeriku.

Ibuku dan juga nenekku adalah pengungsi di rumah dan tanah yang sama. Nenekku pun menjadi pengungsi di tanah kakekku. Perempuan di negeriku mengungsi tanpa membawa bekal apapun.  Dan kakek mendirikan pasak rumah baginya untuk menjadi naungan dan membiakkan anak  keturunan. Begitu pula yang dilakukan oleh ayahku, anak laki-laki di rumah mereka. Bibi-bibiku sejak lama berlalu dari rumah  itu dan menjadi pengungsi di rumah lain. Mereka menyebut dirinya di ladang asing sebagai istri. Dan, paman-pamanku membawa istri ke tanah dan rumah milik mereka, setelah memetiknya dari halaman dan rumah keluarga lain yang masih sesuku.

Perempuan itu sesekali saling bergunjing, sesekali saling mencibir,  sambil menggantang asap dengan pikiran yang sia-sia dan bodoh. Perempuan di negeriku tak banyak yang pandai bicara. Mereka lebih banyak  bergumam dalam doa, menghibur diri karena sayapnya telah dipatahkan. Mereka pun tak punya rumah dan tanah. Pulang, menjadi kata penghiburan. Kemana? Rumah siapa?

Begitulah perempuan di negeriku. Seperti kisah babi hitam, perempuan dihajar waktu dan musim, menua, menjadi buruk rupa yang tak sedap lagi dipandangan mata.  Perempuan, tersingkir dari  ruang dan waktu, sebagai orang-orang ungsian tanpa ingatan tentang nama dan silsilah. Karena, ladang itu hanyalah milik lelaki yang mengukirnya sebagai sejarah. Aku menua dan menuai seperti ibu dan nenekku. Aku, perempuan tanpa tanah dan rumah, pengungsi yang kelak mati seperti kisah Si Babi Hitam.

 

KEKERASAN DAN BUDAYA KEKERASAN

APA ITU KEKERASAN?

Kekerasan (violence, bahasa Inggris) berasal dari kata latin violentus , berasal dari kata vi atau vis yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Kekerasan merupakan cerminan dari tindakan agresi atau penyerangan kepada kebebasan atau martabat seseorang oleh perorangan atau sekelompok orang. Kekerasan dapat juga diartikan sebagai tindakan yang sewenang-wenang dan menyalahgunakan kewenangan secara tidak absah.

Kekerasan adalah tingkah laku agresif yang dipelajari secara langsung,  yang sadar atau tidak sadar telah hadir dalam pola relasi sosial seperti keluarga sebagai unit paling kecil hingga kelompok-kelompok sosial yang lebih kompleks. Kekerasan terjadi dalam berbagai bidang  kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya.

Bentuk kekerasan banyak ragamnya, meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan psikologis, kekerasan ekonomi, kekerasan simbolik dan penelantaran. Kekerasan dapat dilakukan oleh  perseorangan maupun secara berkelompok, secara serampangan [dalam kondisi terdesak] atau teroganisir.

KEKERASAN DAN PERILAKU MENYIMPANG

Kekerasan juga diidentikkan dengan perilaku menyimpang. Tuti Budirahayu (2004) dalam buku “Sosiologi”  menjelaskan, perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku (nonconform), tindakan anti sosial (melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum dan tindakan kriminal (pelanggaran aturan hukum, mengancam jiwa dan keselamatan orang lain).

Penentuan siapa yang bisa disebut memiliki  perilaku menyimpang sangat relatif karena norma-norma yang mengatur perilaku juga bervariasi. Perilaku ini dapat dikenali dari reaksi orang lain (masyarakat) jika norma telah ditetapkan dan penyimpangan telah diidentifikasi.

Seseorang menjadi penyimpang karena proses interaksi dan intepretasi tentang kesempatan bertindak menyimpang, pengendalian diri yang lemah dan kontrol masyarakat yang longgar (permisif). Perilaku menyimpangan yang dilakukan kelompok disebut dengan subkultur menyimpang. Subkultur menyimpang memiliki norma, nilai, kepercayaan,kebiasaan atau gaya hidup yang berbeda dari kultur dominan. Subkultur misalnya, komunitas biker, rider, kelompok drugusers, kelompok homoseksual, kelompok punk, dan sebagainya.

Teori Yang Berkaitan Dengan Perilaku Menyimpang :

  1. 1. Teori Anomie

Pandangan ini dikemukakan oleh Robert Merton yang menyatakan,  perilaku menyimpang terjadi akibat adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi penyimpang.

  1. 2. Teori Belajar ( Teori Sosialisasi)

Edwin H.Sutherland menyatakan teorinya asosiasi diferensial yaitu penyimpangan itu adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari subkultur atau teman-teman sebaya yang menyimpang.

3. Teori Labeling  (teori  pemberian cap atau teori reaksi masyarakat)

Becker menyatakan teori bahwa penyimpangan merupakan suatu konsekuensi dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar. Misalnya Seseorang  yang terlanjur dilabelkan atau dicap negatif sebagai pemabuk  maka  orang itu justru minum sebanyak-banyaknya untuk mengatasi penolakan masyarakat terhadap dirinya.

4. Teori Kontrol

Teori ini muncul karena adanya pandangan yang  mengasumsikan bahwa setiap orang  cenderung tidak patuh pada hukum atau untuk memiliki dorongan pelanggaran pada hukum. Hirshi menyatakan empat unsur  pengikat  sosial (sosial bond) yang berfungsi sebagai pengendali perilaku individu yaitu : attachment (kasih sayang), commitmen (tanggung jawab), involvement (keterlibatan), believe (kepercayaan, kepatuhan, kesetiaan)

5. Teori Konflik

Teori ini menyatakan bahwa kelompok elite dengan kekuasaannya menciptakan peraturan, khususnya hukum, untuk melindungi  dan memenangkan kepentingan mereka. Persaingan kepentingan mengakibatkan terjadinya konflik antara kelompoks atu dan kelompok lainnya. (menurut : Quinney, Clinnard dan Meier).

APAKAH KEKERASAN ITU BUDAYA?

Ya. Kekerasan itu budaya, jika dilihat dari pengertian budaya sebagai sebuah cara hidup menurut Raymond Williams (pemikir kajian budaya/cultural studies dari Inggris). Budaya menurut Kephart meliputi adat istiadat / kebiasaan, nilai-nilai, pemahaman yang sama yang menyatukan sebagai masyarakat (Chaney, 2006).

Jelas, pada banyak sisi kehidupan kekerasan itu menjadi  budaya. Tafsir terhadap kekerasan itu sangat subyektif, bersifat kultural dan tergantung pada keyakinan, pandangan, nilai atau norma yang diyakini kelompok-kelompok masyarakat.

Motivasi kekerasan ditujukan untuk :  bertahan hidup (survival), memenuhi kebutuhan atas hasrat [libido] kekerasan, melanggengkan kekuasaan, mempertahankan diskriminasi dan  stratifikasi sosial.

Sebagai cara hidup, budaya kekerasan itu: dipelajari, diadopsi, dibiakkan, dikonsumsi dipertunjukkan, didistribusikan atau bahkan dijadikan komoditas fetishme [pemuas birahi kekerasan, seperti penjualan alat-alat kekerasan seksual bagi para sadomasokis].

APAKAH BUDAYA KEKERASAN ITU?

Budaya Kekerasan terjadi, ketika kekerasan (violence), ketakutan (horror) dan teror berkonspirasi membentuk perilaku yang menyimpang dan menjadi praksis kehidupan masyarakat.  Kekerasan  dianggap hal yang biasa karena menjadi komsumsi pikiran dan termanifestasi dalam tindakan sehari-hari.

Media massa memberikan kontribusinya yang sangat besar dalam mendistribusi kekerasan. Rumah-rumah produksi berlomba-lomba menyajikan tayangan  sinetron, reality show yang sarat dengan caci maki, intrik jahat, kisah yang menampilkan darah dan airmata, penindasan dan berbagai kekerasan lainnya.

Yasraf Amir Piliang (Alfatri Adlin, 2006:201) menuding modernisasi dunia ketiga menimbulkan banyak  kesenjangan dan penderitaan sosial seperti: penggusuran, pengusiran, perampasan hak milik dan pemerkosaan hak hidup. Fenomena ini disebut sebagai horror-culture yaitu kecenderungan dimana ketakutan dan horor dijadikan elemen utama pembentuk budaya. Horror culture meliputi :

  1. Horrosophy yaitu wacana pemikiran  dan pemikiran dalam menciptakan konsep-konsep yang tujuannya menimbulkan rasa takut. [Misalnya wacana tentang G30S PKI, wacana tentang  pendatang, pemulung, kesepekan, dsbnya]
  2. Horrography yaitu strategi untuk memproduksi rasa takut. Strategi ini sejalan dengan pemikiran filsuf Perancis, Pierre Bordieu  yaitu kekerasan simbolik, sebuah kekerasan yang dilakukan dengan cara halus melalui suatu mekanisme tertentu (misalnya mekanisme kekuasaan) sehingga tidak tampak sebagai kekerasan. [Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni]
  3. Horrocracy sebuah sistem pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi terletak pada sebuah kekuatan yang memproduksi dirinya melalui cara-cara kekerasan, terror, dan prinsip ketakutan [contoh: mobilisasi massa mengatasnamakan adat untuk mengucilkan, melakukan pelarangan jenasah di Bali, pecalang yang menyidak penduduk]
  4. 4. Horronomics sebuah sistem dengan tindakan ekonomi yang dalam proses produksi dan distribusinya menggunakan cara-cara kekerasan dan terror untuk menimbulkan rasa takut terhadap pihak lain [bakso krama bali dalam konteks persaingan usaha antaretnis]

FENOMENA KEKERASAN DI BALI

  1. 1. Kekerasan sebagai Komoditas

Beberapa bentuk kekerasan dijadikan komoditas yang digunakan untuk mendongkrak perekonomian dan pariwisata. Misalnya, atraksi saling pukul dengan pandan berduri dalam tari Perang  Pandan (tari memanggil hujan orang Trunyan), sejumlah bentuk olah raga seperti bela diri (silat),  mepantigan (gulat Bali).

Atraksi hiburan “Jogeg Porno” (Joged Ngebor, menurut istilah Prof. Bawa Atmaja) juga menjadi semacam birahi kekerasan seksual yang dilakukan penari dengan pengibing, ditonton dari berbagai kalangan usia. Atau, atraksi menusuk badan sendiri (ngurek/ngunying). selain menjadi bagian dari ritual dan pertunjukan untuk pariwisata.

  1. 2. Kekerasan dan Mobilisasi Massa

Fenomena belakangan yang marak di Bali adalah mobilisasi massa untuk melakukan kekerasan, yang disakralkan dengan mengatasnamakan adat. Kekerasan ini tidak saja melibatkan mediasi aparat kepolisian tetapi juga oleh penguasa [bupati, gubernur].

Sejumlah tafsir hukum adat dan agama dijadikan bahan argumentasi terkait dengan berbagai ketegangan konflik sosial. Beberapa identifikasi kekerasan yang melibatkan massa di Bali, seperti: pelarangan penguburan jenasah, proses pemisahan wilayah akibat  pemekaran, perselisihan antarkelompok pemuda, pengucilan terhadap seseorang atau kelompok masyarakat, akibat perubahan nama dengan melekatkan atau mengganti gelar kebangsawanan.

Potensi konflik ini sarat dengan kepentingan politik dan penguasa lokal, melibatkan kekerasan dan dampaknya sangat  merugikan banyak keluarga dan melumpuhkan  perekonomian. Korban kekerasan simbolik  menjadi orang-orang ungsian (tak jarang di tempat baru muncul konlik baru), kehilangan harta benda, kerusakan di berbagai ranah kehidupan dan keluarga pontensial tercerai-berai.

  1. 3. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Belakangan marak terjadinya fenomena perceraian di kalangan keluarga di Bali akibat terjadinya KDRT. Para perempuan sering tidak mendapatkan keadilan dalam distribusi ekonomi (pemisahan harta gono-gini) atau dalam mendapatkan hak untuk mengasuh  anak dengan alasan stratifikasi sosial (persoalan beda kasta).

Perkawinan dan perceraian bagi perempuan Bali telah menjadikan banyak perempuan berstatus refuji, pengungsi tanpa ‘identitas’ dan rumah. Hal yang menakutkan bagi perempuan Bali pascaperceraian adalah tidak memiliki ‘identitas’ yang diakui oleh sebuah komunitas. Status mereka pada akhirnya hanyalah diakui sebagai pendatang, pengungsi tanpa [kepala] keluarga.

Kekerasan yang dilakukan pemerintah terhadap perempuan, tampak dari sistem pencatatan sipil hanya mengakui status dari keluarga yang ideal (lengkap dengan nama suami sebagai kepala keluarga). Hal ini tidak mempertimbangkan hak perempuan-perempuan yang mampu hidup mandiri  (apalagi bagi yang telah bercerai). Jika perempuan itu beruntung, ia masih bisa kembali kepada keluarganya, namun dengan status menumpang, pengungsi tanpa hak.

  1. 4. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)

Lembaga Pemasyarakatan merupakan fenomena sosial-budaya  yang menarik untuk dicermati. Lapas seperti planet lain di muka bumi ini, keberadaaannya seperti ada dan tiada, dan penuh  misteri. Lapas adalah sebuah benteng  yang memisahkan  para pelaku perilaku menyimpang dengan masyarakat yang berperilaku dominan.

Pemerintah telah berupaya merubah paradigma ‘penjara’ menjadi ‘pemasyarakatan’ ditujukan untuk menjadikan lembaga pemerintahan ini sebagai institusi rehabilitasi atau ‘terapi perilaku’. Harapannya, agar para narapidana (warga binaan pemasyarakatan) dapat berperilaku dan menyesuaikan diri (adaptif) sesuai dengan perilaku dominan masyarakat di luar tembok penjara.

Isu Lapas menjadi begitu kompleks karena melibatkan persoalan  jenis kelamin, kelompok usia (lansia, anak-anak dan bayi yang kebetulan lahir di dalam penjara), kelompok gender (waria, homoseksual), kelompok etnis, ras dan agama, kelompok intelektual, politisi, kelompok terlatih (mantan tentara, polisi), masalah kesehatan (pecandu dan HIV/AIDS), penyebaran penyakit, akses pendidikan, dan beragama persoalan yang berkaitan dengan hak asasi penghuni lapas. Sementara,  Lapas memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan tenaga terlatih yang memiliki kapasitas  merehabilitasi berbagai ragam perilaku menyimpang.

Menariknya,  jumlah orang yang dinyatakan memiliki perilaku menyimpang sesuai dengan bunyi teks hukum yang diberlakukan negara semakin meningkat. Bahkan, jumlah mereka melebihi kapasitas lapas yang layak huni. Berdasarkan data tahun 2010, jumlah penghuni lapas kelas II A Denpasar (Kerobokan), sebesar  799 orang, terdiri atas 356 tahanan dan 443 orang napi. Untuk tahanan sebanyak itu terdiri atas 317 orang pria dan 39 wanita, sedangkan untuk napi masing-masing 394 pria dan 49 wanita.Dikatakan, jumlah penghuni Lapas Kerobokan yang mencapai 799 orang itu, telah melebihi kapasitas yang sesungguhnya hanya 323 orang. Perkembangan tahun 2011 diperkirakan jumlah penghuni mencapai 900an orang.

Menurut  Donald Black, hal ini bisa dijelaskan dalam teori hukum tentang penahanan. Penahanan (an arrest) berkaitan dengan keputusan polisi. Ini juga merupakan peristiwa psikologis dan merupakan fenomena sosial. Penahanan berkaitan dengan variabel sikap dan persepsi, terkait dengan latar belakang pendidikan, ekspektasi  atasan dan rekan sekerja, aksi dan reaksi masyarakat.

Prestasi aparat kepolisian yang disandarkan pada ekpektasi atasan untuk meningkatkan data kuantitatif laporannya,  menjadikan kapasitas Lapas menjadi kelebihan penghuni. Perburuan manusia yang potensial untuk dijadikan tahanan atau  narapidana semakin agresif dilakukan oleh aparat yang memiliki kuasa dengan mengatasnamakan kontrol sosial.Hal ini berbanding terbalik dengan ekspektasi dari Mentri Hukum dan Ham RI, Patrialis Akbar  kalah cepat menurunkan jumlah penghuni Lapas.

Dalam sudut pandang yang  berbeda, pencapaian prestasi yang dianggap sebagai  ‘keberhasilan’ aparat kepolisian dalam meningkatkan jumlah penghuni lapas dapat dikritisi   tidak saja sebagai bentuk longgarnya kontrol sosial. Tetapi, fenomena ini juga dapat digunakan untuk mengkritisi kinerja atau ‘kegagalan’ aparat kepolisian dalam melakukan tindak preventif terhadap potensi terjadinya tindak pelanggaran dan kejahatan.

Wajah Lapas adalah sisi gelap dan paling suram dalam peradaban manusia, dan bangsa Bali pada khususnya. Meningkatnya jumlah penghuni lapas seharusnya disikapi dengan secara kritis terhadap beberapa aspek kehidupan, beberapa hal :

  1. Relasi, jarak dan komunikasi sosial
  2. Melihat visi pemerintah terhadap pembangunan masyarakat
  3. Mengkaji  koordinasi antarainstitusi pemerintahan yang tampaknya masih bekerja secara parsial.
  4. Mengkritisi beban APBD atau APBN yang dikeluarkan pemerintah dalam membiayai operasional dan kelangsungan hidup warga binaan dan petugas lapas.
  5. Mempertimbangkan dampak dari penahan seseorang menjadi penting, mengingat dengan adanya peningkatan jumlah orang yang ditahan maka meningkat pula jumlah angkatan kerja yang tidak produktif, pengangguran terselubung bahkan potensial melahirkan kemiskinan baru dan beruntun.
  6. Teks hukum serta kewenangan lapas dalam penanganan warga binaan dibatasi. Misalnya, WBP pecandu narkoba dan HIV/AIDS sebaiknya diserahkan pada institusi rehabilitasi medis. Atau penanganan tahanan anak diserahkan pada dinas sosial dan tenaga medis (psikiater, psikolog).

AKAR MASALAH KEKERASAN

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.”— Mahatma Gandhi (1869-1948)

Gandhi  mengasumsikan akar dari kekerasan terjadi ketika sebuah kehidupan tidak dilandasi  hukum dan etika sosial. Burhanuddin Salam (1997: 129-136; Black, 1976:2) menyatakan, hukum adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah atau oleh suatu badan yang digunakan sebagai alat untuk mengatur kehidupan warganya.

Hukum dan etika pada dasarnya memiliki kesamaan yaitu bersumber dari pengalaman dan ditujukan untuk mengatur tertib hidup bermasyarakat. Keduanya, baik hukum dan etika membatasi gerak, hak dan wewenang seseorang dalam pergaulan hidup. Bedanya, hukum biasanya tertulis, objektif, tegas, menuntut, memerlukan alat negara dan bukti untuk menjatuhkan sanksi. Sedangkan etika timbul dari tata kesopanan yang tidak tertulis dan menjadi kebiasaan, bersifat fleksibel dan sifatnya sebagai tuntunan, dan  landasan tingkah laku adalah kesadaran.

Akar kekerasan lain juga disebabkan karena kemiskinan. Donald Black (1976:30) dalam teori tentang perilaku menyimpang (theory of deviant behavior) menyatakan, seseorang yang  kesejahteraan terampas cenderung akan berperilaku yang menyimpang, agresif dan memiliki kecenderungan terlibat dalam bisnis yang terlarang, melakukan kekerasan dan perusakan (vandalism).

FENOMENA [PRODUK] HUKUM DAN KEADILAN SEMU (PSEUDO OF JUSTICE)

Tuti Budirahayu (2004:98) mengutip pandangan Karl Marx yang melihat korelasi produk [teks] hukum dengan kepentingan para kapitalis yang didukung oleh agen pelaku kontrol sosial seperti polisi, pengadilan dan sistem penjara/ lembaga pemasyarakatan.

Menurut Marx, kapitalisme mengembangbiakkan hukum-hukum kriminal karena hukum tersebut dibutuhkan untuk memelihara tatanan yang mapan,  yang datang dari kelas atas melawan kelas bawah. Dan peran negara  tidak netral karena, sesungguhnya peran negara ditujukan untuk melayani dan melindungi orang-orang yang membuat peraturan serta menghindarkan mereka dari ancaman-ancaman orang atau kelompok lain.

Gejala perilaku [agen penegak] hukum hari ini sangat terkait dengan pasar. Tafsir teks hukum diperdagangkan para makelar kasus. Kekuatan uang dijadikan kunci sukses dalam memenangkan perselisihan hukum. Donal Black (1976) mengingatkan, perlakuan hukum memang kerap bersifat diskriminatif. Mereka yang berasal dari kalangan yang kurang mampu (miskin) yang mengalami kasus hukum umumnya sulit mendapatkan pelayanan hukum apalagi keadilan. Jasa pengacara lebih banyak diperlukan oleh mereka yang berduit alias memiliki kapital. Putusan yang dijatuhkan kepada  mereka yang miskin cenderung lebih berat jika dibandingkan dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang memiliki akses politik yang luas dan uang. Pada banyak hal, mereka yang memiliki modal kapital cenderung menang di pengadilan dan ini merupakan wajah keadilan yang semu (pseudo of justice).

SARAN: REFORMASI PENEGAKAN [SISTEM] HUKUM

Sebagai sistem, penegakan hukum melibatkan berbagai komponen, seperti:  ideologi (norma, nilai), institusi penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan), masyarakat.

Penegakan [sistem] hukum dapat dilakukan dengan memperbaiki pola relasi keluarga, mempersempit jarak sosial dan meningkatkan komunikasi positif dan mengembangkan etika sosial. Paradigma hukum seharusnya mengikuti dinamika masyarakat yang berubah dan dinamis. Misalnya, reformasi teks hukum yang tidak sesuai dengan semangat jaman sebaiknya dihapus [seperti penghapusan hukuman mati].

Reformasi institusi penegak hukum diperlukan khususnya dalam efisiensi birokrasi, evaluasi efektifitas dan efisiensi kinerja berbasis good government dan clean governance,  serta pembatasan wewenang aparat agar tidak bertindak secara absolut dan sewenang-wenang.   Sosialisasi Hukum dan HAM bagi masyarakat harus dilakukan secara aktif oleh pemerintah dan lembaga sosial yang terkait.

Daftar Bacaan

Adlin, Alfatri. 2006.Spiritualitas dan Realita Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra

Black, Donald.1976. The Behavior of Law. London : Academic Press

Budirahayu, Tuti.2004. Perilaku Menyimpang. Jakarta: Prenada Media

Chaney, David.1996. Lifestyles. Yogyakarta: Jalasutra

Salam, Burhanuddin.1997. Etika Sosial—Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia.Jakarta: Rineka Cipta

*Makalah diskusi panel reformasi penegakan hukum bali

diselenggarakan oleh Manikaya Kauci- LBH BAli-Indonesian Police  Watch

Pembicara : ida ayu made gayatri adalah mahasiswa program doktoral kajian budaya universitas udayana dan ketua NAPI (National Alliance for Prisoner in Indonesia ) Bali Region

CELANA DALAM

Hari-hari yang melelahkan. Pindah kos lagi. Begitulah. Merantau ke kota, tak punya keluarga tempat tinggal yang paling diburu, ya rumah kos.  Harga kos sekarang ditentukan oleh keberadaan kamar mandinya. “Mau yang di dalam apa di luar?” begitulah pertanyaan pemilik rumah kos-kosan. Kamar yang lengkap dengan kamar mandinya, harganya lebih mahal. Secara, Asanti sudah bekerja jadi ia lebih memilih  kamar yang lengkap. Malas banget kan, pagi-pagi mau kerja mesti antre kamar mandi segala? Read the rest of this entry »

SÉLEBRITIS

Sira koné sané kasengguh sélebritis?  Sélebritis punika nénten wantah artis kémanten.  Yéning sampun terkenal ulian wartawan, kayang kurenan, pianak, cucuné, mitran jeg anaké punika sampun dados kasambat sélebritis. Dados terkenal cara mangkiné anak nénten perlu ngetélang peluh, ngayahin gumi, dados pahlawan utawi tokoh kemanusiaan. Ten perlu mapréstasi napi. Ah, nika nénten penting.

Cukup madué prarai bagus lan jegég, mabusana tréndi, sering kapanggihin ring pésta-pésta, undangan paméran utawi exhibition nika sampun kabawosang  sosialista, sekadi gaya hidup sélebritis.  Digenahé  sekadi punika, sekancan ebo miyik kadirasa neked kanti kabatarané, ngalub saking anaké sané rawuh.  Dirika sampun iraga akéh kacunduk sareng anaké  sané kocap penting, orang terkenal utawi anaké sané mapi-mapi orang penting, utawi mapi-mapi madué rélasi sareng anaké sané terkenal punika.

Cendekné, yéning lunga katongos sekadi punika, anaké mamargi di tengah kalangané masliweran negehang tangkah taler kenyemé matata. Yéning kacunduk sareng anak lianan,  saling masalaman, saling madiman pipi kiwa lan tengen, saling gelud, utawi saling nyambat kadirasa anaké punika saling uningang, saling kingetan. Cendekné, megaya saling kenal nika penting. Yéning nénten kénten, béh bisa-bisa kalah gaya lan mekiyud rasa percaya diriné. Enduk nika adané.

Semaliha sekadi mangkinné, mangdané terkenal, cukup madué jinah ageng anggén ‘invéstasi’ kecantikan lan kebugaran, mangda setata madué citra diri sané prima. Gaya hidup anak sané kesengguh selebritis punika satata mapayas, ngranayang anaké  engon indik penampilanné sané ngaé ulap.  Pepayasan lan citra diri kocap modal uttama hidup cara mangkiné. Yéning ngerereh pakaryan masih kénten. Kantor-kantoré pasti ngerereh pegawai sané berpenampilan menarik, jegég-bagus.

Anggota déwan sekadi mangkiné  masih kasengguh selébritis, krana makéh artisé dados sélebritis, taler wénten makéh ‘skandal anggota déwan’ sané kocap madué ‘nilai jual’ dados adép anggén berita infotainment, satua hiburan. Béh, cendekné sélebritis nika makardi masyarakaté ulap, engon santukan anaké punika madué satwa sane ngranayang engon.

Para wartawané mangkin sibuk mekardi gatra indik sélebritis sané matunangan lan wawu putus, sané ngantén, ngelekadang pianak, sané cerai, sakit lan sané padem .  Wénten artis sané ngambul ring reramané, artis nganggén narkoba sekadi sabu-sabu masih dados berita penting sekadi mangkiné. Kocap pamiarsané seneng  berita sekadi puniki lan prasida malinggih makudang-kudang jam  pacang miragi satuané punika. Ibu-ibu  jeg pascat pisan ngelanturang  orta indik satua sélebritis punika duk ngempu pianak, megaé utawi duk arisan.

Yéning wénten artis mamitra, jeg ramé sampun satuané ring korané, ring tv-né.  Wartawan media hiburan kanti melaib labuh ngubér sang sané kocap kasenggguh artis. Dikénkéné  mangda polih berita sané sensasional, Sang Wartawan kanti misi majaljal lan misi mejaguran sareng sang sané kasengguh artis. Kadirasa, berita sané pacang ka-liput puniki lebih penting yéning bandingang sareng gempa bumi tsunami, utawi korban bencana alam.

“Saya bergaya, maka saya ada” punika miribné wacana sané penting kaanggén oleh sang sané merasa déwékné sélebritis. Masyarakaté  sané dados korban iklan nututin pamargin informasi indik modél busana terbaru, kénken je artisé mepayas milunin mangda ten kalah hawa ring pasuitran, ring pergaulan. Yéning nénten mrasidayang numbas busana sané madué mérek asliné, kanggéanga numbas sané palsu utawi bajakan, makacakan ring pasaré. Napi malih sasukaté wénten facebook, anaké makéh polih genah mangda prasida ngédéngang  citra diri ipunné, dados modél dadakan. Hapé taler masih laptop sami sampun  nyediang  fasilitas kaméra. Dije je polih galah lan tongos becik anggén mapotrek, sampun malih jebosné poto punika  ngenah ring facebook punika.

Ibu-ibu rumah tangga tradisional bisa kalah sampun sareng céwék kafé sané nuwutin penampilan artis trio macan, sane bahenol lan heboh punika. Rambut anak istri sane megaé ring petengé punika lantang nganggé ékstensiyen, marébonding utawi mawarna, maroko, mabaju ketat apang kanti ngenah sibakan nyonyoné, marok mini,  masepatu tinjik taler nganggé lengis miyik ‘minyak nyongnyong’.

Béh, ‘penampilan berani lan menantang’, wanén sekadi sélebritis puniki sampun sané rereha sareng anaké lanang cara mangkiné. Makéh kurenan ibu-ibu rumah tanggané punika engsap mulih ulian engon sareng penampilan nak luh  masebeng artis punika. Pemuputné akéh sané suwud makurenan utawi macerai, nénten bina sekadi satua selebritisé.

Mapayas lan mabusana nika anak penting cara mangkin, nénten cukup wantah dados anak polos, baik hati lan madué tresna ring kaluarga.  Hidupé mangkin anak sekadi  ring “panggung sandiwara” pilem India.  Dados kémanten hidupé madaging satua sebet, misi magerengan, misi meliang-liangan nanging sané penting, tetep ngenah jegég lan bagus. Kénten masi satmaka hidup artis Indonesiané ring sinétron dados anak ngidih-ngidih, nak buduh masi tetep apang ngenah jegég lan bagus.

 

 

MÉMÉ


Luh Eka Sundari mepangenan. Méméné ngalahin mati, mulih ke alas wayahné, jam satu dibi sandé. Pantes dugasé punika, Luh Eka Sundari  merasa inguh nénten nyidayang pules. Mémé ipuné megatang angkihan krana amah penyakit kanker rahim. Makudang-kudang balian lan pengobatan alternatip sampun rerehe mangda gering punika ical uli basing méméné. A sasih sedéreng  I Mémé ngalahin mati, tyang nak  polih medelokan mulih ipuné. Dapetang tyang obat saking dokteré kari akéh, mabungkus rapi.

Takénang tyang I Mémé, kenapi ipun nenten ngajeng obat saking I Dokter.  I Mémé  nyaurin, krana ipun sampun ke balian numbas tamba sané maji wantah limang tali rupiah. I Mémé sambilanga ngurut basangné sané sakit  ngorahang, yéning obat  punika cocok ring awak ipuné. Ipun masih moréhin basangné nganggé cakcakan don lan nginem loloh don silik (srikaya). Nanging, kari sakitanga koné  bangkiangné.

Méméné  Luh Eka Sundari ngereng ring baléné naggehang sakit basang ipunné. Peluhné nyerékcék, bibihné  tuh. Sekadi entik-entikané, awak ipuné layu dudus. Ipun wantah nganggé cawet lan kutang metatakan kamen. Bon kamaré sampun masem uyak peluh, uyak boréh, uyak lengis. Dugasé punika, sebet sajan keneh tyangé nyingakin I Mémé buka kénten. Mémé  nénten nyidayang madaaran napi. I Bapa sampun numbasang bubuh ring jaba. Bubuhé kari kebus makudus, nanging I Mémé nénten purun nyicipin bubuh maulam ayam punika. I Mémé aduh-aduh di kamaré, glalang gliling  di baléné, padidiana. Tyang negak dibatarané di sisi, ngorta sareng I Bapa mangda gelis ngajak I Mémé ka rumah sakit.  Nanging I Bapa sekadi anak sané nénten madué harapan, nénten purun makta kurenané mapriksa. Santukan, sami obat farmasiné nénten daara sareng I Mémé. Sebet keneh tyangé nawang indiké punika.

Dugasé punika,  I Mémé sampun tingalin tyang pesu mulih meled nagih ngenceh kewéséné. Sungkan gering punika ngeranayang ipun merasa sekadi anyang-anyangan. Aget tumbasang tyang I Méme susu bubuk. Tundén tyang I Kadék pianak muani I Mémé ngaénang susu panes. Aget I Mémé nyidayang nginem susu angeté punika yadiastun wantah akedik. I Bagus cucuné, milu nyiup susu odahné, krana odahné ten nyak koné nelahang susuné punika. I Bagus wawu metuwuh telung tiban, ipun durung uning napi. Jeg siyupe susu punika sambilange nyeledét lan ngorahang jaen ring odah ipuné. I Mémé kedék sambilanga nanggehang sakit basangné. Pedalema cucuné sane nénten madué rerama. Sabilanga I Méme  inget tekéning kelacuran palekadan cucuné, ngetél sampun yeh matané.

Luh Eka Sundari ngeling sigsigan .  Méméné ngalahin mati. Tresna I Mémé ajaka Luh Eka Sundari yakti ageng pisan. Pianak atugelan Luh Eka Sundari, I Bagus punika wantah  I Mémé ane nyangkutin, ngempu lan merténin.  Luh Eka Sundari wantah pianak luh padidiana. Adine makakalih muani. Dugasé idup, I Mémé nénten taén ngorahang déwék ipuné gelem. I Mémé nika anak luh sané jemet megaé medagang nasi. I Bapa megaé di pasih ngalih tamu dados ‘guide liar’ ten mesértipikat. Dikénkéné polih jinah, dikénkéné mamuyung mulih. I Mémé sampun sané nulungin nambakin jinah akedik.

Kénten masi dugasé Luh Eka Sundari beling, nanging nénten akuina ajak I Muani. I Mémé sampun sané dados dadalan gumi, dadalan désa. I Mémé sampun dados taméng, keni kawon.  I Mémé kasambatang nénten bisa ngajahin pianak. I Bapa uyut, pisaga uyut. I Mémé siyep. Kemamai I Mémé ngatehang Luh Sundari sané beling gedé ngalih wantuan hukum, mangda yén lekad I Kumara nénten kasambat pianak bebinjat. Gelis satua, aget masi anaké muani sané melingang Luh Eka Sundari nyak  ngakuin  I Bagus dados pianak ipuné.

Nika sampun kasurat ring surat pernyataanné, nanging ipun nénten purun nganténang Luh Eka Sundari. Ipun anak kari makurenan lan madué pianak kalih, luh-muani. Béh, daya sajan anaké muani puniki, cocok sampun ipun dados politisi. Mangkin, Luh Eka Sundari  kabawos dados single parent, ngelah pianak nanging nénten madué kurenan, sampun biasa sekadi mangkinné. Napi malih, makéh mangkin anaké lanang kemamai mekarya belingan nanging nénten nyak ipun  ngakuin utawi nénten nyak nganténang kabakané. Muani sekadi puniki kari meled idup cara kedisé, mekeber  bébas.

Luh Eka Sundari ngeling, inget dugasé méméné masuk rumah sakit. “Kanker rahim stadium 3B” kenten dokterné maosang. Artine, sakitné I Mémé sampun parah, kawon pisan. I Mémé patut nyalanang kémoterapi. Sampun kaping kalih makémoterapi, rawuh kertas masurat angka  40  yuta, preabéa rumah sakit. Luh Eka Sundari  paling makyayangan pacang ngerereh jinah akeh punika, mangda  méméné dados kawaliang mulih. Peluhné ngetél, sirahné pengeng. Napi koné anggén jaminan yéning ipun pacang meled nyilang jinah ring finance utawi koperasi, napi malih di bank? Kadirasa ngajeng anggén sewai-wai kemanten ipun kari mautang kemamai. Ngalih gaé cara mangkiné  durung karuan ngemaang gaji sane cukup anggen idup, napi malih anggen mayah piutangan ageng. Dije koné nuduk jinah akéh sekadi punika?

Nanging, yéning ipun nénten nyidayang molihang jinah punika, sinah méméné nénten dados mulih lan prebéa rumah sakité punika sinah lakar ngakéhang. I Bapa lan adin ipuné sami  ngangsel,  nyagerang Luh Sundari,  kénkén je carané pang polih pipis sekadi  isin notané punika. Nyama sampingané makejang ngorahang nénten madue jinah. Pisagané masi patuh kénten. Cutetné, nénten wénten anaké sané madué jinah diguminé puniki. Kije ye sami jinahé melaib lan mengkeb dugasé punika, nggih?

Luh Eka Sundari ngeling, ngeliling  didipané.  Méméné mati amah kanker rahim dijumahné. I Bapa nénten bani malih makta kurenanané ke rumah sakit. Ipun sampun masukserahang  nasib kurenanané ring  Ida Betara. Ipun nénten madué  napi. Yéning ké uling dumunan petugas ring rumah sakit ngaturang informasi indik wantuan pemerintah sekadi JKBM lan Jamkesnas, sinah I Mémé polih pengobatan, nambanin gering kanker rahim ipunné  tanpa prebéa.  Nanging sampun telat. Kanker rahim seka bedik mentik ring tengahing  awak  lan ngamah urip I Mémé.  Di kamarné, I Mémé maguyang nanggehang sakitné kanti mati. “Jatu karma!” kénten krama banjarané ngibur, ngeliangang manah I Bapa. I Mémé mati, kramané matulung makta wadah ka setra lan ngabénin I Mémé mangda ipun gelis dados betara.

Luh Eka Sundari kari ngeling sigsigan. Bapane,uwané, misané, sami penyamané nénten ngemaang Luh Sundari nelokin méméne sane sampun padem. Lek koné reramané nampi Luh Eka Sundari di arep  témpékanné. Lek koné ngelah pianak luh sané ngai kawon adan kaluargané. Lek ulian Luh Eka Sundari beling, nentén wénten kurenané, ulian ipun dados single parent. Napi malih Luh Eka Sundari mangkin nongos ring penjara.

Luh Eka Sundari nénten nyidayang kije-kije, mapingit ring  tengahing natah sané masengker besi. Nangging, nénten wénten kaluargané kahyun nyambatang, ulian napi ké Luh Eka Sundari nongos ring penjara? Palingan sami kitak-kituk, mapi-mapi nénten uning napi. Luh Eka Sundari mategul tanpa tali santukan meled keneh ipun ngayahin méméné dugasé kari idup,  dugasé I Mémé kari ring  rumah sakit. Jengahé nénten madué pipis mekardi ipun mapikenoh bawak, molihang jinah uli ngerereh pemargi sané kawon. “Kénkén je carané maan 40 yuta!” kénten minab kenehné  mamunyi ring kupingné Luh Eka Sundari.

Luh Eka Sundari sampun mautsaha nyalanang  tresnané ring mémé ipuné. Sesampuné mayah rumah sakit, I Mémé dados mulih. Nanging, Luh Eka Sundari ejuka lan kurunga cara anak  matelung bulanan, ring kurungan besi sané ageng. Ipun mangkin kaparipaksa ngijeng ring penjara, kirang langkung sampun makiré atiban.

Méméné mati, Luh Eka Sundari ngeling sigsigan. Mekamen ring sunduk, Ipun maseselan  merasa nénten nyidayang  ngayahin  I Mémé nganti  kalahina mati. Ipun mepangenan, inget ring tresnan méméne dugasé kari idup. Sesampuné mati, nénten nyidayang Luh Eka Sundari nyujuh napi malih ngusud, mayasin paukudan lan nututin kajang méméné ka sétra. Luh Eka Sundari wantah bisa ngeling nyantos lemah sambilanga masoda nasi, yeh, kopi, dupa lan canang. Sesampuné ngabén, roras dina Luh Eka Sundari sampun ngacepang  I Mémé saking  kamar ipuné di penjara. Miribné, I Mémé sampun neked dikadituan. Sambilanga mebakti, Luh Eka Sundari ngeling sigsigan, inget yéning méméné sampun mati. Satua idupné sampun puput.

Katur ring:   N E W ring Sanur, 6 Februari 2011

DADOS RABI

Sampun  telung tiban tyang  metimpal sareng Gung Sri. Tyang sareng ragané megaé ring bagian akonting ring Hotél Manik Galih . Megaé di hotél patut madueg-duegan ngalih timpal. Apang wénten ané dados ajak mapaitungan indik metukar  shift utawi jam kerja nuju  wénten  pikobet  adat di désa. Gung Sri, anak istri jegég mekulit gading niki setata sadia yéning tyang nunas tulung ring ragané. Kénten masi yéning Gung Sri wénten pakayunan matukar cuti, tyang setata dados cagerina. Gung Sri lan tyang kocap  dados ‘Team Paling Kompak’ ring kantor. Read the rest of this entry »

MENGHANCURKAN SPIRITUALITAS BALI : PURA ATAU PURA-PURA?

Sebelum bernama Pura, tempat persembahyangan orang Bali disebut merajan, sanggah, paibon (pa-ibu-an), panti, beji, taman,  kahyangan atau parahyangan. Istilah Pura yang mengadopsi istilah India tampaknya baru diperkenalkan pada era pemerintahan  amoring acintya Prof. Ida Bagus Mantra (mantan Gubernur Bali) yang sempat studi di India. Tapi belakangan ini, banyak para pelajar Bali yang baru datang dari India mencoba menyamakan pura dengan mandira (mandir, kuil pemujaan) dalam  buku terbitan mereka. Read the rest of this entry »

Teori Kehancuran Budaya Bali Menurut Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardana

Sistem budaya yang diwarisi orang Bali yang terdiri dari 5P, yaitu: Para, Puri, Pura, Purana dan Purohita. Dalam karya satra ini, konsep  5 pegangan hidup (5P) dikaitkan dengan realitas kekinian masyarakat Bali.

Konsep Para berkaitan dengan sistem hukum yang mengatur tatanan kehidupan kemasyarakatan.  Sedangkan, empat konsep yang lain berkaitan dengan ‘pur” atau benteng yang kini tengah menghadapi gempuran yang maha hebat. Puri sebutan untuk benteng keratuan (rumah raja), juga tentang hierarki dan kebangsawanan. Pura berkaitan dengan  benteng keyakinan dan keagamaan, atau tempat pemujaan berkaitan dengan sistem keyakinan orang Bali. Purana berkaitan dengan benteng sejarah dan etika. Purohita berkaitan dengan puja dan mantra dari para pemimpin religius Hindu Bali. Benteng spiritual ini pun memiliki kemerdekaannya, diperebutkan dan digiring ke arena pasar.

Dalam realitas kekinian  eksistensi Para di wilayah pemerintahan yang paling dasar, seperti  konsep awal dibentuknya Banjar adalah sebagai komunitas “suka-duka” susah dan senang ditanggung bersama. Namun dalam perkembangannya, relasi sosial komunitas yang hadir dipermukaaan lebih banyak dengan pendekatan penghakiman dan penghukuman. Basis kekerasan sangat menonjol, sementara asas kesejahteraan warga diabaikan.

Rasa kesetiaan dan solidaritas warga hanya dinilai dari kehadiran seseorang pada upacara kematian atau ketika terjadinya pengambilan keputusan politik untuk mengucapkan koor tanda setuju alias “suryak siyu”. Asas kesejahteraan dan cita-cita bersama warga banjar menuju kemajuan hidup mereka jarang menjadi agenda rapat tahunan warga.

Sementara, segenap prestasi anggota komunitas (krama) dimana ia juga membawa nama baik  dan kehormatan banjarnya seperti tidak mendapat ruang.  Kerja produktif warga Banjar menjadi terpinggirkan, pemikiran alternatif dipaku oleh kekolotan yang berkarat. Kadangkala, nasib banyak orang justru ditentukan orang yang tak pernah ke luar dari lingkungan banjarnya tapi ia dipilih sebagi kelihan (orang yang dituakan di banjar) karena ia menghabiskan waktunya untuk duduk-duduk di Bale banjar, mengobrol dan menonton TV.  Atau seseorang dipilih karena ia dianggap tak pernah pulang kampung karena sibuk dengan karir. Sehingga orang ini tak tahu memetakan persoalan dasar anggotanya. Atau, mereka bisa saja preman dengan massa yang banyak. Belakangan ini jabatan kelihan menjadi jabatan politis karena para politisi melirik potensi mereka di jalur birokrasi desa.Kenyataan seperti ini tak bisa lagi ditutup-tutupi.

Banyak fakta yang menjadikan masyarakat postradisional Bali tak sanggup memenuhi kebutuhan ekonomi karena dibatasi oleh ikatan adat yang kolot dan kesalahan menejemen dengan mempertaruhkan nasib dan masa depan banyak orang, dan tentu saja masa depan Bali.

Kini, orang Bali tak berdaya tergencet diantara dunia kerja dan adat yang keduanya mempertaruhkan hidup dan keluarganya. Namun hal ini tak pernah tuntas terselesaikan secara terbuka, karena mereka tak berdaya untuk bersikap dan memilih yang terbaik untuk kehidupannya.

Sistem budaya Orang Bali dalam praksis kehidupan hari ini telah dikalahkan  kekuatan kapitalis yang pragmatis, menjadikannya tak lebih sebagai objek dagangan pelaku Pasar (peken). Pasar global  dan kekuatan uang telah menyeret rakyat semakin jauh dalam ketidakberdayaannya untuk menentukan selera bahkan kehidupannya sendiri.

Ilusi  tentang uang telah banyak merubah wajah kekuasaan dan penguasa hari ini. Puri digempur habis-habisan oleh para broker tanah dan investor. Pura telah diperebutkan sebagai lahan pasar  spiritual dan marketing agama. Purana atau sejarah digunakan untuk menguatkan legimitasi rejim sehingga kebenaran sejarah diputarbalikkan untuk kepentingan siapa yang berkuasa. Purohita, para pemimpin spiritual kini semakin ganjen bersolek memperjualbelikan keyakinan untuk menarik umat. Tentu saja membaca teks ini harus dilekatkan pada oknum yang ada disekitar kehidupan masyarakat.

Kelima konsep dalam kehidupan masyarakat postradisonal Bali itu telah dipreteli, digembosi, terdistorsi oleh kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan. Pasar globalisasi telah membuat bentuk-bentuk kehidupan menjadi serba industri, serba seragam, monoton dan konsumtif. Keterampilan tradisional dibekukan agar pola ketergantungan dapat diciptakan kapitalis secara sistemik dan hegemonik.

Hal yang sama juga terjadi pada ranah organisasi modern yang lebih luas, yaitu negara. Lima pondasi dasar dalam konsep 5 pegangan (5P) hidup bangsa, terdiri dari : Hukum, Pancasila, Proklamasi, politik dan Pendidikan dibawa ke pasar  politik dan telah diperdaya oleh para  kapitalis.

Pancasila sebagai sebagai dasar negara, pandangan hidup bersama dan benteng moral bangsa kini telah diabaikan, diperjualbelikan sehingga, sebagian rakyat ingin kembali ke masa orde baru. Seolah-olah, pada masa itu segala kehidupan jauh lebih baik dari hari ini. Padahal pada masa Orde Baru, Pancasila adalah alat politik pemerintah yang digunakan untuk melakukan tindakan represif untuk mencucuk hidung setiap warga negara, seperti sapi perahan.

Proklamasi sebagai cita-cita yang dituangkan dalam butir-butir pernyataan sikap bangsa juga diremehkan. Sampai sekarang para proklamator, para pendiri negeri ini tidak diperlakukan sebagai pahlawan, orang yang bejasa bagi negara ini. Tetapi,  tanpa rasa hormat justru dijadikan objek dagangan para politisi untuk meraup suara. Para pahlawan itu diseret semakin jauh ke arena pasar politik, bahkan oleh keturunannya sendiri.

Politik hari inipun tak kalah hebatnya, negara menawarkan demokrasi sebagai hak setiap warga negara untuk terlibat dalam partai politik. Kemudian aspirasi masyarakat disalurkan melalui legislatif. Namun, produk hukum dan jabatan politik  sudah berada di dalam pasar money politik, bisnis jual-beli suara. Ini sudah menjadi tradisi. Pemerintah bergandengan tangan dengan penguasa karena kekuasaan hari ini berada di tangan pemilik kapital. Siapa yang memiliki modal, maka ialah yang berkuasa.

Pendidikan pada hari ini juga menjadi objek bisnis. Sekolah kini hanya distratakan dengan harga uang, tidak lagi menjadi sebuah institusi pembentukan karakter bangsa dan peletakan dasar nilai-nilai ke-intelektualitas-an. Indonesia menjadi bangsa yang tidak kreatif dan inovatif. Kaum inteletualnya tidak dihargai. Kegagalan pendidikan kita tercermin dari wajah perbudakan baru, dimana Indonesia menjadi negara ekportir pengadaan tenaga kerja ke luar negeri sebagai TKI atau TKW. Pemerintah menutup mata dan nurani dengan melakukan sejumlah pembiaran terhadap sekian banyak praktik perbudakan yang menimpa para ‘pahlawan devisa’ itu.

Produk peristilahan yang serba adiluhung secara aktif diciptakan pemerintah untuk meninabobokkan masyarakat dalam mimpi di siang bolong : tentang tatanan masyarakat madani, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja dan moksartam jagatdhita ya caiti dharma. Semua itu masih dalam rancangan impian, sementara dalam kenyataan di depan mata, sendi-sendi kehidupan telah menemui kehancurannya yang teramat dahyat.

Orang Bali tak mungkin lagi menggugat kehancuran ini, karena sesungguhnya tak ada daya untuk merubahnya. Ideologi “das Capital” terlalu kuat untuk ditelikung apalagi untuk di lawan. Ia semacam kanker yang menggerogoti setiap sel kehidupan dan kita baru menyadarinya saat berada dalam kondisi kritis, hidup  bergantung di ujung nafas. Dan saat disadaripun, semuanya telah terlambat.

Hidup masyarakat Bali kini dikuasai para penguasa dunia maya, para butha dan kekuatan sakti dari leyak modern sejenis wikileaks. Mereka bertindak seperti Tuhan.  Wajahnya tak dikenali, ia tak ada di sini, tapi disana, dimana-mana, di tempat yang tidak kita ketahui. Mereka bisa mengontrol dunia dalam genggamannya hanya dengan sekeping chips data mereka. Mereka masuk sebagai kapitalis dan para investor dan broker, yang menguasai tanah-tanah leluhur dengan meminjam ‘nama-nama’ aktor lokal dan memainkannya sebagai manekin.

Meskipun dalam ketidakberdayaan, keadaan ini harus tetap diperangi. Perubahan harus tetap menjadi tujuan. Memerangi keadaan ini tidak melulu dengan kekerasan, melainkan dengan mengekspresikannya secara ringan, terbuka dan jujur sehingga menyikapinya pun dapat selapang padang ilalang. Kita tak punya apa-apa dan yang tersisa hanyalah bahasa hati, bahasa jiwa yang hanya mampu diekpresikan melalui sastra.

* tulisan ini merupakan pengembangan pokok pikiran Pangeran Puri Kesiman : Anak Agung Ngurah Gde Kusuma Wardana

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.